The Enemy

The Enemy
Chapter 90


__ADS_3

~HAPPY READING ~


Helena melangkahkan kakinya ke depan ruang kerja Rivano. Helena membuka pintu itu lalu masuk ke dalam ruangan itu, saat membalikan badan nya.


"Ahhh...."Helena refleks teriak, karena kaget dengan apa yang di lihatnya.


"Aishh Kak Rivano,"gerutu Helena sembari mengusap dadanya kaget.


Rivano yang juga sama terkejut melototkan matanya, lalu menatap Helena dengan tatapan bingung.


"Siapa?"tanya Rivano yang tidak tahu kalo itu Helena.


Helena menggaruk rambutnya, lalu membungkuk kan badan ya sembari memgucapkan kata maaf, setelah itu Helena membuka pintu dan keluar dari ruangan Rivano.


"Aduh...hampir aja, kenapa gue bisa kesana."Helena akhirnya tidak jadi ke dapur, Helena memilih untuk kembali ke kamar Rin.


Tapi saat sudah masuk ke dalam kamar, kamar itu sepi tidak ada si pemilik di sana.


"Si Rin kemana?"saat Helena akan melangkah kan kakinya ke ruang komputer, pintu kamar Rin terbuka dan menampilkan si pemilik kamar.


"Kemana aja lo?"Tanya Rin melangkah kan kakinya ke hadapan Helena.


"Gue, gue.."_Helena sulit memberi tahu Rin kalo dia nyasar ke ruang Rivano.


Rin mengerenyitkan keningnya, Rin memutar bola matanya dan mengedikan bahunya, tanda kalo Rin tidak mau peduli.

__ADS_1


Rin memberitahu Helena kalo Helena mau perusahaan Ayahnya kembali, harus ada campur tangan Rivano yaitu Kakak Rin.


"KAK RIVANO!"suara Helena menggelegar di kamar Rin.


"Iya."ujar Rin meyakinkan.


Bagaimana bisa Helena meminta bantuan Rivano, bahkan untuk bertemu lagi rasa malu itu masih ada.


Rin melihat jam tangannya ini sudah terlalu sore dan Rin takut Kakaknya akan berpergian keluar kota.


Rin berjalan ke arah pintu melewati Helena yang masih melamun.


"Ayo."


"Ayo.."ajak Rin sekali lagi tapi Helena masih tak bergeming di tempatnya.


"Cih.."Rin berdecak kesal, lalu menarik Helena keluar.


"Rin lepas, kita mau kemana."Rin pun melepaskan Helena


"Minta bantuan Kakak gue, sebelum dia pergi keluar kota."


"Tapi gue..."Helena belum selesai bicara Rin langsung menarik Helena ke ruangan Rivano.


*********

__ADS_1


Baru kali ini rasanya Vita tidak nafsu makan, walaupun makanan yang di hidangkan hampir semua kesukaan Vita.


Sedari tadi Vita hanya mengaduk-ngaduk nasinya, matanya melihat sekeliling, ruangan makan yang besar dan langsung tersambung dengan dapur, sekarang bahkan Vita sudah memiliki kolam renang nya sendiri.


Semua itu pasti tak lama lagi akan lenyap, kalo seandainya Rin membantu Helena. Vita menggelengkan kepalanya.


"Nggak, nggak boleh, Helena nggak boleh rebut semua ini dari gue."


Pembantu yang di sana menatap Vita dengan bingung.


"Non, non kenapa, Makananya tidak enak?"


"Ahh nggak kok, tapi emang lagi nggak nafsu aja."jawab Vita lalu beranjak dan pergi ke kamarnya.


**TBC.


Sorry Typo dan Sorry kalo ceritanya makin ke sini, makin ngebosenin🙂


Makasih yah yang udah mau mampir dan yang udah like and komen, makasih banget atas dukungan kalian.


Sebenernya udah ada 4 cerita yang aku Publisin di sini, ada juga di platform lain. Tapi baru kali ini cerita ku ada yg komen Pokoknya makasih banyakkk yahhhh...


Semoga aku bisa memperbaiki cerita inu, sejujurnya aku nggak bisa bikin cerita yang panjang dengan beribu-ribu word, itu aku nggak bisa😌.


hanya baru bisa bikin cuman nyampe 500 word doang, semoga kedepannya aku bisa dan betah buat nulis😊.

__ADS_1


Sekali lagi Makasih, buat kalian yg masih stay di cerita ini🤗**


__ADS_2