
Surat dari dalam amplop itu sudah terbuka, hasil sesuai harapan, mereka sehat tinggal melanjutkan pemeriksaan selanjutnya. Saling berpelukan mengucap syukur. Anak-anak yang berjuang keras untuk hidup, menjadi suhu di usia yang tak seharusnya. Hidup pahit sudah menjadi makanan sehari-hari. Tak perlu menangis dan takut dengan hari esok, toh mental mereka sudah di wajibkan untuk kuat.
Setelah menyelesaikan tahapan demi tahapan pemeriksaan dan ada sedikit perawatan bagian intim. Kini Indah mengajak kedua sahabatnya mampir ke ruangan mamah.
"Assalamualaikum mah."
"Assalamualaikum Tante...."
"Wa'allaikumsalam, eh ada kalian juga. Sini nak!" Mamah minta semuanya untuk masuk dan mendekat. "Bi, minta tolong beliin minuman untuk mereka di kantin ya."
"Nggak usah repot-repot Tante, sekalian aja beli es krim sama burger ya Bi," sahut Jenni.
"Malu-maluin gue dech loe!" ketus Asti. "Bi, tapi kalo ada jus, Asti mau jus alpukatnya satu ya, pake susu coklat, esnya nggak usah banyak-banyak terus gulanya juga dikit aja. Minta di tutup rapet pa_mmpppttg."
Mulut Asti sudah di bekap oleh Jenni, " disini yang bikin malu loe apa gue? udah bi, kita mah omnivora apa aja masuk. Nggak usah di dengerin ocehan Asti bi, di jamin bibi pusing ngapalinnya!"
Sang mamah cukup terhibur dengan adanya Indah dan kedua sahabatnya. Bibi akhirnya segera ke kantin membelikan apa saja yang ia temukan di sana.
"Bagaimana dengan sekolah kalian?"
"Masih sama Tante, sama-sama menyulitkan hidup saya yang memang sudah sulit. Apa lagi kalo pelajaran matematika Tan, beeehhhhhh sampe ngebul kepala Jenni."
"Loe kata kompor, ngebul!" sahut Asti.
Mamah kembali tertawa, apa lagi melihat wajah sang anak yang tampak ceria. Walaupun beliau tau sorot mata anaknya penuh kesedihan.
"Jenni itu paling jago di bahasa Indonesia mah."
"Oh ya, bagus dong nilainya?"
"Bagus banget Tante, apa lagi kalo suruh bikin karangan. Jago Tan, karena pada dasarnya ini bibir jago ngarang!"
Mamah kembali tersenyum senang, "kalo Asti pintar mata pelajaran apa?"
"Ekonomi dan akutansi donk Tan, apa lagi kalo di suruh ngitung duit. Nggak pake lama kelar!"
"Ngitung doank nggak ada wujudnya aja loe bangga!" celetuk Jenni.
"Ya kan tiap malem udah gue praktekin," lirih Asti.
Indah sejak tadi menyimak sambil tertawa melihat perdebatan antara kedua sahabatnya. Dirinya sibuk memijat tangan sang mamah yang masih menempel infusan.
"Eh... ngomong-ngomong kalian sudah punya pacar atau belum?"
Mendengar pertanyaan sang mamah, Indah segera menoleh. Sedikit kurang nyaman, walaupun pertanyaan itu bukan untuk dirinya.
__ADS_1
"Belum Tante, kita belum ngerti begituan. Masih polos tan, lagian kan masih sekolah masak pacaran." Kini Asti yang sigap menjawab karena Jenni mendadak diam karena takut keceplosan.
"Sudah besar donk, dulu waktu Tante berumur seperti kalian sudah menikah dengan om. Jadi nggak ada salah jika setelah lulus nanti kalian menikah. Ya kan sayang?"
"Mah...."
"Sayang nggak ja_."
"Eh bibi udah balik, wah....banyak banget belanjaannya. Kenyang ini, nggak perlu ke cafe tinggal duduk anteng di kasih makan minum. "Makasih ya Bi." Indah bernafas lega, dalam hati benar-benar berterima kasih dengan kedatangan bibi tepat waktu.
Setelah menghabiskan makan dan minum, mereka memutuskan untuk pulang. Asti mengantarkan Jenni karena memang dia satu arah, sedangkan Indah memilih naik taksi. Sehari nggak pulang cukup rindu akan ranjang. Masih ada waktu sebentar untuk sekedar tiduran sebelum berangkat bekerja.
"Akhirnya sampai juga...."
"Makasih ya pak," Indah turun dari taksi kemudian masuk ke dalam rumah. Membuka pintu tanpa hambatan.
"Eh, kok nggak di kunci, apa aku lupa ya...." Indah segera masuk kemudian mengunci kembali pintu tersebut. Setelah aman segera masuk kamar. Melangkah dengan santai sampai kaki itu terhenti saat mendengar suara bariton seseorang.
"Dari mana?"
Deg
Indah segera berbalik, ia lupa jika ada satu orang yang leluasa keluar masuk rumahnya tanpa permisi.
"Dari semalam aku kesini, pagi tadi aku kesini dan sore kamu baru pulang, dari mana?"
"Bukan urusan Om, kita kan nggak ada hubungan apa-apa lagi. Sekarang silahkan om pergi karena aku mau istirahat." Indah segera berbalik menuju kamar.
Grep
Langkah Indah kembali terhenti, seseorang yang susah payah ia abaikan memeluk erat tubuhnya. Darah Indah berdesir merasakan kehangatan yang sejak kemarin ia tidak rasakan.
Berusaha sekuat hati agar pertahanan tak runtuh begitu saja, tetapi tubuh seakan pro dengan lawannya. Menolak ajakan hati yang ingin menghindari.
"Lepas om!"
"Tolong jangan kayak gini, aku bisa gila jika setiap hari melihatmu di sentuh pria. Aku khawatir jika satu jam aja nggak mendapat kabar darimu. Please, jangan gini. Aku tau kamu sama tersiksanya denganku."
Sekuat tenaga air mata itu tak runtuh tetapi seakan pagar pembatas tak dapat tertutup rapat. Indah mengusap kasar air mata yang jatuh. Benci, Indah benci lemah seperti ini. Karena membuka akses untuk Nicko sama saja membuka jalan untuknya kembali terluka.
"Semua akan kembali normal jika terbiasa. Maaf...."
"Aku nggak akan lepasin kamu lagi!"
"Om..."
__ADS_1
"Please Indah, bahkan si Mickey nggak doyan makan."
Mendengar itu Indah segera berbalik, menatap tajam wajah yang tak berdosa di depannya. Ingin rasanya Indah acak-acak tapi sayang takut rusak dan mengurangi nilai jual.
"Sebenernya yang nggak mau lepas dari aku itu ini atau ini?" Indah menunjuk tepat di dada Nicko setelahnya menunjuk bagian bawah yang sudah berdiri sempurna.
"Dua-duanya."
Indah memijit pelipisnya, kesal, geram, gereget , tapi gemes. Apa lagi melihat Nicko yang sudah memasang puppy eyes.
"Pulang sana! aku mau istirahat."
"Nggak kangen sama aku?"
"Nggak!" Indah segera masuk kamar kemudian dengan cepat mengunci pintu. Melangkah menuju kamar mandi tanpa memperdulikan Nicko yang terus memanggil.
"Perasaan tadi udah mulai luluh walaupun nolak, tapi kenapa tiba-tiba garang macam kak rose. Salah apa ini mulut."
Nicko yang masih ada undangan makan malam dengan klien segera memutuskan untuk segera pulang karena harus mengganti pakaian.
"Indah sayang, pokoknya aku nggak akan nyerah buat dapatin kamu, apapun caranya!" seru Nicko. Kemudian pergi meninggalkan rumah Indah.
Setelah berendam dan hati mulai bisa di ajak berdamai, Indah memilih bersantai di balkon kamar. Menikmati senja yang ingin berganti malam. Dengan di temani secangkir teh dan biskuit, tangannya mulai berselancar membuat media sosial.
Indah mengambil foto dirinya dengan jepretan bernuansa langit yang memerah. Jarang membuka akunnya tak membuat followernya berpaling. Terbukti baru di upload yang ngelike sudah berjibun. Belum lagi komentar yang beragam memenuhi layar.
Indah tak menggubris, dia tak butuh pujian. Hanya iseng-iseng saja, sedangkan pria yang sedang dalam perjalanan menuju restoran bintang 5 di buat gemas dengan foto Indah yang terpampang nyata di status WhatsApp.
"Mulai tebar pesona, nggak rela gue rasanya!"
Nicko menghubungi Indah, tetapi beberapa kali panggilan ia layangkan tak kunjung ada jawaban karena tampak sibuk.
"Lagi telponan sama siapa sich, kenapa susah banget dihubunginya!"
"Ngapa sich loe Bray? uring-uringan Mulu belum kelar PMS?" tanya Adit yang saat ini menyetir mobil.
Nicko menutup layar ponselnya setelah menyimpan foto Indah di galeri. Jangankan dengan yang lain, pada Adit saja rasanya tak ikhlas.
Sibuk bercengkrama di acara makan malam yang ternyata di hadiri juga oleh beberapa dari pengusaha lain yang juga bekerja sama, membuat Nicko sedikit lupa akan rasa kesalnya pada Indah. Apa lagi tanpa disadari ternyata ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan.
"Terimakasih atas jamuannya pak, saya permisi dulu."
"Sama-sama tuan, kami sangat berkesan dengan kehadiran anda."
Setelah pamit dengan yang punya acara Nicko segera mengajak Adit untuk pergi karena hatinya begitu tak tenang. Tetapi sesaat langkah panjangnya terhenti dengan suara orang yang menyapa di belakang.
__ADS_1
"Nicko..."