
Sepulangnya dari rumah mertua Indah segera menghubungi kedua sahabatnya. Hampir seminggu mereka tak berjumpa, ada rasa rindu di hati ketiganya.
"Gimana kabar pengantin baru? diem-diem Bae, seneng banget kayaknya itu muka sampe sumringah bener!" ujar Asti.
"Iya, beeehhhhh itu cupaaang sampe penuh begitu, si om ganas ya?" tanya Jenni dengan senyum meledek.
"Bukan main, hampir tiap hari begadangin si mickey. Eh ayo kita ke butik, besok kan di pakai kebayanya."
"Jam berapa kesana?" tanya Asti.
"Sekarang langsung otw, sore udah harus sampe rumah. Ntar laki gue pulang nyariin, bininya masih ngayab."
"Iya dach yang udah punya laki. Cuuzzz ayo, loe mau gue jemput? Jenni loe juga bareng nggak?"
"Iya donk." Sahut Indah dan Jenni.
Indah segera bersiap menunggu Asti datang, meneliti isi tas mana tau ada yang ketinggalan.
"Handphone, dompet, uang, ATM, udah semua tinggal jalan." Indah turun dan segera keluar rumah saat klakson mobil Asti terdengar.
Sedikit berlari hingga sampai di depan mobil sahabatnya. Mereka bertiga segera pergi menuju butik langganan mereka, tempat biasa membeli baju seksi untuk bekerja kini membeli kebaya untuk wisuda.
"Eh ini bagus nggak sich?" saat tangan Asti berhenti di kebaya berwarna hitam.
"Loe dah kayak mau kondangan, yang lain lah." celetuk Jenni.
"Apa mau samaan?" tanya Indah.
"Nggak akh udah kayak trio kwek-kwek!" sahut Asti.
Indah menarik nafas dalam kemudian kembali memilih kebaya yang cocok untuknya. Tangannya terus bergerak meneliti satu persatu display yang memamerkan banyak model kebaya dari yang klasik hingga modern. Jemarinya terhenti di kebaya warna maroon dengan bagian dada tinggi yang di hiasi brokat dan bagian belakang sedikit terbuka tapi masih tertutupi oleh bahan tipis dari kebaya.
"Gue ini aja dech," Indah segera mencobanya, tanpa perduli ucapan Nicko tadi yang berpesan kepadanya untuk mengirimkan foto setelah mencoba kebaya pilihannya untuk acara esok hari.
Setelah mendapatkan kebaya yang mereka inginkan ketiganya melipir ke cafe untuk makan siang, bersenda gurau dan sekedar mengobrol ringan karena setelah lulusan sudah di pastikan mereka akan memiliki kesibukkan masing-masing.
Begitupun dengan Indah yang akan sibuk kuliah dan menjadi seorang istri.
"Beda emang punya laki tajir mah, itu tas keluaran Paris cuma ada satu di Indonesia dan loe punya. Gila sich, laki loe duitnya ngga berseri."
__ADS_1
"Ini seserahan dari mertua gue Jen, di syukuri aja. Emang pilihan mamah tepat, eh untungnya yang di jodohin dia. Kalo bukan nggak tau juga bakal gimana, canggung pastinya," tutur Indah.
"Emang udah jodoh mau di kata apa, mudah-mudahan ponakan gue buru launching dech, nggak sabar mau lihat cetakan hasil karya Indah sama si Om, udah pasti gedenya jadi primadona," sahut Asti.
"Ya kalo cewek, kalo laki?" timpal Jenni.
"Ya primadoni!" ketiganya tertawa, bahkan menjadi pusat perhatian. Tak perduli dengan yang lain, karena waktu bersama seperti ini hal yang sangat di nantikan.
Pulang dari cafe Indah segera membersihkan diri, undangan kedua sahabatnya untuk datang ke club' nanti malam jelas di tolak oleh Indah. Tak ingin membuat Nicko cemburu dan berujung ribut karena di sana sudah pasti masih banyak yang sangat menantikan dirinya.
..."Sayang, malam ini aku pulang telat dan mungkin tidak pulang, karena masih banyak pekerjaan yang harus aku urus."...
Indah menarik nafas dalam, alamat bobo sendiri. Melirik ranjang yang sudah rapi dan lingerie yang melekat di tubuh ramping. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Indah melangkah menuju dapur untuk mencari cemilan, karena menunggu Nicko pulang jadi gagal makan malam. Hidangan di meja makan pun malas ia makan.
Bergelung di dalam selimut mencari kehangatan, pertama kali dia tidur sendiri setelah resmi menikah. Sepi, senyap, hanya ada suara detakan jarum jam dan jantungnya. Hingga pagi menjelang, Indah di kejutkan dengan foto yang dikirim entah dari siapa yang membuat air matanya mengalir deras. Foto sang suami yang tengah tidur dengan seorang wanita berambut panjang tapi tak terlihat wajahnya karena di dekap erat oleh suaminya. Hancur saat benar-benar menjatuhkan harapan dan raga pada satu orang pria tapi di khianati dan di hempaskan begitu saja sampai tak tersisa. Padahal hari ini hari bersejarah untuknya, tapi sambutan pagi membuat dadanya begitu sesak hingga terasa sulit untuk bernafas.
"Tega kamu by...."
Indah menangis terisak dalam diam, tak sanggup melihat beberapa foto yang menunjukkan kemesraan keduanya dengan kemeja yang sama saat berangkat kerja pagi tadi. Di foto itu juga jelas terlihat jam dan harinya. Waktu dimana pesan dari sang suami terkirim di ponselnya dan ternyata sedang berdua dengan wanita.
Sakit hatinya belum usai, setelah kabar dari sahabatnya jika semalam melihat Nicko masuk hotel yang sama tempat Asti bekerja. Baru hampir sebulan mereka menikah tetapi sudah mendapati kenyataan pahit di awal pernikahan.
Make up yang sedikit tebal menutupi matanya yang sembab, rambut yang di sanggul modern membuatnya tambah anggun dan cantik. Apa lagi kebaya yang pas di tubuh sintalnya yang aduhai. Tapi semua tak ada artinya saat mendapati sang suami bermain gila.
Sampai di sekolah dengan taksi yang ia pesan. Berjalan perlahan dengan high heels yang menggema di lantai sekolah. Indah berusaha untuk tegar, ia harus tetap tersenyum karena tak ingin membuat acara kelulusan hari ini menjadi hampa.
Banyak pujian yang datang, dari teman sampai guru yang melihat penampilan Indah yang begitu menawan. Berkumpul dengan kedua sahabatnya yang menatap iba tapi tak banyak bicara.
"Sabar ya..." ucap Asti singkat kemudian kembali mengikuti acara yang di suguhkan.
Kedua mertuanya turun setelah memberi sambutan karena berperan sebagai pemilik yayasan. Indah hanya menyaksikan tanpa mengucapkan apa-apa.
"Sayang, ini hasil kelulusan kamu. Selamat ya nak....." mamah memeluk Indah dengan erat mencium kening menantunya dengan penuh sayang.
"Mamah..."
"Iya nak, oh ya. Tadi Nicko berpesan jika mamah di minta untuk mengambil hasil kelulusan kamu dan menjadi wali murid menggantikannya nak. Nicko bilang pagi ini keluar kota ada pekerjaan yang tak dapat di tinggal. Nicko sudah pamit kamu kan sayang?"
Indah tercengang mendengar penuturan dari mamah, bahkan sejak pagi tadi ponsel suaminya tak dapat di hubungi. Dan sekarang pergi tanpa pamit. Indah berusaha menahan air matanya, ia tak ingin membuat mamah khawatir dan kecewa.
__ADS_1
Indah tersenyum, "iya mah, kak Nicko tadi sudah mengirim pesan. Mudah-mudahan pekerjaannya cepat selesai." Hanya kata itu yang bisa Indah ucapkan menutupi rasa sakit yang semakin terasa.
Hingga acara selesai, Indah hanya diam tak bersuara. Mengikuti dengan baik dan tersenyum jika memang ada yang menyapa. Kedua mertuanya sudah pulang sejak satu jam yang lalu, tinggal Indah dan kedua sahabatnya yang sejak tadi ikut diam tak ingin menambah beban. Mereka tau hati Indah tak mau di usik, jika tak ada acara penting mungkin dia tak akan pergi.
"Ndah...selamat ya." Chiko menghampiri dengan senyum yang mengembang, menjulurkan tangannya mengucapkan selamat.
"Loe juga selamat ya, sukses kedepannya."
"Kak Nicko nggak dateng ya?"
"Hmmm sibuk kerja," Indah terus tersenyum menutupi segala luka.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Mata loe nggak bisa bohong!"
"Gue baik-baik aja." Jawab Indah singkat kemudian mengalihkan pandangannya.
"Ya udah, gue balik duluan!"
"Hhmm...."
Asti dan Jenni menatap Indah dan menggenggam tangannya, mereka tau sedihnya Indah saat ini.
"Kita pulang yuk, apa mau hangout dulu?"
Indah menggelengkan kepala, "pulang aja!" tak ada lagi yang Indah harapkan, semua hancur sejak ia meneteskan air mata pagi tadi. Bayangan akan kedatangan sang suami yang menjadi wali dengan bunga dan kado di tangannya hilang sudah. Hanya kegetiran yang ia tutupi di balik senyuman.
"Tapi enaknya kita kemana gitu dulu buat ngerayain hari kelulusan kita masih sore juga," sahut Jenni tapi seketika di senggol oleh Asti.
"Loe nggak ngerti sahabat loe lagi butuh sendiri, udah kita anterin Indah pulang dulu aja!"
Masih dengan kebayanya Indah melangkah gontai menuju rumah. Asti dan Jenni yang sepakat menemani pun ikut turun dari mobil. Melangkah bersama, tapi Indah terheran saat pintu rumah tak terkunci padahal jelas pagi tadi ia menguncinya dengan rapat.
Sempat menatap kedua sahabatnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Kemudian kembali melangkah masuk kerumah, baru satu langkah kaki jenjangnya menginjakkan lantai suara yang tak asing bahkan begitu menyayat hati terdengar jelas. Dalam gelapnya ruangan yang belum Indah hidupkan lampunya mata Indah menangkap kemeja sang suami tergeletak di lantai, bahkan ada baju wanita juga yang membuat Indah mengepalkan tangannya.
"Indah suara itu?"
__ADS_1
"Keterlaluan!"