Terjerat Cinta Gadis Malam

Terjerat Cinta Gadis Malam
Bab 25


__ADS_3

Nicko mengajak Indah untuk pulang, sepanjang perjalanan Indah hanya diam memperhatikan jalan. Setiap kali dari makam sang papah, Indah selalu merasa hidupnya begitu berat. Dia rindu akan kebersamaan dengan keluarganya.


Tak mudah untuknya melewati ini semua, merelakan dan mengikhlaskan, hingga berakhir menjadi tulang punggung yang memiliki tanggung jawab yang besar.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa om."


"Mau kemana dulu? tapi untuk malam ini aku nggak bisa menemani, mamah memintaku untuk pulang secepatnya. Besok aku antar ke sekolah."


"Nggak apa-apa, om pulang aja. Aku udah biasa sendiri, aku minta di antar ke club' aja. Di sana ada sahabat aku."


Nicko menyorot Indah dengan tatapan tajam, dia nggak suka jika Indah ke club' sendiri. Terlalu beresiko dan pastinya membuat dia akan gelisah sepanjang malam.


"Sayang tapi kamu nggak kerja kan?"


"Kenapa?" tanya Indah dengan muka polosnya.


Nicko membuang nafas kasar, "Aku nggak suka kamu di sentuh orang lain!"


"Cinta banget ya sama Indah?" ledek Indah, semakin lama Nicko menjadi hiburan tersendiri untuk Indah.


"Sepertinya dan sayangnya kamu nggak ngerti juga!" jawabnya dengan fokus menatap jalan.


"Indah cuma ngumpul sama sahabat Indah om, lagian badan Indah masih kayak macan tutul begini. Kesel dech kalo di tinggalin jejak begini, berujung masalah!"


"Masalah karena nggak bisa kerja atau masalah karena di sekolah ada yang marah?" tanya Nicko santai.


Indah langsung menoleh ke arah Nicko, pertanyaannya membuat Indah teringat akan Chiko.


"Di sekolah punya cowok?"


"Nggak ada." Indah segera membuang muka.


"Tapi yang ngejar ada?"


" Banyak."


"Kamu suka?"


"Biasa aja!"


Nicko menarik nafas dalam, perlu memiliki tingkat kesabaran ekstra agar bisa santai menghadapi Indah.


"Kamu anggap aku apa?" tanya Nicko saat sudah menepikan mobilnya di depan club malam milik sahabatnya.


Indah kembali menoleh ke arah Nicko, "om mau nya aku anggap apa, teman, sahabat, tamu, atau pacar?"


"Aku?" Nicko memajukan wajahnya hingga hidung keduanya bersentuhan.


"Aku ingin kamu menganggap aku istimewa, aku mohon berhentilah bekerja, jadi lah milikku seorang," lirih Nicko, kemudian mengecup bibir mungil yang belum sempat menjawab.


Tangannya meraih tengkuk Indah untuk memperdalam ciumannya, mendesak tubuh Indah dan menekan tombol yang ada di sebelah kursi hingga sandaran jok Indah mundur ke belakang.


"Jangan pernah menangis lagi, aku nggak akan membatasimu, aku hanya ingin kamu tinggalkan pekerjaanmu. Percayakan semua padaku..."


"Eugh...."

__ADS_1


Nicko melanjutkan aksinya, hingga penampilan Indah berantakan. Baju yang mulai kusut karena ulah Nicko yang meresahkan. Begitupun dengan Nicko, sekarang Indah dengan suka hati melawan setiap sentuhan yang Nicko berikan.


Bahkan dengan sengaja Indah membalas perbuatan Nicko dengan meninggalkan beberapa jejak di leher putih yang membuat Nicko memejamkan mata.


"Kamu nakal sayang..."


"Ini untuk menjaga agar om nggak nakal!" ucap Indah dengan mengedipkan matanya sebelah.


"Tenang saja, si Mickey sudah tak ingin mencari lubang yang lain. Dia sudah cukup setia dengan kamu sayang."


Indah tersenyum dengan tangan yang masih bertengger di pundak Nicko. Sedangkan Nicko masih anteng dengan posisi sedikit menindih tubuh Indah.


"Om serius sama Indah?"


"Hhmmm...... walaupun aku tau, pasti nggak akan mudah untuk ke depannya."


cup


"Indah akan belajar menerima om, tapi Indah nggak bisa menjanjikan apapun. Indah harap om bisa mengerti dengan dunia Indah saat ini, mungkin Indah nggak akan merima job lagi. Tapi untuk meninggalkan club' begitu saja, nggak semudah itu om, di sana banyak orang yang baik sama Indah."


"Hhmm, aku mengerti dan aku nggak akan melarang itu, tapi tetap jaga diri. Sekarang kamu milikku!" bisik Nicko dan kembali menyatukan Indra perasa yang membuatnya candu.


Bersama Indah dia bisa meninggalkan segala kebiasaannya dan mulai kembali percaya pada wanita. Bahkan mulai bisa membuka hati lagi untuk gadis yang saat ini sedang bergerak nakal membuatnya tidak ingin pulang.


"Sayang jangan merusuh, aku harus pulang!"


Indah tertawa melihat wajah Nicko yang sudah memerah dan sudah di pastikan si mickey bangun dengan sempurna.


"Ya udah awas om, Indah mau masuk ya."


Setelah memastikan kembali penampilannya sudah rapi Indah segara pamit ingin turun.


"Om rapiin dulu baju om, sama itu di pipi ada bekas lipstik aku!"


"Biarin, aku suka...."


"Dasar aneh! Ya udah Indah masuk dulu ya, bye om!"


Indah segera keluar dan menutup pintu saat Nicko ingin kembali menahannya. "Hati-hati ya om!"


"Sayang jangan pulang pagi ya!"


"Iya, nggak janji!" Indah segera berlari masuk dan menoleh sejenak meledek Nicko yang masih melihatnya dengan gemas.


Nicko menghubungi seseorang sebelum dia kembali melajukan mobilnya, jika tidak karena sang mamah dan memastikan segala dugaannya. Nicko lebih milih bermalam bersama Indah dari pada harus pulang dan membiarkan gadisnya sendiri.


"Hallo...."


"Hallo, kenapa?"


"Awasi cewek gue!"


"Cewek loe siapa? emang loe punya cewek? Setau gue punyanya wanita pemuas nafsu loe!"


"Ck, udah nggak main gue begituan! Indah masuk kesana, gue nggak mau sampe dia di deketin pria lain!"


"Woowww udah hak milik nich sekarang, tuh anaknya masuk. Cinta sini!"

__ADS_1


"Awas sampe cewek gue lecet!"


"Yang ada cewek loe yang bikin lecet orang."


Terdengar dari seberang telpon, suara Indah yang menyapa temannya dan juga Toni.


" Hai kak, sorry Indah baru bisa main. Eh lagi telponan ya. Sorry ganggu kak!"


"Nggak apa-apa, ini cuma telpon dari orang yang takut ceweknya di deketin orang, nggak penting! Kamu mau minum? kayaknya lagi suntuk, minum kayak biasanya ya!"


"Heh! cewek gue jangan loe kasih yang nggak-nggak ya, mabok gue tabok loe!"


"Tenang aja, udah ya."


Tut


SHIIITT


"Awas loe Toni kalo sampe buat Indah mabok," geram Nicko kemudian segera melanjutkan perjalanannya menuju rumah.


Sesampainya Nicko di rumah sang mamah papah dan juga adiknya sudah berkumpul di ruang keluarga. Mamah menatap heran dan menggelengkan kepala saat melihat penampilan Nicko yang berantakan dengan rambut acak-acakan dan jangan lupa tanda merah yang ada di lehernya.


Nicko duduk di samping Chiko yang juga memperhatikan kakaknya. Tersenyum tipis kemudian mengambil tisu dan untuk di berikan pada Nicko.


"Di lap dulu itu pipinya kak, masih baru banget ya. Tuh leher juga mateng banget!"


"Biasa...."


"Nicko_Nicko, nggak berubah!" ucap sang papah jengah.


"Ada apa meminta Nicko untuk pulang cepat?"


"Kamu sudah makan?" tanya mamah.


"Sudah mah, di masakin calon istri."


Mamah hanya diam, dia tak sepenuhnya percaya dengan ucapan Nicko karena yang dia tau Nicko berganti wanita setiap malamnya.


"Mamah ingin menjodohkan kamu dengan anak dari sahabat mamah dulu."


Nicko membuang muka ke sembarang arah, benar dugaannya sang mamah memiliki rencana sendiri. Padahal dia sudah dengan jelas menolak tentang perjodohan.


"Dia sedang sakit dan dia merasa waktunya tak lama lagi, dia ingin anak gadisnya menikah dengn anak mamah."


"Apa anak mamah hanya Nicko?"


"Chiko masih sekolah dan nggak mungkin mamah menjodohkan Chiko sekarang. Berbeda dengan kamu, kamu sudah mapan dan bisa menjamin kehidupan anak dan istri kamu nanti."


"Pah ..." Nicko meminta pembelaan dari papah.


"Papah setuju dengan mamah kamu, mungkin ini yang terbaik buat hidup kamu ke depan. Agar tidak terus bermain wanita!"


"Aku sudah memiliki calon sendiri dan aku nggak mau di jodohkan mah!" tegas Nicko.


"Tapi mamah nggak ada pilihan lain, dia sahabat baik mamah dulu, bahkan suaminya yang sempat membantu keluarga kita dulu saat benar-benar sedang di bawah. Mamah harap kamu mengerti, Jika Chiko sudah bekerja pun mungkin Chiko yang mamah jodohkan jika kamu tidak bersedia."


Nicko menarik nafas dalam, dia segera beranjak dari tempat duduknya. " Aku nggak akan meninggalkan gadisku!" Kemudian segera berlari menuju lantai atas.

__ADS_1


__ADS_2