
Pelajaran Matematika begitu menguras otak menimbulkan keringat tetapi begitu menantang, sama halnya dengan hidup Indah dan segala yang di alaminya.
Ditengah rasa kantuk yang sudah bergelayut di kelopak mata, Indah di haruskan mengerjakan soal matematika yang sudah di rencanakan tiga hari yang lalu sebagai latihan soal untuk ujian nanti.
Rasanya dia butuh es teh manis untuk membuat tubuhnya kembali segar dan bakso pedas untuk membuat matanya kembali beregas.
"Udah kelar belum Ndah?" bisik Asti yang duduk di sampingnya.
"Dikit lagi!"
"Nyontek kek gue!" ujar Asti dengan bibir yang mengerucut, dia sudah tak sanggup mikir dan menyelesaikan semua soal.
"Kerjain sendiri!"
"Pelit dech loe Ndah! gue nggak bisa mikir nich, nyerah gue kalo di suruh ngitung beginian," bisik Asti lagi yang di dengar oleh Jenni.
"Kalo di suruh ngitung berapa tarif si Minnie permalam pinter ya loe!" sahut Jennie.
"Itu jangan di tanya lagi, bukan amatiran tapi suhunya suhu," timpal Asti. "Si Indah kalo masalah ngitung soal begini jago, orang tiap malem ngukurin luas, keliling sama panjangnya si Mickey!"
Mendengar ocehan sahabatnya membuat Indah pusing sendiri, jalan satu-satunya adalah membungkam mulut mereka dengan jawaban yang telah ia kerjakan.
"Berisik loe pada, kalo ngomong nggak jauh dari Micky dan Minnie, ntar yang di omongin pada keselek aja loe. Nich cepet kerjain keburu istirahat!" kesal Indah yang membuat kedua sahabatnya meringis mendengarnya.
Bell istirahat berbunyi, para murid segera memberikan hasil jawaban yang mereka kerjakan kepada Pak Ahmad selaku guru matematika.
Nafas lega dari beberapa murid yang pintar setelah soal selesai di kerjakan, berbeda dengan murid yang otaknya di bawah KKM nafas berat, butuh obat penurun penat setelah berkutat dengan soal yang membuat otak mereka tersengat.
"Akhirnya kelar juga gue dari soal yang menyesatkan," celetuk Asti dan di sambut dengan celetukan teman sekelasnya yang sama-sama merasa lega saat guru sudah keluar kelas.
"Menyesatkan tapi di wajibkan, bagai mencintai milik orang lain tapi menggiurkan!"
__ADS_1
"Pelakor maksud loe!" sahut Jennie yang diam-diam merasa tersinggung.
"Bisa jadi!"
"Loe pada ngomongin apa sich ngapa jadi kemana-mana, tambah pusing tau nggak gue dengernya, udah kayak abis naik rollercoaster masih disuruh naik jungkat-jungkit. Ocehan loe pada bikin perut gue melilit!" sahut Indah.
"Tau loe pada, mending ngantin nyari yang seger-seger biar otak loe pada fresh lagi, jadi tuh mulut pada kagak ngelantur ngalor ngidul!" sahut Jenni.
"Bener tuh kata si Jenni," ucap Indah menimpali omongan Jenni.
"Kalo gue nggak butuh ngantin buat nyari yang seger, liat Indah aja mata gue auto melek lagi!" timpal Bayu si ketua kelas yang diam-diam mengagumi kecantikan dan tubuh molek milik Indah.
"Kalo gitu kita liatin Indah berjamaah aja biar ikutan melek bareng!" usul teman sebangku Bayu.
"Enak aja loe, buat loe pada haram hukumnya liatin Indah kayak gitu, cuma calon masa depannya yang boleh. Udah ayo ngantin aja dari pada calon bini gue loe jadiin tontonan!"
Mendengar ocehan teman-temannya membuat Indah menggelengkan kepala. Siapa yang tak tertarik pada Indah, jangankan teman sebaya para guru yang masih singel aja suka pada Indah. Keramahan yang ia tebar mengiringi kecantikan dan tubuh yang menggoda.
"Males tau gue, ngantuk banget mau merem bentar aja," rengek Indah
"Loe tadi nyuruh orang ke kantin, tapi loe sendiri nggak mau!" ucap Asti.
"Biar loe pada kagak kebanyakan ngoceh, kalo kelas sepi kan gue bisa tidur."
"Udah pokonya makan dulu, ntar kalo loe sakit repot urusannya, nggak ada yang ngurusin loe sedangkan si Jenni udah ada yang ngerangkeng, gue harus ngehandle kerjaan loe, udah pokoknya makan dulu ntar kalo loe mau tidur, gue mintain ijin sama Bu guru!"
Saat ini Indah dan kedua sahabatnya telah duduk satu meja dengan Chiko, Jenni dan Asti yang telah duduk terlebih dahulu membuat Indah mendudukkan dirinya disebelah Chiko. Hal ini terjadi karena sesampainya di kantin semua bangku sudah penuh tinggal tersisa tiga bangku di meja yang di tempati oleh Chiko and the gang.
Makan di samping Indah membuat Jantung Chiko nggak aman, Chiko yang cuek dengan kaum hawa di buat tertarik dengan pesona Indah yang membuatnya sesekali melirik wajah cantik yang saat ini sedang menikmati semangkuk mie ayam.
"Mata harap di kondisikan bro!" celetuk Soni yang sejak tadi diam-diam memperhatikan sikap Chiko.
__ADS_1
Mendengar teguran dari temannya membuat Chiko kembali fokus dengan makanannya. Indah yang mendengar itu sempat melirik Chiko sekilas.
"Ada apa sich sama gue, klo deket dia kenapa bawaannya pengen liatin terus," batin Chiko.
"Gimana bro makan di samping Indah? mendebarkan nggak?" ledek Kiki.
"Biasa aja!"
"Biasa aja tapi muka merah gitu," sahut Soni tapi tak di gubris oleh Chiko.
Indah yang sudah selesai makan segera beranjak dari sana, yang ia ingin lakukan saat ini adalah tidur. langkahnya oleng karena tidak sengaja menginjak bungkus plastik bekas makanan yang berada di bawah mejanya. Tangan seseorang yang reflek menahan tubuhnya membuat posisi Indah saat ini berada dalam dekapan.
Mata mereka bertemu, cantik satu kata yang keluar dari bibir Chiko saat melihat wajah ayu Indah.
"Awas nanti jatuh cinta!" cletuk Kiki, setelah melihat posisi keduanya seperti sedang berpelukan mengikis jarak. Mendengar suara dari temannya membuat tangan Chiko segera melepas tubuh Indah dengan tak lupa membantu Indah untuk berdiri dengan benar.
Chiko kembali duduk dengan menatap tajam kedua sahabatnya yang meringis dengan memamerkan dua jari tanda sorry.
"Thanks," ucap Indah santai pada Chiko kemudian melangkah keluar kantin tanpa menghiraukan kedua temannya yang masih menikmati makan.
"Loe nggak pada ngikut?"
"Loe nggak liat kita masih makan?" ucap Asti dengan membalikkan pertanyaan.
"Iya gue tau, cuma kasian aja bidadari di biarin jalan sendiri," sahut Kiki.
"Temen loe aja sono yang suruh nemenin!" sahut Jenni yang sejak pagi melihat tatapan Chiko yang berbeda setiap kali melihat Indah.
Mendengar itu membuat Asti mendelik menatap Chiko, dia cukup tau maksud teman satu frekuensinya ini. Asti memperhatikan wajah Chiko dengan seksama kemudian kedua ujung bibirnya terangkat dengan mengulas senyum.
"Cakep juga, cocok sich sama Indah tapi apa tuh anak mau sama yang seumuran begini secara setau gue dia lebih tertarik sama yang lebih dewasa," batin Asti.
__ADS_1
"Loe suka sama Indah?"