
~HAPPY READING ~
"Maksud lo apa Rin? mau ngerendahin gue."
Helena benar-benar sudah menganggap Rin sebagai musuh nya, dia lebih bahaya dari pada orang yang membully langsung terang terangan, tapi tidak dengan Rin setiap apa yang di lakukan. Dia selalu menatap Helena dengan rendah, lihat saja apa yang dilakukan nya sekarang berdiri tegak sambil melihat pemandangan luar dari roftoop.
"Apa yang udah lo lakuin dari ulangan kemarin."tanya Helena
Tapi Rin tetap bergeming, bahkan ia tidak melihat kearah Helena, sejak tadi pandangannya lurus ke depan.
Helena mulai kesal, ia maju lalu memegang bahu Rin dan sontak membuat tubuh Rin menghadap ke arah Helena, bahkan sekarang Helena mengcekram kuat bahu Rin.
"Lo selalu berhasil bikin gue malu Rin, tapi kelakuan lo sekarang udah kelewatan.. lo memanfaatkan murid yang frustasi dan tidak bisa apa-apa, agar lo bisa buat gue malu iya Rin."murka Helena
Rin melepaskan tangan Helena dari bahu nya.
"Gue nggak pernah ada niatan buat bikin lo malu."bantah Rin.
"Terus apa yang selama ini lo lakuin ngerendahin gue,"balas Helena
"Seterah lo mau ngomong apa gue nggak peduli,"
"Gue tahu lo nyalin kunci jawaban terus nyebarin ke anak-anak lain kan?"
Rin terkejut atas omongan Helena, tapi sebisa mungkin ia biasa saja, saat hendak kaki nya akan melangkah tangan yang satu nya di tahan oleh Helena.
"Iya kan Rin, kalo gue kasih tahu itu ke kakak lo gimana."
Rin sontak kaget dan langsung melepaskan paksa tangan nya tapi Helena lagi-lagi menahan lengan satunya, yang membuat Rin refleks menjatuhkan MacBook nya, karena Helena menahan tangan Rin dengan keras.
Kejadian berikutnya MacBook Rin yang jatuh ke bawah...
Mereka hanya bisa melihat dari atas menyaksikan MacBook Rin yang hancur di bawah.
Helena melirik Rin sekilas dan setelah itu Rin langsung berlari ke bawah.
"Bukan salah gue kan, iya kan lagian si Rin kaya dia bisa beli lagi yang baru.."ucap Helena yang masih bergeming di tempat nya.
Rin berlari ke bawah dengan menuruni setiap tangga, wajahnya terlihat panik Rin bahkan menabrak Siswa lain, tapi Rin tidak peduli yang terpenting saat ini keberadaan MacBook nya.
"Hufsst..."Rin mengatur nafas nya sejenak, sekarang ia sudah sampai di bawah mulai mencari di mana MacBook nya berada.
Tidak butuh waktu lama Rin mencari Rin sudah menemukannya dengan keadaan tidak baik, kaca nya pecah mungkin saja sudah tidak bisa digunakan lagi.
"Haiss Mati,"Rin yang mencoba untuk menghidupkan kembali, tapi sudah tidak bisa. Rin hanya mengambil Flashdisk nya, memang yang terpenting itu flashdisk nya kalo sampai orang lain yang menemukannya bisa gawat.
~o0o~
Saat pulang sekolah, Helena jadi sedikit pendiam, padahal kan harusnya hari ini ia senang sudah mendapatkan peringkat pertama pararel.
"Helena mau beli apa nanti Mama beli kan,"tanya Hana, mereka tadi sudah ke salon dan sekarang sedang berjalan-jalan di Mall.
"Nggak Ma."
"Kok nggak kan Hele udah jadi terpintar, biar Mama kasih hadiah."
"NGGAK."Bentak Helena yang membuat Hana kaget, karena nada bicara Helena yang tinggi.
Helena sekarang jadi tidak suka di bilang pintar.
"Yaudah kalo gitu kita Makan aja yah,"
"Helena mau pulang,"
"Kenapa? Kan tadi katanya.."
"Helena capek jadi mau pulang aja."
"Yaudah makan nya di rumah aja, yuk kita pulang sekarang."
__ADS_1
~o0o~
"Apa ini Rin? HAH."bentak Rivano pada adik nya.
Baru saja Rin pulang sekolah tapi sudah di sambut dengan wajah kakak nya yang marah.
Rin hanya diam saja, ia hanya akan mendengarkan ucapan kakak nya yang emosi.
"Apa kamu udah lupa tentang pelajaran sekolah! Kakak tahu kamu pintar nggak mungkin nilai kamu sampe merah seperti ini, kamu tidak malu hanya kamu sendiri yang dapat nilai merah, jangan-jangan kamu sengaja, iya."Ucap Rivano dengan nada tinggi, semoga saja Ayah nya tidak mendengar karena ruangan ini kedap suara.
"Iya aku sengaja."jawab Rin, yang bahkan sekarang berani menatap mata Kakak nya.
"KENAPA?"
"Aku nggak mau kayak Kakak, yang jadi boneka di keluarga ini hanya karena kita pintar."
"Apa maksud kamu HAH?.."tanya Rivano sambil menggebrak meja kerja nya, setelah itu ia mengusap wajahnya frustasi."Setelah ini Kakak akan berikan kamu les,"ujar nya lagi
"Terserah.."ujar Rin lalu beranjak dari ruangan kakaknya.
"HAHAHAKAH....."teriak Rivano sembari menarik rambutnya frustasi.
~o0o~
Rin masuk kedalam kamar nya ia meletakan MacBook nya yang rusak di meja belajar. Setelah itu Rin langsung berganti pakaian nya dengan pakaian santai.
Mengambil Roti yang ada didalam tas nya lalu memakan nya, sembari memainkan komputer yang di belikan oleh Ayah nya tempo lalu.
Soal ulangan, tujuan Rin bukan untuk membikin malu Helena atau merendahkan nya, Rin cuman tidak ingin membuat Ayah nya bangga dan Rin tidak mau bernasib seperti Rivano, yang begitu penurut pada Herlano.
Rin mendengar waktu kecil saat nanti ia sudah besar, ia akan di jadikan seorang Professor karena keahlianya dalam mata pelajaran IPA, dan juga cara menghitungnya yang cepat.
Padahal Rin tidak suka itu, sudah jelas sekali kalo Rin menyukai dunia teknologi, tapi Rivano bilang itu tidak ada manfaatnya dan juga tidak bisa membuat Herlano bangga.
~o0o~
"Kakak sudah mencari teman les untuk mu,"kata Rivano
"Iya Kakak pikir kamu akan jenuh kalo belajar dengan guru, jadi Kakak akan menyuruh salah satu teman seangkatan mu untuk mengajarkan mu."
"Aku bisa belajar sendiri,"tolak Rin
"Belajar sendiri! buktinya nilai mu merah, apa kamu tidak malu Rin Leach."Kata Rivano dengan kesal, tapi lihat yang dilakukan Rin ia tampak biasa saja, sambil menikmati sarapan pagi nya.
Dan untungnya pagi ini ayah nya sudah pergi, pagi-pagi sekali untuk mengontrol kesehatan nya.
"Sudah selesai Kakak akan ke kantor, nanti siang dia akan datang kesini langsung,"
"Hn."
"Jangan membuat nya tidak betah dengan kelakuan mu."
Setelah itu Rivano pergi ke kantor nya.
~o0o~
"Hel ada temen kamu tuh dateng,"teriak Hana dari luar kamarnya
"Suruh masuk aja Ma."ujar Helena di dalam kamar.
"Biasanya juga langsung nyelonong,"gumam Helena, yang sedang asik dengan cutek di tangan nya, libur 2 minggu tapi tidak kemana-mana, membuat Helena jenuh.
Tak lama kemudian pintu kamar Helena terbuka, menampilkan seorang gadis berambut sebahu.
"Hel.."panggil nya,
"Biasanya juga lo langsung mas–u.."perkataan Helena terhenti, ternyata bukan Vita atau Sandra melainkan Citra.
"Lo mau apa Cit, ke rumah gue?"tanya Helena tidak suka
__ADS_1
"Emang ke rumah temen sendiri nggak boleh yah,"ujar Citra sembari mendekat kearah Helena"Gue boleh duduk?"
"Duduk aja kali,"jawab Helena sambil merubah posisinya, menghadap Citra.
"Lo mau apa ke rumah gue"Tanya Helena sekali lagi, karena tidak biasanya Citra menemuinya pasti ada sesutau.
"Ya gue cuman mau nemuin temen kecil gue doang,"
"Udah deh Cit, Lo sebenernya mau APA?"sekarang nada bicara Helena mulai emosi.
"Gue..
"Nih Bibi buatkan jus.."potong Bi Siti yang tiba-tiba datang.
"Iya Bi taruh aja."suruh Helena
"Kalo begitu Bibi ke dapur dulu."ujar Bi siti setelah menaruh minuman di meja lalu Bi Siti pergi ke dapur meninggalkan Helena dan Citra berdua.
Helena masih menatap Citra tajam, masih menunggu jawabannya yang menggantung.
"Gue cuman mau ngasih tahu kalo Rey itu.."
"Gue udah tahu dan seharusnya kita nggak usah ngomongin ini lagi."
"Iya Hel tapi Rey sama R.."
"Udah deh Cit gue nggak mau ungkit masa lalu lagi, itu membuat gue merasa bersalah."ujar Helena, bahkan rasa bersalah nya pada Rin semakin bertambah saat ia ingat kejadian kemarin di atas roftoop.
"Gue juga mau kita bertiga kayak dulu lagi."ucap Vita, yang tentu saja mendapat gelengkan dari Helena.
"Nggak itu nggak akan mungkin, sekarang gue juga udah nggak mau temenan sama lo atau pun dia."kata Helena,
"Tapi Hel.."
"Lebih baik sekarang lo pulang Cit,gue mau ke Mall bareng Mama gue."ujar Helena yang tidak mau berbicara panjang lebar dengan Citra.
~o0o~
Sekarang Rin harus terjebak dengan teman les nya, siang tadi benar teman les nya datang. Rivano ternyata tidak main-main, bahkan memilih kan teman les yang Rin tidak ingin melihatnya.
"Coba gue liat jawaban lo Rin,"ujarnya dan mengambil kertas yang telah Rin kerjakan.
"Bagus benar semua, terus nanti lo ker.."
"Cukup! lo tau kan gue itu pinter,"potong Rin
"Kalo lo pinter lo nggak mungkin dapet nilai Merah."balasnya
"Iya karena gue males, lo nggak usah capek-capek ngajarin gue Ren,"Ucap Rin dan beranjak dari duduk nya.
"Kalo bukan suruhan dari Kak Rivano gue juga nggak mau."jawab Rendi yang sekarang berdiri, Rin yang mendengar itu langsung membalikkan tubuhnya menghadap Rendi.
"Dan dengan bodoh nya lo nurut gitu aja,"
"Dengan bodohnya juga gue malah suka."jawab Rendi.
Jawaban Rendi terkesan Ambigu di pikiran Rin.
"Gue nggak ngerti, sekarang lo pulang gue males belajar."ujar Rin berlalu pergi meninggalkan Rendi sendirian.
Rendi yang baru sadar dengan ucapannya, memukul mulutnya sendiri.
"Astaga, ngapain gue ngomong kayak gitu."
"Ngapain Yah Rey?"ucap Rendi sembari memeganginya dadanya.
Rendi membereskan buku-buku dan juga peralatan tulis lainnya lalu ia masukan kedalam tas.
Setelah itu Rendi melangkah kan kakinya keluar dan pulang kerumahnya.
__ADS_1
TBC.