Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 42


__ADS_3

Indah pulang dengan hati senang, keinginan yang sejak lama dia impikan bisa ia rasakan. Berulang kali mengucapkan terimakasih pada Nicko, kalo tidak dia yang mewujudkan tak akan bisa sampai sana.


"Terimakasih sayang Koko...."


"Iya sama-sama, kamu ngucapin makasih terus dari tadi. Kayak aku ngasih permata yang mahal sampai begitu ekspresinya."


"Lebih dari itu, aku bahagia. Sama kedua sahabat aku nggak mungkin bisa. Mereka sibuk mencari nafkah, dulu aku pun begitu."


"Mulai saat ini apapun yang kamu inginkan bilang sama aku, jangan di pendam sendiri ya." Nicko mengusap kepala Indah.


Dengan senyuman manis Indah menjawab, andai mamah tau hari ini dia sangat bahagia. Beliau pun akan ikut merasakan, tapi untuk mengajak Nicko berkenalan dengan sang mamah Indah belum siap. Dia tidak ingin memberi harapan pada mamah, sedangkan akhir-akhir ini sang mamah meminta dia untuk menikah.


Tak ada obrolan membuat Indah lama-lama terlelap, Nicko yang melihatnya malah geli sendiri, sebab tadi Indah masih melanjutkan makanan yang ia beli.


"Kekenyangan kamu tuh yang, apa aja masuk. Kalo perut terbuat dari plastik udah jebol itu."


Sampai di halaman rumah, Indah tak kunjung terjaga. Nicko yang tidak tega akhirnya mengangkat tubuhnya kemudian membawanya ke kamar. Membersihkan sisa makanan yang mengotori sisi bibir dan kemudian menarik selimut agar Indah merasa hangat.


"Aku pulang ya sayang, bobo nyenyak. Besok kita jumpa lagi." Nicko mengecup kening serta bibir Indah yang sedikit terbuka.


Indah benar-benar nyaman hingga tak terjaga. Setelah mengecek keamanan rumah, Nicko turun dan mengunci pintu depan. Dia tak ingin Indah kenapa-napa.


"Rasanya gue nggak tega sebenernya ngebiarin dia tinggal sendiri. Pengan gue nikahin buru-buru aja. Tapi perjodohan sialan itu nggak mungkin dengan mudah di batalin. Gue bahkan nggak tau sama siapa gue di jodohin."


"Cantik banget apa itu orang, sampai setuju di jodohin sama gue, ampun dah gue mah. Wujudnya kayak apa tuh perempuan, apa ia cuma gara-gara orang tuanya sakit dia setuju aja. Bullsyt banget kalo iya, mana ada jaman sekarang mau di jodohin segala."


Nicko tak segera pulang, dia mampir sebentar di club' untuk sekedar menyapa sahabat.


"Sibuk ton."


"Eh ko, tumben kesini sendiri. Dayang Sumbi kemana?"


"Adit maksud loe? lagi semedi dia." Nicko duduk di samping Toni yang sedang memperhatikan para pengunjung yang datang.


"Indah nggak loe ajak?"


"Udah tidur," jawabnya membuat Toni mengecek jam tangan.


"Jam segini udah tidur? ini masih sore bro untuk seorang Indah."

__ADS_1


"Sekarang ini malam buat dia, loe nggak usah nyamain sama yang kemarin. Indah taat peraturan sekarang, jadi nggak bisa liar. Boleh liar cuma sama gue di ranjang."


Toni paham jika ini karena Nicko, dia cukup lega jika Indah jatuh ke tangan yang aman. Apa lagi sang mamah yang semakin lama semakin tak ada perkembangan. Ntah kapan tak ada yang tau ajal, jika Indah menemukan pria yang tepat jelas beliau lebih tenang.


"Iya dah yang pacarnya, eh tapi loe tau nggak tentang mamahnya Indah?"


"Belum ada pembicaraan kesana, dia juga belum nawarin gue buat ketemu sama mamah mertua. Mungkin belum siap, gue juga belum nanya. Buat ngeyakinin dia lagi aja susah men."


"Pantang dong buat loe nyerah?"


"Yoi, buktinya gue udah bisa balik lagi sama Indah. Tapi gue jadi penasaran sama nyokapnya." Nicko jadi kepikiran juga, apa lagi Indah yang tak pernah berbagi cerita.


"Makin kurus bro, makin menurun kesehatannya. Gue sich nggak tau lebih tepatnya, cuma Indah asal ketemu pasti cerita. Mamahnya tuh butuh donor buat ginjal, sedangkan Indah yang pengen nolong, pas di cek nggak bisa."


Nicko fokus menyimak, dia akan berusaha membantu mencarikan. Sudah ada di bayangan jika sampai kabar buruk menimpa. Jelas sang kekasih akan sedih pastinya dan ia tak ingin itu sampai terjadi.


Asti yang baru kelar dengan pekerjaannya ikut duduk di sana, melirik sekilas si om yang hanya sendirian.


"Om, Indah nggak ikut?" tanyanya pada Nicko.


"Dia udah tidur."


"Hhaah! tumben tuh anak, baru jam segini ya kali udah merem. Ikut-ikutan jam tidur Upin-ipin kali ya." Asripin heran sebab ini masih jam 12 nggak biasanya Indah tidur.


"Waaahhhhh ada yang abis jalan-jalan."


"Nggak, cuma tadi abis dari pasar malam."


"Pasar malam? Om mau di ajak dia ke pasar malam?" tanyanya nggak percaya.


"Nicko juga manusia Oneng!" sahut Toni.


"Ya kali bos besar begini, gue juga nggak yakin kak kalo si om ini parnah kesana. Apa lagi mau kesana, gue aja yang sahabatnya nolak, Indah kalo udah kesana suka khilaf. Om nggak mabok tadi?"


"Sempet keliyengan sampe mau muntah, tapi cukup happy liat Indah bahagia."


Melihat Nicko yang tersenyum senang membuat Asti pun lega, sahabatnya mendapat orang yang benar-benar serius bukan hanya ingin memanfaatkan.


Di tengah obrolan yang membahas Indah, Nicko di kejutkan dengan datanganya wanita yang tiba-tiba mencium pipinya.

__ADS_1


"Nicko...."


"Ck, ngapain sich loe nyium-nyium pipi gue!" kesal Nicko setelah tau siapa yang datang.


"Aku kangen sama kamu ko..."


"Tapi gue nggak sudi ketemu sama loe!"


"Nicko kamu masih marah, aku udah minta maaf loh. Bahkan bertahun-tahun tanpa kamu aku ngerasa sulit, aku nggak bisa jauh dari kamu ko. Kasih kesempatan buat aku!"


Nicko tersenyum miring mendengar penuturan dari Vera, ya mantannya yang tega berkhianat. Sedangkan Toni dan Asti hanya menyaksikan sambil fokus ke ponselnya masing-masing.


"Sulit karena udah nggak ada sumber uang lagi kan?"


Vera tercengang mendengar ucapan Nicko, ya memang sedikit banyak itu menjadi alasannya.


Vera segera duduk menempel di samping Nicko, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali mendapatkan pria itu. Apa lagi dia tau jika Nicko semakin sukses sekarang ini. Ada menyesal, tapi hanya untuk materi toh kalo di tanya sayang dan cinta, wanita itu sudah mendaratkan dengan pria lain.


"Nggak usah nempel-nempel ke gue, balik sana enek gue lihat loe!"


Vera tak patah semangat mendengar ucapan kasar Nicko membuatnya semakin tertantang. Wanita dengan body goal ini berusaha menggoda tetapi Nicko sungguh tak minat. Hingga Asti yang melihat gatal sendiri jadinya, ingin menjambak agar wanita itu sadar dan bisa menjaga martabat walaupun kelakuan dia sendiri jauh dari kata benar.


"Maaf ya tante, apa anda terlalu gatal hingga nggak kuat menahan? si om udah menolak loh, kok masih aja di tempelin begitu. Nanti si om sawan aja repot kan urusannya!"


"Kamu, kita nggak kenal ya. Jadi jangan ikut campur!" Vera menatap Asti dari atas sampai bawah, melihat penampilan yang benar-benar sexy dia cukup paham akan pekerjaannya.


"Kamu bilang saya gatal! lalu kamu apa? kamu nggak lebih dari wanita malam!"


"Lebih baik saya wanita malam, nyentuh dikit ada tarifnya. Lah dari pada anda, dengan liar nyentuh sana sini, masih di tolak lagi, eh nggak dapet apa-apa. Mending mana sama saya? mending saya donk pastinya. Barang mahal, bukan barang murahan!"


"Jaga mulut kamu ya, kalo nggak bisa biar saya sobek sekalian!"


"Bisa banget Tante, bahkan ini mulut penjaganya nggak murah! Kalo sampe Tante sobek, emang punya uang buat ganti rugi?"


"Dasar nggak waras!" Vera terus saja menimpali sampai dia tidak sadar jika Nicko telah pergi, sedangkan Toni hanya mengawasi, menjadi wasit kalo sampai ada cakar-cakaran nanti.


"Waaaahhhhh Tante ini bilang saya nggak waras, kalo saya gila nggak bakal bisa debat sama orang gila!"


Mendengar itu Vera tambah murka, tak terima di bilang gila hingga membuatnya segera menoleh ke arah Nicko meminta pembelaan. Tapi terkejutnya dia saat tak melihat Nicko di sampingnya.

__ADS_1


"Kenapa Tante? di tinggal ya?"


"Brengs3k!


__ADS_2