The Enemy

The Enemy
Chapter 26 (Revisi)


__ADS_3

~HAPPY READING ~


Hari ini adalah hari Minggu terakhir, untuk seluruh Siswa SMA Victoria berlibur.


Nomor yang anda tuju tidak aktif cobalah beberapa saat lagi....


"Akhhhhh..."teriak Rivano kesal, sudah dua hari Rin pergi dari rumah ini dan itu kesalahan nya, seharusnya ia tidak mengijinkannya untuk pergi. Rivano benar-benar lupa kalo Rin itu..


"Kemana kamu Rin.."ujar Rivano frustasi setelah itu ada yang memasuki ruangan nya.


"Tuan, Tuan besar sudah menunggu anda."kata salah satu bodyguard di rumah ini.


"Iya, saya akan ke sana."ujar Rivano, bodyguard itu mengangguk lalu pergi.


Rivano bingung ia harus apa sekarang.


"Rendi" gumam Rivano, waktu itu kata Rizki, Rendi yang mengikuti Rin, pasti ia tahu Rin kemana.


Rivano pun menghubungi Rendi, untuk meminta bantuannya menemukan Rin dan menyuruhnya pulang, selagi Rendi mencari Rin tugas Rivano sekarang hanya mencari alasan kepada ayahnya untuk mengulur waktu.


~o0o~


Sesaat tadi Rivano menghubungi Rendi, Rendi pun langsung melaju dengan motornya untuk mencari Rin.


Sejujurnya ia juga tidak tahu Rin, kemana setelah lampu merah itu Tapi Rendi terus mencari.


Rendi sudah melewati lampu merah, sekarang tugasnya menebak seorang Rin pergi kemana.


Menyusuri jalanan raya, Rendi sesekali berhenti untuk menanyakan ke pejalan kaki yang lewat, dengan memberitahukan ciri-ciri Rin seperti apa, sudah berpuluh-puluh menit tapi Rendi belum menemukan jejak Rin.


Dari kejauhan ia melihat seorang anak kecil, yang sedang bersepeda, mustahil anak itu tahu, tapi di sekitar sini sudah tidak ada orang lagi. Rendi pun menanyakan pada Anak laki-laki.


"Adik?"panggil Rendi


"Iya Kak, Kakak manggil saya,"tanya nya.


"Iya, adik pernah liat sekitar sini cewek rambutnya panjang keriting tapi nggak keriting, gimana yah agak gelombang gitu, cantik tinggi nya segini."


Anak laki-laki itu hanya mengangguk lalu setelah itu menggeleng. Rendi menghela nafas panjang percuma saja.


"Rin kemana sih.."ucap Rendi frustasi, lalu melangkah kearah motornya.


"Kak Rin, Rin."gumam anak Kecil, tapi masih bisa terdengar oleh Rendi.


Rendi segera membalikkan badannya lagi.


"Iya Rin, nama kakak itu Rin adik tahu?"kata Rendi semangat sambil mensejajarkan tinggi badannya dengan anak kecil itu.


Anak itu mengangguk.


"Kak Rin, ada di rumah."jawabnya.


"Rumah?"Ujar Rendi bingung


"Iya.. kalo kakak nggak percaya ikut saya aja."kata anak kecil itu setelah itu ia menggowes sepeda nya.


Rendi tanpa pikir panjang, mengikuti anak itu dari belakang dengan motornya, ia harus melaju dengan kecepatan rendah.


~o0o~


PANTI MUTIARA.


Tulisan itu tertera di sana, saat Rendi sampai dadanya serasa berdesir perasaan nya seperti campur aduk Rendi.


"Kenapa rasanya seperti ini."gumam Rendi sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.


anak kecil itu masuk kedalam pekarangan panti, Rendi pun mengikuti anak kecil itu, sesekali Rendi menghembuskan nafasnya. Dadanya terasa sangat sesak.


"Assalamualaikum aku pulang.."teriak anak kecil itu, tanpa mempersilakan Rendi masuk, anak itu sudah masuk terlebih dahulu meninggalkan Rendi di luar.


Sambil menunggu Rendi melihat sekeliling Panti, ada taman bermain suasana nya sangat tenteram, tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya muncul.


Rendi refleks menyalami tangannya.


"Saya Rendi Tante.."ujar Rendi.


"Iya silahkan nak Rendi duduk dulu."katanya mempersilakan Rendi duduk di kursi depan panti.


"Re ambil minum."suruh wanita itu pada anak pantinya.


"Nak Rendi kesini mau cari siapa."

__ADS_1


"Rin Tante, apa ada yang namanya Rin disini."


Wanita itu mengangguk, lalu datang lah minuman untuk Rendi.


Rendi tersenyum lega, akhirnya ia menemukan Rin.


"Tunggu disini dulu yah."ucap wanita paruh baya itu, setelah itu beranjak masuk kedalam panti.


Rendi meminum air itu sejujurnya ia benar-benar haus sedari tadi, mencari Rin kemana-mana dan sekaligus agar bisa meredakan rasa sakit di dadanya.


Tak lama kemudian wanita itu datang dengan gadis yang ia cari-cari dari tadi. Rin muncul dengan wajah datarnya seperti biasa, memakai Hoodie silver dan celana jeans, Rendi langsung berdiri dari duduk nya.


"Rin ayo pulang, Kakak lo khawatir."ajak Rendi.


Rin melirik wanita itu, seperti meminta persetujuan wanita pun mengangguk.


"Iya gue pulang, Bunda Rin pamit."ujar Rin menyalami Wanita yang dipanggil bunda.


"Iya hati-hati, tapi kalo tidak sibuk Rin kesini lagi yah."


"Pasti."ucap Rin


"Makasih Tante."ujar Rendi


"Jangan panggil Tante,panggil bunda saja Bunda Hera."katanya lagi Rendi pun mengangguk


"Iya Bunda."


Setelah itu Rendi langsung membawa Rin kerumahnya, tapi kak Rivano berpesan untuk menyuruh Rin lewat pintu belakang.


Rin pun menurut ia masuk kedalam rumah itu lewat pintu belakang, betapa terkejutnya ia langsung ditarik kedalam kamar oleh seorang wanita cantik.


Rin disuruh menggunakan baju dress berwarna hitam, tak lupa dengan jepit rambutnya.


Dan disuruh langsung masuk ke ruangan untuk foto keluarga, ternyata di sana sudah ada Kakak nya dan Ayahnya beserta fotografer.


Fotografer itu pun langsung mengatur posisi agar bagus di foto.


"Oke pas, 1 2 3.."sang fotografer memotret keluarga Rin, tapi saat mengecek hasil foto nya.


"Untuk anak perempuan nya tolong senyum yah."katanya lagi


Rivano langsung menyubit tangan Rin, Rin melihat kearah Rivano.


"Oke sudah siap."


"Sudah Pak, silahkan di lanjutkan."ujar Rivano


Fotografer pun sekali lagi mengambil gamabar, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan.


"Adiknya coba senyumnya sedikit lebih lebar lagi."Rin yang mendengar itu memutarkan matanya malas sembari menghela nafas lelah. Benar-benar menyebalkan pikir Rin


Rivano memegang pipi Rin kencang.


"Senyum Rin Leach."


"Aikhhh sakit tuan Rivano."teriak Rin sembari mencoba melepaskan tangan Rivano.


Herlano yang melihat kelakuan kedua anaknya hanya bisa tertawa sembari menggelengkan kepalanya.


~o0o~


Kembali ke sekolah, setelah libur panjang yang tidak ada artinya bagi Helena, karena liburan kali ini ia tidak jalan-jalan keluar negeri hanya sebatas sekitar rumahnya saja, benar-benar membosankan.


Helena akan tampil beda kali ini, rambutnya yang lurus tapi sekarang sedikit bergelombang, tak lupa Helena memakai jepit rambut sebagai aksesorisnya, setelah itu Helena melihat dirinya di cermin


"Liat aja Rin, gue bakalan ngalahin lo,"Ucap Helena yang berbicara di depan cermin, setelah itu pergi ke bawah untuk sarapan.


"Morning Ma.."Sapa Helena kepada Mama nya, yang sedang sibuk menyiapkan sarapan, padahal kan sudah ada Bi Siti.


"Ekhmm.. kamu lupa sama Papa,"Sahut Reynaldi.


Helena menutup mulutnya, setelah itu ia langsung berhambur ke dalam pelukan papa nya.


"Kangen..Helena kangen banget sama Papa.."


"Papa juga sama,"ujar Reynaldi sembari mengusap rambut putrinya.


"Tapi Hele marah karena Papa pulang nya telat."ucap Helena dan melepaskan pelukannya.


"Telat?"kata Reynaldi sambil melirik kearah Hana istrinya, terus Hana memberikan bahasa isyarat yang dapat di mengerti oleh mereka berdua.

__ADS_1


"Oh yasudah sebagai gantinya Papa yang akan mengantarkan Hele ke sekolah."


Helena yang tadi nya cemberut, kembali tersenyum setelah itu mereka memakan sarapannya dengan hitmat.


~o0o~


"Makasih yah Pa."ucap Helena, tak lupa ia menyalami tangan papa nya.


"Dah..."teriak Helena sambil melambaikan tangannya kearah mobil Reynaldi yang sekarang sudah mulai menjauh.


pada saat itu pula lewat motor hitam yang membuat dada Helena sesak dan Helena tahu siapa dia, yang membuat dada Helena sesak karena motor itu memboncengkan seorang perempuan.


Helena tidak mau sakit hati terlalu dalam, jadi ia memutuskan untuk langsung pergi masuk ke dalam.


Baru saja hati nya senang karena papa nya pulang, tapi sekarang, ada saja yang membuat mood nya bururk.


"Hel, Helena.."panggil seseorang, ternyata Gio.


"Ada apa Gio?"


"Tolong lo ambil kemoceng di ruangan nya Bu Lita.."suruh Gio


"Lo aja gue males.."


"Astaga Helena liat dong tangan gue penuh, lagian ini kan tugas lo."pungkas Gio.


"Kok gue sih, si Rizki tuh.."Helena masih tidak mau membantu Gio, padahal kan dia sekarang yang seharusnya bertanggung jawab.


"Si Rizki belum pulang."


"Kemana?"


"Udah lah Hel cepet gue pegel nih.."ujar Gio yang kesusahan membawa dua Pelan dan juga kain lap, bukan itu saja dia juga membawa seember air."udah lah gue duluan.."


"Cihh, nyebelin."cibir Helena


~o0o~


Helena sudah mengambil empat kemoceng sekaligus dari ruang guru.


Sekarang ia sudah sampai ke kelas nya, setelah itu mulai membereskan kelas nya bersama teman-teman kelas,


baru dua minggu saja debu nya sudah tebal, pikir Helena.


"Aneh deh gue sama sekolah ini, katanya sekolah elit tapi apa? nggak sekolah dua minggu aja tapi kayak nggak sekolah setahun debu nya tebel banget, emang sekolah ini nggak ada tukang bersih nya apa."Helena mulai menjulid, sambil terus membersihkan debu yang menempel di jendela.


"Ada penjaga sekolah sama pengurus juga, tapi untuk bersihin kelas gue nggak tahu sih, mungkin mereka nggak di tugasin."sahut Vita


"Aneh banget, kalo gini kan nyusahin..terus katanya....


"Hachimmm."seseorang bersin membuat ucapan Helena terpotong.


"Terus katanya..


"Hachimmmm...


"Katanya....


"Hachimm...hachimmmm..


"Siapa sih itu??"teriak Helena kesal, Pasalnya bersin itu sangat menggangu. Sandra dengan lirikan mata nya memberitahu kan Helena, Helena yang mengerti pun mengikuti arah pandang Sandra, dan lagi-lagi orang itu yang membuat Helena kesal.


"Rin, lo dari tadi cuman diem doang nggak ngebantuin kita..."ketus Helena.


Tapi emang Rin orang yang masa bodoh, jadi Rin sedari tadi hanya duduk di tempat nya dengan MacBook di depan, mengabaikan teman-teman nya yang sedang sibuk membersihkan kelasnya.


Helena yang melihat Rin tidak melakukan apa pun. benar-benar emosi, Helena melemparkan kemoceng itu tapi sayangnya tidak mengenai Rin, karena hanya sampai pada meja ke tiga.


"Kalo lo nggak bantuin kita lebih baik lo keluar."suruh Helena dengan nada yang tinggi, Rin pun beranjak dari duduk nya.


Saat kaki nya akan melangkah keluar, Helena malah menghadang nya.


"Kalo lo nggak ngebantuin kita, gue akan laporin lo ke Bu Lita."ancam Helena.


"Minggir."pinta Rin


"Nggak! lo kira, lo siapa di sek..


"Hachimmm...."Rin bersin tepat di wajah Helena. Helena mematung lalu upil matanya melebar, rasa kesalnya sudah habis, mungkin kalo bisa digambarkan akan ada uap disekitar kepala Helena.


Mereka yang melihatnya terkejut lalu setelah itu tertawa.

__ADS_1


"Ishh iyuhhh gue kena virus ini mah, aishhhh.. RINNNNN..."teriak Helena menggema.


TBC.


__ADS_2