Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 38


__ADS_3

Setelah mengantarkan Chiko sampai halaman tubuh Indah seketika luruh di balik pintu. Lemas....serasa ketauan sama selingkuhan. Padahal nggak ada hubungan apa-apa.


"Begini kali ya rasanya orang pada ketauan selingkuh, gila lemes bangat badan gue. Jantung gue nggak aman, bener-bener nich si om bikin masalah!"


Karena mendapat telpon dari Kiki yang meminta untuk datang ke apartemennya, membuat Chiko mau tak mau naik ke atas untuk pamit pada Indah.


Melangkah menaiki tangga dan sedikit penasaran saat mendengar seperti ada suara pria di kamar. Mencoba untuk tenang dan tak mendahulukan emosi sesaat. Chiko berdiri tepat di depan pintu kamar, tetapi saat ingin mengetuk pintu orang yang ia cari membukanya.


"Chiko..."


"Maaf kalo gue lancang, gue buru-buru mau balik. Makanya gue naik ke sini, tapi tadi gue seperti mendengar suara pria di kamar loe. Siapa?"


Indah gelagapan mendapatkan pertanyaan yang membuatnya bingung untuk menjawab.


"Mmmm nggak ada siapa-siapa kok ko," ucap Indah gelagapan tapi hal itu justru membuat Chiko merasa semakin penasaran.


"Sayang, ada yang loe tutupin dari gue?"


"Kenapa harus nutup-nutupin, toh emang nggak ada siapa-siapa di dalam. Gue berasa kayak pacar yang ke geb sama cowoknya. Padahal kita ada hubungan aja nggak." Indah berusaha untuk santai, tetapi dengan sekali gerakan Chiko membuka pintu kamar Indah.


"Chiko! kamar tuh privasi gue!"


"Tapi loe pacar gue Indah, jadi wajar gue curiga." Tegas Chiko kemudian masuk ke dalam kamar Indah begitu saja. Indah yang merasa takut jika Chiko melihat Nicko di sana segera menarik tubuh Chiko untuk segera keluar.


"Chiko loe jangan keterlaluan! lagian kapan gue bilang iya, cowok tuh bisanya pada ngaku-ngaku doank!" Chiko dan Indah sudah keluar kamar, dengan tatapan kesal Indah segera turun duluan. Dalam hatinya ia ingin sekali mencium Nicko karena paham akan situasi. Tapi kemana itu orang? akh mungkin di kamar mandi!"


"Gue minta maaf, tapi gue kan udah bilang kalo loe cewek gue! gue bakal sering kesini dan jangan loe coba-coba buat nolak gue!"


"Terserah!"


Indah sudah berdiri di ambang pintu, membuat Chiko yang merasa seperti di usir segera ikut keluar dan pamit.


"Gue balik, udah jangan manyun gitu! Gue nggak akan sembarangan masuk kamar loe lagi. Tapi please itu mulut jangan pedes banget apa, kasih kek kesempatan buat gue!"


"Iya udah sana balik! katanya tadi buru-buru bukannya cepetan!"


Chiko mendekatkan diri hingga Indah mepet ke dinding. Untung suasana depan rumah Indah sepi. Kalo tidak sudah di pastikan di kira ngapa-ngapain.


"Mau apa sich ko?"


"Gue nggak akan mau berbagi Indah, seandainya yang gue denger tadi bener! gue akan ngerebut loe dari cowok itu!"


cup


Kemudian Chiko pergi dengan meninggalkan tanda sayang di pipi.

__ADS_1


Sekejap Indah teringat akan Nicko yang tadi ada di kamar dan ingin tau bersembunyi dimana itu orang. Indah naik ke atas setelah mengunci pintu dan tubuhnya kembali kuat. Membuka pintu kamar mencari keberadaan pria berjas yang tadi sempat membuat kesal, masuk kamar mandi pun tak ada pria itu di sana.


"Kamu nyari siapa?" tanyanya yang tiba-tiba muncul saat Indah sudah keluar kamar mandi.


"Ikh ngagetin aja dech! Om dari mana kok aku cari nggak ada?" Nicko menarik tubuh Indah masuk ke dalam dekapannya. Mencari kenyamanan disana karena hatinya sempat panas, melihat sang gadis di cium adiknya sendiri. Dan harus bersaing tanpa ada yang tau.


"Om...."


"Tetap begini sayang, aku butuh memulihkan hatiku."


Indah diam membiarkan tubuhnya di dekap semakin erat, sampai terasa setitik air menempel di pipinya. Tak ingin banyak bertanya hanya diam dan menurut saja. Indah berpikir mungkin sedang ada masalah.


Hingga hampir setengah jam Nicko baru melepas tubuh Indah perlahan. Mengangkat gadis itu kemudian melangkah ke ranjang. Duduk di pangkuan Nicko dengan tangan mengalung di pundak dan tubuh rapat menghadapnya.


"Kenapa?


Indah menggelengkan kepala, menghapus sisa air mata yang ada di pelupuk mata Nicko.


"Om cengeng."


"Cuma kamu yang bisa buat aku nangis. Jangan bilang sudah, aku nggak mau pisah. Apapun masalah yang ada kita hadapi sama-sama. Aku akan membantu semua keperluan kamu. Kalo kamu masih mau bekerja, bekerjalah denganku."


"Maksudnya?"


"Apa nggak bosen?" tubuh Indah menggeliat saat kecupan itu semakin liar.


"Nggak ada kata bosen buat kamu."


"Tapi kemarin aja baru sehari tanpa aku, om udah bisa bermain dengan yang lain."


Ciuman itu semakin turun ke bawah, mengelilingi leher jenjang Indah membuat gadis itu sedikit meronta.


"Kamu pikir bisa? bahkan si Mickey nggak ada reaksi apa-apa, melihat ininya saja belum." Nicko meremat sesuatu yang membangkitkan si mickey dari peraduannya. "Aku mengusirnya dan aku datang kesini." Suara Nicko sudah berat dengan mata sayu dan sesuatu yang keras di bawah sana.


"Berjanjilah bersamaku! bahkan aku akan menggajimu, asal kamu tak kembali bekerja dengan pria lain. Sebenarnya aku nggak mau begini, aku tulus tetapi karena kamu masih kekeh ingin kerja. Oke kamu mulai malam ini bekerjalah dengan kekasihmu sendiri!"


"Jika aku menolak?"


"Kamu pikir aku memberi pilihan?"


"Pemaksa!"


"Tapi kamu suka!"


Mereka saling tertawa, malam ini Nicko menghabiskan malamnya dengan menemani Indah belajar. Baru kali ini pria itu melihat wajah serius Indah yang membuatnya semakin gemas.

__ADS_1


"Om ikh iseng dech!" sewot Indah saat Nicko iseng dengan menyubit pipinya.


"Gemesin! udah belajarnya, hampir dua jam loh kamu belajar." Nicko menutup buku bacaan Indah dan membereskannya.


"Om nggak pulang?" Indah melangkah merapatkan pintu balkon dan menguncinya. Menutup hordeng dan beranjak ke ranjang.


"Aku mau pastikan kamu tidur dulu baru pulang." Nicko membuka kemejanya dan menyisakan kaos tipis menempel di tubuh.


"Aku biasa tidur sendiri!" Indah merebahkan tubuhnya.


Nicko menarik selimut menutupi tubuh Indah hingga sebatas dada. "Kapan kamu bekerja denganku?" tanyanya karena tadi ketika Nicko sudah meminta lebih ternyata Indah tak bisa memberi, tamu bulanan menghalangi.


"Seminggu lagi dan maafkan aku Mickey jika membuatmu resah."


"Si Mickey masih on dan butuh di bebaskan, gimana dengan cara lain? kamu benar-benar tidak berperasaan jika membuatnya libur sampai satu Minggu."


"Aku sedang bernego dengan Mickey om, bukan denganmu." Tangan Indah merambat memegang tubuh Mickey yang begitu kekar di balik celana. "Seminggu tak akan lama jika kamu menurut!"


"Ugh......sayang."


"Kata majikanmu, kamu nggak mau bangun jika tak bersamaku? benarkah? apa segitunya menginginkanku? Wah kamu sampai menangis ternyata...." Indah sudah membuka penutup Mickey dan membiarkan Mickey terbebas.


"Sayang......" suara berat Nicko sungguh meresahkan di telinga.


"Air mata Mickey." Indah menunjukkan cairan bening yang ada di jemarinya.


"Buat mickey tidur, karna kamu harus tanggung jawab sayang!" ucap Nicko penuh penekanan.


"Kalo aku nggak mau?"


"Kamu jahat!"


Indah tertawa, melihat wajah Nicko yang padam karena menahan. Dan Indah hanya mengusap lembut kepala Mickey hingga membuat mickey semakin menangis.


"Apa kah Mickey pun mencintaiku?"


"Sangat."


"Bagaimana dirimu?"


"Harus dengan apa aku membuktikannya? kamu kekasihku, jelas aku mencintaimu." Nicko sedikit kesal karena cukup pegal menahan Mickey yang sejak tadi berdiri tegak.


"Kalo gitu buktikan...tidurkan dia tanpa aku campur tangan!"


"Sayang!"

__ADS_1


__ADS_2