Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 34


__ADS_3

Uhuuuk uhuuuk


Asti segera berlari ke dapur mengambil segelas air putih untuk Indah.


"Perasaan nggak pake jengkol, ngapa jadi malah keselek sich!" Asti menyodorkan gelasnya langsung ke bibir Indah.


"Ck, loe kata gue keselek biji jengkol! gue tuh keselek sama biji....."


"Inget punyanya om ganteng loe yeee ..." ledek Asti.


"Berisik loe, nggak usah bahas yang nggak ada. Nanti malam atur jadwal gue!" Indah kembali melanjutkan makannya.


"Emang boleh?"


"Siapa yang ngelarang?"


Asti menyipitkan matanya, melihat Indah dengan seksama dan dalam tempo yang lumayan. "Jangan bilang tuh yang namanya cinta kandas di awal jalan?"


"Tau akh!" Indah segera menutup kembali bungkusan nasi Padang yang masih banyak. Tiba-tiba perut terasa kenyang dan begah.


"Belum habis tuh," Asti melirik bungkusan yang sudah kembali di ikat dan siap di buang. "Buang-buang makanan nanti ayam tetangga mati!"


"Sayangnya tetangga gue nggak punya ayam!"


"Emang lakinya pada nggak bangun ayamnya?"


"Asti otak loe jangan somplak kenapa?" seru Indah gemas. "Asli ketularan Jenni loe!"


"Loe kata Jenni penyakitan!" celetuk Asti.


Indah diam sejenak memikirkan sesuatu, " btw kapan kita cek up?"


"Mmmm......besok aja kali, pas libur sekolah juga kan. Sekalian gue mau nengokin Tante."


Indah menganggukan kepalanya tanda setuju, setelah membuang sisa makan Indah lanjut ke kamar meninggalkan Asti yang masih menikmati daging rendang.


"Ganti aja seragam loe, ambil baju gue!"


"Hhmm....."


Indah membuka seragamnya dan segera tidur di kasur empuk milik Asti tanpa basa basi.


Sedangkan di pojok ruangan tampak pria dengan kemeja acak-acakan beberapa kali menyugar rambutnya. Baru setengah hari tanpa kabar dari gadis yang semalam mengakhiri hubungan mereka, kini dirinya sudah di buat malarindu. Ingin rasanya menghampiri tetapi atas unsur apa.


Adit di buat pusing melihat kelakuan Nicko yang tak seperti biasanya, bahkan putus dari Vera dia di buat gila kerja hingga perusahaannya semakin maju. Giliran di tinggal anak SMA yang berprofesi sebagai gadis malam justru dibuat tak fokus dan lusuh.


"Loe udah kayak orang nggak ngesexs sebulan tau nggak! rungsing dari pagi. Indah nggak bisa lanjut dengan alasan yang jelas. Dia nggak mau buat loe sakit hati. Tapi kalo loe emang terima dia setulus hati ya loe harus terima apapun tentang dia."


"Kurang nerima apa gue? wajar kalo gue minta dia buat lepas kerjaannya. Bahkan gue bisa biayain semua kebutuhan dia dan mamahnya."


"Loe harusnya sabar ngadepin dia, Indah udah biasa hidup mandiri. Prinsipnya gue akuin bagus, dia nggak matre kayak cewek yang lain. Justru loe seharusnya bangga, ya walaupun kebutuhan dan hidupnya yang keras nuntut dirinya buat kerja keras. Sampe harus jual diri, masih untung dia bisa jaga tuh si Minnie dengan baik. Kalo kata pepatah nich ya, pelacur terhormat!"

__ADS_1


"Bangk3! sekali lagi nyebut pelacur gue sumpel mulut loe pake sepatu gue nich." Nicko tak terima jika Indah di cap buruk walaupun kenyataannya memang begitu. Ntah sudut hatinya begitu sakit, mendengar ucapan pahit orang lain.


"Gue kan cuma ngasih perumpamaan, loe sensi amat! lagi dapet?"


Nicko tak mendengarkan ocehan Adit, dirinya terlalu pusing hingga butuh penawar tapi tak ingin menjamah wanita liar.


"Nick, loe yakin lepasin dia gitu aja?"


"Dia yang minta. Ntar malem ikut gue, otak gue butuh guyuran alkohol. Orang tua gue juga bikin pusing, perjodohan nggak bermutu."


"Butuh lobang buat si Mickey nggak? gue males kalo loe dadakan."


"Liat ntar!"


Malamnya Indah dan Asti menuju club' tempat biasa mereka berkumpul. Sejak tadi Jenni sudah menghubungi tetapi mereka sengaja tak merespon. Cukup ilfil ketika tau si Jenni membawa sugar Daddy nya ikut kumpul juga.


"Ntar pake topeng Ndah!"


Indah menoleh Asti, tak mengerti maksud sahabatnya. "Gimana?"


"Pake topeng, muka loe harus di tutupi dari si om gendutnya si Jenni. Mata keranjang cap kadal bunting!"


Indah tertawa mengingat wajah dan bentuknya, sampai sekarang dia masih benar-benar tak menyangka jika Jenni mau.


"Duitnya nggak berseri As, cocok buat kita yang emang butuh money."


"Dan loe mau?"


Sesampainya di club' mereka segera turun dari mobil dengan sambutan mata nakal para pria. Banyak yang menginginkan mereka tetapi tak mampu membayar dengan tarif yang lumayan menguras isi saldo ATM.


Kaki jenjang keduanya mulai melangkah masuk, di sambut dengan kepulan asap dan music disko yang memekakkan telinga. Tapi itu lah sensasinya, terasa rindu jika sehari tak singgah.


"Loe langsung ngamar kan Ndah?"


"Iya, nanti kalo udah kelar gue nyusul loe. Loe di kamar nomer berapa?"


"Tempat biasa donk kalo gue."


"Oke, kalo nggak ngumpul langsung aja sama Jenni. Gue kerja dulu ya bye..."


Indah dan Asti berpisah, kamar mereka berbeda lantai. Kali ini tamu yang sudah menanti si om langganan yang biasa hadir setiap seminggu sekali. Cukup aman malam ini, bahkan akan mendapatkan lebih banyak jika kepuasan di luar batas.


"Hallo om..."


"Hay baby, sini masuk! Om sudah menanti sejak tadi. Rindu sama kamu. Gimana kabar kamu sayang?" Om sudah menarik tubuh Indah hingga terduduk di pangkuan. Senyum menawan sudah terpasang. Suara sexy mendayu di telinga. Apa lagi saat ini jemari lentiknya mulai bermain di dada dan melingkar di pundak.


"Kabar aku baik om, sangat baik malah. Apa lagi malam ini bisa bermain sama om. Sesuatu yang sangat Cinta tunggu setiap akhir pekan."


"Ugh baby, baru di duduki saja sudah on. Coba kamu intip betapa perkasanya dia meminta di jamah." Si om membiarkan Indah memulai pekerjaannya dengan profesional dan menguras tenaga.


Membuat si om terlena dan terbuai dengan lidah yang mulai nakal bergerilya. Hampir dua jam memuaskan hingga semburan keluar dua kali. Tak menyangka jika hari ini si om benar-benar ingin lagi. Dan itu Indah manfaatkan meraup rupiah hingga membuat saldonya menggendut.

__ADS_1


"Gimana om?" tanyanya saat melihat si om yang sudah terkapar tak berdaya, luar biasa sayang. Coba ambilkan dompet om baby!"


Indah dengan senang hati mengambil dompet yang begitu tebal. Om mengambilnya tanpa menghitung terlebih dahulu. Cukup banyak yang Indah dapat malam ini, besok dia bisa menebus biaya kamar sang mamah.


"Makasih banyak om!"


Cup


Indah keluar dari kamar langsung menuju tempat dimana semua sahabatnya berkumpul. Sedangkan Asti dan Jenni sejak tadi sudah menunggu.


"Si Cinta lama banget, bablas sampe pagi ini anak jangan-jangan!"


"Masak iya, dia sama langganannya kok. Cukup tenang dan nggak perlu ada yang ditakutkan."


"Biasanya sejam kelar, lah ini sampe dua jam nggak datang juga. Loe yakin nggak di pake bolak balik!"


"Ehemmm....."


Keduanya menoleh mendengar suara dari kak Toni. Mereka mengkerutkan dahinya melihat siapa yang baru datang. Jenni sempat kikuk tetapi tidak dengan Asti yang sudah sedikit paham atas hubungan keduanya.


"Mau gabung di sini?" tanya Adit dengan heran.


"Hhmmmm....."


Mereka duduk bersama di sofa yang melingkar, tak ada obrolan dari mereka hingga suara Jenni cukup membuat atensi bagi yang lain.


"Itu Indah As, gila nich anak baru balik."


"Cin!" Asti berseru melihat Indah yang celingukan mencari mereka.


Indah tersenyum saat melihat Asti yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Menghampiri tanpa memperhatikan siapa saja yang berada di sana.


"Ikh gue cariin, ternyata disini!"


"Rame Cin, untung aja gue tadi buru datang kalo nggak kita ngamprah di ubin."


"Iya, sekalian gelar tiker!" sahut Asti.


"Loe lama dach, itu si om minta plus-plus?" tanya Jenni yang lupa jika di sana ada Nicko yang sejak tadi mencengkeram lengan sofa.


"Duduk dulu Cin!" Asti mengalihkan pembicaraan. Kemudian Indah melangkah ke sisi yang kosong dan kebetulan ada di samping kak Toni.


"Kak Indah duduk di sini ya.." ucapnya di telinga Toni.


"Iya dek, udah kelar?"


"Udah."


Toni tau jika Nicko dan Indah sedang ada masalah, dia yang juga sahabat serta orang yang sudah menganggap Indah sebagai adik tidak bisa membela salah satu di antara mereka. Apa lagi dia tau alasan Indah kembali bekerja.


"Dit udah datang pesanan gue?"

__ADS_1


__ADS_2