Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 32


__ADS_3

Bugh


Bugh


Bugh


"Bangsaaat!"


"Loe apain cewek gue anjinggg!"


Nicko memukulnya dengan membabi buta, apa lagi saat matanya melihat kelakuan pria yang dengan jelas-jelas menyakiti.


Indah merasa lega dan bersalah saat Nicko dengan wajah emosinya masuk kamar dan langsung menyerang. Tetapi seketika rasa takut menghinggapi dirinya melihat Nicko yang terus menyerang tanpa ampun.


"Berani loe nyakitin cewek gue!" seru Nicko.


"Om cukup!" Indah berlari memeluk Nicko dari belakang. Rasa takutnya mendominasi, apa lagi kini pria sakit itu sudah babak belur.


Nicko terdiam saat tubuh gadisnya bergetar di belakang tubuhnya, sempat melirik dengan kepahitan yang melukai jiwa. Matanya terpejam dengan nafas tersengal, kemudian menatap tajam pria yang saat ini sudah terkulai lemas di lantai.


"Loe sakit! loe gila! loe saiko! kalo nggak karena cewek gue, udah gue bunuh loe bangsatt!"


"Ampun Pak!"


Nicko berbalik dan meraih tubuh Indah, memeluknya dengan erat. Ekor mata Nicko basah melihat wajah dan tubuh Indah yang memerah. Tangannya merogoh ponsel yang ada di kantong celana.


"Halo"


"......."


"Loe urus orang gila ini! gue balik sekarang."


Nicko merangkul tubuh Indah dan membawanya keluar dari kamar.


Sesampainya di dalam lift, Nicko melepaskan pelukannya. Mata Nicko beralih ke baju yang terbuka dengan menonjolkan setiap lekuk tubuh Indah. Tetapi begitu mengenaskan jika di pandang.


Nicko membuka Hoodie miliknya kemudian memakaikannya pada Indah. Dalam diam tangannya bergerak, sedangkan Indah hanya menurut dengan wajah sendu.

__ADS_1


Nicko tersenyum tipis melihat penampilan Indah dengan Hoodie yang terpasang ditubuhnya. Bahkan benda itu kini tampak kebesaran di tubuh Indah, hanya sebagian kakinya yang terlihat. Nicko kembali mendekap, mengecup kening Indah yang sejak tadi hanya diam tak bersuara.


"Maafkan aku, aku terlambat." Lirihnya dalam kekecewaan.


Air mata Indah kembali menetes, tak seharusnya Nicko meminta maaf pada kesalahan yang bukan ia perbuat. Justru dia yang harusnya berterimakasih karena tak di sangka akan hadir.


Dalam perjalanan tak ada pembicaraan apa lagi perdebatan hingga sampai di kediaman Indah, Nicko segera membukakan pintu mobil untuknya.


Masuk kerumah dengan saling bergandengan tangan, mengajaknya masuk kamar dan duduk di tepi ranjang. Nicko menatap Indah dalam diam, mengunci kedua bola mata yang basah. Senyum getir kembali Nicko sematkan, membelai lembut rambut Indah yang masih berantakan.


"Kenapa keluar?"


"Maaf..."


"Kenapa ingkar?" tanyanya lagi dengan lembut.


"Maafin aku...." lirih Indah dengan tertunduk.


"Kamu itu kekasihku dan jika malam ini sampai di jamah pria lain, apa kamu tak mengingat akan aku?"


"Aku terpaksa."


Penghianatan yang sama tetapi beda tujuan, wanita yang ia cintai kembali memadu kasih dengan pria lain. Dia tau Indah terpaksa, tetapi semua bisa di bicarakan. Bukan mengambil keputusan di belakang.


"Aku salah, sekali lagi aku minta maaf. Dan terimakasih kamu sudah menolongku. Tapi pada dasarnya memang kamu memungut gadis malam yang di jadikan sebagai pacar. Andai aku bukan siapa-siapa sudah tentu tak akan kamu rasakan penghianatan."


Nicko tertunduk mendengarkan semua penuturan Indah, marah? sudah pasti. Kecewa? apa lagi.


"Menjadi kekasihmu hanya menjadi beban untukmu dan aku nggak mau nyakitin kamu, aku minta kita sudahi semuanya. Anggap tak ada apa-apa, kamu berhak mendapat yang lebih, bukan gadis malam seperti ini."


Nicko segera menoleh dengan hati bergemuruh, semudah itu bilang sudah sedangkan cinta itu baru di mulai.


Sedangkan Indah dengan berat hati memutuskan walaupun di hati sangat keberatan. Melihat kekecewaan di wajah Nicko membuatnya tak tahan. Dan keputusan ini adalah jalan satu-satunya.


Indah melangkah menuju kamar mandi, hatinya hancur memutuskan semuanya. Tubuh itu luruh di balik pintu, isak tangis mulai terdengar. Cinta membuatnya lemah dan bersalah. Kembali seperti sediakala adalah jalan keluar. Karena ia tak layak, apa lagi harus bersanding dengan Nicko yang hampir sempurna.


Di bawah guyuran shower ia meratapi semuanya, cinta itu sudah bersemayam dan kini harus ia lepaskan. Cinta pertama yang kandas dan meninggalkan bekas. Kesan tak mengenakan dan menyakitkan.

__ADS_1


"Maaf...."


Hampir dua puluh menit Indah tak kunjung keluar meninggalkan Nicko yang sejak tadi terdiam memikirkan. Berkali-kali nafas kasar keluar dari mulutnya, masih tak menyangka jika Indah semudah itu mematahkan hatinya. Menunggu dan tak ingin mengganggu, di tau Indah butuh waktu.


Hampir satu jam gadis itu baru keluar, sempat terkejut jika Nicko masih saja di tempat yang sama. Saling menatap kemudian kembali masuk setelah mengambil baju dari lemari.


"Apa ini keinginanmu dalam hati?" tanyanya saat melihat Indah yang sudah kembali.


"Hhmmm..."


"Bagaimana jika aku tak ingin mengakhiri?"


"Tapi ini yang terbaik!" Indah terduduk di depan meja rias mengeringkan rambutnya.


"Bagaimana dengan hatimu?" Nicko berdiri di belakang Indah saling memandang lewat pantulan cermin.


"Aku tak ingin mengecewakan, apa lagi mengkhianati kembali. Dan hatiku aman, karena semua baru di mulai. Belum berlarut hingga sulit melepas."


Nicko tersenyum getir, ternyata belum cinta hingga mudah menerima panggilan. Nicko menarik nafas dalam, semakin sesak yang ia rasakan. Lalu beberapa hari ini apa?


Mencoba sekali meyakinkan sebagai usaha terakhir mempertahankan. "Tatap aku jika memang kamu nggak cinta! Dan aku sudah memaafkan, kita bisa sama-sama belajar untuk saling menerima. Dan aku mohon percayakan semua padaku."


Sungguh Indah tak sanggup, tapi hatinya harus kuat. Cinta tak untuk memberi luka, sedangkan semua tak mudah jika Nicko tetap bersamanya. Latar belakang yang tak sama di tambah orang tuanya pasti tak terima.


Indah menarik nafas dalam untuk menguatkan, menatap Nicko dengan senyum mengembang. "Pada dasarnya gadis malam tak memiliki cinta, jadi jangan berharap lebih padanya. Semua yang ia berikan hanya semu, begitupun dengan aku. Jadi aku minta pergilah, lebih baik melepas sekarang dari pada semakin terluka!"


Nicko tertawa tak menyangka, dia yang sudah mulai percaya kembali mereguk nestapa. Matanya tajam menatap gadis yang berbicara dengan lantang. Andai mata sendunya bisa berbicara, mungkin dia akan menolak.


"Aku tau ucapanmu palsu, tapi akan aku turuti jika ini benar-benar maumu."


Nicko pergi meninggalkan Indah yang kembali menangis tersedu-sedu. Semua berawal dari dirinya yang mendapatkan kabar dari bibi jika mamah besok harus kembali cuci darah dan menebus biaya kamar. Sedangkan uang di tabungannya tak cukup mengingat diapun harus bayar SPP dan ujian.


Sedangkan untuk meminta pada Nicko pun bukan jalan terbaik, mau tak mau ia harus bekerja. Biaya rumah sakit yang mahal tak bisa hanya dengan meminta. Pahit ia rasakan, tapi ini hidupnya.


"Maafin aku....."


Kata maaf terus keluar dari bibirnya, mengingat perlakuan Nicko selama ini yang begitu lembut dan penuh cinta. Berharap tak ada kesempatan bertemu kembali, karena ke depannya belum tentu hati ini kuat menyapa.

__ADS_1


Terlelap dengan Hoodie yang Nicko tinggalkan, memeluk mencari kenyamanan disana. Tanpa dia tau jika sejak tadi sepasang mata elang mengamati diam-diam.


__ADS_2