
~HAPPY READING ~
Rin berlari dan sekarang sudah jauh dari sekolahan nya. Rin tidak tahu harus kemana otaknya benar-benar belum sepenuhnya menerima apa yang Rendi katakan padanya.
Flashback
Rin dan Rendi masih berada di atap rooftoop sembari melihat pemandangan sekolah dari atas, sesekali semilir angin menyapa mereka.
"Gue adiknya Rey,"ujar Rendi, setelah memberi jeda beberapa menit sebelum berbicara.
Rin yang mendengar itu hanya tersenyum miring sembari menggelengkan kepalanya.
"Konyol."komentar Rin.
Atensi Rendi yang tadinya menatap lurus ke depan, sekarang tertuju pada Rin.
"Gue serius."tegas Rendi, matanya bahkan bersungguh-sungguh atas pernyataannya.
Rin mendongkak kan kepalanya menatap Rendi, yang lebih tinggi dari nya.
"Rey nggak punya adik, dia bahkan nggak punya orang tua,"mata Rin mulai berkaca-kaca saat mengingat sosok Rey.
"Karena itu orang tua gue mengadopsi Rey, supaya mereka mempunyai keturunan dan mereka berhasil, gue lahir."
"Jadi orang tua lo yang ngambil Rey,"ucap Rin dengan nada bicara yang lumayan tinggi.
"Bukan orang tua gue, tapi gue."ujar Rendi sambil menundukkan kepalanya, rasa bersalah nya kembali muncul. Rin mendekat ke arah Rendi.
"Mana Rey."tanya Rin bersamaan dengan air matanya yang mengalir di pipinya.
"Rin.."Rendi hendak menghapus air mata Rin, tapi sebelum pipi Rendi menyentuh pipi Rin, tangannya langsung di tepis oleh Rin.
"MANA REY..."teriak Rin, Rendi memegang bahu Rin kuat.
"Rey udah nggak ada, dia ngorbanin dirinya buat gue."
"Maksudnya?"
"Dia ngedonorin jantungnya buat gue,"ujar Rendi sembari menundukkan kepalanya.
Rin masih tidak percaya, Rin mendorong Rendi tapi tidak sampai terjatuh.
"Maaf in gue Rin..."Rendi menundukkan kepalanya lantai.dalam, rasa bersalah terus saja singgah di hati Rendi, walaupun sebenarnya tidak ada yang harus di salahkan di sini.
Flashback of
Rin menghela nafas lalu melihat ke atas agar air matanya berhenti mengalir, setelah itu Rin mendekat kearah Rendi dan memeluknya. Mereka berdua saling berpelukan sembari menangis.
Saat mengingat hal itu hati Rin seakan sesak, Rin ingin marah pada Rendi tapi di satu sisi Rin percaya kalo Rendi tidak mungkin melakukan hal seperti itu.
Tanpa Rin sadari kakinya telah melangkah jauh, Rin tidak berniat untuk pulang ke rumah nya karena masih kesal dengan kakak nya jadi Rin memutuskan untuk tinggal di Apartemen terlebih dahulu.
~o0o~
Helena turun dari tangga dengan semangat yang menurun, setelah kejadian pemilihan ketua OSIS semangat hidup Helena semakin hari, semakin menurun.
"Ayo Hel, cepet sarapan,"suruh Hana, Hana mengambil kan nasi goreng ke dalam piring Helena.
"Semangat dong, kamu kenapa sih?"tanya Hana yang mulai khawatir dengan sikap Helena.
Helena hanya menggelengkan kepalanya, dan mulai memakan nasi goreng buatan Hana.
"Kok nggak pake jam Rolex nya?"
"Kenapa rambutnya nggak di pakein jepit,"
__ADS_1
"Ini polos banget loh Hel."ujar Hana sembari memegang rambut Helena.
"Kamu udah beberapa hari nggak lagi pake Aksesoris kenapa?"pertanyaan Hana lagi-lagi tidak di jawab oleh Helena.
Setelah selesai sarapan, tanpa kata Helena langsung keluar menghiraukan teriakan Mamanya.
Helena berjalan keluar, dan menyuruh supir untuk mengantarnya ke sekolah, langsung menyiapkan mobilnya setelah siap Helena langsung naik ke dalam mobil. Walaupun masih terlalu pagi ke sekolah Helena tidak peduli yang terpenting ia tidak lagi mendengarkan ocehan dari Mamanya.
Helena sampai ke sekolah pukul setengah tujuh, Siswa yang datang pun hanya ada beberapa saja. Helena langsung berjalan ke arah kelas nya.
Prang......
Bunyi benda jatuh terdengar dari dalan kerasnya.
Helena ragu untuk melangkah ke arah kelas nya, padahal tinggal melewati satu kelas lagi.
"Hufttttt...."Helena menghela nafas untuk menenangkan hatinya.
"Oke tenang Hel jangan takut, itu pasti kucing."dengan perasaan yang takut akhirnya Helena melangkah kearah kelasnya dan masuk ke dalam kelas.
Dan betapa terkejut nya Helena, melihat teman kelas nya tergeletak di lantai.
"Sindy..."Helena langsung melihat keadaan Sindy.
"Sin...Sindy bangun.."Helena menepuk-nepuk pipi Sindy agar terbangun, saat Helena mengangkat kepala Sindy ke pangkuan nya, Helena malah melihat darah segar keluar dari baju seragam Sindy dan itu berada di area perut.
Helena semakin panik, Helena langsung menghubungi ambulance terlebih dahulu. Setelah itu Helena berlari keluar untuk meminta pertolongan.
Helena meminta bantuan pada pak Satpam, setelah itu menghubungi para guru. Dan tidak lama kemudian mobil ambulance pun datang.
Sudah banyak Siswa yang datang ke sekolah, mereka terkejut melihat ambulance yang berada di area sekolah.
Sandra dan Vita pun sama hal nya seperti Siswa lain, tapi pada saat mereka sampai Ambulance sudah pergi.
"Vit, tadi lo liat mobil Ambulance kan,"
"Arah nya kayak habis dari sekolah kita."
"Husstt... Jangan ngomong gitu San,"ujar Vita menepis pikiran buruk dari otak Sandra.
Saat mereka telah sampai di depan kelas, sudah ramai orang dan Pak Satpam tidak mengijinkan Siswa kelas ini untuk masuk.
"Pak, kenapa kami nggak boleh masuk?"
"Iya Pak kenapa?"
"Udah sekarang kalian semua ke kantin aja Yah, atau nggak ke perpus."suruh Pak Satpam
"Emang kenapa sih, Ki?"tanya Vita pada Rizki yang dari tadi melamun.
"Ada yang nusuk perut Sindy.."jawab Rizki pelan
"APA..."teriak Vita kaget, jadi Ambulance yang dia dan Sandra liat ternyata sudah dari sekolah nya dan membawa Sindy.
"Vita, jangan teriak.."
"Untuk anak kelas MIPA 1 kita untuk hari ini belajar nya di perpus Yah..."Kata Bu Lita yang baru saja datang, dan menyuruh mereka semua untuk belajar di perpustakaan.
~o0o~
Sedangkan Helena di bawa ke UKS, sejak tadi Helena tidak mau berbicara tatapannya kosong, tangan Helena dingin.
Bu Lita masuk ke dalam UKS,"Hel, Ibu panggil Mama kamu yah biar dia ke sini,"
"Jangan."tolak Helena, Bu Lita pun memeluk kepala Helena.
__ADS_1
"Helena takut Sindy mati.."ujar Helena
"Nggak, Sindy nggak akan mati kamu jangan ngomong kayak gitu,"
"Helena takut."
"Helena nggak usah takut, ada Ibu di sini."
Bu Lita melepaskan pelukannya dan menatap Helena.
"Saat Helena masuk ke kelas dan melihat Sindy, apa yang terjadi sebelum itu?"
"Hikss...sebelum itu Helena denger ada suara seperti barang yang jatuh."
"Barang yang jatuh.."gumam Bu Lita
********
"Oke gua Absen yah..."ujar Rizki lalu mulai mengabsen teman-teman nya
"A...
"B.....
"Cindy.."
"Hadir, hiks..."sahut Cindy sembari menangis, sesaat mendengar berita tentang sahabat nya.
"D...
"E....
"F...
"Gio..."
"Hadir.."teriak Gio semangat
"Helena..."
"Helena..."
"Oh yah gue lupa Helena kan di UKS kata Bu Lita."gumam Rizki dan lanjut mengabsen
"Rin.."
"Rin..."
"Rin..."
"Rin nggak ada yah?"tanya Rizki pada teman-teman nya. Dan mereka semua menggelengkan kepala
"Oke Alfa, Rizki... Hadir..."ujar Rizki sendrii.
"Sandra..."
"Hadir.."
"Sera...."
"Ha–dir."jawab Sera gugup seperti biasanya.
"Vita.."
"Hadir."
__ADS_1
"Kalian jangan ribut, ini perpus gue mau ke ruang Pak Anton dulu."setelah Rizki keluar dari perpustakaan teman-teman langsung gaduh membicarakan apa yang tadi pagi terjadi. Sedangkan Cindy terus-terusan menangis.
TBC.