The Enemy

The Enemy
Chapter 42 (Revisi)


__ADS_3

Rin bingung sekarang dirinya harus apa, berbicara terus terang pada Helena kalo bukan dirinya yang mengajak mereka semua atau membiarkan Helena terus-terusan menyalahkan nya.


"Hufttt..."Rin menghela nafas lelah, lebih baik Rin tidak punya satu teman pun.


"Cuman Rey yang bisa bikin hati gue tenang, kemana kamu Rey."Rin merindukan seseorang yang dapat mengerti nya, tapi orang itu sudah menghilang Rin tidak tahu dia kemana.


Rin melangkah keluar gerbang, Rin memutuskan untuk bolos sekolah.


~o0o~


Bara sekarang jadi sosok yang pendiam, ia tidak lagi semangat dalam menjalani hidup, Bara orang yang tidak bisa melakukan semuanya sendiri, ia selalu menginginkan seseorang dapat mengatur hidupnya. Bara pikir Helena menyukai nya ternyata ia salah.


Bara dengan malas berjalan ke loker, dan membuka loker itu untuk mengambil buku paket, karena sekarang dirinya sudah menjadi kelas 12 itu berarti ia harus lebih giat belajar.


Saat membuka loker, betapa terkejut nya Bara saat mendapati banyak sekali surat dan juga coklat. Surat itu semuanya berwarna pink, Bara mengambil semua suratnya. Bara hendak membuang surat itu tapi otaknya berkata lain jadi Bara memilih untuk membawa ke rumah nya.


~o0o~


Saat ini Rin sedang berada di tengah pasar tradisional, kakinya begitu saja melangkah. Mungkin saja Rin benar-benar merindukan masa lalu nya. Banyak orang yang melihat ke arah Rin dengan tatapan aneh. Bagaimana bisa anak sekolah ke pasar tradisional di waktu jam pelajaran dan yang bisa melakukan hal seperti itu hanya siswa yang nakal.


Rin, melihat banyak sekali orang yang sibuk, berjalan ke sana kemari. Rin melirik jam nya sudah hampir jam dua lewat. Jadi sedari tadi Rin berkeliling pasar menghabiskan 3 jam lebih wah luar biasa


Rin memutuskan untuk pulang, saat sudah keluar dari area pasar, tiba-tiba langit mendung dan setelah itu hujan datang. Rin melihat orang lain berteduh tapi Rin memutuskan untuk terus melangkah. Bahkan pengendara motor pun ikut berteduh juga.


Rin berjalan ke arah halte bis, karena jarak rumahnya dengan pasar Rin kunjungi terbilang jauh jadi Rin memutuskan untuk naik bis.


Saat Bis datang Rin langsung naik dan masuk bis, tidak banyak orang di sana tetapi Rin memutuskan untuk tetap berdiri, karena Rin sadar diri kalo pakaian yang ia pakai basah. Setelah sampai di halte berikutnya Rin turun, setelah itu Rin berjalan beberapa meter untuk samapi kerumahnya.


Setelah sampai rumah yang nampak sepi, Rin langsung ke kamar nya untuk mandi. Setelah membersihkan dirinya dan juga sudah memakai pakaian rumahan, perut Rin terasa lapar jadi Rin pergi ke dapur.


"Non, Rin mau makan apa?"tanya ART di sana, tapi Rin tidak menjawabnya dan malah melangkah ke rak, Rin mengambil pop mie di sana. Setelah memberikan air panas di pop mie nya Rin kembali ke dalam kamar nya.


Rin memakan pop mie sembari, memainkan MacBook nya. Rin memakan pop mie dengan roti yang selalu ia makan. Bahkan Rin mencelupkan roti itu ke dalam pop mie.


~o0o~


Sedangkan di tempat lain, Badan Helena yang tadinya terasa sakit sudah di atasi dengan di urut oleh seorang ibu-ibu.


Helena sekarang sedang merebahkan dirinya di kasur, Helena memeriksa sosial media sekolah nya tapi tidak ada info apa- apa, lalu Helena berpindah ke akun sosial Xtzeen.


"Hah, pemilihan ketua osis akan segera di langsung kan."Helena terkejut, akun Xtzeen update lebih aktif di bandingkan akun sosial media sekolah nya.


"Gue harus ikut nyalonnin diri jadi ketua Osis."ujar Helena.


Tok..tok..


"Non Helena, ada temen Non katanya ketemu."teriak Bi Siti dari luar.


"Suruh masuk aja Bi."jawab Helena yang masih fokus dengan gadget di tangannya.


Setelah itu pintu kamar Helena terbuka, menampilkan seorang gadis berambut sebahu yang langsung berlari ke arah Helena dan memeluk Helena.


"Hel, maafin gue."ujar Sandra, Helena terdiam mematung otaknya masih loading.


"San, lo.."


"Gue minta maaf Hel."sela Sandra yang sudah melepaskan pelukannya.


"Nggak San, gue yang harusnya minta maaf, gue udah bikin lo sakit hati."


"Udah Hel, gue baru ngerti semuanya saat Kak Bara bilang ke gue lo yang nolak Kak Bara, Maafin gue yah Hel."


Akhirnya masalah Helena dan Sandra terselesaikan. Helena lega karena itu, ia tidak ingin kehilangan seorang teman lagi.

__ADS_1


~o0o~


Akhirnya setelah tiga hari tidak sekolah. Hari ini Helena dapat sekolah lagi, ia sedikit takut tertinggal informasi.


Helena turun dari mobilnya dan tidak sengaja ia melihat motor Bara lewat, Bara membonceng seorang gadis. Cepat sekali pikir Helena.


Setelah itu Helena memutuskan untuk langsung masuk ke dalam. Saat berjalan di koridor, Helena melihat siswa yang berkerumun di depan mading. Helena yang penasaran pun langsung melangkah ke sana.


"Misi, misi.."Helena melihat berita calon ketua OSIS yang baru, dan betapa terkejut nya ia melihat nama musuhnya berada di sana. Helena berbalik arah.


"Kok bisa, Rin nyalonin diri."


"Eh.. Gue mau tanya dong, pendaftaran untuk ketua OSIS masih bisa nggak."tanya Helena kepada Siswa yang ada di sana.


"Bisa kali, coba aja tanya langsung ke ruangan OSIS nya."Helena mengangguk mengerti.


"Thanks."setelah itu Helena langsung pergi menuju ruang OSIS.


Helena tidak ingin terlambat lagi, bisa-bisa nya Rin mendaftarkan dirinya sebagai ketua OSIS untuk sekedar mengurus dirinya saja tidak bisa, apalagi mengatur seluruh siswa di sekolah ini. Helena benar-benar makin tidak mengerti dengan jalan pikiran seorang Rin Leach.


~o0o~


"Rin, nanti kalo lo udah keterima pilih gue ya, yang jadi wakilnya."pinta Rizki, Rin tidak menjawab atau merespon permintaan Rizki, Rin hanya fokus dengan MacBook di hadapannya.


Rizki yang melihat itu kesal. Dan dengan beraninya Rizki menutup MacBook Rin dengan kasar. Membuat pemiliknya langsung melotot tajam. Rin beranjak dari duduknya.


"Lo nggak sopan, gue tadinya mau lo yang jadi wakil gue tapi sifat nggak sabaran lo buat gue benci."ucap Rin dan pergi dari sana. Rizki yang mendengar hal itu hanya menghela nafas lelah.


"Ishh, dia yang bikin gue nggak sabaran, sifat nya yang nggak bisa di mengerti."gerutu Rizki.


Helena masuk ke dalam kelas, Rizki langsung menghampiri Helena dan mencalonkan dirinya sebagai wakit ketua OSIS.


"Hel, lo ikut jadi ketua OSIS nggak?"sebelum itu Rizki bertanya terlebih dahulu karena pasalnya Helena baru masuk sekolah. Helena menaruh tas nya lalu duduk di kursinya.


"Lo udah ada wakilnya belum,"


"Belum sih Ki, emang kenapa sih."Dan ini kesempatan Rizki untuk mencalonkan dirinya.


"Nanti kalo lo udah menang, tunjuk gue ya, yang jadi wakilnya."pinta Rizki.


"Oke deh, tapi lo harus bantu gue buat anak-anak milih gue."


"Pasti, gue bantu."jawab Rizki


~o0o~


"Rin, lo nyalonin diri buat jadi ketua OSIS."tanya Rendi, yang tiba-tiba datang ke rooftop dan membuat mood Rin buruk.


Rin tidak menjawab pertanyaan Rendi, setelah itu Rin beranjak dan pergi dari sana. Otak dan pikiran Rin terasa lelah, di tambah dengan perutnya yang lapar, jadi Rin memutuskan untuk pergi ke kantin. Kantin nampak sepi dan itu yang Rin harapkan.


Rin hanya memesan minuman saja, untuk makanan Rin selalu membawa roti dari rumahnya.


Saat sedang mengistirahatkan otaknya dan mengisi perutnya, pengganggu ke tiga datang.


"Hufft..."Rin menghela nafas kasar sesaat dia sudah duduk di hadapan Rin.


"Kalo, lo nanya kenapa gue ikut mencalonkan jadi ketua OSIS, gue bakal pergi."tukas Rin, karena capek selalu di tanya seperti itu, memang nya kenapa kalo dirinya mencalonkan jadi ketua OSIS apa ada yang salah.


"Nggak kok, gue cuman mau bantu lo buat anak-anak milih lo jadi ketua OSIS."ujar Rendi. Rin menatap mata Rendi dalam, mencari letak kebohongan atau ada sesuatu tapi Rin tidak menemukan nya, Rin melahap rotinya sampai habis, sebelum berbicara ia menyeruput jus nya terlebih dahulu.


"Oke, lo boleh bantu gue, nanti pulang sekolah ke rumah gue."ucap Rin dan pergi meninggalkan Rendi.


~o0o~

__ADS_1


Sesuai perkataan Rin di kantin. Pulang sekolah Rendi langsung ke rumah Rin.


"Nak Rendi, di suruh langsung ke kamar Non Rin, mari ikut saya."ujar ART di sana. Rendi menganggukkan kepalanya lalu beranjak mengikuti ART.


Sekarang Rendi berdiri di pintu berwarna coklat, jantung Rendi berdetak dua kali lipat.


"Kenapa harus di kamar sih,"ujar Rendi, tapi setelah itu, Rendi mengetuk pintu kamar. Dan keluar lah Rin dengan pakaian santai nya. Rin menyuruh Rendi untuk masuk ke dalam.


Setelah itu Rendi masuk, dan ini pertama kalinya ia masuk kedalam kamar perempuan. Rendi melihat sekeliling kamar Rin yang bernuansa monoton, hanya ada rak buku meja belajar ranjang. Tidak ada aksesoris atau boneka, atau hiasan kamar yang bisa mempercantik kamarnya. Rendi lupa ia di kamar seorang Rin Leach.


Rin berjalan ke arah rak buku, lalu mencabut satu buku, setelah itu rak itu membuka seperti hal nya pintu. Redi yang melihat itu terkejut sekaligus takjub. Rin dan Rendi masuk ke dalam ruangan itu.


Ternyata di sana tempat penyimpanan komputer, bukan hanya komputer tapi teropong untuk melihat bintang pun ada.


Rin duduk di kursi, lalu tangan lentik nya mulai menghidupkan salah satu komputer itu, Rin menyuruh Rendi untuk mendekat. Rin menunjukan strategi untuk memenangkan dirinya dari OSIS.


"Oke, gue cuman nyebarin foto doang kan."tanya Rendi, karena Rendi tahu kalo Rim sedikit pemalu.


"Iya, yang buat visi misi, biar gue aja."


Rendi mengangguk, Rendi melihat-lihat ruangan itu. Hanya ada poto polaroid, Rendi mendekat ke arah poto. Di dalam foto itu ada tiga orang anak kecil.


"Ini.. Re–."hampir saja Rendi menyebutkan nama Rey, di hadapan Rin. Rin hanya melirik Rendi sekilas setelah itu fokus lagi dengan komputernya.


Sedangkan di tempat lain, Helena juga tengah sibuk mengurus foto mana yang akan jadi time lain dan di jadikan brosur.


"Yang ini aja Hel,"


"Ini aja Hel, lucu lo pake bando."saran Sandra yang mendapatkan tatapan sinis dari Helena.


"Ini aja Hel, ini formal."Vita menunjukan foto, Helena yang tengah memakai seragam.


"Ya udah, yang ini."Helena pun setuju.


"Si Rizki mana sih katanya mau ngebantu."ucap Helena kesal, pasalnya Rizki belum sampai kerumahnya. Saat tadi Helena chat, Rizki bilang kalo dia sudah di jalan tapi audah beberapa menit berlalu Rizki belum juga sampai.


"Emang si Rizki mau bantu apa,"tanya Vita kepo.


"Ini,"Helena menunjukan foto dia yang nanti akan di sebarkan,


"Gue suruh dia buat ngeprint ini semua terus di sebarin deh."


"Hel, bukannya harus menyampaikan visi misi dulu baru boleh nyebarin foto.."


"Iya, biar aja sekarang di print nya,"setelah itu, tak lama kemudian Rizki datang tapi tidak sendirian. Rizki datang bersama dengan Gio.


Vita yang melihat Gio, langsung cemberut.


"Kenapa juga si Gio dateng."gerutu Vita


"Sorry Hel gue telat, gara-gara si Gio nih."


"Ya lo Ki, ngajaknya ngedadak,"sahut Gio


"Siapa juga yang ngajak lo, bukannya lo yang terus-terusan nelepon gue buat ikut ke rumah Helena."elak Rizki.


"Udah-udah, meningan lo berdua ke tempat poto copyan, nih ngeprint poto gue."suruh Helena,


"Yah Hel baru juga dateng."ujar Gio, sembari duduk


"Bodo amat."ujar Helena sembari memutar bola matanya kesal.


"Ayo, Yo."Rizki langsung menarik Gio keluar.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2