
Setelah makan malam bersama dengan memesan makanan melalui online, kini Nicko bersiap ingin pulang. Sebenarnya cukup berat berjarak dengan gadis cantik yang kini sedang terduduk memperhatikan. Tetapi tak mungkin jika ia terus menginap dan membuat orang tuanya di rumah tak henti menghubungi.
"Sayang aku pulang ya," ucapnya setelah kembali memakai kemeja dan mendekati Indah yang duduk di pinggir ranjang.
"Iya, hati-hati ya..."
"Kamu jangan kemana-mana ya, aku nggak akan tenang jika kamu keluar sendiri." Tangannya terulur mengusap pipi Indah kemudian mengecupnya.
"Biasanya juga sendiri!"
"Sayang, sekarang sudah ada aku. Dulu dan sekarang sudah berbeda, jangan buat aku kepikiran di rumah. Aku pun nggak akan kemana-mana."
"Serius?"
"Apa masih belum yakin?" mata keduanya terkunci.
"Percaya sayang Koko...." ntah siapa yang memulai kini kedua bibir itu sudah kembali menyatu, menyesap manis yang membuat candu. Hingga Nicko mengeratkan pelukannya dan meraih tengkuk Indah untuk memperdalam.
Tangan Indah pun sudah mencengkeram kemeja Chiko hingga terdapat bekas lusuh di sana. Tak mengapa asal gadisnya senang, gereget keduanya hingga sama-sama menjelajah di muara Saliva yang memabukkan.
"Aku pamit ya, baik-baik di rumah. Langsung tidur aja sudah malam. Dan nggak usah turun, biar aku yang mengunci pintunya."
"Dapat kunci dari mana?"
"Bahkan aku punya sepuluh kunci Duplikatnya."
Sella benar-benar tak menyangka dengan kelakuan kekasihnya yang betul-betul membangongkan.
"Kalah tukang kunci!" celetuk Indah.
"Ini aku lakukan untuk memudahkanmu juga, nggak perlu capek kalo aku datang harus naik turun tangga. Cukup menunggu di kamar dan aku akan datang."
"Terserah kamu aja, untung nggak ada orang di rumah. Kalo ada_"
"Kalo ada nggak mungkin aku ngelakuin ini, karena kamu nggak mungkin berani membawa orang lain masuk ke dalam rumah."
Sella menyipitkan mata, "Siapa yang aku bawa kerumah, bahkan kamu itu orang pertama!"
__ADS_1
Mendengar ucapan Indah, sungguh membuat hati senang, dia yang pertama dan akan menjadi yang terakhir.
"Ya sudah aku pulang dulu ya," Nicko mengecup sayang kening Indah. Kemudian pergi dari sana setelah memastikan semua aman.
Jika tak memikirkan Indah, mungkin Nicko tak akan pulang. Banyak hal yang ia takutkan karena orang tuanya yang bisa saja berbuat nekat.
Sesampainya di halaman rumah Nicko segera memasukkan mobilnya ke bagasi dengan rapi. Melirik mobil adiknya sejenak kemudian memutuskan untuk masuk.
"Dari mana semalam tak pulang?"
"Aku menginap di rumah teman," jawabnya tanpa berhenti melangkah, ia hanya ingin segera masuk kamar dan beristirahat.
"Teman yang mana yang membuatmu betah sampai tak pulang? Apa kamu lupa akan perjodohan yang sudah mamahmu rencanakan? jadi jangan membuat ulah Nicko!"
Nicko berhenti melangkah, menatap sengit sang papah yang terus mengingatkan. Sedangkan hati tak terima, kenapa terus saja di paksa.
"Aku sudah bilang, jika aku tidak mau. Kalian yang memaksa, jika memang benar-benar menginginkan pernikahan. Kenapa tidak kalian jodohkan saja Chiko?"
"Chiko masih kecil untuk menikah, bahkan dia masih harus banyak belajar. Stop kamu menolak, karena keputusan sudah bulat!" tegas papah.
"Ck..." Nicko tak lagi menjawab, dia lebih memilih segera masuk kamar dari pada terus berdebat.
Nicko diam tanpa meninggalkan kata, terus melangkah hingga masuk menuju kamar. Sejenak matanya melirik kamar sang adik yang berada di samping kamarnya. Ntah ada dorongan apa, ia rasanya ingin menyapa.
Mengetuk sejenak, "Chiko..." panggilnya hingga pintu itu terbuka dan menampilkan adiknya dengan rambut acak-acakan.
"Ada apa kak? tumben....."
"Boleh kakak masuk?"
Chiko membuka lebar pintu kamarnya dan bergeser membiarkan sang kakak masuk. Nicko yang mengerti segera melangkah masuk, matanya menyapu setiap sudut kamar adiknya yang sudah lama tidak ia kunjungi. Hingga pandangannya terhenti pada bingkai foto yang menampakkan dua orang anak laki-laki dengan beda usia.
"Ini foto kamu waktu berumur 10 tahun, dan kakak sudah SMA kelas 3 waktu itu."
"Iya, foto saat aku berulang tahun yang ke 10. Dan kakak membelikan aku kado ini." Chiko menunjukkan sebuah sepatu roda yang masih ia simpan dengan baik. "Ini kado pertama dari kakak, setelah menabung hampir sebulan. Makanya ini sangat berharga untukku."
Nicko tersenyum melihat sepatu roda lengkap dengan pembungkusnya, seakan tak boleh terkena debu sedikitpun. Kemudian dia duduk di pinggir ranjang, melihat banyak foto kenangan yang tertempel rapi di kamar adiknya.
__ADS_1
"Bahkan di kamar kakak nggak ada satupun foto yang terpajang. Tapi di kamarmu, kakak seperti melihat pameran."
Chiko duduk di samping Nicko, "Aku sangat menghargai setiap momen yang ada. Apa lagi bersama kakak, karena bagiku kakak segalanya. Kakak yang menjadikanku seperti sekarang, pemberani,pintar dan percaya diri."
Nicko menepuk pundak adiknya, "adiknya kakak memang harus menjadi lelaki pemberani. Dulu kamu melihat balon saja takut, sampai membuat bingung keluarga saat perayaan ulang tahunmu rumah tak ada balon atau hiasan lain."
Chiko tertawa, dia mengingat semuanya. Dulu selalu sang kakak yang membela ketika dia di bully temannya. Apa lagi jika ketahuan pulang main dalam keadaan menangis, pasti sang kakak yang segera menghampiri.
"Sehat ya kak."
"Hhmm, kamu juga." Nicko sedikit tersentuh dengan sikap sang adik. Pikirannya langsung mengarah pada gadis yang sama-sama mereka cintai.
"Apa kamu sudah punya kekasih?"
Chiko kembali tersenyum mendengar pertanyaan sang kakak. "Lagi masa pendekatan kak, tapi aku sekuat tenaga berusaha. Dia gadis cantik, manis dan baik. Awalnya hanya rasa tertarik tetapi sekarang sudah mencapai titik di mana aku nggak ingin kehilangan."
Nicko menekan rasa cemburu di hatinya, benar adanya sang adik mencintai kekasihnya begitu dalam. "Apa dia membalas cinta kamu?"
"Belum, dia selalu menolak jika aku dekati. Tapi semakin dia menolak semakin membuatku tertantang dan ingin mendapatkan. Doakan aku ya kak, ini cinta pertamaku, gadis yang pertama mengetuk pintu hatiku."
"Hhmm.......Ya sudah kakak kembali ke kamar ya, kamu istirahat. Besok sekolah kan?"
"Iya kak."
Nicko segera beranjak dari sana melangkah keluar kamar, tetapi langkahnya seketika terhenti dengan pertanyaan yang Chiko ajukan.
"Bagaimana dengan kakak, siapa gadis yang sudah membuat kakak move on?"
Nicko membalikkan tubuhnya, menatap sang adik dengan perasaan yang tak karuan.
"Dia gadis cantik yang mandiri."
"Salam untuk dia kak, dia gadis hebat yang bisa meluluhkan hati kakak," ucap Chiko dengan senyum mengembang.
"Hmm..." Nicko segera keluar dari kamar. Hatinya gamang, tak tega jika harus bersaing dengan sang adik. Apa lagi setelah mengetahui isi hati adiknya yang begitu menyayangi. Apa ia harus setega itu mematahkan hati, tapi dia pun tak mengingkari jika hatinya berat jika harus memilih.
Sampai di kamar Nicko segera membuka kemejanya dan melepaskan hingga bertelanjang dada. Menyempatkan membersihkan diri sebentar di lanjut rebahan.
__ADS_1
Mengecek ponsel dengan satu pesan belum di baca. Sebuah foto terpampang nyata, baru ingin istirahat. Sudah di buat meradang.
"Dasar nakal!"