Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 17


__ADS_3

Sesampainya di club malam Nicko terus saja menggenggam tangan Indah tanpa ingin melepas sedikitpun. Hatinya begitu senang ketika dengan jelas Indah diam tanpa ada penolakan.


"Mau duduk dimana?"


"Aku mau ketemu sama sahabat aku, dia katanya janji mau ketemu disini, mungkin saat ini ada bersama kak Toni." jawab Indah menatap Nicko di balik cahaya lampu disko.


"Ya sudah kita kesana sekarang, Dit loe kalo mau balik, balik duluan aja nggak apa-apa. Istirahat udah jam dua juga, habis ini gue balik."


"Mentang-mentang ada gandengan gue loe lupain!" ucap Adit kesal kemudian melempar kunci mobil Nicko.


"Gue balik pake taksi aja, masak iya dia mau loe ajak pulang jalan kaki!" lanjut Adit.


"Gue juga kan bisa pakai taksi," sahut Nicko.


"Lagian aku bisa pulang sendiri kok om, om asisten bawa aja bosnya pulang!"


Mendengar itu Adit sedikit tersenyum remeh pada Nicko. "Loe mau balik bareng gue nggak?"


Nicko kesal lagi-lagi Indah menolaknya, apa lagi saat ini Adit begitu meremehkan.


"Aku yang antar kamu pulang!" tegas Nicko yang sudah kembali menatap mata Indah, tetapi Indah segera menghindar dan membuang muka.


"Ya udah gue balik lah, cekcok mulu loe pada mending pindah ke kamar aja sono biar lebih panas!" celetuk Adit kemudian pergi meninggalkan keduanya.


"Ayo!" ajak Nicko dengan tangan yang sejak tadi terkunci di jemari lentik Indah.


Keduanya kini sudah berjalan menuju sofa yang telah di singgahi Asti dan Toni yang sedang asyik mengobrol.


"Bro...!


Widih loe mampir bro!" sahut Toni kemudian berdiri meraih tangan Nicko dan saling memeluk.


"Tumben loe kesini bawa ce.....Indah?" Toni terkejut melihat Indah yang sudah bersama dengan Nicko apa lagi saat matanya menangkap kedua tangan yang saling menggenggam. Begitupun dengan Asti yang sama herannya, dia berpikir Indah kembali menerima job dari Nicko tanpa sepengetahuan dirinya.


"Loe mau lanjut sama om ini Cin?"


"Nggak ...dia nya aja yang ngikutin gue mulu, biarin aja baper nggak tanggung jawab!"


Nicko yang melihat Indah cemberut membuatnya gemas dan menciumi pipi Indah dengan sedikit merusuh.

__ADS_1


"Om! temen kok nyium-nyium!" ucap Indah dengan mencebikkan bibirnya.


"Mau aku cium lagi bibirnya....." tanya Nicko dengan senyum yang menggoda.


Toni yang berada didepan keduanya tak menyangka jika si datar Nicko bisa kembali seperti dulu lagi sebelum kejadian yang membuatnya terluka. Dia melirik Nicko dengan tatapan yang berbeda.


Nicko yang merasa di perhatikan mengalihkan pandangannya dari Indah ke arah Toni. Mengerti maksud Toni dia hanya mengangkat kedua bahu kemudian duduk di samping Indah.


"Gila loe Nick! selera loe jadi anak SMA sekarang?" Bisik Toni yang tak menyangka jika Nicko mendekati Indah.


"Kenapa emangnya?"


"Sampe cuma di buat mainan gue tonjok muka loe!" ancam Toni yang meminta keseriusan dari Nicko karena dia tak ingin Indah hanya di buat mainan seperti wanita yang lain, yang hanya sebagai teman ranjang lalu di buang.


"Emang pernah gue bawa cewek buat duduk di depan loe kayak gini?" tanya Nicko membuat Toni bungkam.


Toni sedikit tenang setelah mendengar ucapan Nicko, dia tau sakit hatinya Nicko setelah putus dari mantannya dan menjadi pria gila yang haus akan *3**. Maka dari itu dia tak ingin Nicko terlalu dekat dengan Indah jika hanya di jadikan koleksi, walaupun ya memang Indah adalah gadis malam. Tapi tetap saja dia tidak tega jika sahabatnya hanya mempermainkan.


"Indah sejak kapan kenal Nicko?" tanya Toni yang langsung di sambut oleh senyuman dari Indah.


"Sejak dia jadi tamu aku kak!"


"Terus hari ini om ganteng booking loe lagi Cin? kok nggak lewat gue?" tanya Asti yang masih heran sejak tadi.


"Terus loe sama dia?" tanya Asti yang mulai curiga akan hubungan sahabatnya yang tiba-tiba menggandeng tangan pria yang membookingnya kemarin malam.


"Nggak tau!"


"Kalo sampe di labrak bininya gue angkat tangan loe Ndah!" Asti mengangkat kedua tangannya dan ucapan Asti mampu membuat Indah menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Indah lupa akan itu, padahal itu yang mendasari Indah tidak ingin ada hubungan lebih terlepas dari pekerjaannya. Tetapi tangan kekar yang saat ini tiba-tiba memeluk pinggangnya membuat Indah terkejut.


"Aku belum beristri!" lirih Nicko di telinga Indah. Sejak tadi dia mendengar pembicaraan Indah dan sahabatnya.


Tak ingin langsung percaya, Indah menatap Toni meminta penjelasan. Toni yang mendapat tatapan itu, segera meluruskan.


"Iya dia belum beristri, tapi sempat akan beristri. Dan batal! Makanya kelakuannya kayak begini, CEO minus!" ledek Toni.


"Brengs3k loe!"

__ADS_1


"Om kasian banget, jadinya belum move on gara-gara sang mantan dan menjadikan wanita sebagai pelampiasan!" ledek Indah membuat Nicko memajukan wajahnya hingga hidung mereka bertemu.


"Iya, tetapi tidak dengan kamu!" ucap Nicko dengan pandangan mata yang berbeda.


"Ehemmm.... katanya nggak ada apa-apa tapi udah kayak orang pacaran loe Cin." ledek Asti yang sudah tersenyum jahil.


Nicko semakin mengeratkan pelukan di pinggul Indah, dengan sesekali mencium aroma rambut Indah yang menjadi kesukaan baru baginya.


Indah menatap Nicko dengan tatapan tajam, "Om jangan dekat-dekat kenapa sich, aku risih tau nggak! sahabat aku aja ngiranya om itu pacar aku, belum yang lain pasti ngira om tuh tamu aku, padahal di bayar juga nggak," rengek Indah yang mulai jengah dengan sikap Nicko yang tiba-tiba posesif.


"Kamu minta bayaran?"


"Ya nggak gitu juga, kan aku lagi nggak kerja. Tapi ya jangan nempel begitu, beri jarak aman sedikit kan bisa. Katanya teman tapi nyari kesempatan. Mending om pulang! sikap om buat aku gelisah!"


Nicko tersenyum mendengar serentetan ocehan Indah, baru kali ini dia menemukan perempuan yang cukup bawel baginya setelah sang mamah. Biasannya perempuan yang mendekatinya itu akan jaim dan bersikap sok profesional, tapi ini bawelnya nggak ketulungan. Dan itu justru membuat Nicko semakin gemas.


"Nggak ada aku pulang sendiri, kamu itu aku yang antar berarti pulangnya juga sama aku!"


"Nyebelin, baru kenal udah sok akrab. Situ emang siapa? ya udah kalo gitu sanaan. Om buat ruang gerak aku sulit! Kak Toni ajak temennya nich pergi dari sini kek. Aku lagi mau santai loe, dia udah kayak pacar yang selalu menempel seperti cicak!"


Toni tertawa akan kekesalan Indah, walaupun mukanya masam tapi justru menambah ke imutan di wajahnya apa lagi dengan sikapnya yang begitu kesal tapi tak membuat dirinya menjadi kasar, Indah tetap lembut dengan suaranya.


"Nicko loe bener-bener berubah, mana sikap dingin dan datar loe? apa ini cewek yang bakal jadi pawang loe?"


"Biarin aja dia ngoceh, ntar kalo capek juga diem. Tubuh gue yang nggak bisa di kondisikan kalo dekat dia." Nicko menatap Indah yang membuang muka ke arah Asti yang sejak tadi hanya menyaksikan.


Asti sedikit paham, melihat serta mendengar ucapan kak Toni jika sebenarnya Nicko sebelumnya nggak pernah bersikap seperti ini pada wanita. Mungkin ia menyukai Indah, tapi Indah yang kurang peka.


"Tapi bener juga kata loe, apa dia pawang si Mickey nantinya?" tanya Nicko, mengingat kejadian tadi ketika Mickey dengan santainya tidur tanpa memperdulikan dirinya dan wanita yang sudah membuka lebar pahanya.


"Jangan bilang si Mickey selalu bangun kalo dekat Indah?"


"Ikh kalian ini, nggak jauh dari Mickey. Dasar pria, selalu s3langkangan! ini lagi om Nicko mesumnya tingkat dewa! Menjauh dari ku kalo nggak ingin Mickey mu itu bangun dan minta di boboin sama aku!"


"Emang nyatanya si mickey mulai bereaksi kalo dekat kamu, kamu nggak liat dia bangun dengan sempurna?"


Indah memijat pelipisnya, sungguh pria yang satu ini sangat merepotkan dan cukup merasahkan. Nggak bisa di beri kesempatan, akan terus berujung ketidaktenangan.


"Udah ayo antar aku pulang! Capek jiwa ku menghadapi om yang seperti ini! lebih baik aku beristirahat di rumah dari pada di sini gerah!"

__ADS_1


"Kamu mau mengajakku bersenang-senang di rumah? dengan senang hati aku turuti, apa lagi jika di beri kepuasan."


"Aku mau buat si Mickey nggak bereaksi lagi, puas!"


__ADS_2