Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 47


__ADS_3

Indah melihat Nicko yang baru datang bersama Adit dan seorang wanita yang terlihat begitu dekat, bahkan seakan tak ingin terlepas. Indah diam mengamati sampai objek di depan pun mulai duduk dan memilih menu.


"Nicko kamu mau makan apa?"


Nicko diam tak menjawab, cukup malas menanggapi wanita yang telah lama ia lupakan bahkan sudah ia benci. Tapi hari ini Vera datang dengan pedenya ke kantor pas sekali dengan Nicko yang ingin keluar mencari makan.


Sudah diabaikan sampai Adit pun malas untuk mengusirnya tetapi tak kunjung juga pergi malah dengan cepat masuk ke dalam mobil.


"Dit kayak biasanya aja!"


"Pasti kamu mau makan nasi goreng seafood kan Nick, tunggu aku pesankan ya...."


Nicko dan Adit hanya menggelengkan kepala, wanita itu benar-benar ingin cari perhatian.


"Kenapa dia balik lagi sich? loe undang lagi modelan beginian?"


"Siapa yang ngundang, najiiiis gue sama dia. Kalo loe mau ambil aja. Gue ogah!"


"Ikh.....sorry, loe pikir gue cowok apaan doyan modelan begini! mendingan Anita kemana-mana."


Vera kembali menggelayut mesra lengan Nicko padahal sudah berulang kali Nicko tepis. "Vera loe bisa nggak sich nggak ganggu gue!"


"Nggak bisa, ayo lah ko. Aku kan udah minta maaf. Aku udah menyesal dan nggak akan seperti itu lagi. Bahkan aku mau kalo kamu langsung ingin nikahin aku."


Nicko tersenyum miring, "gue nggak sudi nikahin loe! pengkhianat!"


Tak ada rasa tersinggung di hati Vera, yang ada saat ini adalah bagaimana caranya dia mendapatkan Nicko lagi. Tambang emas yang hartanya tak akan pernah habis untuk hidupnya kelak. Bahkan dia rela menjatuhkan harga dirinya demi mendapatkan Nicko kembali.


"Terserah kamu mau ngomong apa, aku tau kamu begitu karena masih sakit hati. Tapi aku yakin kamu masih cinta sama aku, buktinya sampai sekarang saja kamu belum menikah padahal dulu kamu ingin sekali menikah."


Nicko membuang muka dengan senyuman hampa, tak habis pikir dengan pemikiran wanita di hadapannya ini.


"Loe pikir, loe sepenting itu? loe pikir gue sedalam itu sampe nggak bisa cinta sama yang lain?" ucap Nicko santai, "loe ngarang Vera, gue bahkan sekarang udah bahagia. Lagian siapa loe, gue harus laporan gitu dengan siapa aja gue berhubungan. Jadi jangan banyak berharap sama gue kalo loe nggak mau nyesel nantinya."


Vera tersenyum manja, hatinya seakan mati tak perduli ucapan Nicko yang menyakiti. Hingga tiba-tiba seseorang melintas menyenggol waiters yang hendak menyediakan minum untuk mereka.


"Ups.....sorry ya mbak! mbak nggak apa-apa?"


Waiters itu tampak panik, "saya nggak apa kak, tapi customer yang ini bajunya basah karena tumpahan minuman."


Nicko terkejut dengan kejadian ini, jasnya basah hingga ke celana. Dia begitu geram hendak marah-marah tapi betapa terkejutnya setelah melihat siapa pelaku dari itu semua.


"Heh dek, kamu tuh kalo jalan pake mata, liat nich pakaian calon suami saya basah semua jadinya! pecicilan banget sich jadi bocah!"

__ADS_1


Indah tersenyum melihat wanita itu yang marah-marah padanya sedangkan Nicko dan Adit dengan wajah terkejutnya tak menyangka.


"Maaf ya Tante, saya jalan itu pake kaki bukan mata. Untuk calon suami Tante yang saya buat sampai basah begini bisa saya urus kok jika memang Tante berkenan. Tinggal om nya aja mau atau tidak untuk saya bertanggung jawab."


"Bagaimana om, mau seperti apa bentuk tanggung jawab yang harus saya lakukan untuk ini semua?" tanyanya dengan senyum manis yang membuat Nicko justru ngeri sendiri.


"Nggak perlu! saya bisa urus semua. Saya nggak sudi calon suami saya di pegang-pegang sama tangan kamu." Bentak Vera hingga semua pengunjung di sana memperhatikan.


"Stop Vera! biarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya!"


Indah mengambil tisu dan mencoba mengeringkan jas Nicko dengan posisi yang begitu dekat hingga mata keduanya beradu. Tak ada ucapan yang keluar dari bibir Indah, hanya senyum nakal yang membuat Nicko mati gaya. Apa lagi saat tangan Indah dengan isengnya bergerak turun ke celana yang memang di buat basah.


"Ugh sayang, stop! maaf aku bisa jelasin semuanya!"


"Oke!" Indah kembali berdiri, "aku pikir sudah selesai dan baju om nggak bisa kering hanya aku lap begini, tapi jika ingin aku mencucinya bisa om buka dan berikan padaku biar aku yang urus!" Indah menyibak rambutnya dengan pesona yang membuat semua pengunjung tambah menganga, sedikit menunduk hingga belahan dadanya terlihat karena Indah sengaja membukanya tadi.


"Temui aku di meja sana, jika mau minta tanggung jawab lebih." Lirihnya membuat Vera geram sedangkan Nicko serasa ingin menariknya dengan posisi Indah yang memanjakan mata pelanggan yang lain apa lagi Adit pun melihat itu.


"Oke, aku balik dulu. Buat om yang itu, ganteng dech nanti bisa gabung di meja ku yang di sana!" ucap Indah pada Adit dengan mengedipkan matanya membuat Adit gelagapan.


Dengan anggunnya Indah kembali ke mejanya, tak perduli ocehan Vera yang begitu marah dan merasa Indah tak sopan.


"Gila loe Ndah, gue pikir si cewek gatel itu yang loe siram, ngapa jadi si om Nicko yang kena?"


"Sengaja!" Kemudian Indah meminum minumannya, dengan melirik ke arah Nicko yang juga memandangnya dengan wajah padam.


"Nggak ada, dianya aja yang nggak kuat hati. Lagian kalo gue basahin tuh cewek nggak ada untungnya juga, bisanya cuma ngebacot aja! males gue adu mulut sama modelan begitu!"


Semenjak kejadian tadi semakin banyak yang memperhatikan ketiganya, dan itu jelas membuat Nicko semakin marah. Tak ikhlas Indah menjadi pusat perhatian, apa lagi penampilan Indah yang masih mengenakan seragam mempunyai daya pikat tersendiri.


"Nick, gue ke meja sana ya. Di undang kan tadi sama dedek gemes, kali aja bisa dapet salah satunya."


"Loe mau gue penggal," ketus Nicko membuat Vera heran, betapa marahnya dia saat gadis SMA itu ingin didekati Adit.


"Kenapa kamu yang marah? kamu cemburu? Nicko mendingan aku bersihin jas kamu itu, ayo balik aja ke kantor!"


"Diam loe, gue nggak butuh loe urusin. Gue bakal minta pertanggungjawaban sama yang udah buat ini basah." Nicko beranjak menghampiri Indah, tak perduli panggilan Vera padanya.


"Eeheeem....."


"Eh om Nicko, mau ikut gabung juga?" tanya Jenni, sedangkan Indah cuek tak ingin menyapa.


"Mau minjem teman kalian yang nakal ini, aku bawa pulang duluan ya...."

__ADS_1


"Oh silahkan om, kalo yang bersangkutan bersedia."


Nicko meraih jemari Indah, "Ayo pulang!"


"Om yakin? nanti calon istri om marah loh kalo om ajak saya begini, males akh aku berurusan sama calon istri om. Kalo mau aku tanggung jawab buka aja jasnya nanti aku bawa pulang!" Indah sengaja menekan kata calon istri, membuat Nicko sadar jika Indah cemburu saat ini.


"Sayang, aku bisa jelasin siapa dia. Sekarang kita pulang dulu, kamu nggak kasian si Mickey sampe kedinginan padahal baru semalam di kasih kehangatan," lirih Nicko di telinga Indah.


Indah menatap kedua sahabatnya, mereka tersenyum dan membiarkan Indah menyelesaikan urusannya.


"Hati-hati bawa sahabat saya om, sekali lagi om nakal taringnya keluar loh om!"


"Iya om, lain kali jangan buat macan ngamuk. Ini baru baju om yang basah, besok-besok kalo gini lagi bisa-bisa om nggak dapet jatah!" timpal Asti.


Nicko tersenyum menanggapi ocehan Asti dan jenni, dia pamit membawa Indah dengan menggenggam jemarinya.


"Lepas, aku bisa jalan sendiri. Nggak usah pegangan tangan segala, kita nggak lagi nyebrang!"


"Galak banget pacar aku, maaf ya bikin hati kamu panas. Nanti sampai rumah aku jelasin semuanya." Ucap Nicko lirih, dia tak ingin Indah salah paham tapi Indah tak menanggapi. Dia cuek saja berjalan lebih dulu, tak perduli tatapan tajam Vera saat ia melewatinya.


"Gue balik Dit, mobil gue bawa. Loe balik pake taksi."


"Udah biasa."


"Tapi Nicko, aku gimana? kok kamu main pergi aja, belum makan juga. Ngapain lagi bawa bocah itu, tanggungjawab nggak harus bawa dia juga Nicko!"


"Bukan urusan gue loe gimana, ini semua juga gara-gara loe. Sekali lagi gue tegaskan sama loe, menjauh sebelum gue bertindak lebih!"


Nicko pergi menyusul Indah yang sudah menunggunya di samping mobil. Fokusnya saat ini ada pada wanita cantik yang sedang diam dengan wajah betenya.


"Ayo masuk sayang!" ucapnya lembut membukakan pintu mobil untuk Indah, mengecup sayang sebelum menutup kembali pintu mobilnya.


Sepanjang perjalanan Indah hanya diam, dia bahkan malas untuk sekedar menoleh ke arah Nicko. "Sayang, udah donk jangan cemberut terus. Itu tadi mantan aku, dia minta balik sama aku. Bukan calon istri seperti yang dia bilang. Aku nggak akan sudi balik lagi sama dia."


"Terserah, mau balik juga nggak apa-apa," jawab Indah cuek.


"Kok gitu, aku kan cintanya sama kamu. Udah donk marahnya, aku minta maaf ya." Nicko mengusap lembut rambut Indah.


Sampai di rumah Indah tak memperbolehkan Nicko masuk, dia menatap tajam hingga Nicko rasanya ingin tertawa.


"Kenapa?"


"Pulang sana!"

__ADS_1


"Aku mau ganti baju loh, ini kasian si mickey udah kedinginan dari tadi."


"Biarin keriput sekalian!"


__ADS_2