
Dengan mengepalkan tangannya Indah melangkah menaiki anak tangga, dadanya semakin sesak ketika daesaahan itu semakin terdengar, apa lagi suara yang di dominasi oleh suaminya begitu lantang. Pikiran Indah sudah berkecamuk, begitu nafssunya Nicko hingga suaranya benar-benar menikmati, tak jauh saat kemarin malam menggagahi dirinya.
Langkah Indah begitu berat, tapi dia harus kuat demi memergokki sang suami yang terang-terangan menyakiti. Air mata yang sejak tadi ia tahan sudah ingin meledak saat langkahnya semakin mendekati kamar. Dengan tangan yang gemetar, dia menguatkan hati agar tetap mampu menghadapi. Andaikan memang harus berakhir setidaknya Indah sudah puas menghajar keduanya dengan kedua tangannya sendiri.
Pintu kamar tertutup rapat, jemarinya mulai memegang handle pintu dengan perlahan. Tarikan nafas begitu dalam hingga sulit untuk mengendalikan. Mata Indah terpejam saat pintu mulai terbuka, tak sanggup rasanya harus melihat langsung sang suami bercumbu dengan wanita lain. Jika belum menikah mungkin tak akan sesakit ini, tapi karena status yang sah membuat hatinya hancur hingga tak tersisa.
Matanya terbuka kala bayangan terang mengusik dirinya hingga bola matanya melebar saat melihat pemandangan yang ada di depan mata.
"Happy birthday....."
Air mata itu runtuh dengan lutut yang melemas, pikiran akan perselingkuhan yang tadi memenuhi otaknya kini hilang sudah. Bahkan tangan kekar seseorang yang begitu ia rindukan kini merengkuh tubuhnya yang hampir jatuh ke lantai.
"Selamat ulang tahun sayang, maaf sedikit membuatmu sedih." Nicko mengecup seluruh wajah Indah. Masih tak percaya, jika semua hanya kejutan belaka. Bahkan kedua mertuanya kini ada di depan mata. Chiko pun sudah berdiri bersandar pintu dengan bersidekap dada.
"Aku ada di sekolah tadi dan aku yang mengambil hasil kelulusanmu, begitu cintanya ya sama aku sampai sesedih ini?"
Indah mukul dada Nicko, tangisnya pecah dan tak menyangka. Dia pun lupa akan hari ulang tahunnya. Dan tak terpikir olehnya jika Nicko menyiapkan ini semua, bahkan kamarnya berubah menjadi kamar pengantin dengan bunga mawar dimana-mana.
Indah melirik kedua mertuanya, ternyata sang mertua ikut andil hingga serapi ini. Mamah mendekati Indah dengan senyum mengembang. Memeluk Indah dan memberikan sebuah kotak untuknya.
"Selamat ulang tahun sayang, maaf ya mamah dan papah ikut ngerjain kamu. Nicko yang maksa kami, sampai mamah dan papah nggak bisa menolak, padahal mamah sudah memperingatkan jika semua akan membuatmu sedih. Dan benar saja, sepanjang acara anak perempuan mamah murung. Maafkan mamah dan papah ya sayang."
"Iya mah, memang kak Nicko biang keroknya!"
"Hai bukan aku, tapi adik iparmu. Dia yang sudah menjadi otak dari ini semua sayang, bahkan semalam aku nggak boleh pulang sama dia. Tapi mana aku tega, akhirnya aku tidur di kamar tamu setelah memastikan kamu tertidur pulas."
Indah menatap tajam Chiko, pria yang tadi sempat menyapa tanpa ada rasa dosa. "Berhasil ya buat gue nangis, seneng kan loe liat muka gue sedih dari tadi!"
__ADS_1
"Ini pembalasan udah buat gue ngabisin sabun cair malem-malem!" celetuk Chiko.
Semua tertawa, hingga Indah kemudian teringat dengan kedua sahabatnya yang tiba-tiba datang dengan membawa kue ulang tahun dan kotak hadiah besar yang menutupi wajah Jenni saat jalan mendekat.
"Kalian?"
"Iya, gue udah tau dari semalam. Gue di paksa sama kakak beradik yang tak berperasaan itu." Asti melirik Nicko dan Chiko yang tampak santai, padahal di hati Nicko sudah tak tenang, takut Indah marah dan nanti malam tak dapat jatah. Padahal kamar sudah di dekor secantik mungkin untuk menambah warna saat bercinta.
"Ayo matiin dulu lilinnya, kita makan kue lah. Laper gue gara-gara ikutan sedih padahal lagi mendalami akting," sahut Jenni setelah meletakkan kado yang begitu besar.
Mereka berkumpul di meja makan, banyak pertanyaan di otak Indah, apa lagi dia penasaran dengan pemilik baju wanita yang teronggok di lantai dan suara desahaaan yang memang itu milik sang suami, lalu siapa wanitanya. Dan wanita yang ada di dalam foto itu.......
Setelah memotong kue, orang pertama yang Indah beri bukanlah Nicko melainkan sang mamah mertua. Senyum hangat untuk mamah serta kecupan di pipi membuat semua terharu melihatnya.
"Untuk mamah, makasih ya mah sudah menerima Indah sebagai menantu mamah. Indah sayang mamah," keduanya saling berpelukan. Mamah meneteskan air mata melihat Indah yang begitu tulus menyayanginya. Padahal jika mengingat kata-kata yang pernah terlontar sungguh menyakitkan.
"Aamiin, makasih doanya mah."
Kue kedua Indah berikan pada papah mertua, "Ini kue untuk papah, Indah sayang papah. Papah sudah seperti papah Indah sendiri, jangan bosan menegur Indah jika Indah salah ya Pah."
"Tentu saja, tapi yang pertama papah tegur itu Nicko, karena kesalahan istri akibat kelalaian suami. Jadi yang mendapat hukuman adalah suamimu!"
Nicko memutar bola matanya, sang papah memang selalu begitu. Ada saja alasan untuk menghukumnya. Karena itu cara papah agar lebih dekat dengan kedua anak laki-lakinya.
"Untuk hubby..." Indah memberikan kue untuk sang suami. Kecupan di kening melengkapi, tapi tak ada kata-kata yang meluncur dari bibir manis sang istri. Hingga Nicko menunggu dan memandang sang istri dengan heran.
"Nggak mau ngucapin apa-apa sama aku sayang?" mereka yang melihatnya juga di buat bingung dengan sikap Indah.
__ADS_1
"Memang mau mendengar aku berucap apa? memarahimu? mencurigakanmu? atau memberi hukuman untukmu?"
"Sayang..."
"Malam ini tidur di luar!"
Nicko tercengang mendengar gertakan dari Indah, padahal sejak tadi melihat Indah memakai kebaya maroon dengan membalut tubuh sexynya saja rasanya sudah ingin menerkam. Dan sekarang mendapat hukuman untuk tidur di luar, alamat nggak dapet jatah.
Sedangkan yang lain tertawa melihat Nicko yang memasang wajah memelas. Apa lagi Chiko, dia tersenyum puas. Karena ini setimpal dengan apa yang kemarin malam kedua pengantin baru itu perbuat.
"Sayang..." seru Nicko saat semua sudah pulang dan Indah mengunci pintu kamarnya. Nicko mengetuk pintu berulang kali meminta untuk di bukakan tapi tak kunjung Indah mau membuka pintunya.
"Sialan emang Chiko, tau gini ogah gue nurutin sarannya. Bikin gue nggak bisa tidur, kasian banget loe Mickey nggak dapet jatah lagi malam ini."
"Sayang buka donk pintunya, aku nggak macam-macam. Sungguh, kalo kamu curiga dengan suara itu, itu suara kamu sayang yang di rekam oleh Chiko. Bukan suara wanita lain!"
Indah terdiam mendengar ucapan Nicko dari luar, tidak mungkin itu suara dirinya. Chiko benar-benar minta di balas jika memang benar-benar merekamnya.
"Dan wanita itu, itu aku foto di kamar Chiko, dan yang aku peluk itu dia sayang, memakai rambut palsu mamah. Kamu bisa telpon dia jika tak percaya." Seru Nicko lagi.
"Chiko.....loe ngajak perang! lagian laki gue juga benar-benar pinter, mau aja di kelabuhi sama adiknya!" kesal Indah.
Indah membuka pintu kamar, menatap Nicko dengan tatapan yang sulit di artikan. Ntah apa yang wanita itu pikirkan, memperbolehkan masuk sang suami padahal sejak tadi hatinya begitu geram.
"Sayang...." mendapati pintu yang terbuka tentu tidak di sia-siakan oleh Nicko. Ia segera masuk dan ingin memeluk sang istri. Tapi dengan tegas Indah menolaknya. Wanita itu mundur tak ingin tersentuh.
"Kenapa sayang? masih marah?"
__ADS_1
"Tidur di sofa!"