
Hari ini hari yang sangat menyedihkan bagi Indah, hari penyesalan yang amat dalam. Andai dia menurut dan tak banyak menuntut, mungkin sang mamah hari ini masih tersenyum. Hingga malam tiba kondisi mamah masih sama, belum ada perubahan signifikan yang membuat hati lega.
Saat ini Indah masih diam dalam pelukan, tak sanggup berkata apa-apa, lidahnya kelu dan hatinya pun masih kalut. Usapan di punggung membuatnya sedikit nyaman, hingga tak sadar matanya yang lelah menatap kenyataan yang membuatnya berantakan kini terpejam dengan nyenyak.
"Nicko, papah mamah pulang dulu ya, kasian mamahmu lelah. Jika sudah ada kabar tentang perkembangan calon mertuamu segera hubungi papah."
"Iya Pah," jawab Nicko singkat.
"Jaga Indah nak, beri dia semangat lagi. Kasian dia sangat terpuruk sekali." Mamah menatap nanar gadis cantik yang terlihat begitu pucat dengan mata sembab dan wajah penuh beban. Sejak tadi beliau menatap Indah dengan hati tak tega, beliau pun sama dengan Indah hatinya begitu menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.
Hingga sekarang kedua orang tua Nicko sudah sangat ikhlas dan menerima Indah sebagai bagian dari keluarganya. Sudah tak ada lagi pemikiran buruk tentang Indah, yang ada sekarang hanyalah rasa sayang dan penyesalan.
"Hhmm...."
Setelah kedua orangtuanya pamit, bibi pun memilih meninggalkan keduanya yang masih duduk di kursi tunggu, bibi masuk ke dalam ruangan menunggu nyonyanya yang masih di fase kritis.
Nicko mengusap lembut kepala Indah, mengecup gadis yang sangat ia rindukan. Tak terbayang olehnya hari ini bisa bertemu bahkan memeluk walaupun dalam situasi yang buruk.
Hampir pukul 1, Indah baru terjaga, melihat tangan kekar yang masih melingkar membuatnya menatap siapa orang yang sejak tadi memberikan kehangatan.
"Om....."
"Sudah bangun?" Nicko mengecup dalam kening Indah membuat gadis itu kembali meneteskan air mata.
"Sudah jangan menangis lagi, semua pasti akan baik-baik saja. Aku selalu ada mendampingimu." Nicko kembali mendekap tubuh Indah, tak tega dia melihat wajah kekasih hatinya.
Bahkan dirinya sudah berjanji dalam hati, setelah Indah setuju untuk menikah. Nicko tak akan membuatnya menangis lagi. Jika memang tangis itu tetap ada, bukan tangis sedih tapi tangis bahagia.
"Om, ini sudah hampir pagi, lebih baik om pulang saja. Besok om harus bekerja kan?" saat ini Indah sudah duduk sendiri dan keluar dari pelukan Nicko.
"Aku akan menemanimu di sini, mana tega aku meninggalkanmu begitu saja. Lagi pula mamah memintaku untuk menjaga calon menantunya." Ucapan Nicko membuat Indah diam dan tertunduk, dia tak menyangka semua akan berbalik seperti ini. Dia tak pernah membayangkan akan mendapatkan restu dari sebuah keluarga.
"Hey, kenapa diam saja?"
"Om, aku nggak mau ganggu hubungan om dengan pacar om. Jika memang Tante berubah pikiran dan mulai menerimaku. Tak harus dengan cara menjodohkan pun nggak apa-apa, aku nggak mau jadi perusak."
"Kamu ngomong apa sich? pacar siapa maksud kamu? bahkan setelah aku menjauh hati aku masih sama, mencintai kamu tanpa henti."
"Om jangan menutupi itu, karena aku lihat sendiri om dengan wanita itu begitu akrab bahkan tertawa bersama."
Nicko semakin tak mengerti dengan apa yang Indah maksud, wanita mana yang bisa meluluhkan hatinya, sedangkan di hatinya hanya ada satu nama.
"Siapa? aku nggak ngerti maksud kamu, wanita mana sayang?" Nicko menggenggam tangan Indah dengan hati penasaran, dia juga tak ingin Indah berpikir bahwa ada wanita lain yang menjadi penghalang dan kembali membuat hubungan yang Nicko harapkan membaik setelah ini, jadi berantakan lagi.
"Aku melihat om di cafe dekat taman dengan seorang wanita. Dia wanita dewasa yang cantik, tak heran jika om menyukainya." Indah berbicara dengan menundukkan kepala, menyembunyikan kesedihan walaupun di hati berusaha untuk tidak apa-apa.
__ADS_1
Melihat Indah seperti itu justru membuat Nicko yang awalnya khawatir dengan hubungan mereka kini tersenyum menatapnya.
"Kamu cemburu?"
"Nggak ada kayak gitu!"
"Bilang saja kalo cemburu, aku suka!"
Indah menatap Nicko yang tersenyum jail, kemudian membuang muka ke arah lain. Cemburu pasti ada tapi kan manusia hanya bisa berencana, kembali lagi Tuhan yang membolak balik hati manusia dan menentukan takdir hidup mau kemana.
"Dia bukan siapa-siapa sayang, dia hanya klienku, aku bertemu wanita hanya sesekali dan itu semua patner kerja. Bagaimana mungkin aku tidak mengakrabkan diri, sedangkan aku berharap kerja samanya berjalan lancar."
Nicko menarik tubuh Indah ke dalam pelukannya, mencium jemari Indah dan menatapnya. "Setelah aku pergi dan menjauh, sampai saat ini aku kembali dan memelukmu. Hanya ada kamu di hatiku," Nicko meletakkan jemari Indah di dadanya. "Debarannya masih sama jika bersamamu, bahkan aku sangat-sangat merindukanmu."
"Maaf, tadi aku kembali kesini terlambat. Ada urusan sedikit dengan Chiko, tapi aku sudah menemui mamahmu walaupun belum berucap apapun. Apa masih ada keraguan di hatimu?"
"Bagaimana jika aku tetap menolak?"
"Aku hamili kamu jika itu terjadi!"
"Om!" pekik Indah lalu memukul dada Nicko berulang kali.
Tak menyangka Nicko akan berucap demikian, hal manis berujung ngeselin bagi Indah. Hingga kini keduanya sudah saling tersenyum dalam diam.
Pagi menjelang, Indah bangun setelah beberapa jam lalu kembali tertidur. Membuka mata di tempat yang tak sama, melirik sekilas ternyata dia berada di sofa ruangan sang mamah.
"Iya non," Bibi masuk setelah tadi sempat membelikan sarapan untuk Indah.
"Keadaan mamah?"
"Masih belum sadar non, tapi tadi dokter sudah memeriksa, ada perkembangan walaupun belum banyak. Mudah-mudahan berangsur membaik."
"Aamiin, Alhamdulillah Bi. Oh iya Bi, om Nicko kemana? kok Indah bisa tidur di sini?" tanya Indah heran.
"Oh, mas yang semalam pamit pulang non. Katanya pagi ini ada meeting, terus bawa non masuk ke dalam. Ganteng ya non, atuh mau aja non menikah sama mas itu. Pas banget sama non Indah. Tapi kok kayaknya udah manggil sayang gitu masnya non?"
Indah tersipu mendengar ucapan Bibi, kemudian menatap mamah yang begitu terlelap damai. "Om Nicko memang sebelumya kekasihku Bi, kami pisah setelah banyak masalah datang. Orang tuanya sempat tak setuju sebelum tau jika anak mamah itu Indah, di tambah lagi adiknya juga mencintai Indah. Makanya kami memilih bubar dari pada melihat orang lain sakit hati dengan hubungan kita. Tapi ternyata...."
"Jodoh memang nggak akan kemana non, setidaknya perjodohan ini tidak terlalu membuat beban, tapi malah menyatukan dan membuat bahagia. Terima saja non, toh sahabatnya nyonya sudah sangat menginginkan dan meminta maaf pada nyonya."
Indah menoleh ke arah bibi, "jadi mamah sudah tau semuanya?"
"Iya non," jawab Bibi yang memang saat itu menyimak pembicaraan mereka kemarin.
"Jadi mamah ngedrop karena itu Bi?"
__ADS_1
"Bukan non, bukan karena pekerjaan non. Tapi saat tau perjuangan non yang benar-benar besar untuk beliau. Nyonya merasa bersalah pada non Indah, dia justru bangga memiliki anak seperti non. Awalnya memang sahabatnya tak mau bercerita tapi nyonya mendesak. Hingga akhirnya menangis dan kondisinya melemah."
Indah kembali menitikkan air mata, hidupnya memang tak sempurna. Tapi perjuangan untuk mamah tak membuat ia menyesal walaupun harus menjadi pekerja malam.
"Eh iya non, ini sarapan dulu. Tadi kata mas ganteng non nggak boleh sedih lagi. Ini aja mas ganteng yang nyuruh Bibi beli makanannya."
"Iya makasih Bi, nanti Indah makan. Indah mau bersih-bersih dulu." Melangkah menuju ranjang sang mamah, kemudian mengecup keningnya. "Mamah sayang, bangun mah katanya mau lihat Indah jadi manten, he he he...." Indah berusaha tak menunjukkan lagi rasa terpuruknya. "Mamah bangun ya, Indah sayang mamah..."
Setelah rapi dan sudah terlihat lebih segar lagi, Indah keluar dari kamar mandi dan di sambut oleh kedua orang tua Nicko yang sudah datang sejak tadi. Indah pun melihat Chiko yang duduk di sofa bersama papahnya.
"Sayang, sudah habis mandi ya?"
"Iya Tante," jawab Indah lirih, kemudian menyalami kedua orang Nicko.
"Ko..." Sapa Indah dan di jawab senyuman. Chiko pun masih tak menyangka jika Indah lah yang akan di jodohkan dengan sang kakak.
"Cantiknya, pantas jadi rebutan."
Indah hanya tersenyum mendengar ledekan dari mamah Nicko. Indah sudah berdamai dengan keadaan, dia tak lagi mempersoalkan.
"Sudah sarapan nak?"
"Belum Tante."
"Tadi Nicko berpesan sama Tante untuk memastikan kamu makan hari ini, ayo sarapan dulu. Nanti Nicko bisa-bisa ngamuk sama Tante kalo ngebiarin calon istrinya kelaparan." Mamah Nicko dengan lembut meminta Indah untuk makan bahkan menyiapkan sarapan untuk Indah.
Indah terharu, sudah lama dia tak mendapatkan perhatian lebih dari sang mamah karena kondisi mamah yang tak memungkinkan. Tapi pagi ini, ia mendapat perhatian lebih dari calon mertua.
Hingga menjelang siang kedua orang tua Nicko menemani, menunggu sang mamah sadar dan terus memberi semangat. Indah pun mulai menerima dan lebih akrab. Walaupun dia belum menjawab dan menyetujui perjodohan itu, tak ada juga yang terlalu membahasnya karena tau hati Indah masih belum tenang jika sang mamah belum terbangun dan sadar.
"Gue masih nggak nyangka kalo loe orangnya.." Chiko pamit dengan kedua orang tuanya untuk mengajak Indah ke taman agar lebih rileks sambil mencari angin di luar.
Indah tersenyum dengan pandangan mata ke depan. Mereka duduk di bangku taman sambil memandang orang yang berlalu lalang.
"Gue apa lagi .."
"Tapi gue udah ikhlas kalo loe sama kakak menikah," ucap Chiko tulus.
"Makasih Ko, gue belum mutusin hal itu. Biarin ngalir gitu aja, yang terpenting sekarang melihat mamah sadar dan setelahnya gue pasrah."
"Sabar ya, gue tau loe wanita kuat. Gue cuma bisa kasih support dan doa. Kak Nicko sangat mencintai loe Ndah, gue harap loe mau kembali dan menjadi kakak ipar gue."
"Liat nanti aja, gue juga salut sama loe. Loe dewasa menyikapi ini semua. Mudah-mudahan nanti dapetin wanita yang baik, sebaik loe!"
"Aamiin..."
__ADS_1
Meraka berdua kembali akrab, mulai mengobrol dan terselip tawa. Hubungan pertemanan dan kelak mungkin akan menjadi saudara, lebih baik dari pada sebelumnya. Indah pun lebih nyaman dengan hubungan ini, dari pada setiap hari mendapat paksaan dari Chiko yang terus membuatnya jengah.
"Kalian di sini?"