Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 71


__ADS_3

Nicko tertegun melihat seseorang yang ada di hadapannya, wanita berhijab dengan gamis yang melekat di tubuhnya. Wajah berseri semakin cantik dan anggun terlihat. Tak menyangka saat pertama melihatnya bahkan hampir tak kenal siapa gerangan wanita Solehah yang intens menatapnya.


Mengamati lebih dekat dan memastikan jika wanita itu adalah sang istri yang ia cari. Suara yang sangat familiar semakin membuatnya yakin. Hingga hatinya bergetar merasakan sesuatu yang membuncah di dada. Tak ada yang bisa menggambarkan hatinya saat ini. Air mata pun ikut mengiringi, impian dahulu memiliki wanita tertutup yang bisa menjaga perhiasan yang ia miliki akhirnya terwujud tanpa ia minta.


Nicko semakin mengikis jarak, tangannya terangkat menyentuh mahkota yang tertutup hijab dengan bibir yang bergetar. Tak kuasa menahan haru, hanya mampu mendekap hingga menjadi pusat perhatian tamu yang hadir.


"Maaf aku sampai nggak ngenalin kamu sayang, kamu semakin cantik. Aku nggak nyangka ini kamu. Alhamdulillah....istriku," lirih Nicko, dia tak kuasa menahan air mata.


"By, malu di lihatin orang banyak. Nanti lagi ya di rumah pelukannya," bisik Indah pada suaminya yang tiba-tiba mellow. Merenggangkan pelukannya kemudian mengajak sang suami untuk duduk.


"Jadi tadi beli pakaian muslim ini?"


"Iya by, maaf ya aku belanja banyak, karena harus meninggalkan semua bajuku yang lama." Indah berucap dengan rasa bersalah, tapi apa yang ia lakukan bukan suatu kesalahan. Dia ingin berhijrah dan meninggalkan semua hal buruk yang pernah ia lakukan. Belajar mendekat dan terus berusaha memperbaiki apa yang selama ini sudah rusak.


"Aku bangga sama kamu, bahkan aku baru ingin mengajak kamu tapi istriku ternyata sudah melangkah lebih dulu. Makasih sayang, semoga Istiqomah. Kita belajar sama-sama ya. Semoga kelak di sini, akan tumbuh buah cinta kita yang mampu membawa kedua orangtuanya ke surga," Nicko mengusap perut Indah yang masih rata. Harapan dan doa tersemat. Walaupun masih ingin menikmati masa pacaran berdua, tapi tak juga menolak jika akan di beri rejeki secepatnya.


"Aamiin..."


Keduanya makan malam dengan khidmat, diisi dengan obrolan dan candaan yang membuat keduanya terlihat semakin mesra. Pulang dengan bergandengan tangan dan senyum yang merekah.


"Sayang, kita sholat isya dulu ya sebelum tidur."


"Iya by," Indah tersenyum, dia segera mengambil perlengkapan sholat yang telah ia beli tadi. Tak lupa sarung sang suami, tanpa Nicko tau Indah juga telah membelikan perlengkapan sholat untuknya.


Untuk pertama kalinya Nicko menjadi imam setelah beberapa tahun ia meninggalkan semua kewajibannya. Dan ini perdana dia menunaikan ibadah bersama sang istri. Begitu tenang dan khusyuk, doa terucap untuk kelangsungan keluarga mereka. Permohonan ampunan terselip di dalamnya, hingga air mata kembali mengenang dan jatuh saat Indah mencium tangannya.


Rasa haru menjadi satu di atas sajadah biru, sama-sama merindu dengan Allah yang sempat terputus. Matanya basah ketika bibirnya singgah di kening Indah. Mengucap doa dan harapan untuk kebaikan sang istri. Mulai malam ini ia berjanji dalam hati akan menjadi imam yang baik dalam keluarga. Memulai kehidupan yang baru, sesuai syariat.


"By, malam ini aku mau menjemput pahala. Apa hubby mau singgah dan menyempurnakan niatku. Malam ini aku ingin membahagiakan suamiku."


Nicko tersenyum, masih di atas sajadah istrinya menawarkan diri. Tangannya terulur mengusap lembut kepala yang di tutupi mukenah, kemudian turun menggenggam tangan Indah.


"Apa malam ini sudah siap aku kunjungi sayang?" lirih Nicko.


"Buka saja by, aku siap kapanpun suamiku menginginkan."

__ADS_1


"Dengan bismillah aku menginginkanmu wahai istriku..."


Nicko membuka mukenah yang Indah pakai secara perlahan, terlihat jelas apa yang indah gunakan. Gaun malam tipis yang mencetak tubuhnya. Nicko pikir Indah akan mengenakan baju tidur yang tertutup mengingat perubahannya sekarang yang begitu matang sampai baju lama di lemari entah pergi kemana.


Mata Nicko berbinar, dalam hati mengucap syukur memiliki istri yang mengerti dan paham isi hati suami. Membantu Indah berdiri hingga menanggalkan seluruh perlengkapan sholatnya.


"Pindah ke kasur ya sayang." Nicko mengangkat tubuh Indah dan menurunkannya di ranjang. Membereskan perlengkapan sholat mereka sebelum beradu kasih di singgasana. Nicko melepas sarung, Koko dan peci. Merapikan semua dan meletakkan di tempatnya.


"Makasih ya sayang, sudah membelikan itu semua untukku," ucapnya setelah merapikan semua dan melangkah mendekati ranjang. Kini ia hanya mengenakan bokser sepaha yang mampu membuat mata Indah melebar. Mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.


Di dalam cahaya temaram Nicko dan Indah memadu kasih di bawah selimut. Memberi cinta dan sayang dengan saling memberi kehangatan. Kegiatan yang membuat keharmonisan keduanya semakin terasa.


Nicko tetaplah Nicko yang dulu, walaupun sikapnya bercinta lebih lembut dalam memperlakukan sang istri. Tapi fantasinya tetap membuat naluri kelakiannya bekerja dengan baik. Membuat sang istri terbang ke angkasa, mereguk manisnya surga dunia. Dan menikmati setiap momen dengan rasa syukur.


"Makasih sayang...."


cup


"Sama-sama by..."


Nicko mendekap tubuh polos Indah, mengecup seluruh wajah sang istri dengan gemas. "Makasih tawarannya, aku suka. Apa lagi kalo tiap hari mendapat jatah, di jamin makin nggak betah lama di luar."


"Makasih sayang."


Pagi hari sebelum adzan subuh berkumandang, Indah terjaga dari tidurnya. Pertama kali untuknya bangun pagi-pagi dan segera mandi besar sebelum menjalankan dua rakaat. Membangunkan sang suami dan segera membereskan tempat tidur.


Indah kembali mengecup punggung tangan Nicko setelah salam dan memanjatkan doa. "Mau kemana sayang?" tanyanya saat melihat Indah yang sudah ingin melesat keluar kamar.


"Masak by, mau buat sarapan. Hubby mau makan apa?"


"Mmmmm nasi goreng seafood enak sayang. Masih ada nggak bahannya?"


"Masih, aman by."


"Tapi apa nggak nanti dulu sayang, masih terlalu pagi buat masak." Nicko menahan Indah yang sudah berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Hari ini kan mau daftar kuliah by, berangkat pagi. Aku nggak mau telat, nanti Asti mampir kesini buat jemput aku."


"Ya sudah, tapi apa nggak sebaiknya aku antar saja, hhmm?" Nicko rasanya tak ingin jauh dari sang istri, padahal pagi ini dia ada meeting akhir tahun yang biasa ia adakan bersama seluruh staf di kantornya.


"Nggak usah by, aku bareng Asti aja. Lagian dia kemarin kan sudah survey kesana, jadi lebih mudah akunya nggak bingung di dalam gedung sebesar itu."


"Ya sudah, yang penting hati-hati ya sayang dan wajib menghubungiku!"


"Iya hubby..."


Setelah merapikan rumah dan menyiapkan sarapan, kini Indah menyiapkan baju kerja sang suami. Pekerjaannya semakin terasa banyak saat pagi hari ketika dia pun sudah harus masuk kuliah.


"Aku berangkat ya sayang, kamu hati-hati. Mudah-mudahan hari ini berjalan lancar."


"Aamiin..." Indah mengantar Nicko sampai teras depan, melambaikan tangan saat mobil itu sudah mulai berjalan.


Suara klakson mobil Asti seketika menggema, Indah segera masuk rumah untuk mengambil tasnya dan siap untuk berangkat.


"Bismillahirrahmanirrahim....."


Indah berjalan menuju mobil Asti yang berada di luar pagar, membuka pintu samping kemudi tetapi saat ingin naik Asti menghentikannya. Hal yang sama Indah dapatkan saat bertemu Nicko pertama kali dengan penampilan barunya. Asti pun begitu, merasa tidak kenal hingga turun dari mobil.


"Maaf, anda siapa ya? saya menunggu teman saya, ini bukan taksi online." Asti berucap dengan tenaga tapi tatapan tak terima.


"As loe ngomong apa sich?"


"Kok loe tau nama gue? suara loe kayak kenal. Tunggu... tunggu....tunggu....." Asti turun dari mobil, mengunci kembali mobilnya agar yang ia kira orang asing itu tidak bisa masuk. Dia berjalan mendekati Indah dengan tatapan menyelidik.


"Ck, nggak usah drama dech As pagi-pagi! ntar telat kita."


"Loe Indah?"


"Loe pikir gue siapa?" tanyanya balik.


"Tapi kok loe..." Asti melihat penampilan Indah tak percaya, mulutnya tertutup saat benar-benar menyadari jika yang ada di hadapan benar sahabatnya. Tubuh Asti bergetar, air matanya berderai. Tak menyangka sang sahabat kini sudah hijrah. Asti segera memeluk Indah, keduanya menangis mengingat hidupnya yang dulu jauh dari kata baik. Kini Indah yang lebih dulu terketuk ingin berubah.

__ADS_1


"Gue nggak nyangka ini loe! asli loe beda banget. Makin cantik, gamisan lagi sekarang. Anggun banget tau nggak! Gue salut sama loe Ndah..."


"Makasih, tapi bukan pujian yang gue cari. Saat ini yang gue cari hanya ridho Allah dan keberkahannya."


__ADS_2