
Berulang kali panggilan di ponsel keduanya berdering, tetapi tidak membuat Nicko dan Indah yang saat ini tertidur dengan saling berpelukan terjaga dan membuka mata.
Asti di buat kelimpungan, pasalnya dia tak pernah mendapati Indah membiarkan panggilannya hingga sudah yang ke sepuluh kali. Asti khawatir karena dia belum pernah bertemu dengan tamu yang satu ini dan ini merupakan tamu baru bagi Indah. Dengan peraturan yang selalu Indah nomor satukan justru membuat Asti tak tenang.
Asti terus saja menelpon Indah hingga akhirnya ia memutuskan untuk datang ke hotel yang tadi Indah datangi. Tetapi sebelumnya ia memilih untuk menelpon pria yang mengaku sebagai asisten bos tersebut.
"Halo om!"
"Iya... kenapa? apa kurang transferannya?"
"Bukan itu yang membuatku telpon om, tapi aku ingin menanyakan temanku, sejak tadi panggilanku tak ada yang di jawab, aku takut bosmu berbuat kasar padanya!"
"Aku juga sejak tadi menelpon bosku belum ada yang di jawab, tapi tenang saja selagi dia bisa membuat bosku puas, pasti aman!"
"Bukan gitu om, Cinta ini beda dia memiliki aturan yang om belum tau!"
" Apa itu?"
" Cinta itu masih perawan om, dia tak akan membiarkan milik bosmu itu masuk begitu saja!"
Di ujung sana mata Adit membola dia tak menyangka jika Nicko akan mendapatkan gadis yang masih perawan di kalangan wanita bayaran.
"Kalo gitu kamu tenang aja, saya akan cek kesana!"
Adit segera menutup panggilan tersebut, dirinya masih tak menyangka jika ucapan Nicko menjadi kenyataan.
"Loe udah dapetin apa yang loe mau Nick, sekarang apa loe bakal rela lepasin tuh bocil gitu aja! nggak nyangka gue, omongan loe mujarab juga ya!"
Adit segera beranjak untuk menyusul Nicko dan memastikan gadis itu baik-baik saja.
Tepat pukul tiga pagi Indah menggeliat, matanya terbuka dengan di sambut oleh muka pria tampan di depannya yang masih terlelap. Indah mengedarkan pandangannya, kemudian matanya fokus pada tangan yang melingkar di tubuhnya.
"Jadi gue tidur di pelukan om Nicko, gila nggak biasanya gue langsung tepar begini!" Indah segera memindahkan tangan Nicko untuk melangkah ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Tapi saat Indah ingin beranjak tangan kekar itu kembali memeluknya hingga Indah kembali jatuh kedalam pelukan Nicko.
"Om lepas Cinta mau bersih-bersih udah hampir pagi om, Cinta harus pulang!"
cup
Nicko mengecup lembut bibir Indah membuat jantung Indah berdebar, padahal hal ini sudah biasa di lakukan tetapi kenapa jantungnya serasa ingin lepas.
__ADS_1
"Biar aku antar!"
"Cinta bisa sendiri om, lagian kan udah habis waktunya, malah udah kelewatan om, harusnya jam dua tadi Indah sudah keluar!"
"Itu tak berlaku untukku!" tegas Nicko dengan menatap dalam mata Indah.
"Justru aku menginginkan kamu sekali lagi, kita mandi bersama?"
"Nggak bisa om, aku di bayar untuk sekali pekerjaan jadi nggak bisa nambah seperti ini," tolak Indah.
"Bagaimana jika aku membayarmu lebih?"
"Tapi aku tak tertarik!"
Indah segera melepas tangan Nicko dan melesat menuju kamar mandi. Nicko tersenyum melihat Indah yang melangkah tanpa sehelai benangpun.
"Kamu memang mengagumkan, pantas saja tamu mu tiada henti, bahkan terus mengantri, ternyata ini pesonamu!"
"Dan aku nggak akan melepaskannya!"
Ketika Nicko mengambil pakaian yang sudah tergeletak di lantai, suara ketukan pintu menghentikan langkahnya. Nicko menyambar bathrobe dan melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
Indah yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan bathrobe serta handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya segera menghampiri Nicko.
"Siapa om?"
"Aku tak tau!" Nicko mencium pipi Indah, kemudian melangkah menuju kamar mandi.
"Tunggu aku, nanti kita pulang bersama!"
Indah tak menghiraukan ucapan Nicko, dia segera mengganti bajunya dengan yang tadi dan merapikan rambut serta wajahnya.
Indah segera membuka pintu saat ketukan itu terdengar kembali, dahinya mengernyit saat melihat Adit yang belum dia kenal sudah ada di depan pintunya. Kemudian Asti keluar dari balik tubuh pria itu.
"Asti!"
"Cinta loe baik-baik aja, nggak jebol kan Cin?" tanya Asti to the point yang membuat mata Indah melotot.
"Nggaklah...."
"Syukurlah, gue kira loe bakal jebol karena tersihir dengan ketampanannya. kenapa telpon gue nggak loe angkat sich! gue kan jadi kesini, tau gitu gue lanjutin bobo cantik tadi!"
__ADS_1
"Gue ketiduran, makanya nggak tau kalo loe telpon."
Adit yang sejak tadi mendengarkan tak menyangka Nicko memperlakukan Indah begitu spesial, padahal biasanya jika sudah selesai dia akan yang segera meninggalkan kamar atau wanita bayarannya yang ia usir begitu saja. Dan ini dengan jelas jika Nicko malah tertidur nyenyak di pelukan gadis bayarannya sendiri.
"Betah ya loe sama om ganteng, ya udah kalo gitu, udah kelar kan? ayo balik!"
"Biar Indah pulang sama saya!" ucap Nicko yang sudah rapi dengan kemejanya dan rambut yang masih basah menambah nilai ketampanan bertambah berpuluh-puluh kali lipat.
"Kerjaan aku kan udah kelar om, aku pulang sama Asti aja!" Indah segara masuk kedalam dan mengambil tas serta ponselnya kemudian kembali melangkah tetapi Nicko sudah lebih dulu menghadangnya.
"Jamnya tuh udah selesai om, aku bahkan nggak pernah di antar pulang oleh tamu ku, dan anggap sudah tak ada apa-apa lagi, jika om mau bermain denganku lagi silahkan buat jadwal dengan Asti om!"
"Tapi aku tak menganggapmu seperti wanita yang lain!"
"Tapi aku menganggap om sama seperti tamu ku yang lain, jadi permisi....."
Indah segera melesat menuju pintu dan menarik tangan Asti untuk segera pergi. Nicko membuang nafas kasar baru kali ini dia sangat ingin mengantar pulang gadis malamnya dan tidak rela jika berpisah begitu saja.
"Keinginan loe terwujud bro?" tanya Adit yang tiba-tiba sudah duduk di sofa.
"Dia masih perawan Dit!"
"Dan loe mendapatkannya?"
"Dia masih utuh bahkan gue bisa puas tanpa masuk ke miliknya, emang bener kata si Toni, dia beda!"
"Terus apa rencana loe sekarang? loe mau lepasin dia gitu aja?"
Tanpa menjawab pertanyaan Adit, Nicko segera memakai jam tangannya dan bersiap pergi dari kamar itu, langkahnya panjang menyusuri koridor hotel dan segera masuk mobil yang sudah berada di depan lobby.
Di dalam mobil Nicko terus memikirkan Indah dan mengingat semua yang ia lakukan semalam. Bahkan suara Indah yang mendayu di telinganya masih sangat jelas di ingatannya.
"Cari tau semua informasi tentang Indah!" ucap Nicko yang sejak tadi duduk terdiam di samping kemudi.
"Mulai tertarik?"
"Bahkan gue nggak akan lepasin dia!"
"Terus bagaimana dengan kebiasaan loe setiap malem, tugas gue nanti malem masih sama?"
"Si Mickey udah nyaman sama si Indah!"
__ADS_1