
~HAPPY READING ~
Rin sampai ke rumah nya dengan emosi yang meluap-luap, Rin melangkah cepat ke arah ruang kerja Rivano.
Brakkk
Pintu ruang kerja Rivano di buka dengan keras oleh Rin, membuat Rivano yang berada di dalam terperanjat kaget.
"Rin apa-apan kamu, tidak sopan."ucap Rivano.
"Apa yang Kakak rencanakan,"ujar Rin tiba-tiba, membuat Rivano mengerutkan dahinya, tapi setelah itu Rivano tersenyum miring.
"Ini untuk masa depan mu."
"Dengan memindahkan semua orang yang dekat dengan ku,"Rivano tidak mengerti apa yang Rin katakan, dia berdiri lalu bersuara.
"Apa yang kau maksud, Kakak hanya merencanakan kau akan pindah sekolah ke Australia."
Apalagi ini, tiba-tiba Rin di suruh pindah sekolah Rivano tidak bisa di tebak, setelah itu Rin tidak bertanya, ia melangkah ke luar ruangan menuju kamarnya.
"Aneh,"gumam Rivano lalu melanjutkan pekerjaan nya.
~o0o~
Citra tetap setia menemani Rendi, sedari tadi dia selalu berada di sisi Rendi.
"Kalo lo mau pulang, pulang aja Cit."
"Nggak, gue mau tetep nemenin elo."
Rendi masih tetap berada di rumah sakit jiwa, mengawasi Mamanya yang sekarang sedang berbaring di bangkar rumah sakit.
Ting pesan masuk, dari nomor baru.
Besok, pulang sekolah ke gudang sekolah.
"Siapa Ini?"gumam Citra bingung.
Di tempat lain, Helena juga sama mendapatkan pesan dari nomor yang tidak di kenalnya dan isi pesan itu sama.
~o0o~
Esok harinya, Helena mau pun Citra masih bingung dengan pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Mereka takut tapi juga penasaran, ada apa di gudang sekolah kenapa mereka di suruh untuk ke gudang sekolah.
Saat pelajaran berlangsung mereka tidak fokus, pada saat jam istirahat pun mereka masih melamun. Apalagi Citra, Citra takut orang yang mengirimkan nya pesan itu berniat untuk membuly nya, Citra masih trauma karena Sely.
Detik detik jam pelajaran terakhir, jantung Citra tiba-tiba berdetak cepat kakinya bergetar hebat, sekarang Citra benar-benar takut.
Bel pulang berbunyi.
__ADS_1
Helena dan Citra tidak beranjak sedikitpun di tempat duduknya, mereka menunggu semua orang keluar kelas terlebih dahulu.
Setelah kelas mereka tidak ada satu pun orang, mereka mulai mengemas barang mereka dan beranjak untuk menuju gudang.
~o0o~
Kaki Helena melangkah menyusuri lorong kelas, tepat akan sampai gudang dari arah berlawanan orang yang Helena benci menuju kearahnya.
Citra sesaat tertegun melihat Helena berjalan kearahnya.
"Apa Helena yang ngirim pesan itu,"batin Citra.
Setelah itu mereka berdua berhenti di depan gudang, Helena melirik Citra tajam begitu pun Citra melirik Helena dengan tatapan takut. Citra ingin bertanya tapi tidak bisa, karena tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
Helena pun membuka gudang tersebut dan masuk ke dalam, lalu di ikuti Citra.
Saat mereka sudah berada didalam gudang mereka tertegun melihat poto-poto yang berada di dalam gudang itu. Itu foto mereka saat masih berteman saat mereka masih memakai seragam sekolah menengah pertama, di dalam foto itu ada juga sosok Rin, karena memang mereka saat masih SMP berteman baik dengan Rin. Di foto itu juga ekspresi Rin tersenyum bahagia tidak seperti ini.
"Apa maksud lo buat ginian, biar gue maafin lo, gitu Cit?"sahut Helena tiba-tiba
Citra menggelengkan kepalanya"Nggak, bukan gue yang buat ini."
Lalu setelah itu ada seseorang yang datang dari arah belakang.
"Rin."ujar mereka berdua
"Bisa bantu gue?"pasalnya Rin membawa semua barang-barang couple yang waktu SMP pernah mereka pakai.
Rin meletakan barang itu ke meja, lalu Rin duduk di kursi. Sedangkan Helena dan Citra masih terdiam, mereka masih bingung dengan ini semua.
"Rin, apa maksud lo buat ini sem..
"Duduk."suruh Rin penuh penekanan, Helena tidak melanjutkan ucapannya, Helena memutar bola matanya malas lalu setelah itu Helena duduk di samping Citra menghadap Rin.
"Gue bener-bener nggak ngerti Rin, apa maksud lo?"Helena bertanya lagi.
"Gue cuman mau mengenang masa-masa waktu dulu, saat kita masih menjadi Sahabat."
"Ngapain mengenang, lo tahu kan dia yang ngacauin ini semua."ujar Helena sembari menunjuk Citra.
"Gue tahu,"kata Rin terjeda lalu melanjutkan ucapannya.
"Tapi semuanya seratus persen bukan salah Citra."lanjut Rin.
Helena tertawa miring,"Terus salah siapa,"
"Kita."jawab Rin, membuat Helena melotot kan matanya.
"Maksud lo?"
"Hel, bisa nggak lo diem."sahut Citra tiba-tiba
__ADS_1
"Apa lo merintah gue HA."sewot Helena, Helena tidak mau di perintah oleh Citra, Helena benar-benar sudah membencinya.
"Citra bener lo harus diem saat gue mulai cerita."Helena menghela nafasnya kasar lalu memutarkan matanya kesal.
"Gue sekarang tahu yang buat gue dan Helena musuhan itu karena Citra, lo jiga tahu itu Hel tapi lo nggak pernah tanya kenapa Citra lakuin itu, kenapa dia membuat kita bermusuhan."Helena mengangguk dan mulai mendengarkan Rin dengan antusias.
"Citra seperti itu karena dulu kita mengabaikannya, lo inget nggak waktu itu Citra minta tolong tapi lo nggak angkat telepon nya dan lo bilang ke Citra di chat soal jangan ganggu gue dulu soalnya gue lagi liburan."
"Lo juga segan minta tolong ke gue karena lo tahu gue lagi ada masalah sama Kakak gue, dan setelah itu perusahaan Papa lo bangkrut dan parahnya lagi Papa lo di fitnah dan di jebloskan ke penjara sampai sekarang."Citra tertunduk saat mendengar cerita Rin.
"Cit gue minta maaf."ujar Helena, Citra melihat Helena lalu tersenyum.
"Gue juga Hel."
"Tapi setelah hal itu lo jadi benci sama kami, lo bilang ke Helena nuduh gue rebut pacar dia dan Helena marah sama gue tapi waktu itu gue nggak ngebela diri gue sama sekali, Helena juga nggak mau berteman lagi sama gue, saat Helena tahu lo nggak kaya lagi dia juga jauhin lo. Sampai tiba di SMA ini lo buat permusuhan gue sama Helena jadi benar-benar seperti musuh, lo terus-terusan buat masalah yang buat Helena jadi nuduh gue."
"Rin gue...
"Diem."ujar Rin menyuruh Citra untuk diam.
"Gue nggak peduli itu, gue nggak peduli Helena terus benci gue tapi lama kelamaan lo nyeret orang lain buat ikut ke rencana lo, lo Cit membuat hubungan Sera sama Sindy jadi lebih parah."
"Jadi masalah Sera sama Sindy, Citra juga ikut ambil alih."tanya Helena.
"Iya, Citra manas-manasin Sera buat ngebunuh Sindy, Citra juga ngelihat saat Sindy di tusuk sama Sera dan Citra yang copot CCTV di kelas. Cit, kalo gue lapor waktu itu ke Polisi mungkin sekarang lo nggak ada di sini."
"Maaf,"ucap Citra
"Lo harus minta maaf sama Sindy dan juga Sera, Lo juga harus minta maaf sama Vita dan jangan lagi lo ancam Vita."
"Tapi Cit soal Rendi, kayaknya emang lo tulus sayang sama dia.
"Tapi Rendi cinta nya sama lo."sahut Citra.
"Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, gue mau semua kesalah pahaman yang ada di sini selesai sebelum gue pergi."Rin beranjak dari duduknya.
"Kemana?"refleks mereka berdua bertanya.
"Gue mau pulang."jawab Rin sembari tersenyum saat Rin akan membuka pintu gudang, Vita bersuara.
"Kalo lo mau nemuin Rendi dia nggak ada di rumah, dia ada di rumah sakit jiwa Mamanya di rawat di sana."kata Citra, Rin pun mengangguk lalu pergi.
"Hel, maafin gue,"
"Gue juga Cit karena gue Papa lo di penjara."
"Nggak Hel, itu bukan salah lo maupun Rin."Helena dan Citra pun berpelukan.
"Helena...hikss."Citra menangis di pelukan Helena begitu juga Helena.
**TBC
__ADS_1
Haiii semoga masih ada yang inget yah sama novel ini😁, udah lama banget nggak Up.
Maaf kalo masih belum rapih**.