Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 51


__ADS_3

Saling mengeratkan seakan tak ada di antara mereka yang ingin melepaskan. Dunia Nicko tak berarti tanpa ada nya Indah, dulu saat mendapati sang mantan selingkuh bahkan menangispun tidak. Tapi sekarang, baru tak bisa mendekat semalaman saja rasanya hampir gila.


Begitupun dengan Indah, sekuat apapun tekadnya untuk menyudahi nyatanya akan goyah saat Nicko sudah ada di depan mata. Cinta pertama yang ia rasakan begitu sangat dalam. Bahkan rasa sakit akan ucapan mamahnya kemarin seakan terkalahkan dengan cinta yang ia miliki.


"Sayang, sekali lagi ku katakan, aku mencintaimu sungguh aku mencintaimu."


Keduanya menatap dalam diam, hanya air mata yang menjawab semua perasaan yang ada di dada. Saling mengusap pipi menghapus air mata. Senyum terukir begitu menawan, ada setitik bahagia di balik kecewa.


"Janji akan tetap di sampingku?"


Indah menganggukkan kepala, dia tak sanggup berucap.


Senyum di wajah Nicko pun tak luntur, melihat sang kekasih kembali dalam pelukan dan mau merajut mimpi bersama, itu sudah cukup membuatnya bahagia dan kembali semangat. Sudah cukup semalam ia terpuruk, kini dia harus melindungi Indah agar kedua orangtuanya tak berbuat lebih. Apa lagi sampai tau jika kedatangan mamah tak membuat mereka pisah.


"Aku merindukanmu sayang, semalaman tak melihatmu aku hampir gila."


"Untung nggak gila beneran!"


"Sayang, kamu sungguh membuatku gemas. Suka ya lihat aku berantakan? aku semalam nggak tidur memikirkanmu. Kenapa harus memilih tak bertemu? apa tak menginginkan pelukanku?"


"Kamu pikir aku bisa tidur? lihat mata ku? sembab dan ada lingkar hitam di sana, sama seperti om kan?"


Nicko tertawa, dia baru sadar akan wajah sang pacar. Masih saling memeluk mereka tertawa melihat wajah keduanya yang sangat pucat.


"Ternyata sama, kamu pun merindukanku sampai tak bisa tidur?"


"Om jangan pede, aku nggak bisa tidur karena merindukan papah bukan kamu!"


"Sayang, berarti kamu benar-benar nggak kangen sama aku?"


"Sedikit!" ledek Indah dan berhasil membuat Nicko semakin gemas. Pria itu mencium seluruh wajah Indah tanpa henti, hingga sang gadis meronta dan meminta di lepaskan. Sampai ciuman itu berakhir di bibir yang mulai menyesap hangat.


Kerinduan yang Nicko rasakan tersalurkan, dengan gerakan perlahan dia utarakan semua yang menjadi beban di dada. Hingga Indah mampu merasakan ketulusan yang Nicko berikan.


Saling membelit menguatkan hati, jika semua akan baik-baik saja sampai nanti. Tak ada yang membuat mereka kuat selain dengan cinta yang mereka punya. Indah kembali mendapat energi setelah kemarin sempat hancur bahkan sakit.


Semakin mendalami penjelajahan hingga tak ingin saling meninggalkan, menerobos hingga semua tersalurkan. Kelembutan yang Nicko beri tanpa nafsu birahi. Indah bukan semata-mata pacar sebagai tempat menyalurkan hasrat, tapi juga kekasih yang butuh di cinta setulus hati.

__ADS_1


Hingga keduanya hanyut penuh kasih yang memiliki cita dengan segala asa. Di ruang tengah dengan pintu yang terbuka mereka mereguk manis dan saling mengobati. Cengkraman tangan di jas Nicko semakin kuat, hingga suara penuh syahdu terdengar di telinga.


Tanpa mereka sadari sepasang mata sejak tadi diam mengamati, berdiri tegak di ambang pintu tanpa ada usaha untuk mengganggu. Membiarkan hingga keduanya sadar, walaupun yang ia rasa semakin tak karuan.


Nicko kembali memperdalam setelah sesaat memberi kesempatan untuk Indah mengatur nafas. Tapi tak ada niat untuk benar-benar melepakan. Bahkan Nicko rasa belum cukup menyalurkan isi hatinya yang semalam menumpuk kesal dan rindu.


Tanpa ada gerakan tangan yang berarti karena memang tak ada rasa ingin lebih. Nicko hanya diam dengan tangan yang singgah di pinggul Indah. Sedangkan Indah pun mengimbangi dengan gerakan yang apik. Sampai dada keduanya berdetak saling menggelitik.


Mata Indah terbuka, menatap Nicko yang juga sedang melihat. Hingga bayangan seseorang sekilas membuat pergerakan lidah Indah terhenti seketika. Cengkraman melemah, hingga kedipan mata Indah seketika bergerak cepat.


Nicko yang merasakan Indah yang sedikit berubah segera menghentikan aksinya, menatap Indah penuh tanya. Tak kuasa ingin berucap, Indah hanya melirik ke arah pintu untuk menjawab pertanyaan yang Nicko isyaratkan.


Nicko menoleh ke arah pintu, begitu pun dengan Indah yang sudah melepaskan cengkramannya. Keduanya begitu terkejut saat melihat siapa gerangan yang berdiri di ambang pintu sejak tadi.


Melangkah maju mendekati kedua orang yang saat ini melebarkan matanya begitu melihat kearahnya. Kedatangan yang mungkin mengganggu bahkan membuat keduanya terkejut. Senyum tercetak jelas dari wajah tampannya mendekati Indah tanpa ragu hingga membuat Indah bingung.


Indah menatap mata elang yang melemah, "u..udah lama?"


"Hhmm....dari loe mulai bermain lidah."


Indah menatap kedua pria yang saling diam melempar pandang, ada hal yang membuatnya merasa tak aman. Takut sampai berujung perkelahian akhirnya Indah memilih untuk mengenalkan.


"Ko, kenalin ini...."


"Siapa?"


"Ini pacar aku Ko...."


Chiko tersenyum menatap Indah, sedangkan Nicko sejak tadi masih diam. Di luar ekspektasi jika akhirnya adiknya harus melihat semuanya dengan jelas. Bahkan dia paham arti senyuman yang tersirat di wajah adiknya.


"Dia alasan loe nggak mau nerima gue?"


"Maafin gue ko, tapi memang gue nggak cinta sama loe, dari awal juga gue kan udah bilang kalo gue nggak bisa. Maaf kalo harus buat loe kecewa dengan cara seperti ini." Indah merasa tak enak, walaupun ia menolak tapi tak ada niat untuk menyakiti hati Chiko dengan cara seperti ini.


"Nggak perlu minta maaf, karena dari awal gue yang terlalu berharap. Gue yang terlalu maksa loe. Tapi dengan melihat kalian berdua gue jadi tau, siapa wanita hebat yang udah buat kakak gue move on hingga meninggalkan semua kebiasaan buruknya dan menolak keras perjodohan."


Indah nampak syok setelah mendengar penuturan dari Chiko, kakinya melemah hingga hampir terjatuh karena tak percaya akan hubungan kedua pria yang memiliki hubungan darah.

__ADS_1


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Nicko menangkap tubuh Indah. Dirinya tak kuasa melihat wajah tegang Indah dengan mata yang mengembun.


"Om..."


"Maafin aku, aku belum bisa jujur sama kamu." Nicko membantu Indah kembali untuk berdiri, memeluk pinggang Indah takut hal tadi terulang lagi.


Chiko yang melihat perlakuan sang kakak hanya bisa tersenyum getir, masih tak percaya jika gadis yang ia cintai memiliki hubungan spesial dengan kakaknya.


"Kalian?"


"Iya, kami adik kakak yang mencintai satu wanita yang sama. Kak Nicko adalah Kakak kandung gue, dan loe mencintai kakak gue indah."


Indah sudah tak bisa bicara apa-apa, dia tak tau jika harus seperti ini akhirnya. Di cintai oleh adik kakak secara berbarengan.


"Chiko, cukup! kakak minta maaf telah menyakiti perasaan kamu. Kakak tau kamu sangat mencintai Indah. Tapi takdir berkata lain, kakak minta tolong kamu mengerti."


Chiko tersenyum samar, dia kecewa. Jika memang Indah mencintai pria lain kenapa harus kakaknya, setidaknya dia lebih ikhlas menerima.


"Bagaimana dengan perjodohan kakak?"


"Kakak nggak akan terima itu, kakak akan tetap mempertahankan Indah, tapi Kakak minta sama kamu. Tolong maafkan kakak, kakak nggak ada niat buat nyakitin kamu. Kakak sayang sama kamu, tapi maaf untuk Indah Kakak nggak bisa melepaskannya...."


"Bagaimana jika aku memaksa? dan perjodohan itu akan terlaksana? ikhlaskan Indah untukku kak, karena nantinya kakak akan tetap meninggalkannya. Mamah dan papah, nggak akan membiarkan kakak membatalkannya begitu saja, karena teman mamah itu orang yang dulu menolong nyawa mamah."


Indah tertegun dengan ucapan Chiko, dia hanya bisa menggelengkan kepala setelah tau fakta yang ada. Hati Indah kembali seperti di tikam belati, baru saja mereguk bahagia dan ingin kembali bersama. Tapi ternyata rencana tak sesuai realita.


"Aku yakin kakak paham, pikirkan kembali setiap ucapanku kak," tutur Chiko kemudian beralih menatap Indah yang entah sejak kapan sudah kembali menitikkan air mata.


"Jangan sedih, gue nggak nyalahin loe. Tapi cukup loe tau perasaan gue tetep sama. Loe cinta pertama gue..." setelah mengatakan itu Chiko pergi meninggalkan keduanya dengan air mata yang menetes.


Sedangkan saat ini Nicko masih diam mematung, mencerna setiap ucapan adiknya hingga suara Indah menyadarkannya.


"Kenapa nggak jujur dari awal? kenapa om harus menutupi semuanya dari aku? Om anggap aku apa?"


"Maafkan aku sayang, bukan maksud aku menutupi semuanya, tapi aku mencari waktu yang tepat agar semua nggak berantakan. Dan nggak tau jika akhirnya harus seperti ini. Aku menyakiti kalian...."


"Aku minta om pulang, aku mau sendiri...."

__ADS_1


__ADS_2