
Nicko sampai di kantor dengan wajah kusut, kesal akan tindakan kedua orangtuanya yang terlalu ikut campur. Tak ingin banyak berdebat sehingga dia memilih langsung kekantor dari pada pulang kerumah.
"Udah sampai?"
"Hmm, suruh si Anita beliin gue setelan baju kerja." Nicko segera duduk di sofa sambil memijit pelipisnya, menyandarkan kepala menjernihkan pikiran.
Adit kembali duduk di sebelah Nicko setelah meminta Anita membelikan keperluan bosnya.
Melihat Nicko dengan wajah tertekan dia sebagai sahabat tentu iba, dia tidak tau persis apa yang membuat Nicko tertekan.
"Nggak pengen cerita?"
Nicko membuka mata, ia menatap Adit sekilas kemudian kembali dengan posisinya. "Gue di jodohin."
"Serius loe?"
"Bukannya om Tante nggak otoriter masalah itu?" tanya Adit heran.
"Karena ini berkaitan dengan sahabat mamah, tapi gue nggak bisa ninggalin Indah gitu aja. Gue serius sama dia. Dan Chiko, dia juga tergila-gila sama Indah."
"Pantes aja om Tante tumbenan sampe telpon gue masalah cewek loe. Kalo masalah adik loe, menurut gue sich tinggal Indah pilih yang mana."
"Tapi nggak semudah itu, apa gue tega liat Chiko kecewa sedangkan gue nggak bisa lepasin Indah. Gue cinta banget sama dia Dit, baru kali ini gue bisa ngerasa dalem banget sama cewek." Nicko benar-benar terjerat dengan gadis malam, dia seakan tak peduli dengan pandangan orang lain.
"Bucin loe! makanya jangan suka mainin perempuan, sekarang kena kan loe? jangankan mau ninggalin, seharian nggak ada kabar aja udah kayak orang nggak waras. Loe tuh nggak kasian sama gue, ngehandle semua sampe mabok gue rasanya."
"Loe tuh harusnya dukung gue!"
"Kurang apa gue?"
"Kurang jauh main loe! taunya Anita doank tapi tembak kagak!"
"Berisik loe, kalo orangnya denger berabe Bray..."
tok tok tok
"Masuk!"
Seorang wanita cantik dengan setelan baju kantor yang pas membuat semakin terlihat menarik. Adit tak berkedip setiap melihatnya, tetapi Anita tampak biasa saja.
"Ini pesanan bapak!" Anita menyodorkan paper bag yang berisikan kemeja dan keperluan yang lain.
"Makasih Anita."
"Sama-sama pak, kalo gitu saya permisi dulu." Dengan ramah Anita menundukkan kepalanya hendak kembali ke mejanya.
"Adit nggak di ajak sekalian Anita?"
Anita hanya tersenyum malu-malu tanpa mau melirik ke arah Adit kemudian melangkah keluar ruangan.
"Bangk3 loe! bikin dia makin risih aja sama gue, dia tuh beda Nick nggak kayak wanita yang lain. Kalem bin anteng, loe godain begitu malah malu-malu orangnya," sewot Adit.
"Loenya aja yang nggak gercep, keburu di lamar orang baru tau rasa loe!" Nicko tersenyum miring melihat wajah Adit yang semakin kesal.
__ADS_1
Jam istirahat Indah dan kedua sahabatnya sudah berkumpul di meja makan kantin, menunggu pesanan datang mereka saling bergurau.
Chiko n the gang yang melihat keberadaan Indah dan kedua sahabatnya segera menghampiri. "Cantik.."
Ketiga perempuan itu sempat heran saat mendengar Chiko yang nampak dingin dan jutek bisa merayu dan tersenyum manis.
"Yakin ini kalo ciwik-ciwik sekolah ini tau, auto pingsan tau nggak!"
"Biasa aja..." timpal Chiko, "gue begini cuma sama sahabat loe!" lirih Chiko tetapi masih bisa di dengar oleh mereka.
"Beda kalo udah bucin tuh, orang gila aja jadi waras," celetuk Soni.
"Iya yang waras jadi gila kayak loe!" sahut Kiki.
"Enak aja loe, gue mah yang ganteng makin ganteng!"
"UweeeK....." jenni berpura-pura seperti muntah setelah mendengar ucapan Soni.
"Bucin sama gue mampuuuus loe!"
"Jangan harap! gue nggak suka sama yang masih letoy. Gue sukanya berpengalaman dan kuat!"
"Njiiirrrr bukan main, loe nggak tau aja kalo Mickey gue udah beraksi. Perlu bukti? datang ke apartemen gue, gue buktiin kalo gue perkasa bukan abal-abal."
Melihat sahabatnya yang sudah kembali tak terkontrol Indah dan Asti bekerja sama untuk menghentikan obrolan yang tak bermanfaat itu.
"Diem Jenni!" Indah memandang Jenni dengan tatapan mematikan sedangkan Asti sudah membekap mulutnya. Bukan tak sayang pada sahabat, justru jika di biarkan semakin menjadi ucapannya.
"Dasar sahabat durjana!" kesal Jenni kemudian memakan baksonya dengan wajah sengit.
"Jangan kayak gitu ko, gue nggak mau ngecewain loe!"
"Cukup loe di samping gue, nggak akan buat gue kecewa." Chiko mengusap bekas saos yang menempel di bibir Indah dengan ibu jarinya.
"Makan ko, stop perhatiin gue!"
"Ini gue makan...."
Melihat Chiko yang terus berusaha membuat kedua sahabat Indah iba, mereka ngeri sendiri jika Chiko tau kalo Indah sudah ada yang punya sudah di pastikan akan sakit hati guling-guling.
Sedangkan Soni dan Kiki hanya menggelengkan kepala dengan sikap bucin Chiko. "Pepet terus ko, jangan kasih kendor. Cukup nenek gue aja yang udah pada kendor!" celetuk Kiki.
"Aki gue juga kendor noh!" sahut Soni.
"Heh sesama kendor diem aja!" celetuk Jenni. "Gue juga curiga loe berdua udah pada kendor!"
"JENNI!" ketus Indah dan Asti.
"Iye gue diem."
Setelah makan mereka semua kembali menyelesaikan pelajaran dan pembahasan soal-soal untuk ujian. Pulang dengan otak yang panas karena persiapan harus benar-benar matang.
"Otak gue.....butuh es batu kalo nggak kebakaran ini pala gue!" ucap Asti setelah mereka semua keluar dari kelas.
__ADS_1
"Sama nich butuh yang seger-seger, sayangnya om gue nggak cukup nyegerin buat di pandang nggak kayak si Indah."
"Indah mah nggak ada duanya pokoknya, om ganteng idaman hati. Tapi kok gue ngerasa si om mirip siapa gitu ya Ndah?" Indah menoleh ke Asti, Jenni pun mengiyakan akan itu. Sebenarnya diapun begitu, tetapi tak ingin menduga-duga dan berpikir kebetulan saja.
"Kebetulan aja mungkin."
"Mungkin sich...." jawab Asti.
"Eh kita ngadem di cafe yuk, udah lama nggak kesana kali aja mata gue langsung seger. Apa lagi liat pelayan cowok yang ....ulalaaaa."
"Kumat!" celetuk Indah.
"Apa sich Ndah, yang udah punya barang bagus harap diam, giliran gue sama Asti masa pencarian. Gimana? lanjut cafe?"
"Boleh."
"Indah?" Indah tampak berfikir, melirik ke ponselnya yang tak ada pesan kemudian mengiyakan.
"Oke!"
Mereka bertiga mampir ke cafe tempat biasa singgah jika sudah suntuk dengan kegiatan, apa lagi mereka yang sibuk sekolah dan bekerja. Sudah pasti butuh untuk sekedar hang out bertiga.
Meraka memesan berbagai cemilan serta minuman dingin dan makanan lainnya, numpang WiFi seperti anak sekolah kebanyakan saat nongkrong di cafe sampai berjam-jam.
Selalu menjadi perhatian setiap mereka bertiga datang, tak pernah sepi pujian dari bermacam pelanggan yang melihat. Tiga dara cantik mempesona dengan wajah yang sedikit menantang itu lah mereka.
"Enak nich jus strawberry nya..."
"Sama punya si om enak mana Ndah?" tanya Jenni.
"Sama aja, sama-sama bikin nagih."
"Widih....kerja keras bagai kuda setiap hari memberi jatah!" Jenni tertawa senang.
"Seneng banget loe kalo udah masalah begituan, eh Ndah tapi si om pernah marah nggak sich kalo liat loe sama Chiko? secara si Chiko nempel loe mulu. Itu si om nggak cemburu?" tanya Asti penasaran.
"Pasti lah, tapi dia dewasa dalam bersikap. Itu yang bikin gue makin sayang, nggak emosi atau marah-marah. Gimana nggak makin cinta?" Indah membayangkan sikap Nicko semalam yang begitu manis padanya.
"Klepek klepek hayati bang..." ledek Jenni.
"Eh kok kentangnya abis sich, loe Jen bener-bener dah kalo liat kentang udah kayak liat pisang!" sewot Asti.
"Loe pikir gue monyet? hhmm...salah siapa dari tadi di anggurin. Pesen lagi!"
"Loe lah yang pesen!"
"Loe aja, tinggal teriak doank!" lanjut Jenni.
"Loe berdua berisik dech, udah gue aja yang pesen." Indah mengangkat tangannya untuk memanggil waiters.
"Mba_" seruannya melemah saat melihat orang yang baru datang dengan melangkah melewati waiters yang ingin ia panggil.
Mendengar suara Indah yang melemah membuat Asti menoleh dan penasaran dengan apa yang menjadi fokus Indah saat ini.
__ADS_1
"Ndah, itu kan_"
"Iya."