
Indah begitu terkejut dengan melihat kehadiran Nicko yang saat ini memeluk pinggulnya dengan erat.
"Sayang......"
"Kenapa di sini?"
"Aku.....aku di ajak temen makan." Indah tak mungkin untuk jujur tentang Chiko yang memaksa.
"Nggak mau di jemput karena ingin berduaan dengan yang lain? berpegangan tangan dengan bercanda ria? kamu nggak liat sudah berapa puluh kali aku menelponmu. Tidak fokus dengan klien karena memikirkanmu. Tapi kamu malah asyik bergurau dengan yang lain. Sekarang aku tanya, pantas di kasih hukuman apa untuk kekasih nakal sepertimu?"
Indah berdiri dengan benar, mengatur nafas dan mulai membaca situasi yang ada. Diberondong pertanyaan sebanyak ini seperti mendengar petasan pengantin Betawi yang membuat dada berdebar.
"Jangan marah dulu, aku hanya makan. Jika kamu melihatku berpegangan tangan itu bukan salahku dan bukan aku yang mau. Mungkin karena begitu mempesonanya aku!"
Mendengar jawaban yang jauh dari kata melegakan justru membuat hati Nicko semakin resah, andai pesaingnya bukan adik mungkin sudah ia hajar karena menyentuh miliknya.
"Kita pulang!"
"Nggak bisa sayang Koko, bagaimana kalo dia mencariku? atau aku ijin dulu dengannya dan pulang bersamamu."
"Terserah, aku tunggu di mobil. Jika dalam hitungan 10 menit kamu belum juga datang, jangan salahkan aku jika kamu aku kurung di kamar."
Nicko segera keluar dari toilet dan mendapatkan tatapan tajam dari orang-orang yang sejak tadi menunggu. Tak perduli akan itu, hatinya sudah cukup galau karena kekasih nakalnya yang justru bersikap santai.
Tak lama Indah pun keluar dari dalam toilet, omongan tajam jelas terdengar di telinga. Tetapi tak menyurutkan langkahnya untuk segera menemui Chiko dan pulang dengan Nicko yang sudah tak sabar
"Kok lama?" tanya Chiko ketika melihat Indah kembali.
"Maaf ya ko, gue harus pulang duluan."
"Ya udah ayo biar gue anter, toh udah kelar juga makannya kan."
"Eh nggak usah, gue udah di tungguin orang dan urgent banget. Sorry ya tapi gue bener-bener buru-buru!" Indah segera meraih tasnya dan kabur meninggalkan Chiko yang kebingungan.
Chiko segera mengejar tetapi setelah sampai di parkiran tak juga menemukan Indah, tapi matanya menangkap mobil yang ia kenal keluar dari area cafe. "Kak Nicko, ngapain disini. Mungkin habis bertemu klien. Tapi Indah kenapa cepat banget ngilangnya!"
Chiko segera masuk mobil dan pergi dari sana, berharap di jalan bertemu dengan Indah yang tau-tau menghilang.
Selama perjalanan Nicko hanya diam, Adit yang sudah kembali ke kantor dengan taksi. Membiarkan Nicko menyelesaikan masalahnya sendiri. Sesekali Indah melirik Nicko tapi tak kunjung mendapat balasan.
Hingga mobil sudah sampai di rumah, Nicko tak kunjung ada pergerakkan. Biasa turun di bukakan pintu kini seperti tak minat, cukup tau diri akan kesalahannya membuat Indah segera membuka pintu dan keluar dari mobil. Baru saja dia ingin berbalik mobil Nicko sudah melesat tanpa meninggalkan jejak.
Indah menarik nafas dalam, kemudian segera masuk rumah. Merasa salah tak ingin banyak tingkah. Tanpa membuka seragam dia segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Memejamkan mata hingga tak sadar waktu sudah malam.
Sedikit terusik karena ada benda kenyal yang membuat wajahnya basah, menyipitkan mata untuk segera membola dengan sempurna. Tak di sangka orang yang tadi sempat meninggalkan tanpa kata kini sudah ada di hadapannya.
"Mandi, sudah malam."
"Kapan datang?" Indah segera beranjak dan duduk berjarak.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa nggak mau dekat-dekat aku?" Nicko menatap sang kekasih yang mrengut di pinggir ranjang.
"Kenapa kesini? udah ilang marahnya?"
Nicko bergeser mendekat, melonggarkan dasi yang membuatnya tercekat. Menatap lawan yang siap di beri hukuman.
"Aku pikir kamu mengerti, tapi kenapa malah ikut menepi? nggak ingin dekat aku lagi, hhm?"
Nicko meraih jemari Indah, kemudian mengecupnya, " maaf kalo tadi aku tinggal pergi gitu aja, aku masih banyak kerjaan yang harus di selesaikan. Dan masih sedikit kesal juga, jadi dari pada aku meluapkan emosi, lebih baik pergi. Tapi kan aku kembali...."
Nicko menarik Indah ke dalam pelukannya, mencintai bukan untuk menyakiti. Walaupun kesal tapi tak sampai hati berbicara kasar.
"Mandi yuk, gerah..."
" Sayang Koko duluan aja!"
"Nggak mau bareng?" tanyanya penuh minat.
"Ntar malah lama, aku cukup paham kalo kamu nggak cuma akan mengajakku mandi."
Tanpa menjawab Nicko meraih tubuh Indah dan membawanya ke dalam kamar mandi.
"Kamu mah, aku bilang nggak mau!" teriak Indah dari dalam kamar mandi.
"Dasar om mesum!" seru Indah.
Selanjutnya mereka melakukan aktivitas seperti biasa sebagai hukuman yang Nicko layangkan.
Hampir dua jam mereka bermain, hingga tubuh mereka bergetar dan dilanjut mandi. Nicko keluar dengan Indah yang berada di dalam dekapannya, entah berapa kali Nicko membuatnya sampai, hingga tubuh Indah lemas gemas. Dan itu jelas membuat Nicko begitu lega.
Mendudukan Indah di pinggir ranjang dan lanjut mengambilkan pakaian ganti di lemari. Dengan telaten Nicko memakaikan pakaian untuk Indah, cukup dress rumahan agar lebih simpel dan tak ribet. Dilanjut mengeringkan rambut panjang hitam legam, menyisir serta memberi kecupan sayang di penghujung kegiatan.
Nicko yang masih mengenakan handuk yang melingkar di pinggang, segera memakai kembali celana kerjanya dan lanjut keluar rumah mengambil kaos yang ada di dalam lemari.
Setelah sempat memakainya di ruang tengah, langkah Nicko kembali ke kamar. Tepat membuka pintu kamar terlihat Indah yang sedang bercakap lewat panggilang telpon. Melihat itu Nicko yang paham melipir sebentar duduk di kursi rias dengan mata terus menatap.
"Siapa?" tanya Nicko tanpa mengeluarkan suara.
"Ssstt.... mamah!"
Nicko mengangguk saat tau siapa penelponnya, tak ingin mengusik membuat Nicko menyibukkan diri dengan membuka email dari Adit yang membahas hasil kerja sama dengan salah satu perusahaan yang ingin memakai bahan yang di buat di pabriknya.
Setelah menutup ponsel dari mamah, dering kembali terdengar. Sempat mengira jika itu mamah lagi yang menelpon membuat Indah dengan pedenya menyapa.
"Iya mah, ada apa lagi?"
__ADS_1
"Sayang, ini aku."
"Chiko..."
Mendengar itu Nicko menghentikan jemarinya yang sedang berselancar di layar ponsel. Sedikit mendekat hingga duduk di sebelah Indah dan membuka telinga lebar-lebar untuk tau apa yang di bicarakan.
"Iya, gue cari tadi nggak ada. Cepet banget ngilang. Pulang naik apa?"
"Mobil, kan tadi udah bilang."
"Hhmm, lagi apa sekarang?"
"Abis mandi," Indah tak nyaman karena wajah Nicko yang kembali berubah.
"Wangi donk, kangen sama wangi tubuh loe. Boleh main ke rumah nggak?"
Rahang Nicko mengeras mendengar penuturan Chiko. Jelas mereka tak sekedar bergenggaman tangan saja sebelumnya.
"Udah malem, lagian juga gue nggak terima tamu malem-malem."
Oke, tapi besok pagi gue jemput loe ya. Please jangan nolak sayang, kapan gue bisa ngasih perhatian ke loe kalo loe nya aja berkali-kali menghindar."
"Ko, nggak perlu gue jelasin loe paham dan gue udah cukup memberi alasan."
"Dan loe tetap pacar gue!"
Indah membuang nafas kasar, bingung harus menjawab apa. Dia mengangkat telpon dari orang yang menganggapnya pacar di depan kekasihnya sendiri.
"Ya udah gue mau tidur."
"Kiss dulu..." lirih Chiko.
"Ko....."
"Oke besok di sekolah gue tagih. Met tidur sayang, gue mencintai loe Indah. Night...."
Indah meletakkan kembali ponselnya, menatap Nicko yang sejak tadi diam mencoba menguasai dirinya agar emosinya tak meledak. Rasanya ingin jujur dan memperingati, tapi berhubung orang tua yang menjodohkannya membuat Nicko tak bisa apa-apa. Dia tak ingin kedua orangtuanya justru menyerang Indah yang tak tau apa-apa.
"Udah?"
"Sayang Koko marah?"
Nicko tersenyum tipis, merapikan rambut Indah dan meyelipkan sedikit rambutnya di belakang telinga. "Benar katamu, pesonamu terlalu kuat hingga membuat pria jatuh cinta berat."
"Maaf..."
"Selagi hati ini hanya ada aku, cukup membuatku tenang." Jari telunjuk Nicko menunjuk tepat di dada Indah.
"Makasih sudah percaya, maaf jika membuat gelisah."
__ADS_1
Indah masuk kepelukan Nicko, mencari tempat ternyaman dengan merusuh di dadanya.