Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 37


__ADS_3

Nicko menoleh saat panggilan dari seseorang yang tak asing di telinganya. Membuang muka karena malas melihat, sudah tak ingin ada komunikasi apapun di antar mereka.


"Vera tuh, loe nggak mau lihat? tambah montook tambah bahenool, beeehhhhb gitar spanyol. Gue jamin Mickey loe auto bangun."


"Buat loe aja kalo loe mau," Nicko tak menghiraukan panggilan Vera yang mulai mendekat, dia segera masuk mobil dan meminta Adit untuk segera pergi.


"Cepet masuk, kalo nggak loe gue tinggal!"


"Iye...."


Mereka pergi meninggalkan Vera yang kesal karena tidak dihiraukan. "Awas kamu Nicko!"


Nicko meminta Adit segera ke club' untuk menemui Indah, dia tak rela jika malam ini Indah harus menghabiskan malam dengan pria lain.


Sementara di rumahnya Indah yang sudah rapi akhirnya menanggalkan kembali dressnya, tamu bulanan yang datang mendadak membuatnya tak jadi berangkat. Berganti baju rumahan dan menuju dapur untuk membuat makan malam.


Di dapur Indah mengeluarkan semua bahan makanan yang ada di kulkas. Kalo sudah begini dia akan males keluar dan lebih memilih menyibukkan diri di rumah.


Panggilan di ponselnya membuat Indah segera meraih ponsel dan menekan tombol loud speaker, meletakkan kembali karena dia yang sedang sibuk mengiris bumbu.


"Cin, kok belum nyampe?"


"Cancel ya, gue udah ngabarin om nya kok."


"Lah kenapa? loe dimana sekarang? ada masalah?"


"Banyak banget pertanyaan loe! gue lagi di dapur, biasalah masa periode datang. Dan loe lupa! gue juga sich...."


"Lah iya ya ...oke dech kaloo gitu. Libur dong seminggu."


"Ya paling kalo gue mau besok main aja ke sana."


"Oke, ya udah gue udah di tungguin nich sama langganan gue. Besok loe gue traktir bakso kalo bonus hari ini banyak!"


Tut


Indah tersenyum dengan menggelengkan kepala. Kemudian kembali dengan kegiatannya tetapi dering ponsel lagi-lagi terdengar.


"Chiko..."


Indah tak segera menjawab tetapi panggilan terus saja berdering mengganggu kuping.


"Halo...."


"Sayang kenapa lama banget angkat telponnya?"


"Aku lagi masak," Indah bergerak lincah di dapur mengambil alat masak dan mulai menumis bumbu.


"Ugh wanginya sampai sini loh!"


"Bercanda aja, mau apa?"


"Mau kamu!"


"Aku lagi masak ko, ayo kamu mau apa? kalo nggak ada yang penting aku tutup telponnya."


"Aku kerumah kamu sekarang!"

__ADS_1


Indah terperangah melihat panggilan yang telah Chiko akhiri secara sepihak. "Apa katanya tadi, mau kerumah. Ikh ini orang mau ngapain lagi!"


Indah segera melanjutkan kembali menumis capcay, sedangkan di kompor sebelahnya sudah ada ayam ungkep yang sebentar lagi siap di goreng.


Nicko masuk club dengan tergesa, langkahnya langsung menuju tempat dimana Toni berada. Tak tampak siapapun di sana, hanya ada Toni yang sibuk dengan ponselnya.


"Kenapa?" tanyanya saat melihat Nicko yang sudah terduduk mengatur nafas.


"Indah udah masuk?"


"Ngamar!"


"Hari ini siapa yang booking dia?"


Toni meletakkan kembali ponselnya di meja, menatap heran sahabatnya yang menunggu jawaban.


"Kok loe nanya gue sich ko, mana gue tau. Loe pikir gue germonya?"


"Ck, gue serius!"


"Gue dua rius malah, spesial karet dua!"


Adit yang baru datang segera ikut bergabung, "jangan loe godain lagi mode gelisah galau merana. Kena penggal pala loe ntar!"


"Ya emang gue nggak tau bangkkeeee, dia belum kesini! Loe kan ada nomor telponnya, kenapa nggak telpon aja sich?"


"Udah, tapi nggak di angkat. Sengaja banget kayaknya dia ngehindari gue. Kurang apa sich gue?"


"Kurang waras!" ketus Adit dan Toni yang segera mendapat tatapan tajam dari Nicko.


"Loe berdua yang gila!"


"Nggak perlu gue jelasin, si Mickey aja pro sama hati gue! sedangkan sama Vera, gue nggak pernah nafsu buat nyentuh dia."


"Berarti kalo sama Indah nggak cuma Cinta dong loe, nafsu juga! Sialannn loe emang!"


"Wajar kali, loe juga kalo di kasih Indah nggak bakal nolak, tapi sayangnya nggak bakal gue ngasih loe!"


Terserah loe!" sahut Toni.


"Loe berdua ribut aja, masalah kue donat loe ributin. Ntar gue cariin satu-satu," timpal Adit.


"Kayak udah ngerasain empuknya donat loe! biasa main sama minyak aja loe!"


"Gue beda cuuuukk! kesehatan nomer 1 nggak kayak kalian asal nyelup."


"Berisik loe pada, Dit loe pulang nyari taksi. Gue mau balik kerumah Indah!"


"Nasib gue tiap hari loe tinggalin. Untung gue bukan perawan, abis gue di culik preman!"


Nicko tak menghiraukan dia lekas pergi dari sana dan segera membawa mobilnya menuju rumah Indah.


"Assalamualaikum..."


"Wa'allaikumsalam," Indah membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan masuk tamu yang tak di undang.


"Mmmm wanginya...masak apa?"

__ADS_1


"Masak capcay aja sama ayam goreng. Ayo langsung ke meja makan aja, gue lagi baik nich. Hari ini loe gue ajak makan." Indah segera mempersiapkan piring untuk mereka makan.


"Ini piringnya, loe ambil sendiri nasi sama lauknya. Eh butuh sambel nggak? enaknya pake sambel ini." Indah dengan lincah kembali ke dapur, menaruh sambal ke dalam mangkuk kemudian kembali ke meja makan.


Chiko yang melihatnya tersenyum bangga, nggak hanya cantik tapi juga pintar masak dan pastinya idaman.


"Ayo di makan," Indah mulai mengisi piringnya begitupun dengan Chiko, yang melakukan hal sama.


"Enak!"


"Hhmmm....." Indah terus mengunyah dengan lahap membuat Chiko gemas di buatnya.


"Pelan-pelan Indah makannya," lahapnya Indah menular pada Chiko. Dia pun dengan semangat makan masakan Indah padahal tadi dirumah dia baru selesai makan malam.


"Nambah ko, masih banyak nich. Gue sendiri doang di rumah. Sayang aja kalo nggak habis."


Chiko mengulurkan tangannya saat melihat sisa sambal di bibir Indah, tanpa mengenakan tisu dia menyentuh bibir yang sejak tadi sibuk bergerak.


"Kenapa ko?"


"Diem dulu, itu ada sisa sambal." Indah diam membiarkan Chiko mengusap bibirnya dengan telaten. Tapi tatapan mata fokus di mata Indah, Chiko tergoda dan benar-benar tergoda. Dia mengikis jarak untuk singgah di bibir sexy itu. Hingga satu centi lagi akan bertemu dering ponsel Indah membuat gadis itu tersadar dan segera mendorong tubuh Chiko.


"Halo"


"Aku hubungin kamu dari tadi tapi kamu abaikan, aku ke club' nyari kamu juga nggak ada. Tapi ternyata kamu dirumah lagi enak-enakan. Aku tunggu di kamar!"


Indah diam mendengarkan, syok sebenarnya. Kapan orang itu datang? kenapa bisa ada di kamar? dan bagaimana jika Chiko tau jika ada pria di kamarnya.


Indah memejamkan mata, kenapa sampai ada dua pria di rumahnya. Yang satu masih bisa di urus tapi yang satu sangat sulit dan cukup rusuh.


"Siapa? kok tegang gitu?"


"Oh nggak kok ko, habisin makannya." Indah kembali makan walaupun rasanya sudah tak ingin. Tetapi tak juga membiarkan Chiko curiga.


"Ko, kamu habisin makannya dulu ya. Aku mau ke kamar sebentar."


"Oke, jangan lama ya sayang."


"Hhmm.." Indah segera melangkah menuju kamar. Kesal pada orang yang membuat tak tenang, masuk tak permisi pulang nunggu di usir.


Indah masuk ke dalam kamarnya dan langsung di sambut senyuman nakal dari Nicko yang tengah duduk di pinggir ranjang.


"Mau apa sich?" tanya Indah yang sudah menutup pintu kamarnya.


"Kamu, ngapain bawa pria masuk ke rumah. Kamu bilang cuma aku?" tanyanya tak senang walaupun dia tau jika pria yang di bawah adalah adiknya sendiri.


"Dia yang tau-tau berkunjung dan om ngapain kesini lagi?"


Nicko menarik tangan Indah yang berdiri di hadapannya, hingga terduduk di pangkuan.


"Nggak suka aku datang?" tanyanya dengan jarak yang cukup dekat.


"Kita udah berakhir ya om, om nich jangan-jangan udah pikun ya, mending berobat sana!" Indah menjawab dengan lembut dan tak ingin ribut.


"Kamu yang bilang berakhir bukan aku! jangan buat aku bertindak lebih dan membuat temanmu di bawah curiga!"


"Ck, awas!" Indah segera turun dari pangkuan Nicko, kemudian keluar dari kamar.

__ADS_1


"Chiko!" Indah terkejut melihat Chiko yang sudah berada di depan pintu kamar.


__ADS_2