Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 19


__ADS_3

Chiko membukakan pintu untuk Indah saat keduanya sudah sampai di sekolah. Semua murid kembali melihat kedekatan keduanya yang membuat iri bagi siapa yang mengagumi sosok Chiko dan Indah.


Chiko pria tampan yang tak tersentuh wanita sedangkan Indah si sexy dengan sejuta pesona yang menjelma menjadi gadis imut dengan pembawaan yang mengundang gairah.


"Widih.....jangan kasih kendor!" ledek Soni yang baru datang bersama dengan Kiki.


Jenni pun tak kalah heboh saat melihat Indah datang bersama dengan Chiko.


"Ehemm.....daun muda lebih segar ya Ndah!"


"Apa sich loe Jen, jangan ngelantur dech!"sewot Indah. "Dan makasih tumpangannya...." ucap Indah lalu pergi meninggalkan Chiko tetapi di tahan olehnya, Chiko menarik kembali Indah hingga keduanya tak berjarak bahkan dada Indah asyik menempel di perut Chiko.


"Pulang sekolah gue antar!"


"Nggak perlu, gue bisa pulang sendiri. Lagian kita nggak seakrab itu!"


"Siapa bilang? loe pacar gue sejak gue jatuhin ciuman pertama gue buat loe!" lirih Chiko.


Indah terkejut, dia tak menyangka jika Chiko yang cukup di gandrungi oleh cewek-cewek di sekolahnya bahkan baru pernah merasakan ciuman pertama.


"Jangan berharap lebih sama gue, itu hanya keputusan satu pihak. Dan gue keberatan!"


"Terserah...tapi gue nggak akan lepasin loe!"


Indah tersenyum miring, "Cinta sama obsesi itu beda, begitupun sayang dan nafsu. Loe nurutin Mickey loe kan, makanya mau jadiin gue pacar?"


Chiko menggelengkan kepala, si Mickey memang berharap, tapi hati diam-diam sudah memperhatikan sejak lama. Walaupun dia belum tau itu cinta atau obsesi belaka. Tapi rasa ingin memilih itu ada.


"Gue nggak semesum itu!" elak Chiko.


"Yang bener? Coba loe cek si Mickey, gue yakin dia lagi menantang gue saat ini!" bisik Indah dengan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda lalu pergi meninggalkan Chiko begitu saja.


Reflek tangan Chiko mengusap si Mickey yang memang sedang tegak berdiri menguping pembicaraan mereka.


SHIIITT


Chiko memijit pelipisnya, respon tubuhnya memang selalu begini apa lagi melihat Indah yang sudah jauh dari pandangan tapi pinggulnya yang naik turun membuat bagian bawah semakin tak nyaman.


"Udah bosen sama om-om?"


"Kenapa emangnya?"


"Lebih seger mana?" tanya Jenni balik.

__ADS_1


"Berisik dech loe Jen! emangnya gue ngapain sama dia, gue cuma nggak sengaja ketemu di rumah sakit aja tadi."


"Ngapa-ngapain juga nggak pa-pa, sekali-kali ngerasain yang masih original!" bisik Jennie.


"Bukannya yang berpengalaman lebih menantang ya, itu kan semboyan loe selama ini?"


"Tapi kalo bisa ngerasain yang baru mau jelajah, kenapa nggak? masih wangi dan butuh bimbingan!" ucap Jenni nyeleneh.


Indah tak menggubris ocehan Jennie yang sudah ia hafal akan terus melebar jika semakin di beri peluang.


Chiko pun kini sedang menjadi bahan ledekan kedua temannya. Dia yang cuek hanya diam dan terus menatap Indah hingga menghilang.


"Gimana rasanya?" tanya Kiki yang sudah berada di dekan Chiko.


"Apanya?"


"Elah....pake pura-pura beg0, gede, padat, kenyal, apa lagi? berbagi lah, kayaknya loe nikmatin banget!" sahut Soni.


"Gesrek otak loe pada!" sewot Chiko.


"Gesrek gini gue nggak munafik kalo lagi solo sering bayangin neng Indah, hot jel3t0t kayaknya, udah kayak tahu gejrot, enak di lihat panas di lidah." Ucapan Kiki membuat Chiko panas dingin, tangannya gatal ingin meninju.


"Mulai hari ini jangan ada yang berfantasi liar tentang Indah, kalo nggak mau gue tinju loe pada!"


"Gue rasa nggak cuma kita yang patah hati, mungkin Mickey yang lain kalo tau bakal menangis karna udah nggak ada yang dia buat berselancar bebas hingga menuju puncak."


"Terserah loe pada, yang penting gue udah ngingetin loe berdua, awas aja ampe di buat bahan traveling!" Chiko segera menuju kelas dan diikuti oleh kedua temannya.


Hari ini kegiatan sekolah cukup lancar walaupun di iringi rasa kantuk ria yang hinggap hingga mata begitu berat. Ketiga siswi cantik yang saat ini sudah berada di parkiran tampak terbengong karena melihat Chiko yang sudah membuka pintu mobil sedangkan di luar pagar sudah ada om tampan yang menunggu dengan ribetnya membuat ponsel Indah terus bergetar.


"Gila sich Ndah, si om sampe tau sekolah kita juga. Dan itu apa-apaan si Chiko, dia mau ngajak loe pulang juga?" bisik Asti yang memang tau kedekatan Indah dengan Nicko dan cukup hafal dengan mobilnya.


"Pusing gue kalo udah pada baper begini," Indah dengan cueknya langsung membuka pintu mobil Asti.


"Loe pulang bareng gue!" titah Chiko menahan tangan Indah yang sudah ingin masuk mobil.


"Gue udah bilang kan tadi pagi, gue nggak mau!"


"Tapi gue maksa!"


"Gue kan udah bilang, kita nggak sedekat itu!"


"Tapi gue kan juga udah bilang, loe pacar gue sekarang!" tegas Chiko.

__ADS_1


"Chiko gue bukan level loe, loe terlalu tinggi untuk di raih. Dan gue harap berhenti bermain hati, karna gue sama loe udah kayak Upik abu yang merindukan tuannya! Nggak akan pernah ketemu Ko dan sekarang mending loe lepasin tangan gue!" tutur Indah tak kalah tegas.


Kini mata keduanya saling terkunci dengan Chiko yang mendominasi, sedangkan diam-diam Nicko melihat perseteruan keduanya. Dia tak menyangka jika Chiko pun dekat dengan Indah.


"Loe liat, adek gue kayaknya tertarik sama si Indah!"


"Siapa juga yang nggak tertarik sama Indah, coba aja loe lelang si Indah kalo nggak banyak yang ngantri!"


"Tapi belum tentu Chiko mau kalo tau pekerjaan Indah. Dan gue nggak akan menyerah gitu aja!"


"Loe nggak mau ngalah sama adek loe?" tanya Adit tak menyangka jika perasaan Nicko sudah dalam pada Indah.


"Untuk kali ini gue nggak bisa! Ini demi masa depan gue dan gue tau loe paham itu!"


Nicko berpikir jika adiknya masih bisa mendapatkan lebih dari Indah, perjalanannya pun masih panjang. Sedangkan dia tak mudah menjalani semua setelah hatinya kecewa.


Nicko memutuskan untuk kembali ke kantor saat dia melihat Indah yang lebih memilih untuk masuk ke mobil Chiko.


Sepanjang perjalanan Indah hanya diam dengan pandangan lurus kedepan, hingga tangan Chiko meraih tangan Indah dan mengecupnya dengan sayang.


"Gue nggak munafik, si Mickey emang selalu minta lebih kalo deket sama loe, tapi ini bukan obsesi. Gue bener suka sama loe!"


Indah menoleh melihat Chiko yang fokus mengemudi dengan menggenggam tangannya. Ada keseriusan di sana, tapi Indah nggak mau sampai masuk lebih dalam dengn tipu daya cinta.


"Loe nggak akan bilang hal yang sama kalo loe tau jati diri gue! yang jelas kita nggak sefrekuensi. Dan gue harap loe mundur keburu loe nyesel!" lirih Indah.


Setegas-tegasnya Indah, segalak-galaknya dia, Indah tetap lah Indah, gadis cantik yang memiliki suara lembut mendayu di telinga.


"Bagaimana gue bisa tau loe lebih jauh kalo loe aja menghindar, nggak ngasih kesempatan sedikit buat gue lebih mengenal."


"Suatu saat loe bakal tau tanpa mencari tau!"


Indah turun tepat si depan komplek, dia tidak mau Chiko mengantarnya sampai di rumah. Sudah cukup om minus bagi Indah yang tau rumahnya, dia tidak mau sampai menambah orang lagi yang akan merusuh di rumahnya.


"Makasih ya," ucap Indah sebelum keluar dari mobil.


"Ndah..."


"Iya."


"Gue masih nunggu, terserah mau berapa lama. Yang penting bukan penolakan!"


"Gue nggak janji!"

__ADS_1


__ADS_2