The Enemy

The Enemy
101 (Ending)


__ADS_3

~ HAPPY READING ~


Rendi masih termenung di luar kamar rawat Mamanya, penampilan nya sangat lah kacau, ia menumpukan wajahnya di tangannya menatap ke depan dengan pandangan kosong.



Sesat itu ada seseorang yang mendekat kearahnya, Rendi tahu itu pasti Citra.


"Ngapain lo ke sini lagi Cit, gue ud..


Ucapannya terhenti ketika Rendi melihat siapa orang yang mendekat kearahnya, Rendi langsung beranjak berdiri, ada rasa aneh di dadanya, aneh Rendi merasa jiwanya kembali lagi. Tapi di satu sisi ada rasa kesal di hatinya pada orang itu.


"Ngapain lo kesini?"ujar Rendi dingin lalu memalingkan wajahnya kearah lain.


"Gue cuman mau bicara soal Rey kita."ujar Rin dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan. Rendi mengerutkan keningnya tidak mengerti, jujur Rendi senang saat Rin datang ke sini. Tapi saat Rin menanyakan soal Rey seperti ada ribuan pisau yang menyayat hatinya.


"Gue nggak ada waktu,"tolak Rendi, tidak ada suara dari Rin, lalu Rendi melirik kearah Rin yang menunduk, setelah itu Rin baru mengeluarkan suara.


"Maaf."kata Rin sembari tetap menunduk.


Rendi mengusap wajahnya frustasi, lalu menghela nafas panjang untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya sesaat Rin mengucapkan kata 'Maaf' Rendi benar-benar tidak mengerti dengan hatinya sekarang. Rendi melangkah kakinya kehadapan Rin baru kali ini Ia melihat seorang Rin tertunduk lemah, tak lama tubuh Rin begetar. Rendi membulatkan matanya kaget, "Rin nangis."


Rendi memegang bahu Rin.


"Rin lo nangis?"ucap Rendi panik


"Rin, hei,"Rendi memegang kepala Rin, Rin akhirnya menanggahkan kepalanya dan memalingkan wajahnya kearah lain, Rin tidak ingin Rendi melihat air matanya. Cepat-cepat Rin menghapus air mata nya, Rin tidak tahu kenapa ia menangis tapi rasanya hatinya sangat sesak.


"Maaf in gue,"ucap Rin dengan sisa tangisnya


"Kenapa lo minta maaf?"


"Nggak tahu, tapi maaf."Rendi menggelengkan kepalanya ini bukan Rin yang ia kenal. Rendi langsung memeluk Rin membiarkan Rin menangis sejadinya di pelukannya.


Rin terlihat sangat rapuh sesaat dia menanyakan soal Rey. Lalu Rendi membawa Rin ke kantin rumah sakit agar Rin bisa tenang sejenak.


"Soal Rey, dia kakak gue."ujar Rendi membuka pembicaraan yang cukup mengejutkan.


Rin yang tadinya akan minum tertahan karena pernyataan Rendi.


"Lebih tepatnya Kakak tiri gue, gue tahu dia pernah tinggal di panti sama kayak lo."Rendi menghembuskan nafasnya


"Terus dimana Rey sekarang?"tanya Rin antusias, Rendi tidak menjawab melainkan beranjak dari duduknya lalu menarik tangan Rin untuk keluar dari sana dan membawa Rin di tempat yang membuat hati Rin tambah tidak enak.


Mereka berdua ada diarea pemakaman.


Rin menatap Rendi bingung. Rendi berjongkokkan tubuhnya di ikuti Rin.


"Maaf Rin, tapi Rey udah pergi,"Rin menatap kearah pusara yang bertulisan Rey dengan nama belakang yang sama seperti Rendi.


"Kenapa? Kenapa dia bisa meninggal,"ujar Rin dingin tanpa melihat kearah Rendi


"Dia meninggal karena nolongin gue, karena gue yang nakal selalu ikut balap liar, dan saat malem itu gue kaget karena Rey yang jadi lawan gue, gue waktu dulu sangat benci sama Rey karena Rey selalu jadi kebanggaan bokap gue, saat setelah itu gue ketabrak mobil dan keadaan gue keritis."


"Gue koma beberapa bulan, dan saat gue bangun semuanya udah berubah, Rey meninggal karena mendonorkan jantungnya ke gue, bokap gue tambah benci sama gue, sedangkan Mama gue sekarang jadi gila, semuanya karena gue Rin,"Rendi tidak sanggup untuk melanjutkan ceritanya lagi, Rin langsung memeluk Rendi.


"Coba aja gue dulu nggak nakal,"ujar Rendi menyesal


"Kenapa? Lo nggak bilang sama gue,"tanya Rin setelah melepaskan pelukannya.


"Gue takut lo benci sama gue."Rin menggelengkan kepalanya, Kepala Rin terasa pusing, lalu ia menghela nafas sejenak menepuk dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


"Lo tahu nggak, kenapa Rey pergi dari panti tanpa ngasih tahu gue."


"Soal itu gue nggak tahu, tapi Papa gue adopsi dia katanya cuman buat mancing agar Mama gue bisa hamil."ujar Rendi, Rendi tiba-tiba beranjak dari duduknya lalu menarik Rin.


"Ren mau kemana,"Rendi tidak bicara membawa Rin ke rumahnya. Dan Rendi meninggalkan Rin di ruang tamu, Rin duduk di sofa setelah beberapa saat Rendi kembali membawa sebuah buku. Lalu menyodorkan nya kearah Rin yang nampak bingung.


"Apa ini?"ujar Rin membulak balikan buku yang bersampul hitam itu.


"Buku, punya Rey,"


"Gue tahu lo dari buku itu, gue juga mau deket sama lo dari buku itu, itu semua diary nya Rey, lo akan tahu semua alasan kenapa Rey tiba-tiba ninggalin lo waktu kecil."


Setelah seharian Rin bersama Rendi, akhirnya Rendi mengantarkan Rin pulang.


"Makasih,"ucap Rin setelah turun dari motor Rendi, Rendi pun turun dari motornya lalu melangkah kehadapan Rin.


Menatap bola mata Rin, mulutnya terkunci semua kata-kata tertahan diujung lidahnya tapi jantung berdetak sangat kencang seperti akan keluar dari tempatnya. Lalu Rendi memajukan wajahnya kearah Rin sekarang wajah mereka hanya berjarak 5 centi saja Rin juga bisa merasakan hirupan nafas Rendi. Rendi menuntun tangan Rin lalu meletakkannya ke arah dadanya, Rin bisa merasakan detakan jantung Rendi.


Lalu setelah nya Rendi mencium Rin tepat dibibirnya, Rin membulatkan matanya seketika jantungnya berhenti, Rin tidak tahu harus bagaimana tapi ini tiba-tiba, Rin memejamkan matanya ketika Rendi mulai ******* bibir nya.


Rin akan memaafkan Rendi karena hal ini adalah yang terakhir nya bagi mereka berdua.


~o0o~


Citra dan Helena mempunyai misi khusu untuk merayakan mereka kembali bersama, Helena dan juga Citra sedang mendekor kamarnya.


Mereka nantinya akan merayakan pesta persahabatan, lalu menginap semalam di rumah Helena.


"Pasti nanti malem seru,"


"Pasti Rin akan kaget, saat gue buka pintu kamar dia pasti akan tercengang."ujar Helena sembari menatap keatas, tubuhnya direbahkan di atas kasur, lalu di ikuti Citra.


"Nggak sih dia nggak akan tercengang, pasti Rin bilang 'ngapain buat ginian, gunanya apa, ha ha ha.."lalu mereka tertawa sampai-sampai Helena mengeluarkan air matanya.


Lalu mereka pun ke rumah Rin, selama perjalanan Helena dan Citra terus-terusan membicarakan Rin, yang selalu saat melakukan sesuatu Rin pasti akan bertanya,'Apa gunanya melakukan itu' atau,'apa beruntung nya kita melakukan semual hal itu.'


Rin tidak akan melakukan hal-hal yang menurut tidak berguna bagi dirinya, seorang Rin saat melakukan sesuatu harus adanya rasa timbal balik bagi dirinya.


Setelah sampai ke rumah Rin, Helena dan Citra berlarian menuju pintu utama, saat pintu utama itu terbuka menampilkan nya sosok seorang pria paruh baya yang duduk di kursi roda, sepertinya dia akan berpergian.


"Ada perlu apa kalian kemari?"tanya Herlano, Citra menelan ludahnya baru kali ini dirinya melihat ayah angkat Rin, selama ia berteman dengan Rin Citra tidak pernah sekalipun bertemj dengan Herlano.


"Ka-kam, kami mau ketemu Rin,"


"Rin nya ada Om?"tanya Helana


"Rin dia dia sudah berangkat ke bandara,"jawab Herlano


"Bandara."ucap Helena dan Citra bersama sembari saling pandang. Lalu mereka bari ingat soal kemarin Rin membicarakan kepergian nya.


Mereka langsung pamit dan berlari keluar.


"Ke Bandra sekarang Pak cepat,"suruh Helena pada supir.


Helena menggigit ibu jarinya dengan cemas.


"Kenapa Rin nggak bilang kalo mau berangkat hari ini,"ujar Citra.


Saat setengah perjalanan menuju Bandara, secara bersamaan ada pesan masuk yang dari ponsel mereka, dari no yang tidak di kenal.


📩

__ADS_1


Gue Pamit, Jangan nyusul gue ke Bandara karena gue udah nggak ada di sana.


Tetap temenan iyah kalian berdua, Pesan gue Jangan pernah terpengaruh sama siapa pun, sekalipun orang itu sangat dekat dengan lo.


Isi pesan Rin yang ambigu di kepala mereka berdua.


Sedangkan di tempat lain seorang lelaki tengah mengurung dirinya di kamar, setelah kemarin seorang yang dicintainya memutuskan hubungannya begitu saja, lalu katanya dia akan pergi jauh.


Rendi masih terduduk di sisi ranjang tanpa berniat untuk beranjak dia juga seketika melupakan keadaan ibunya.


Sesaat mendengar suara yang bergemuruh dari kejauhan tubuh Rendi refleks bangun lalu melangkah dengan cepat ke arah jendela, dan tepat itu juga sebuah pesawat melintasi langit.


"Gue akan susul lo Rin, ini semua belum berakhir."


**END


Pict Rin**



Pict Rin ketika rambutnya kembali semula:)



Rin dan Rendi💞




Helena🐰



Helena dan Bara💕



Helena dan Rin🐰🐯




Helena Rin dan Citra



Citra🐭




Citra dan Rendi💟




__ADS_1


**Dahhh The Enemy Pamitt


Maaf kalo novelnya masih acak²kan, aku berusaha lagi revisi😁**


__ADS_2