The Enemy

The Enemy
Chapter 47 (Revisi)


__ADS_3

~HAPPY READING ~


"Siapa yang tidak hadir Riz?"tanya Pak Anton selaku guru BK di sekolah itu.


"Ri–n Pak."jawab Rizki gugup, Pak Anton menganggukkan kepalanya.


"Bukankah Rin itu adik dari Pak Rivano, kepala sekolah ini."ujar Anton sembari membenarkan kacamata nya, membuat suasana menjadi lebih serius.


"Iya Pak."


"Apa Rin punya masalah dengan Sindy,"


"Setahu saya tidak punya, dan Rin saat ini sudah menjadi wakil Siswa jadi seharusnya dia tidak punya masalah pada siapapun."


Anton menganggukkan kepalanya atas jawaban Rizki.


"Tapi Pak, waktu itu Sindy sesekali menyindir Rin dan berkomentar pedas pada Rin."


"Oke sekarang silahkan kamu kembali ke perpus, saya akan selidiki lebih jauh tentang Rin."


"Baik Pak,"Rizki pun keluar dari ruangan Pak Anton


*******


Rendi sengaja mengunjungi perpustakaan hanya untuk melihat Rin. Mata Rendi terus menelusuri segala sudut perpustakaan tapi orang yang dia cari tidak ada.


"Kemana Rin?"tanya Rendi pada dirinya sendiri. Setelah itu Rendi memutuskan untuk kembali ke kelas nya.


Tadinya dia ingin menanyakan keberadaan Rin, tapi ketika melihat situasi yang sekarang Rendi rasa tidak bisa.


Saat kembali dari kelasnya, ternyata sudah ada yang menunggunya Rendi tersenyum kearahnya lalu mendekat.


*******


Setelah banyak pertimbangan, akhirnya Helena memutuskan untuk pulang ke rumah nya.


Saat Hana melihat Helena pulang lebih awal dan di antar kan oleh temannya, hati Hana langsung tidak enak, saat bertanya langsung pada Helena. Helena hanya diam lalu memeluk Hana dengan erat.


Sekarang Helena sedang tidur, Mungkin dia lelah karena terlalu banyak menangis. Hana memutuskan untuk keluar kamar Helena.


Saat Hana keluar beberapa menit yang lalu, Helena yang tidur sekarang sudah terbangun lagi.


Helena mendudukkan dirinya di ranjang, otaknya kembali memikirkan kejadian pagi tadi, Helena takut terjadi apa-apa pada Sindy.


Matanya tidak sengaja melihat ponselnya yang berada di atas naskah, Helena akan bertanya pada Rizki, bagaimana keadaan Sindy sekarang.


"Halo.."Suara di sebrang sana


"Halo, Ki,"


"Ada apa Hel?."


"Sind–y gimana keadaan nya,"


"Kata Bu Lita, keadaan Sindy udah mulai membaik walaupun sempet kritis karena ke kekurangan darah."


Saat mendengar hal itu hati Helena agak sedikit tenang,


"Oke thanks yah Ki,".


"Hel, tunggu jangan di tutup dulu,"


"Kenapa?"


"Gue mau kasih tahu lo, nanti besok lo sama gue di suruh ke ruangan Pak Anton."


"Apa lagi ini,"gumam Helena sembari mengusap wajahnya.


"Hel.."panggil Rizki di sebrang sana


"Iya, udah gue tutup."


Setelah itu Helena menutup telepon nya. Saat akan meletakan ponselnya keatas naskah, ponselnya kembali berdering.


Yang tertera di sana nama Vita, Helena mengabaikan saja panggilan itu dan kembali tertidur. Vita pasti akan bertanya hal yang sama Helena tahu itu.


*********

__ADS_1


Besok nya, Rin tidak datang lagi ke sekolah dan hal itu membuat Siswa di sekolah Victoria semakin yakin jika Rin yang mencoba membunuh Sindy.


Helena dan Rizki kembali di interogasi oleh Pak Anton.


"Menurut kalian siapa di antara teman kelas kalian yang melakukan hal itu pada Sindy?"


"Rin."jawab Rizki tanpa keraguan, yang membuat Helena terkejut sembari melirik Rizki.


"Bukan Rin Pak,"kali ini jawaban Helena juga membuat Rizki terkejut, dan menatap Helena lalu berucap


"Hel, semua kecurigaan mengarah ke Rin,"


"Itu kecurigaan kan bukan bukti."


"Rin nggak masuk sekolah dua hari dan itu tanpa keterangan, coba lo pikir Rin tiba-tiba mencalonkan dirinya jadi ketua OSIS bukan kah selama ini Rin tidak tertarik dengan hal seperti itu."sahut Rizki, Helena yang mendengar hal itu juga menatap Rizki. Dan sekarang mereka seperti mengabaikan keberadaan Pak Anton yang berada di depan.


"Rin mencalonkan ketua OSIS itu tidak ada kaitannya di sini, kenapa sekarang lo jadi nuduh Rin yang engga-engga, hanya karena Rin nggak milih lo jadi wakilnya."balas Helena


"Lo juga kenapa sekarang jadi bela dia."


"Gue bukan ngebela, karena gue tahu Rin dia orang bukan seperti itu."


"Sejahat-jahatnya Rin, dia nggak akan pernah main fisik, apalagi dengan tangannya sendiri, Rin bukan seperti itu."


Rizki bungkam atas ucapan Helena yang penuh emosi itu.


"Yasudah, menurut kamu siapa Hel?"


"Sera."


*********


Chapter 78


Hari ini hari ketiga, apakah Rin hari ini sekolah atau tidak. Tetapi ternyata Rin tidak sekolah, dan hal itu membuat kecurigaan Rizki semakin menguat kalo yang mencoba untuk membunuh Sindy adalah Rin.


"Seharusnya Kak Rivano tahu soal ini,"ucap Rizki yang duduk di meja sedangkan Helena duduk di bangku.


"Nggak perlu."ujar Helena. yang berada di dalam kelas tinggal Helena dan Rizki.


"Itu perlu Hel,"tegas Rizki lalu turun dari meja.


"Hel kita..


"Kita seharusnya nyelidik Sera."potong Helena dan beranjak dari duduknya.


"Sera, Sera nggak harus di curigai sikapnya seperti biasa jadi apa yang harus di selidiki."


"Karena dia deket dengan Sindy, selain Cindy."


"Kenapa lo sekarang ngebela Rin terus, bukannya itu bagus yah Hel nama Rin nantinya jadi jelek, dan bisa jadi nanti lo yang gantiin Rin jadi ketua OSIS."


"Gue nggak selicik itu, gue bukan bela tapi gue tahu Rin nggak mungkin ngelakuin hal kayak gitu."


"Tapi Rin itu..


"Gue udah kenal Rin dari kecil."pungkas Helena lalu pergi dari sana meninggalkan Rizki. Helena sekarang jadi mulai membenci sikap Rizki yang seperti itu, Helena tahu Rizki masih marah terhadap Rin tapi bukan berarti Rizki menuduh Rin begitu saja.


*******


Esok nya. Sekolah sudah masuk seperti biasanya, Helena dan teman-teman nya juga sudah kembali kedalam kelasnya.


Pelajaran pertama sudah di mulai mereka mulai memperhatikan guru di depan. Tapi saat beberapa menit kemudian ada seorang murid yang masuk dan membuat perhatian mereka teralihkan pada murid tersebut.


Dan murid itu adalah Rin, Rin masuk seperti tidak ada apa-apa, Rin juga meminta maaf karena telat setelah itu guru yang mengajar mempersilahkan Rin untuk duduk di tempat duduk nya.


Yang menjadi perhatian mereka, ialah tangan kiri Rin yang di perban, seperti Rin sudah mengalami luka di tangan kiri nya.


Setelah sudah duduk di kursi nya, ada seseorang murid, murid itu menyuruh Rin untuk keruangan BK.


Rin dengan tenang pung berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Sesudah sampai di sana Rin di hadapkan dengan guru BK tak lain ialah Pak Anton.


"Silahkan duduk Rin Leach."Pak Anton menyambut Rin dengan hangat, Rin pun duduk.


"Bapak tidak ingin basa basi dan hal itu juga tidak di sukai oleh kamu bukan, sudah tiga hari kamu tidak masuk Rin."Rin tidak menjawab atau pun mengangguk.


"Kemana saja kamu tiga hari itu?"

__ADS_1


"Bukan urusan Bapak."jawab Rin dengan wajah datarnya.


"Kamu tahu tentang kejadian soal Sindy?"


"Sindy hampir saja terbunuh, Bapak bukan mau menuduh kamu tapi tidak hadir mu di sekolah membuat Siswa di sekolah ini mencurigai mu."


"Bukan saya."


"Oke kalo bukan kamu, kemana kamu tiga hari itu?"Pak Anton mengajukan pertanyaan yabg tidak mampu Rin jawab, ada jeda dan saat itu bel istirahat berbunyi dan ini kesempatan Rin untuk pergi.


"Sudah Bel, jadi saya permisi."


"Nanti Rin jawab dulu pertanyaan Bapak."Rin tidak menghiraukan Pak Anton, Rin tetap pergi keluar ruangan dan mengabaikan permintaan Pak Anton.


Pak Anton menghela nafas lelah, sulit sekali untuk meminta penjelasan dari Rin. Mungkin saja yang dapat mengatur Rin hanya Kakaknya saja, jadi Pak Anton memilih untuk meminta bantuan Rivano.


*********


Rin berjalan lurus ke depan tidak peduli dengan pandangan teman-teman nya. Setelah mengambil MacBook yang berada di kelas Rin langsung berjalan ke arah kantin, memesan makanan.


Rin memakan makanannya dengan santai, dan jangan lupakan Rin masih memakai jas ketua OSIS, karena Rin belum memundurkan diri nya jadi ketua OSIS.


Saat sedang asik makan sembari memainkan MacBook nya. tiba-tiba seseorang datang dan menarik Rin untuk berdiri.


"Keterlaluan kamu Rin."


"Apa masalah anda Tuan Rivano."ujar Rin yang membuat Rivano tambah marah.


"Kau seharusnya sekarang berada di pengadilan."


"Untuk apa, aku tidak salah."teriak Rin


"Kakak seharusnya percaya pada ku, semenjak menjadi keluarga Leach kakak sudah tidak sama seperti dulu, apa jangan-jangan Herlano yang membuat rumor seperti itu."


Plakkk


Rivano menampar Rin, dan hal itu juga di tonton oleh orang yang berada di kantin.


"Jangan bawa-bawa Ayah, ayok ikut."Rivano menarik Rin dengan paksa.


********


Rivano membawa Rin keruangan nya, di situ Rivano memarahi Rin habis-habisan. Bahkan Rin yang sudah biasa di marahi Kakak nya sekarang tampak tidak bisa melawan Rin memejamkan matanya.


"Tiga hari, kau menghilang setelah membuat teman mu celaka."


"Bukan Aku, hari ini aku benar-benar tidak sekolah."elak Rin, dengan nafas tersengal.


"Kenapa, tidak sekolah kemana kau pas hari itu."Rivano masih menyudutkan Rin untuk meminta kejelasan yang pasti.


"Pokoknya bukan aku."jawab Rin sambil menundukkan kepalanya, hal ini benar-benar bukan sosok Rin Leach.


"Buka Jas itu, Kau tidak pantas jadi wakil Siswa."suruh Rivano.


Rin mengepalkan tangannya sembari melihat ke arah Kakaknya, Kakak nya benar-benar sudah berubah bukan lagi Rivano yang pengertian terhadap adik nya.


Rin dengan kasar membuka jas nya, setelah itu melemparkan jas itu ke arah Rivano dengan kasar. Saat Rivano ingin menegur Rin, Rin sudah terlebih dulu meninggalkan ruangan itu, Bahkan saat keluar Rin menutup pintu dengan keras.


Rin keluar hanya memakai kaos seragam berwarna putih tanpa memakai jas sekolah Victoria. Kaki Rin berjalan ke arah kelas Rendi, saat ingin masuk kelas yang seperti sepi Rin malah menemukan Rendi dan Citra berpelukan.


Setelah itu Rin tidak jadi untuk masuk ke kelas itu, tujuan Rin sekarang keluar dari area sekolah ini.


Saat berjalan menuju pintu utama, dari atas itu Rin di lempari cairan warna meras seperti jus tomat, saat Rin melihat ke atas banyak anak-anak Victoria menumpahkan jusnya ke bawah, bahkan mereka semua meneriaki Rin dengan embel-embel membunuh, padahal kan itu belum pasti.


Rin keluar dari sekolah dengan keadaan kacau balau, sebelum ada polisi Rin sudah keluar terlebih dahulu dari sekolah itu.


Helena yang melihat itu merasa kasihan terhadap musuhnya, Helena memutuskan untuk mengikuti Rin dari belakang. Helena mengikuti Rin sampai Rin masuk ke dalam gedung Apartemen.


"Jadi si Batu sekarang tinggal di sini."gumam Helena, lalu saat Rin akan masuk ke dalam Apartemen nya, Rin melihat ke kanan kiri, otomatis Helena terkejut dan langsung bersembunyi di balik tembok.


"Hampir aja."ucap Helena sembari memegangi dadanya.


"Helena."


Helena terkejut ada yang memanggilnya, dan menyentuh pundak kanannya.


"Bukannya Rin udah masuk yah."pikir Helena.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2