Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 43


__ADS_3

Vera segera pergi dari sana, kesal karena di ganggu wanita malam yang berujung kecolongan. Nicko pergi gitu aja, membuatnya kehilangan kesempatan lagi. Susah payah mencari malah di tinggal pergi.


Sedangkan kini Toni dan Asti tertawa terbahak melihat kepergian Vera. Mereka begitu terhibur melihat wajah padam Vera tadi.


"Parah loe As!"


"Biarin kak, orang gitu harus di sadarkan."


"Salut sich gue sama keberanian loe! gue acungin jempol pokonya."


Pagi ini Indah sudah berada di rumah sakit, tidur lebih awal membuatnya bangun pun lebih cepat. Jadi masih lebih santai saat bisa berdua dengan mamah.


"Sayang tumben pagi sekali datang?" tanya mamah yang heran.


"Iya mah, semalam tidurnya lebih awal jadi pagi-pagi udah bangun. Sarapan yuk mah, Indah bawa nasi kuning sama lontong sayur. Mamah mau yang mana? Apa bubur ayam? Ini Indah beli juga."


"Kamu beli 3 macam?"


"Iya biar mamah pilih, sisanya buat aku sama bibi. Ya Bi?"


"Iya non," ucap bibi yang sedang melipat baju.


Mamah tampak berfikir, kemudian lebih memilih lontong sayur karena sudah lama tidak makan makanan itu."


"Mamah mau lontong sayur, tapi ini banyak banget loh sayang." Indah mengambil satu mangkuk lontong sayur untuk disuapkan ke mamah.


"Ini itu nggak banyak mah, keliatannya aja banyak karena kuahnya. Ini sedep banget loh mah, Indah sering beli soalnya, cobain dech!" Indah membujuk sang mamah, dia memang tidak pernah membelikan makanan restoran. Karena sang mamah yang lebih suka makanan sederhana dari pada makanan mewah, kalo kata mamah. Beli mahal kenyang kagak.


Ini yang membuat Indah bisa masak, karena sang mamah dulunya juga rajin masak dan lebih suka masakan rumah. Sehingga menular ke papah dan dirinya. Mau nggak mau Indah lebih memilih masak jika ada waktu, dari pada beli keluar.


"Sayang, kapan ujiannya?" tanya mamah di sela-sela suapan yang Indah berikan.


"Sekitar sebulan lagi mah, lagi sibuk ujian praktek, terus lanjut ujian sekolah dan nasional."


"Eh iya Bi, ini mau sarapan apa? pilih aja Bi, masih ada nasi kuning sama bubur ayam." Indah memberikan bungkusan pada bibi.


"Iya non, bibi nasi kuning aja."


"Makan aja Bi.."


Kemudian Indah kembali fokus pada mamahnya, menyuapi sang mamah sampai habis tak tersisa.


"Nah gini donk mah, biar tambah sehat!"


Mamah tersenyum melihat Indah yang sangat senang. Tangannya terulur mengusap rambut Indah dengan sayang sambil memperhatikan Indah sarapan.


"Setelah ujian nanti, kamu menikah ya nak..."

__ADS_1


Uhuuuk


Uhuuuk


Indah segera menyambar minuman yang ada di sampingnya, bukan kata-kata menikah yang membuatnya terkejut. Tapi kata-kata setelah ujian yang membuatnya tak menyangka akan secepat itu.


"Sayang maafin mamah ya..." ucap beliau merasa bersalah.


"Nggak apa-apa mah, Indah mengerti, jangan terlalu di pikirkan."


Padahal dalam hati sungguh ia tak siap dan dengan siapa dia harus menikah. Apa kah meminta Nicko untuk menikahinya, sedangkan Indah tak cukup kuat mental untuk meminta itu. Banyak yang di pikirkan, sedangkan menikah tak hanya menyatukan dua orang tapi juga dua keluarga. Mungkinkah keluarganya bersedia dengan dirinya yang seorang gadis malam. Walaupun sekarang sudah tidak lagi bekerja selama bersama Nicko, tetapi tetap saja memiliki riwayat buruk akan itu.


Indah kini sudah ada di sekolah, tak banyak yang di bahas oleh sang mamah. Indah pun hanya mengiyakan agar lega. Berjalan dengan santai walaupun di kepala banyak pikiran. Memulai hari dengan semangat walaupun diri penuh beban.


Getar di ponselnya membuat Indah menghentikan langkah. Satu pesan dari Nicko masuk.


..."Sayang, uangnya sudah aku transfer ya. Bisa buat kamu bayar sekolah dan ujian. Ada lebih buat bayar kamar mamah dan keperluan yang lain."...


Indah tak segera membalas, dia lebih dulu mengecek mobile banking. Membuka mutasi rekening yang ada. Matanya membola melihat nominal yang ia terima. Tak menyangka akan sebanyak ini, bahkan ini bisa buat beli ginjal orang.


Tanpa pikir panjang Indah segera menghubungi Nicko. Tak perlu waktu lama Nicko segera menjawab.


"Sayang..."


"Banyak banget!"


"Uangnya!"


"Buat keperluan kamu sayang."


"Nggak gitu! Ini terlalu, aku bekerja setahun pun nggak akan bisa dapat segini banyak. Dan aku harus bekerja sampai kapan sama kamu?"


"Hey....kamu itu kekasihku, bekerjalah seumur hidupmu untukku. Hingga kelak kita menua bersama."


Indah hanya menggelengkan kepala, tak tau lagi harus berucap apa padanya.


"Sayang.."


"Hhmm...."


"Itu untuk jatah 2 Minggu, 2 Minggu ke depan aku transfer lagi. Dan jangan lupa doakan aku agar dipermudah segala pekerjaannya."


Indah menganga di buatnya, segitu banyak hanya untuk jatah 2 Minggu. Sebenarnya siapa yang nggak waras disini! sungguh membangongkan memiliki kekasih seorang CEO.


"Jangan terlalu memanjakanku, itu uang nggak akan terpakai nantinya. Aku hanya butuh untuk keperluan bukan untuk berfoya-foya."


"Kalo nggak terpakai ya biarkan saja membusuk di ATM."

__ADS_1


Tut


Belum sempat Indah menyahut sudah lebih dulu di tutup oleh Nicko. Indah kembali melihat ATM nya, 200juta tertera di sana.


"Gila sich ini orang, bukan CEO abal-abal."


Doooorrr


Tubuh Indah terjingkat saat dengan sengaja Asti membuatnya terkejut. "Asti!" pekik Indah.


"Lagian ngapain, gue perhatiin loe bukan jalan ke kelas malah diem aja ngelamun. Ada apa sich?"


"Nggak ada," keduanya jalan menuju kelas berbarengan dengan pikiran masing-masing. Indah masih serasa tak menyangka sedangkan Asti maju mundur ingin menceritakan. Sampai Asti merasa harus cerita karena Indah berhak tau dan waspada jika ada wanita yang menjadi penggoda.


Sampai di kelas, Asti coba berbicara pada Indah, menceritakan semua yang terjadi semalam tanpa ada yang kurang atau lebih.


"Gue rasa wanita itu masa lalu dari si om, makanya gue saranin sama loe hati-hati. Ada pesaing yang licik, karena gue liat ini orang rada gila. Bukan karena cinta tapi ada yang dia incar."


"Mudah-mudahan aja yang laki juga nggak tergoda, tapi kalo emang bakal iya ya berarti belum jodoh gue."


"Tapi masak iya loe nyerah gitu aja sama modelan cewek demit begitu. Kecuali sama-sama tulus gue ngalah. Tapi kalo modelan kayak belatung nangka di pohon toge begitu baru liat aja gue udah pengen injek!"


"Kita liat aja nanti, pesona Indah masih bisa buat bertahan atau malah terkalahkan. Santai As, kita mungkin kotor tapi otak kita nggak bodoh. Masih banyak cara buat pertahanin si om. Mungkin dia bisa kasih apapun itu, tapi cinta nggak bisa di ganggu gugat. Dan gue yakin si om nggak akan buta hanya karena penampilan dan godaan."


"Siiip...gue demen kalo gini, eh tapi om Nicko emang nggak bilang kalo mau ke club' semalem?"


"Nggak, gue udah tidur jadi dia langsung pulang mungkin." Indah mulai mengeluarkan buku pelajarannya.


"Parah sich loe ke pasar malem Ampe teler. Lagian sabar juga itu om ganteng, kalo gue udah makasih. Loe gila kalo udah kesana, sekali aja udah kapok gue. Dan nggak akan mau lagi. Mending gue naik odong-odong yang keliling pake music dangdut dari pada suruh naik bianglala sama jungkat jungkit. Apa lagi masuk rumah hantu, bukan gue yang takut malah kuping gue yang sakit denger tuh setan jadi-jadian pada teriak."


"Lah iya, setan ketemu setan gimana nggak takut."


"Nah, tu loe tau. Bapak moyang gue kan rajanya setan maklum kalo nurun ke gue." Karena meraka sudah tau tentang silsilah keluarga masing-masing jadi Indah cukup paham bagaimana hati Asti hingga kini.


"Sabar, ngapa jadi loe yang emosi!"


"Iya ya, sableng otak gue lama-lama nich...."


Di tengah-tengah percakapan, Jenni datang dengan gaya lenjeh dan langkah nyeleneh. Indah dan asti hanya menggelengkan kepala atas kelakuan dari sahabatnya yang satu ini.


"Eh....ini kok kedua sahabat gue malah tutup muka begini? bukannya gue datang di sambut malah pada nggak mau liat?"


"Bukan di sambut, tapi gue malah mau nyambit loe Jenn!" celetuk Asti.


"Ikh loe mah nggak boleh temen bahagia, liat donk Indah diem aja kan. Dia mah Bae ya kan Ndah?" Jenni duduk di samping Indah sambil menaik turunkan alisnya.


"Loe abis makan apa sich? terus loe kata bahagia, emang loe abis dapat apa sampe bahagia banget?" tanya Indah heran.

__ADS_1


"Gue.....loe mau tau gue abis makan apa Ndah? terus bahagia kenapa? mau tau ya....nich gue kasih tau. Gue abis makan dua telornya si om yang udah di papras abis. Ikh seneng banget, akhirnya setelah beberapa purnama bisa merasakan suatu keindahan yang nyata...." ucap Jenni dengan mata berbinar menyisakan kedua sahabatnya yang menganga dengan wajah melas.


__ADS_2