The Enemy

The Enemy
Chapter 20 (Revisi)


__ADS_3

~HAPPY READING~


Langit sudah berubah menjadi Oranye dan sebentar lagi akan menghitam itu tanda nya malam akan datang.


Seluruh Siswa yang ikut Camping biasanya akan mengelilingi api unggun dan membuat permainan di sana.


Tapi Malam kali ini tidak ada jerit malam, Karena pagi nya mereka akan bermain seperti militer, yang dimana akan memakai peralatan seperti akan berperang, Yaitu tembakan dan baju pelindung, tenang saja peluru yang di gunakan semacam bubuk yang di bekukan jadi saat mengenai seseorang akan aman.


Seluruh Siswa, melingkari Api unggun yang sudah di persiapkan oleh panitia.


Di Api unggun ini juga akan ada sebuah permainan ringan yang akan di mainkan oleh seluruh peserta.


"Permainan ini mungkin sudah biasa kalian mainkan di Acara tertentu, tapi kita mainkan lagi, Rio akan menyanyikan sebuah lagu dengan gitar dan kalian memegang satu tongkat ini, pindah kan tongkat itu ke teman di samping kalian, saat lagu selesai siapa pun yang memegang tongkat itu terakhir kali nya akan dapat hukuman."Kata Bara yang sekarang menjadi ketua panitia dan mewakili Ekskul OSIS.


"Serasa ingin masuk OSIS deh gue,"Ceplos Sandra di samping Vita.


"Lo sebenernya suka siapa sih San?"tanya Vita yang tidak habis pikir dengan temannya yang gila, bergonta ganti cowok yang di suka tapi tidak ada satupun yang mau, sungguh miris.


"Gue suka Rendi tapi Cinta Bara."Ucap Sandra


"Gila."


"Oke nanti kita mulai, pantia masih menyiapkan nya dulu."Ucap Bara


"Woi Gitar nya mana?..."teriak Rio kepada panitia yang sedang sibuk ke sana kemari,,tidak jelas apa yang mereka lakukan.


"Gue mau sengaja ah pegang tongkatnya yang lama, terus dihukum dan gue mau hukumannya nembak cewek, terus cewek yang gue tembak itu Vita."ujar Gio ke Rizki


"Uhhh romantis banget kan Ki,"lanjut Gio yang setia menatap Vita


"Cihh najis nggak modal lo."ujar Rizki sambil menjitak kepala Gio.


Rin yang berada di samping Rizki, ia mulai jengah dengan tempat ini dimana banyak orang di sekelilingnya.


Saat acara akan di mulai, tadi nya Rin berniat untuk kabur saja tapi si Rizki pasti akan tahu.


"Rin lo nggak boleh lari dari sini, atau kakak lo yang akan jemput lo langsung kesini,"bisik Rizki ke telinga Rin. Dan di sebrang sana ada seseorang orang yang mengawasi mereka.


"Yok TERPESONA ....AKU TERPESONA ...."dan tiba saat lagu terpesona pas berada di genggaman Gio. Gio yang mempunyai niat pun mulai merencanakan aksi nya.


"MEMANDANG MEMANDANG WAJAHMU...TERPESONA AKU TERPESONA.."


"Astaga nih lagu nggak ada ujung nya kali yah, pegel nih gue."pikir Gio...


"MEMANDANG MEMANDANG WAJAHMU....


"Oke Cukup.."Bara menghentikannya dan melihat Gio yang sedari tadi tidak mengoper tongkat itu, Bara langsung menarik Gio ke tengah.


Dan saat Gio ditarik ia seperti bisik-bisik ke Bara dan Bara pun hanya mengangguk saja.


"Dasar Gila si Gio dia serius lagi."ujar Rizki yang melihat sahabat nya sedang melancarkan aksinya.


"Nama lo siapa?"tanya Bara, tapi Gio tidak memperhatikan ia masih sibuk dengan merapihkan letak kacamata nya."nama lo siapa?"tanya Bara sekali lagi


"Oh iyah, gue Gio."jawab Gio sembari tersenyum malu-malu, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan muntah.


"Hukuman mau ngegombal, nyanyi atau goyang...."Bara memberi pilihan pada Gio.


"Kak kalo hukumannya diganti jadi nembak cewek boleh nggak."potong Gio, dan di sambut dengan teriakan para Siswa di sana.


"Huhu cuit cuit."


"Siapa tuh."


"Gaya boleh cupu, tapi mental kayak suhu.. Bukan maen."komentar salah satu siswa laki-laki.


Para Siswa mulai heboh dengan keinginan Gio, begitu pun dengan Rizki


"Gue dukung lo yo."teriak Rizki antusias dengan aksi Gio.


Dan tentu saja Momen itu di manfaatkan oleh Rin untuk meninggalkan tempat itu.


~o0o~


Rin memilih tempat yang sepi di belakang tenda tidak ada orang hanya ada obor yang menghiasi seluruh tenda.


Rin menghirup udara segar didekat nya dan menatap langit, malam ini bulan sangat cerah menerangi hutan yang ada didepan nya.


***Gruskk gruskk**


Seperti ada yang datang mendekati Rin, Rin sudah menduganya siapa lagi kalo bukan Rizki.


"Rizki lo.."ucapan Rin terhenti saat ia melihat orang itu bukan Rizki. Rin kembali tidak peduli ia memilih untuk menatap ke depan.

__ADS_1


"Sudah lama sejak berapa tahun terakhir gue nyari lo."Ucap Rendi, yah seseorang itu Rendi


Rin yang tidak mengerti maksud Rendi pun berusaha bersikap seperti biasa.


"Gue nggak tahu apa yang terjadi diantara kalian bertiga, gue juga nggak tahu apa-apa kenapa gue begitu ingin tahu tentang lo Rin, Jiwa seseorang seperti menyuruh gue untuk deket dengan lo."


"Siapa?"kata pertama yang Rin ucap kan, saat Rendi berbicara tentang seseorang tubuhnya seakan berdesir.


"Seharusnya lo nggak ada disini, takutnya disini ada ular...


"Siapa yang lo maksud."Tanya Rin dengan nada tinggi, mata nya mulai melotot tajam. Apa-apaan, Rendi seperti ingin membuatnya penasaran.


"Lo kayak nya nggak suka keramaian yah?"lagi-lagi Rendi mengganti topik nya.


Rin menutup mata nya agar emosi nya bisa stabil.


"Iya, dan gue juga nggak suka lo."Ucap Rin lalu pergi begitu saja.


"Lo belum saatnya tahu, gue cuman mau deket sama lo Rin kita ini sama, sama-sama punya rasa benci."Ucap Rendi yang melihat punggung Rin yang sudah menjauh.


~o0o~


Hari sudah mulai pagi, tapi tidak ada tanda-tanda peserta yang keluar tenda.


Bara menghirup nafasnya sejenak, dan mulai menggerakkan toa nya.


"UNTUK SELURUH PESERTA SAAT NYA BANGUN, SEKARANG."teriak Bara dengan Toa, tapi masih tidak ada tanda-tanda peserta Camping akan keluat dari tendanya


"SAYA HITUNG DALAM WAKTU LIMA MENIT KALIAN HARUS SUDAH ADA DI LAPANGAN..."dan saat Bara mengancam benar saja, seluruh peserta berhamburan untuk mencari kamar mandi, walaupun sempoyongan karena baru saja bangun tidur.


"Astaga kepala gue masih sakit nih, kalo tiba-tiba di bangunin kayak gini."keluh Helena sembari menepuk-nepuk kepala nya.


"Bener banget kata lo Hel, gue masih ngantuk huaffff."Balas Vita yang menguap


"Hel gue minta cuci muka lo dong, lo udah make kan?"tanya Sandra


"Yah pake aja, jangan kasih orang lain itu mahal."ucap Helena yang sedang sibuk dengan sikat gigi di tangannya.


Tak lama gadis berambut keriting bergelombang datang, ia langsung mencomot Odol seseorang dan mulai menyikat gigi nya..


"Yah Rin itu punya gue,"ujar yang punya di sebelah nya.


"Minta."jawab Rin tanpa dosa, Rin tidak membawa peralatan mandi ia hanya membawa satu sikat gigi di tas nya.


"Husst Hel."ujar Vita


Tapi Rin tetaplah Rin ia tidak peduli sama sekali, sekarang ia malah meminta cuci muka yang ada di tangan Sandra.


"Minta,"


"Ehh Rin tapi..."


Terlambat Rin sudah memakainya ke wajahnya.


"Itu punya Hel–ena,"ucap Sandra sambil melirik Helena dengan takut.


Helena yang nama nya di sebut langsung melihat ke arah Sandra.


"Lo biarin si batu pake cuci muka gue San?"ucap Helena marah tidak peduli orang yang ia bicarakan mendengar atau tidak.


"Enggak Hel, si Rin nya aja yang ngambil sendiri ."


"Cih benar-benar tidak mampu,"Ucap Helena melirik Rin dengan kesal.


Rin yang sudah tidak tahan, ia membasuh wajahnya dan melirik ke tiga teman nya dengan tajam.


"Bukan tidak mampu tapi malas."Kata Rin setelah itu pergi dari sana.


"Cihh dasar Batu."teriak Helena


~o0o~


waktu semalam sudah di kasih tahu kalo sekarang akan bermain ala-ala militer. Mereka akan di bagi menjadi beberapa regu, ada satu regu yang mempertahankan bendera nya, beberapa regu lagi akan berlomba untuk merebut bendera itu, mungkin akan ada 3 regu saja.


Para peserta sekarang sedang berkumpul di lapangan, mereka mendengarkan sesama intrupsi dari Panitia yang ada di depan.


"Untuk kalian yang sudah tahu regu masing-masing silahkan berkumpul."Kata Bayu yang sekarang ia menjadi ketua dari game ini.


"Kak ada satu orang yang nggak ada,"Ujar Rizki


"Siapa?"


"Rin Leach."jawab Rizki

__ADS_1


"Si Rin mana mau main game kayak gini..."Sahut Helena di samping nya.


"Maaf Kak saya telat,"Ujar Rin dari belakang, Helena yang melihat Rin berada di sana langsung memasang wajah bad mood seperti biasa.


Rin memang tadi nya ia tidak akan ikut bermain yang akan membuat ia lelah, sebelum Kakak nya menelepon nya dan lagi-lagi mengetahui Rin kalo semalam tidak ikut merayakan api unggun. Kalo sekarang Rin tidak ikut lagi dalam acara ini bisa-bisa satu set komputernya lenyap.


"Rin bergabung ke kelompok Gio, bersama Sandra dan Citra."Suruh Kakak kelas yang bertugas.


Mereka akan sekelompok dengan kelas lain juga, mungkin sistem yang di pakai sistem acak.


"Sekarang sudah lengkap kan."


"Sudah Kak,"


"Sekarang kalian pakai pakaian yang sudah disiapkan dan senjata yang kalian butuhkan, kalian hanya punya nyawa satu jadi kalo sudah mati tidak dapat di hidup kan kembali."Kata Bayu.


Seluruh peserta langsung memakai dan mengambil pistol nya masing-masing, setiap regu di berikan waktu 3 menit untuk menyusun rencana mereka.


Dorrr


itu suara pelatuk dari pihak panitia dan itu tandanya game ini sudah di mulai.


"Vit lo jaga yang di sana,"Suruh Helena pada Vita yang sedari tadi mengikuti Helena dari arah belakang.


"Tapi Hel gue takut,"


"Cih kalo gitu gue panggil Gio nih."


"Jangan, oke gue ke sana."ucap Vita, yang semalam saja rasa kesalnya pada Gio belum hilang.


"Gue harus bunuh si Rin,"gumam Helena yang mulai mengedap-ngedap kearah musuh.


"Kemana si Rin kenapa yang jaga si Sandra."Helena mulai maju satu langkah dan..


Dorrr


"Yes kena."ucap Helena dan bersembunyi di balik pohon


"Yah gue mati doang.. nggak seru ahh nyebelin belum juga main."gerutu Sandra.


~o0o~


Sedangkan di tempat lain seorang Cowok sudah membunuh beberapa musuh nya dalam waktu kurung 15 menit sejak perlombaan ini di mulai.


Rendi mengendap-endap untuk merebut Bendera Merah yang ada di puncak sana, ini tidak akan mudah mencapai ke sana karena ada beberapa orang yang menjaga di bawah sana, ada Rizki juga di sana.


"****."Rendi menginjak sesuatu.


"Siapa itu?."Rizki mulai menjauh dari sana untuk melihat siapa yang datang


"Lo berdua jaga di sini gue mau lihat ke sana dulu."


Rizki berjalan berhati-hati ke balik pohon, tapi ternyata tidak ada siapa pun, Rizki pun untuk mencari kearah lain dan tidak berniat untuk kembali menjaga bendera nya.


Rendi berhasil memanjat pohon sebelum Rizki berjalan ke arah nya, ini kesempatannya. Yang menjaga bendera satu orang laki-laki dan satu orang perempuan.


Rendi melempar sesuatu ke bawah pohon nya, ada satu orang yang menyadari nya, laki-laki itu mendekat ke arah pohon dan tepat saat itu Rendi mengarah kan pistol nya tepat di Helm laki-laki itu dan


Dorr...


Rendi langsung melompat ke bawah..


"Sia–pa.."Ucap gemetar perempuan yang bertugas itu ternyata Vita.


"Hai Vit, lo kenapa."Ucap Rendi santai, Rendi tahu Saudara nya ini tidak pernah bisa memegang senjata semacam pistol.


"Lo Ren jangan bunuh gu...


Dorrr


terlambat Rendi sudah membunuh nya. sebelum ada orang yang melihatnya Rendi langsung mengambil bendera merah itu dan pergi dari sana.


Sedangkan di tempat lain Helena sudah mendapatkan Musuh nya sendiri.


"Lo sekarang nggak bisa apa-apa Rin."


"Lo Curang,"ujar Rin yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena pistolnya di pegang oleh Helena.


"Lo mau gue bunuh sekarang apa nanti."


Rin malas bermain-main seperti ini, ia hendak melangkah meninggalkan Helena tapi..


"Awas...

__ADS_1


TBC.


__ADS_2