
Pagi ini Nicko sudah siap berangkat ke kantor, Indah yang sejak tadi merasa tidak enak badan hanya diam tak bicara pada sang suami. Memakaikan dasi dan menyiapkan apa saja yang akan ia bawa ngampus pagi ini. Sempat sarapan walaupun hanya sedikit, rasanya ia tak nafsu makan tapi badannya tak panas. Ingin dirumah tapi nanti justru membuat Nicko khawatir. Ia tak ingin menjadi pikiran di tengah kesibukan sang suami.
"Aku antar ya, besok-besok baru bawa mobil sendiri. Kamu bisa kan sayang? biar pulangnya nggak naik taksi lagi."
"Iya By bisa cuma masih mau di ajarin lagi. Takut lupa udah lama banget soalnya nggak jadi pembalap jalanan."
"Eh, siapa yang bolehin kamu kebut-kebutan. Aku nggak izinin malahan, apa jangan-jangan dulu sering ikut balap liar lagi." Nicko menatap Indah dengan tatapan penuh selidik, sang istri kalem-kalem penuh kejutan. Tak bisa di sepelekan. Apa lagi dia yang dulunya hidup kecukupan saat sang papah masih ada, tidak menutup kemungkinan jika benar apa yang ia pikirkan.
Indah tertawa dia memang dulu sering ikut balapan liar, masa-masa SMP kelas tiga yang mulai suka mencoba hal baru. Tapi beruntungnya tak pernah kena ciduk.
"Itu dulu By," jawab Indah yang membuat Nicko berpikir ulang dan ragu memberi izin pada Indah untuk membawa mobil sendiri.
"Aku akan pikirkan ulang kalo gitu, sekarang kita berangkat dulu ya."
"Dasar!" Indah tau sang suami tak akan memperbolehkan setelah tau itu. Apa lagi dengan sikap protectnya sudah pasti tak akan di ijinkan.
Sampai di kampus kepala Indah semakin pusing, dia mencoba untuk kuat karena hari ini ada kuis dan prestasi. Hingga jam istirahat ketika kedua sahabatnya memilih untuk melipir ke kantin kampus. Indah justru memilih berjalan menuju taman untuk mencari angin segar agar kepalanya sedikit ringan.
Melangkah terus melewati koridor kampus, tak perduli tatapan para kakak tingkatnya yang menatap dengan tatapan kagum. Dia tak akan goyang walaupun banyak pria yang tampan di luaran, karena yang di rumah bagaikan pangeran.
Bertahan menahan tubuhnya yang begitu tak nyaman hingga makul hari ini selesai dan memilih segera pulang.
"Gue anter aja baliknya, loe pucet banget perasaan. Suruh makan tadi nggak mau sich!" sewot Asti, dia kesal karena Indah yang suka mengabaikan kesehatannya. Makan saja terkadang harus diingatkan.
Pulang di antar oleh Asti, di jalan Indah hanya diam tak bersuara. Kepalanya semakin berat. Asti yang melihatnya sesekali memijat pundak Indah sambil menyetir.
"Kerumah sakit aja yuk! pusing banget kayaknya tuh pala."
"Nggak dech, masuk angin kali gue. Nanti di kerok aja lah, yang alamiah insyaAllah cepet sembuh."
Indah merebahkan tubuhnya setelah tadi di kerok oleh Asti, menarik selimut memejamkan mata. Tanpa mengabari sang suami karena tak ingin membuatnya khawatir.
"Assalamualaikum...." Nicko pulang tepat pukul 5 sore.
"Wa'allaikumsalam..."
__ADS_1
"Bi, istri saya sudah pulang?" tanya Nicko, melangkah masuk ke dalam rumah.
"Sudah tuan, mungkin sedang istirahat. Tadi pulang di antar temannya dan sempat di kerok katanya masuk angin."
"Masuk angin?" tanya Nicko memastikan, hatinya langsung tak tenang.
"Ia tuan, setelah makan nyonya masuk kamar dan belum keluar sampai sekarang. Makannya juga nggak abis Tuan, sepertinya sedang nggak nafsu makan."
"Ya sudah makasih ya Bi, tolong buatkan teh hangat untuk istri saya!"
"Baik Tuan."
Nicko segera melangkah menuju kamarnya, dia benar-benar mengkhawatirkan sang istri apa lagi seharian tak memberi kabar sama sekali.
"Assalamualaikum sayang...." ucap Nicko saat masuk kamar. Dia melihat sang istri yang sedang meringkuk menghadap ke arah jendela kamar.
"Nggak panas, tapi pucet sekali. Sayang..." lirih Nicko di telinga Indah. "Sayang bangun dulu yuk, mau magrib nanti tidur lagi."
"Eugh..." Indah mengerjabkan matanya, menatap sang suami dan mengulas senyuman. "Hubby baru pulang?" Indah segera bangun dari tidurnya dan ingin membantu Nicko untuk membuka jasnya.
"Ini tuan teh hangatnya."
"Oh iya makasih ya Bi..." Nicko mengambil nampan yang berisikan teh hangat dan membawanya menuju ranjang.
"Sayang, diminum dulu yuk." Nicko memberikan teh hangat tersebut, setelah menyesapnya Indah meletakkan kembali di atas nakas.
Sejak tadi Nicko sengaja tak menyinggung tentang keadaan sang istri, ia ingin melihat sang istri mengeluh kepadanya. Dan Nicko ingin tau sampai dimana Indah menutupi keadaannya. Yang terpenting dia sudah tau dan akan lebih melindungi. Dan diam-diam memberi perhatian padanya.
"Aku mandi dulu ya setelahnya kita makan malam, tapi aku mau tau istriku kok tumben sore-sore sudah tidur?"
"Oh, tadi lelah aja By. Tapi sekarang sudah enakan kok By. Ini sudah seger lagi badanku." Indah turun dari ranjang hendak mendekati Nicko tapi baru saja kakinya menginjak lantai, tubuhnya oleng hingga hampir terjatuh untung saja Nicko sigap menahan tubuh Indah.
Nicko merebahkan tubuh sang istri di ranjang, menatap dalam mata sayu Indah yang menahan pusing.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Maaf By, aku nggak mau buat kamu khawatir. Sejak pagi kepalaku pusing, tapi tadi sempat di kerok Asti. Maaf ya By, aku nggak ngabarin kamu."
Nicko menarik nafas dalam, menggenggam tangan sang istri dan mengecupnya. "Lain kali jujurlah sayang, aku khawatir, aku cemas, tapi aku juga tak ingin menjadi suami yang lalai. Kita ke dokter ya sayang atau aku panggilkan dokter pribadiku. Sebentar ya..."
Nicko meraih ponselnya, menghubungi dokter pribadi agar segera datang.
"Tunggu sebentar, dokter akan segera datang. Aku mandi dulu ya, setelah ini kita jamaah."
"Iya By..."
Melihat Nicko masuk ke dalam kamar mandi, Indah segera turun dari ranjang dan melangkah perlahan menuju ruang ganti. Mengambil baju ganti sang suami dan meletakkannya di atas sofa di depan lemari besar.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Nicko setelah melihat dokter selesai memeriksa sang istri.
"Sebaiknya Bapak segera membawa istri anda ke dokter kandungan."
"Maksud dokter?" tanyanya lagi.
"Menurut prediksi saya istri bapak tengah hamil muda, jadi lebih baik segera memeriksa lebih detail ke Dokter kandungan agar lebih jelas."
"Baik dok, makasih banyak..." Nicko menahan haru, mengantar dokter sampai teras rumah. Sebelum akhirnya ia kembali berlari menuju kamar dan memeluk sang istri dengan rasa syukur yang menyertai.
Indah pun tak mampu mengucapkan apapun lagi, dia yang masih muda dengan umur yang belum genap 20 tahun tetapi sudah di beri kepercayaan begitu besar.
"Sayang, besok pagi kita ke dokter kandungan ya." Nicko tak henti mengecup seluruh wajah sang istri hingga Indah tak tahan menahan geli.
"By ..." rengek Indah.
"Sekarang kita makan ya, jangan sampai nggak diisi ini perutnya. Kasian baby nya sayang, tadi bibi bilang kamu makan cuma sedikit."
"Iya By, aku nggak selera makan."
"Mulai saat ini harus di paksa ya, besok aku minta vitamin buat kamu sayang dan pulang dari rumah sakit kita belanja, beli susu buat dedek." Nicko mengusap lembut perut Indah dan mengecupnya dengan bahagia.
"By, tapi ini kan belum pasti. Kalo misalnya belum jadi bagaimana?" tanya Indah.
__ADS_1
"Jangan khawatir sayang, kita masih bisa usaha lagi oke!" Nicko tersenyum teduh, dengan tenang menanggapi keraguan Indah. Dia memang sangat bahagia saat ini, tapi jika memang belum di beri kepercayaan dia tak akan kecewa karena masih banyak kesempatan mengingat sang istri yang masih muda dan pernikahan mereka yang baru di mulai.