Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 61


__ADS_3

Selama tujuh malam rumah Indah ramai oleh para tetangga yang mendoakan sang mamah, hingga malam ini malam terakhir mereka berkunjung. Kedua orang tua Nicko juga sempat menginap untuk memberikan semangat dan menyalurkan kasih sayang agar Indah tak merasa kesepian.


Setelah para tetangga pamit, kini mamah dan papah pun ikut pamit pulang. Mereka memutuskan untuk pulang karena merasa Indah sudah kembali ceria walaupun terkadang masih suka melamun dan menangis sendiri.


"Nak, ikut kerumah mamah aja yuk. Biar kamu nggak kesepian kalo besok di tinggal Nicko kerja."


"Nggak apa-apa mah, biasa sendiri juga. Nanti kalo om Nicko libur Indah main kesana."


Nicko memang memutuskan untuk sementara tinggal di rumah Indah sampai rumah baru yang ia beli siap huni. Dalam seminggu juga Nicko terus memberi perhatian pada istri kecilnya agar tidak terlalu sedih dan meratapi.


"Ya sudah, kalo gitu mamah sama papah pulang dulu ya. Kasian Chiko di rumah nggak ada yang perhatiin sayang, karena diem-diem masih suka manja sama mamah."


"Iya mah, nggak apa-apa. Makasih ya Mah Pah, dalam seminggu ini sudah menemani Indah dan membantu Indah untuk untuk acara tahlilan." Indah tersenyum menatap mamah mertua yang ternyata sangat baik tak seperti pertama datang ke rumahnya. Sosok mamah yang benar-benar penuh kehangatan.


"Kamu sudah seperti anak mamah sendiri, bahkan mamah sudah menganggap kamu putri mamah. Jadi kalo butuh apa-apa jangan sungkan ya sayang."


"Iya mah makasih banyak, hati-hati di jalan ya mah Pah..." Indah mengantar kedua mertuanya sampai di depan pintu.


"Salam untuk Nicko, mungkin sebentar lagi dia pulang," lanjut papah.


"Iya....nanti Indah sampaikan Pah Mah," Indah berdiri di halaman sampai mobil kedua mertuanya tak terlihat. Senyuman yang tadi merekah sudah kembali menghilang. Terlintas di pikiran wajah sang mamah yang tersenyum setelah melihatnya menikah. Indah masuk rumah yang sepi seperti biasa. Membersihkan bekas piring dan gelas yang masih ada di meja. Membawanya ke wastafel dan mencuci segala perabot yang kotor. Menyapu serta mengepel rumah, malam ini Nicko lembur. Pekerjaan yang padat membuatnya harus pulang malam.


Tak ada cuti pasca setelah menikah karena semua dadakan dan tanpa di rencanakan, sedangkan pekerjaannya di kantor sedang banyak-banyaknya.


"Udah bersih," Indah melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sekarang kegiatan Indah adalah menunggu sang suami pulang. Biasanya sekitar jam segini masih di club' tapi setelah menikah Nicko tak mengijinkan Indah untuk kembali ke tempat itu.


Nicko memarkirkan mobilnya tepat pukul sebelas malam, masuk ke rumah dengan langkah tergesa karena sudah sangat merindukan sang istri. Langkah kakinya memelan saat melihat Indah yang tertidur di sofa. Ada perasaan bersalah karena terlalu sibuk hingga pulang malam dan membiarkan Indah menunggunya sampai ketiduran.


Mengangkat tubuh Indah dan membawanya masuk kedalam kamar. Merasa tubuhnya yang tiba-tiba melayang Indah segera mengeratkan pelukannya di leher Nicko.


"Om, baru pulang?"


"Iya sayang maaf ya, aku minggu-minggu ini sibuk jadi harus pulang larut dan membuatmu menunggu." Nicko menurunkan Indah tepat di atas ranjang.

__ADS_1


"Tidur lagi kalo masih ngantuk sayang!"


"Mau siapin baju ganti buat om dulu, om sudah makan?" tanya Indah yang saat ini membantu Nicko melepas jasnya. Indah mulai melakukan perannya sebagai seorang istri, sejak dua hari yang lalu sudah mulai terbiasa menyambut Nicko pulang kerja dan melayani keperluannya. Dia bukan anak belia yang baru mengerti peran sebagai istri, karena di tuntut untuk dewasa dan mandiri sejak kepergian sang papah membuat Indah banyak belajar.


"Aku sudah maka sayang, mau mandi dulu gerah. Kasian kamu nanti tidurnya kena keringet aku."


"Ya udah, Indah siapin air hangatnya dulu ya om." Indah segera melangkah menuju kamar mandi tapi Nicko segera menahannya. Tangan Indah digenggam hingga langkahnya tertahan.


"Kenapa lagi?"


Nicko meraih pinggul Indah dan memeluknya, "aku rindu sayang, apa malam ini bisa?" lirih Nicko dengan mencium aroma tubuh Indah yang sangat ia rindukan.


"Om nggak capek?" tanyanya, Indah paham apa yang Nicko inginkan. Sejak menikah memang Nicko belum meminta, cukup mengerti jika hati Indah masih dalam berduka.


"Berhenti memanggilku om sayang! aku suamimu sekarang!" Nicko merenggangkan pelukannya menatap sang istri dengan tatapan penuh cinta.


"Lalu mau di panggil apa? bapak? tuan? atau...."


"Panggil dengan panggilan sayang, bukan seperti yang kamu sebutkan tadi. Aku nggak terlalu tua untuk menjadi suamimu sayang."


"Iya hubby sayang..." lirih Indah dengan suara mendayu di telinga.


"Itu lebih baik, apa lagi dengan posisi seperti ini. Kamu membangunkan Mickey yang sudah lama tertidur sayang!"


"Apa dia juga merindukanku?" tanya Indah sedikit menggoda, sudah saatnya dia memberikan haknya pada Nicko karena selama ini Nicko telah sabar menunggu.


"Tentu, apa kamu belum merasakan dia sudah berdiri tegak bahkan telah menantang si Minnie. Apa sudah boleh di kunjungi atau masih seperti sebelumnya?"


"Aku milikmu by, si Minnie juga sudah memiliki tuannya sekarang. Bebas keluar masuk tanpa hambatan. Tapi untuk membuka pintunya harap perlahan ya." Indah mengedipkan sebelah matanya.


"Benarkah?" tanyanya tak sabar.


"Hhmm.....tapi mandi dulu, biar segar dan akupun menyiapkan penampilanku agar lebih berkesan malam ini."

__ADS_1


"Malam pertama kita?"


"Apa masih bisa di bilang malam pertama?"


"Tentu sayang, ini malam pertama kita. Aku mandi dulu ya, tunggu aku." Nicko mencium bibir Indah kemudian segera melesat masuk kamar mandi. Bener-bener sebuah malam yang ia tunggu, bisa memiliki sang istri sepenuhnya.


Indah yang melihat Nicko begitu semangat membuatnya tertawa gemas. Dia melangkah menuju lemari untuk mengambil lingerie kado pernikahan dari kedua sahabatnya. Bahkan tidak hanya satu mereka membelikannya. Ada tujuh dengan warna yang berbeda.


"Ini buat dinas loe tiap malam, kita-kita nggak bisa kasih sesuatu yang mahal, karena loe bakal dapet nanti dari suami tajir loe itu!"


"Bener banget, seenggaknya kita inget sama kerjaan loe sekarang Ndah," sahut Jenni.


"Apa?"


"Pemuas hasrat suami!" jawab Jenni.


Indah tersenyum saat memilih yang mana lingerie yang akan ia pakai. Tangannya berhenti di lingerie berwarna merah. Model yang begitu sexy jelas akan membuat tubuh Indah semakin mempesona.


Mengganti bajunya dengan lingerie dan mematut di depan cermin. Tidak lupa memberi make up tipis dan parfum di tubuhnya. Rambut sengaja ia kuncir asal ke atas agar menampilkan leher jenjang yang semakin menggoda.


Menunggu sang suami selesai, Indah menyibukkan dirinya dengan memilih aneka macam model dress sexy yang bisa ia pakai di rumah untuk menyambut sang suami pulang kerja.


Nicko keluar dengan handuk yang melilit di pinggang, sengaja tak memakai pakaian karena si Mickey saja sudah tak bisa di kondisikan. Keluar dari kamar mandi dengan mata yang berpusat pada seorang gadis dengan posisi menantang.


Tanpa sadar posisi duduk Indah membuat Nicko tak bisa mengalihkan pandangannya. Darahnya semakin berdesir dengan hawa panas di tubuhnya.


"Sayang..."


Indah tersenyum melihat Nicko yang menatapnya penuh damba, cinta dan hasrat menjadi satu. Hingga matanya berbinar melihat sang istri yang kini melangkah mendekat.


"Hubby...."


"Sudah siap sayang? kamu menyiapkan semuanya untukku?"

__ADS_1


"Tentu, only for you!"


Cup


__ADS_2