
Indah melakukan pekerjaannya dengan baik, memuaskan itulah tujuannya. Dengan segala rayuan dan kata-kata lembut mendayu di telinga pria yang telah siap menerima pelayanan yang memuaskan.
Malam ini rupiah menanti, ATM semakin menggendut jika dia semakin rajin. Tubuhnya basah akan peluh yang bercucuran. Kerja keras malam ini karena mendapatkan tamu yang begitu perkasa.
Hingga jalan terakhir adalah menggesekkan kepala si Mickey di mawar tak berduri. Tak hanya pria di bawah kungkungan Indah yang merasakan nikmat. Indah pun merasakan termanjakan oleh si Mickey yang mulai nakal.
"Ough baby terus sayang..."
"Iya om, kepala si Mickey besar buat si Minnie jadi dag Dig dug om."
Indah terus menggerakkan batang besar nan perkasa itu, melihat bentuknya mengingatkan ia pada milik Nicko yang tak kalah besar dan gagah.
"Lebih di percepat syank...."
Mendengar itu membuat Indah semakin bersemangat, ini tanda si om ingin mencapai puncak. Dirinya pun sebentar lagi ingin sampai. Tubuhnya semakin di dekap erat oleh pria itu, hingga membuat Indah semakin tergoda untuk bergerak liar agar benda kenyal yang ia punya semakin menggoda.
Dan benar saja, tak lama pria itu mengerang hingga tubuhnya bergetar di susul oleh Indah yang juga mencapai puncak yang sama.
Indah ambruk setelah kerja keras yang cukup menguras tenaga. Tangannya kebas setelah berpacu dengan si Mickey di medan perang.
Nafas keduanya ngos-ngosan seirama dengan dada yang naik turun. Perlahan Indah melesat masuk ke kamar mandi, membersihkan sisa-sisa cairan yang tadi dimuntahkan begitu saja.
"Kelar malam ini....."
Di bawah guyuran shower Indah membersihkan sisa sentuhan pria nakal yang meminta kepuasan. Indah tak pernah membiarkan tubuhnya pulang dalam keadaan masih beraromakan tubuh pria.
Berangkat bersih pulang pun tak kalah wangi.
Setelah di rasa sudah rapi dengan tampilan sama saat ia datang tadi, Indah segera pamit dengan pria yang saat ini tengah memperhatikan Indah di atas ranjang dengan selimut yang menutupi bagian bawahnya.
"Cinta pamit ya om, makasih transferannya."
"Sini dulu baby...."
Pria itu ingin menarik tubuh Indah lagi, tetapi Indah mundur dan tak ingin.
"Eits Cinta udah abis mandi loh om, kasian nanti yang lain kalo pas nyium cinta masih ada aroma tubuh om!"
"Kamu memang pintar ya, ya sudah hati-hati bonus nanti om transfer lagi!"
"Makasih banget om, cinta balik ya. Dach om, muach...." Indah mencium jarak jauh dan segera melesat keluar kamar.
__ADS_1
Indah menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar itu, matanya terpejam dengan menarik nafas dalam.
"Untung gue nggak nurutin tuh orang, bisa over time nanti," gumam Indah kemudian melangkah pergi dari kamar itu.
Sesampainya di lobby hotel Indah segera memesan taksi online untuk mengantarkannya ke club tempatnya bertemu dengan Asti.
Jari lentik itu mulai berselancar di ponselnya tetapi sebelum menekan tombol pesan tangannya sudah lebih dulu di tarik dan masuk ke dalam mobil tanpa sempat melakukan perlawanan.
"Om..."
"Saya antar pulang!"
Adit yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, Nicko benar-benar terjerat dengan Indah. Hingga sejak tadi dia mengumpat kesal karena Indah yang tak kunjung keluar dari kamarnya.
Nicko yang menghentikan permainannya tadi di pertengahan jalan karena tiba-tiba si Mickey bobo dan tak bersemangat. Membuat dia sedikit emosi dan berakhir membayar tanpa ada kepuasan.
"Cinta bosen lihat om terus, om nich nungguin cinta ya..."
"Itu kamu tau, lama banget sich?" tanya Nicko yang saat ini sudah duduk di samping Indah dengan menatap lekat wajah ayunya.
"Ikh kan Cinta kerja ngapain juga di tungguin! udah akh Cinta mau pulang sendiri!" Indah ingin keluar dari mobil tetapi di tahan oleh Nicko yang sudah menarik pinggul Cinta hingga keduanya tak berjarak.
"Jalan Dit!"
"Kenapa? ini di luar jam kerja dan aku ingin kita berteman."
"Teman?" tanya Indah, hembusan nafas Indah tepat di wajah Nicko yang membuat pria itu seketika memejamkan mata.
Kembali tergoda apa lagi bibir mungil itu tepat di depan mata dengan posisi yang sangat Intens. Dan lagi-lagi si Mickey bangun tanpa di minta.
Nicko berusaha menguasai keadaan yang ada, dia kembali menatap kedua mata Indah yang meneduhkan. Ini tak pernah ia rasakan pada wanita yang lain termasuk Vera, mantannya.
Mata itu penuh kehangatan yang membuat dirinya betah berlama-lama menatap keindahannya.
"Om...."
"Hhmmm....."
"Teman gimana maksudnya? aku nggak punya teman seperti om, tamu sebatas semalam dan jika ingin hanya untuk teman ranjang dan itu juga berbayar sesuai pekerjaan."
"Jika aku ingin lebih gimana?"
__ADS_1
"Tapi aku nggak minat om!" Indah dengan tegas menolak, dia menarik tubuhnya hingga keduanya kini duduk bersebelahan dengan benar.
"Om asisten, aku mau ke club ya. Tolong antar aku kesana!"
Adit sempat melihat Indah lewat kaca spion yang mengarah ke belakang kemudian tersenyum melihat Indah dan mengiyakan permintaannya.
"Iya Indah," jawab Adit.
"Itu sebelah kamu kenapa Indah? kok muka di tekuk begitu? abis di tolak cintanya?"
Nicko memalingkan wajahnya saat Indah menoleh ke arahnya dan mencari tau kebenaran ucapan Adit.
"Mungkin ngambek om, kok om panggil aku Indah, tau dari mana?" tanya Indah penasaran dan itu membuat Nicko kesal melihat Indah yang justru lebih tertarik berbincang dengan Adit dari pada dengannya.
"Ada yang minta kepoin kamu, dia serius loh Ndah! lagian nama kamu kan Cinta Sellindah, apa salahnya kalo panggil Indah juga?"
"Ya nggak salah, sah-sah aja mau panggil aku Cinta atau Indah, tapi kan nggak ada pria malam yang manggil aku Indah kecuali kalian!"
"Eh aku bukan pria malam ya, sebelah kamu itu yang pria malam."
"Diem loe Dit!" ketus Nicko mendengus kesal.
"Lagian kamu ngapain jadi ngobrol sama dia sich, di sini tuh aku yang mau kenal kamu lebih bukan dia!"
"Sebenarnya mau om apa?"
"Aku mau kita berteman, apa itu sulit? nggak ada syarat kan jika orang mau mengajak berteman?" tanya Nicko yang sudah kembali menatap wajah Indah, yang membuatnya semakin betah.
"Kan Indah udah bilang Indah nggak mau om, Indah itu hanya gadis malam dan hanya di panggil sesuai permintaan. Dan om itu hanya sebatas tamu Indah!"
"Tapi aku memaksa!" Nicko terus saja berusaha, dia ingin lebih dekat dengan Indah, nyatanya tubuhnya sangat menginginkan gadis itu. Nicko pikir jika sudah berteman tak ada batasan di antara keduanya.
"Aku nggak pantas berteman dengan om! Om itu orang kaya dan pasti terpandang, bagaimana jika orang di sekeliling om tau dan merasa keberatan? Jadi cukup seperti ini saja karena aku hanya ga..... mmppfff."
Nicko membungkam bibir Indah, dia tak perduli dengan pekerjaan Indah, dia menginginkan gadis itu dan sangat ingin dekat dengannya.
Adit yang melirik kaca spion mengumpat kesal karena adegan yang ada di jok belakang.
Nicko memperlakukan benda kenyal itu dengan lembut, berbeda dengan wanita malam yang ia nikmati. Dia seakan tak ingin gadis di depannya ini tergores sedikitpun. Tanpa ingin menjelajah lebih, Nicko melepas kecupan itu.
Mata keduanya terkunci, ntah apa yang dirasakan Indah saat ini, hatinya berdebar saat netra itu tak ingin beranjak.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu..."