Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 41


__ADS_3

Disela-sela tertawanya dering telpon membuatnya diam seketika. Indah segera beranjak mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Melirik sekilas siapa gerangan yang menghubungi kemudian segera menggeser tombol hijau.


"Halo..."


"Sayang, sudah pulang?"


"Udah di rumah, kenapa?"


"Mau makan apa?"


"Tumben..."


"Aku lagi di restoran habis bertemu klien, setelah ini aku langsung kesana. Biar aku take way sekalian."


"Apa aja, cuma jangan yang pedas ya. Perut aku lagi nggak enak." Indah kembali merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar sambil mendengarkan suara Nicko yang khas di telinga.


"Kenapa? kamu sakit? kenapa nggak hubungin aku? tau gitu aku kesana dari pagi."


"Apa sich, biasa karna lagi pms aja. Bukan karena salah makan atau apa."


"Ya sudah tunggu aku ya, ada yang mau di beli lagi?"


"Udah itu aja, nanti kalo mau makan yang lain kita keluar aja."


"Oke...tunggu aku!" Nicko menutup ponselnya.


Duduk berhadapan dengan Adit yang sejak tadi menyimak. Adit paham akan tatapan Nicko yang memintanya untuk segera memesankan makanan untuk Indah.


"Yang punya cewek loe, yang dapet enaknya loe, timbang mesen doank masih nyuruh gue. Bener-bener loe ya!" kesal Adit, tetapi tetap dia lakukan. Adit memanggil waiters kemudian memesankan makanan untuk Indah.


Nicko tersenyum melihat sahabatnya yang memasang wajah datar dan sedikit mendumel. "Kalo loe nurut, gue juga nggak nyesel naikin gaji loe tiap bulan."


"A_iii naikin timbang 100 ribu aja loe ungkit-ungkit!"


"Lah dari pada kagak, bersyukur masih gue naikin. Coba loe hitung kalo sampe 10 tahun ke depan udah berapa?"


"Udah mati!"


Setelah mendapatkan makanannya, kini Nicko sudah menginjakkan kakinya lagi di rumah Indah. Menyajikan makanan untuk kekasihnya kemudian naik menuju kamar.


"Sayang...."


Tak ada sahutan dari pemilik kamar tetapi seseorang yang sedang tertidur pulas membuat senyum Nicko mengembang. Langkahnya mendekat tepat di pinggir ranjang dan mengecup kening wanitanya.


"Bangun sayang makanannya sudah datang...."


Tak ada pergerakan dari Indah hanya erangan kecil tak ingin terusik membuat Nicko semakin gemas sendiri. Dia mengecup berkali-kali bibir mungil yang terbuka itu dengan lembut hingga mengusik dan membuat pemiliknya meringis.


"Om....." rengek Indah.


"Hhmm, bangun sayang. Makan dulu ya."

__ADS_1


Indah merenggangkan otot-otot tubuhnya kemudian beranjak duduk, menatap Nicko sejenak lalu memeluknya erat.


"Kangen..." manjanya Indah membuat Nicko sangat senang.


"Aku juga kangen sayang, bagaimana hari ini? kamu pulang dengan siapa?"


"Aku pulang di antar temanku. Dan hari ini sedikit mendrama, dari pagi perutku sakit hingga aku sulit untuk sekolah. Tetapi ada Asti yang sejak pagi membantuku."


"Apa yang mengantar pulang juga Asti?" Tanyanya walaupun dia tak yakin itu benar hanya tak ingin langsung berburuk sangka.


"Bukan," jawab Indah menggelengkan kepalanya.


"Lalu siapa?" tanyanya lagi mulai tak tenang.


"Chiko, temanku yang kemarin kesini." Benar pemikiran Nicko sejak tadi, Chiko mengantar Indah pulang. Bahkan ntah apa yang mereka lakukan saat keduanya di rumah berdua.


"Maaf sayang Koko, aku hanya menganggapnya sebagai teman. Bukan siapa-siapa, mengertilah aku mencintaimu."


Ungkapan hati Indah mampu menyiram hati Nicko yang panas, tak ada kata yang keluar hanya dekapannya mewakili perasaan Nicko saat ini.


Begitu erat Nicko memeluk Indah hingga wanita itu sedikit sesak, perasaannya mendadak kusut jika mengingat cinta segitiga antara dia dan adiknya. Walaupun dia tau Indah tidak suka, tapi rasa tak tenang mulai muncul dan membuat gelisah.


"Jika aku meminta kamu untuk menjauhinya, apa kamu bersedia?"


"Aku nggak ada hubungan dan perasaan lebih. Kami hanya teman, walaupun dia menganggapku lebih. Tapi kan rasa aku buat kamu. Jangan khawatir...."


Nicko tersenyum mendengar isi hati Indah, baru kali ini Indah benar-benar menunjukkan keseriusannya. Rasa yang begitu nyata membuat keduanya saling percaya. Bukan hanya perkara cinta tapi saling menguatkan.


"Om udah makan?"


"Udah, tadi sama Adit dan klienku. Kamu bilang jika ingin yang lain mau keluar, lagi pengen apa memangnya?"


Kini keduanya sedang berada di balkon kamar, menikmati malam dengan taburan bintang. Cerah malam ini, sinar bulan pun mulai menghangatkan hati. Nicko menyematkan jemarinya di jemari lentik Indah, menatap penuh pesona dengan senyum yang tercetak.


"Jajan jajanan malam kayaknya seru dech om, gimana?"


"Ke mall?"


"Nggak ke mall juga, kalo ke pasar malam gimana?" Nicko tampak berfikir, seumur-umur dia belum pernah ke pasar malam. Melirik sekilas dan kemudian membayangkan yang ada di sana.


"Bagaimana?" tanya Indah lagi.


"Mm...."


"Tidak masalah jika tidak mau, lain kali saja aku mengajak teman."


Nicko segera beranjak dan menarik tangan Indah untuk segera bersiap, tak ada dengan teman atau yang lain. Dia tidak ingin momen langka ini di bagikan dengan orang lain. Apa lagi menjadi keinginannya. Mungkin saja sudah lama juga tidak pernah kesana.


"Serius?"


"Iya, aku memang belum pernah kesana. Tapi demi kamu, ayo kita kesana!"

__ADS_1


Indah tersenyum lebar dengan sesekali berjingkrak ria. "Yeeee......asyik!" Dia segera membuka lemari mencari baju yang pas untuk di pakainya ke sana. Sesekali bersenandung dengan wajah yang begitu bahagia. Dan itu tak luput dari pandangan Nicko yang ikut senang bahkan sesekali tertawa melihat tingkah Indah.


Sepanjang perjalanan Indah terus menggenggam tangan Nicko, saking bahagianya mengecup pipi dan bergelayut mesra. Dan hal itu justru membuat Nicko semakin gemas, bak ayah yang sedang mengajak anaknya jalan-jalan karena mendapat nilai bagus. Tingkah Indah tak jauh dengan anak berusia sepuluh tahun.


Sampai di pasar malam Indah segera menarik tangan Nicko untuk memainkan bermacam-macam permainan yang ada di sana. Naik jungkat jungkit yang hampir membuat Nicko mengeluarkan isi perutnya. Menyaksikan permainan tong setan yang menegangkan dan menikmati berbagai jajanan yang di jual sepanjang jalan.


"Mau?"


"Itu makanan apa?"


"Ini cilok, ini jasuke, ini telur gulung, ini bakso goreng, sotang, otak-otak, yang ini Sempol ayam apa kambing ya tadi tulisannya. Aku lupa dan yang ini es puter. Mau yang mana?"


"Kamu beli sebanyak ini, nggak takut sakit perut? memangnya enak? apa higienis?" tanya Nicko yang tak membayangkan semua makanan yang Indah beli jika masuk ke dalam tenggorokannya, apa lagi melihat saus encer yang membersamai setiap jajanan. Tenggorokannya tiba-tiba panas dan segera meminum air mineral.


"Coba dulu, ini enak-enak loh. Kalo ngga jasuke nya aja. Aman kan di lihatnya?" Indah menyodorkan jasuke ke tangan Nicko, sedangkan dia segera menikmati satu persatu jajanan yang lain sambil menonton permainan yang ada di sana dan ramainya pengunjung yang ikut bersenang-senang.


"Di makan!" titah Indah saat melihat Nicko yang justru diam saja tanpa niat mencolek sedikitpun. Dengan sedikit paksaan Nicko menerima suapan dari Indah, awalnya bermuka masam, tapi setelahnya senyum terbit dan mengangguk senang. Bahkan menghabiskan dan memesan kembali jasuke di abang-abang gerobakan sambil mengantri dengan yang lain.


"Bagaimana?"


"Enak, manis, gurih...."


"Mau coba yang ini?" Indah mengangkat makanan yang ia beli. Tatapi secepat kilat Nicko segera menolak.


"Sotangnya aja kalo nggak, ini ada kentangnya jadi aman."


"Besar juga, masuk ke mulut kamu?"


"Mickey mu saja masuk apa lagi ini." Ucapan Indah membuat Nicko serasa ingin mengigitnya.


"Bikin ngilu ikh, coba aku liat."


"Nggak percaya, nich....."


Nicko tertawa menyaksikan itu, benar-benar tak menyangka ada makanan di buat sebesar itu dan menutupi mulut Indah bahkan tidak bisa menjawab ucapan Nicko.


"Sudah biasa ya, tapi itu sampe kayak nggak bisa nafas. Kamu tuh makannya dikit-dikit jelas dia beda tekstur sama si mickey."


Mengunyah dengan susah payah karena cara makan yang salah, terbiasa mencaplok saja ini di buat kaku dan kesulitan sendiri.


"Minum..." Indah meminum air mineral itu hingga tandas, seakan kesulitan hingga sulit menelan.


" Kamu ini," pria itu mengusap pucuk rambut dan meninggalkan tanda sayang di keningnya.


"Mau pulang?"


"Hhmmm...."


Pulang dengan menyisakan banyak jajanan yang Indah bawa pulang, tak habis jika harus makan sendiri tapi akan sangat sayang jika di buang.


"Masih mau di bawa pulang, katanya nggak mau makan pedes. Nanti kalo perutnya sakit lagi gimana?"

__ADS_1


"Yang baik-baik aja doanya, lumayan kan buat teman tidur sambil mikirin kamu!"


__ADS_2