Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 21


__ADS_3

Akhirnya malam panas itu pun terjadi, Indah jatuh ke pelukan si om minus yang tak henti membuatnya bergetar hebat. Nicko benar-benar tidak mengijinkan Indah untuk bekerja hari ini. Dan mungkin untuk beberapa hari ke depan. Dia tak membiarkan Indah di sentuh pria lain.


Sudah banyak tanda kepemilikan yang mewarnai sekujur tubuhnya. Kegilaan Nicko membuat Indah tak sadar jika si Mickey mulai mendorong kepalanya untuk masuk ke dalam lorong yang sedikit terbuka karena si Minnie yang lengah.


"Om cukup jangan lakukan itu!" Indah tersadar saat miliknya terasa sedikit perih dan ternyata kepala Mickey sedang mencoba merobek mulut Minnie. Untung cepat sadar, Indah akan sangat menyesal jika hal itu terjadi.


"Aku ingin memilikimu sayang."


"Tapi aku ingin menjaganya untuk pria yang pantas mendapatkan itu," lirih Indah dan mendorong sedikit tubuh Nicko yang saat ini menindihnya.


"Kita bisa melakukan tanpa harus merusak sesuatu yang sangat ku jaga kan om!" Tak ingin merusak suasana yang akan membuat kepala Nicko akan pecah jika di biarkan. Indah akhirnya memegang kendali sekarang.


Indah mendorong tubuh Nicko hingga terlentang di ranjang yang membuat akses dia bergerak lebih banyak. Indah naik dengan membelakangi Nicko. Pria itu pasrah, mungkin belum saatnya. Dia akan menanyakan lagi dengan Indah maksud dari ucapannya setelah hal ini tuntas.


Melihat Indah yang sudah bergerak naik ke tubuhnya dengan kedua kaki yang terbuka tepat di depan wajah, membuat Nicko segera melahap tanpa aba-aba.


Mereka saling melakukan perannya berselancar bebas, membiarkan indera perasa keduanya saling bekerja. Menikmati sentuhan demi sentuhan yang memabukkan hingga kaki Indah melemah saat gelombang itu datang dan menyemburkan cairan.


Nicko yang melihat Indah sudah agak melemas akhirnya bertukar posisi dengan masih gaya yang sama. Indah pun terus memanjakan karena si Mickey masih kokoh bertahan.


Merasa gemas dengan Indah, Nicko mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya di kursi belajar. Nicko berdiri tepat di hadapan Indah yang sudah menjulurkan lidah. Tangan Nicko meraih dengan lembut kepala Indah dan bergerak maju mundur hingga si Mickey memuntahkan seluruh cairan ke bibir mungil yang sejak tadi memberi fantasi.


Setelah melebur keringat bersama, Indah tampak cemberut di kursi rias. Kesal hati membuatnya sedikit emosi. Gimana tidak, pekerjaan terancam libur sampai tanda merah yang begitu matang ini hilang tak berbekas.


Padahal sudah jadi peraturan tak ada meninggalkan jejak, tetapi tetap saja nekat. Berulang kali mendengus kesal hingga Nicko yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana kantornya tanpa atasan mendekat dan menelisik wajah cantik yang kini di tekuk.


"Kenapa, hhm?"


Nicko mencium pucuk kepala Indah dengan sayang, kemudian melihat wajah gadis itu lewat pantulan cermin.

__ADS_1


"Om ngeselin!"


"Kesel kenapa lagi? masih kurang, hmm?"


"Nggak melulu masalah ranjang om! Om nich udah buat aku hari ini gagal berangkat terus di tambah lagi meninggalkan jejak yang membuat aku bakal cuti mendadak!"


"Sengaja!"


Indah segera membalikkan tubuhnya menatap tajam pria di depannya yang berdiri santai sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


"Mulai saat ini kamu milikku dan aku nggak mengijinkanmu di sentuh siapapun!"


"Om nggak berhak ngatur hidup aku! Om nggak tau tanggung jawab yang harus aku penuhi, jadi jangan berbuat melampaui batas om! aku nggak suka!"


"Aku tau hidupmu, aku tau latar belakangmu, bahkan aku tau jika kamu berjuang untuk mamah kamu. Tapi aku ingin kamu tau, aku menginginkanmu. Mungkin masih dalam kadar tertarik walaupun sayang itu sudah mulai tumbuh. Tapi aku akan egois dan nggak akan lepasin kamu. Kamu bisa kerja yang lain."


Indah nggak habis pikir orang yang baru ia kenal dengan gamblang bicara menginginkan dan dengan gampang mengatur hidupnya. Siapa dia sampai tau hingga ke akar-akarnya.


"Mudah, menikahlah denganku. Dengan itu aku akan memenuhi kebutuhanmu dan membiayai pengobatan mamah kamu. Bahkan aku akan membantu mencarikan pendonor ginjal untuk beliau."


"Menikah? Om pikir lagi main orang-orangan. Mudahnya bilang menikah. Aku bukan gadis yang gila uang, yang dengan mudah memanfaatkan orang. Selama kakiku masih bisa berdiri aku masih bisa bekerja dan menghasilkan uang dari keringatku sendiri."


Indah melangkah menuju ranjang dan duduk di sana, lehernya seakan mau patah karena berbicara dengan si om dengan mendongak.


"Aku serius, bukan hanya untuk kebutuhan di ranjang. Aku ingin menjadikanmu istriku."


"Aku capek om, mending om pulang. Mungkin om juga lelah, ucapan om mulai ngelantur kemana-mana. Dan aku nggak mau di atur karena om hanya sebatas tamu yang kembali bertemu."


Nicko berlutut di depan Indah dengan menggenggam kedua tangan gadis itu. Kali ini dia memang serius, karena bersama Indah dia merasakan hatinya kembali bisa menyayangi wanita. Tak seperti sebelumnya yang sampai mati rasa.

__ADS_1


"Aku serius, kita memang baru beberapa kali bertemu, tapi kamu bisa menggetarkan hatiku dan kejantananku. Yang dulu mati rasa hingga sekarang kembali menghangat. Kamu membuatku resah saat netraku tak melihatmu seharian. Kamu membuatku gelisah saat kamu mendekat dengan pria hidung belang. Dan kamu membuatku kesal saat selalu menolak untuk aku mendekat."


"Om...ini perkara apa? Aku nggak bisa memiliki hubungan lebih dari teman. Hidupku sudah cukup rumit dengan segala problematika yang nggak semua orang terima. Jadi jangan membuatku semakin sulit dengan permintaan om yang membuat semua tambah pelik."


"Aku akan membantumu untuk keluar dari masalah ini. Kita bisa lewati semua sama-sama, Indah jadilah wanitaku." Nicko tulus mengatakan itu, ada getaran di hatinya yang tak ingin menjauh.


"Pernikahan itu bukan perkara mudah om, butuh keseriusan dan perasaan. Aku nggak mau baper. Dan aku tau ini semua karena ketertarikan semata. Walaupun semua butuh tindakan, tapi masalah pernikahan nggak cuma kesiapan dari fisik om aja. Tapi kesiapan hati juga, karena pernikahan yang benar itu berawal dari hati bukan dari fisik. Om jangan melulu di perbudak oleh si Mickey!"


"Kita akan tetap berteman sesuai keinginan om sejak awal. Tak melebihi batas dan wewenang. Aku punya prinsip hidup yang tak ingin mengharap belas kasih orang. Walaupun pekerjaanku nggak halal dan bertumpuk dosa. Tapi untuk masalah masa depan aku nggak akan membiarkan semua menjadi sia-sia."


"Jika aku membersamai hatiku untuk mencoba mencintaimu, apa kamu mau terima aku menjadi masa depanmu?" tanya Nicko tulus.


Indah menatap netra yang sejak tadi tak putus memandang, ia mencari celah kebohongan tetapi justru mendapat ketulusan. Harus apa kala seorang pria meminta keseriusan. Sedangkan hidupnya tak mulus seperti orang kebanyakan.


"Om mau buru-buru apa perlahan meluluhkan?"


"Lebih santai tapi tepat sasaran."


"Kalo gitu jangan memaksa, berjuanglah hingga hatiku terbuka. Karena terlalu banyak gembok yang mengunci di dalam dada. Perkara perasaan sesaat itu mudah, realitanya godaan di luar sana sangat meresahkan. Bisa saja saat om bosan terus kembali ke kegiatan panas yang menjadi kebiasaan."


"Aku janji padamu dan diriku, nggak akan aku sentuh wanita lain selain dirimu. Tapi aku minta sama kamu, saat si Mickey mendesak ingin. Kamu bersedia menjadi sandaran sampai dia tertidur kembali."


"Selalu begitu, dasar om mesum! Oke, akan aku pertimbangkan....."


"Tapi aku ingin kamu berhenti bekerja. Masalah hidupmu dan mamahmu biar aku yang menanggung." Nicko duduk di samping Indah kemudian mengusap lembut pipi gadis itu.


"Hal itu belum menjadi kewajiban om, selama hubungan ini masih dalam tahap membuka hati, aku bebas bekerja dan menerima perhatian orang lain."


"Apa kamu bilang? jangan membuatku murka dengan melihatmu bersama lelaki lain apa lagi sampai di jamah hingga lemas. Kamu dalam pantauanku!"

__ADS_1


"Belum apa-apa udah posesif!"


__ADS_2