
~HAPPY READING ~
Pagi hari yang cerah disambut dengan senyuman yang cerah juga seharusnya, tapi itu tidak berlaku bagi keluarga LEACH.
Pagi ini tidak seperti pagi sebelum nya, terlihat sangat kacau sekali, setelah tuan Herlano mengalami serangan jantung.
Rin hanya melihat kakak nya Rivano yang terlihat sangat panik, kemarin Rin sekarang Ayah nya.
"Rin kamu benar sudah sembuh? kalo masih tidak enak badan tidak usah sekolah."Rivano menanyakan kabar adiknya. Rin hanya menggelengkan kepalanya saja sembari asik memakan Roti.
"Kalo gitu kamu diantarkan oleh supir yah."kata Rivano sebelum pergi meninggalkan Rin, untuk melihat keadaan Ayah nya di rumah sakit.
"Ayo non, takut terlambat mobil sudah siap."
Rin beranjak dari duduknya, sebelum ia pergi ia memasukan beberapa roti tawar kedalam tasnya.
~o0o~
Helena diantarkan oleh Mama nya ke sekolah pada saat ia turun lalu berpamitan pada Mamanya.
Saat itu juga ia melihat mobil keluaran terbaru lewat didepan matanya.
"Siapa itu, semoga bukan si Batu,"Batin nya.
Harapan Helena ternyata salah yang turun benar-benar Rin, di antar kan oleh supir.
Tidak aneh lagi bagi keluarga Leach membeli barang-barang yang baru dan keluaran terbaru, bahkan setiap tahun desain rumahnya akan berganti-ganti.
Rin turun dengan wajah datarnya, ia melihat Helena yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, saat itu juga Rin menampilkan senyum mengejeknya melewati Helena begitu saja, wajah Helena memerah menahan kesal.
"Losers akan tetap jadi Losers."Ucapan Rin langsung menusuk ke telinga Helena saat Rin melewatinya.
"RINNNN...."teriak Helena menghempaskan kekesalan nya.
"Pagi-pagi udah bikin kesel!! dasar Batu, kenapa kemarin cuman pingsan doang sih."gerutu Helena
Helena masuk kedalam dan berjalan ke kelas nya, sebelum masuk Helena menyempatkan diri untuk menghela nafasnya sebentar.
"Morning guys."sapa Helena kepada dua teman nya.
"Morning Hel, lo mau nggak nih,"Sandra memberikan sebungkus coklat kearah Helena yang sekarang bingung menunjukan ekspresi yang bertanya-tanya pada wajahnya
"Oh, itu coklat dari bokapnya si Sandra. langsung dari Itali Hel."bukan Sandra yang menjawab nya melainkan si Vita butut.
"Oh Itali."ujar Helena tidak suka saat Sandra membagi-bagikan coklat itu, tapi Helena tetap membawa sebungkus coklat itu ke bangku nya.
Tak lama Bu Lita datang selaku wali kelas 1.
"Pagi anak-anak."Sapa Bu Lita
"Pagi Bu."jawab mereka serempak
"Pagi ini ibu ingin tahu apa kalian sudah mengenal satu persatu teman kalian,"pertanyaan Bu Lita sukses membuat seluruh murid Kelas Pertama terbungkam, lagian mana mungkin mereka tahu teman sekelas nya dalam waktu 2 minggu lebih, mustahil bahkan 1 tahun pun tidak akan mengenal keseluruhan nya
Tapi yang membuat mereka terkejut ada satu orang yang mengangkat tangannya, dan itu bukan orang yang mereka pikirkan.
"Oke Rin apa yang kamu tahu soal teman kelasmu."tanya Bu Lita.
Rin berdiri dari duduk nya dan menghela nafas sebentar, mereka yang sedari tadi tertarik, pandangannya tak lepas dari seorang yang duduk dibelakang yang mempunyai rambut keriting bergelombang itu.
"Yang pasti yang saya tahu, mereka tidak sedekat apa yang dilihat, dan mungkin itu belum."Ucapan Rin mulai menarik mereka sehingga semua murid sekarang teralihkan pandangannya kearah Rin.
"Sera."Rin menunjuk Gadis yang berkacamata bulat yang hobinya menunduk.
"Sudah jelas dia memiliki sifat pemalu, rasa takutnya akan menghancurkan masa depan nya kalo dia tidak melawannya, tapi dia mempunyai bakat bagus di bidang Seni."
Setelah itu Rin menunjuk sang ketua kelas
"Rizki dia memiliki jiwa tanggung jawab yang besar,"Rizki yang merasa sedikit dipuji pun tersenyum, tapi tidak selanjutnya
"Tapi sikapnya yang terlalu Ambisius bisa saja jadi Boomerang untuknya."
__ADS_1
"Efek pingsan kemaren nih."lirih Rizki
"Vita dia orang yang cukup friendly, tapi dia mempunyai sifat yang serakah dan mungkin akan berakhir dia jadi orang yang jahat."
Vita langsung melotot tidak terima.
"Yah Rin Leach jahat kata mu."seru Vita sambil berdiri dan menunjuk kearah Rin
"Vita duduk."suruh Bu Lita.
Vita memutar bola matanya kesal dan atas suruhan Bu Lita Vita pun duduk kembali.
Rin sekarang menunjuk kearah Sandra
"Sandra dia orang yang sensitif dan manja, sikap manja nya itu bisa saja dia akan selalu dimanfaatkan oleh seseorang."ucap Rin sambil melirik kearah Vita, yang dilirik malah membuang mukanya kearah lain.
Sandra yang memang aslinya lemot, dia hanya bisa menggaruk kepalanya.
"Siapa yang selalu manfaatin gue yah?"gumam Sandra sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dan selanjutnya Rin pun menyebutkan sifat teman kelasnya satu persatu bahkan dengan sikap buruk nya juga.
Setelah selesai Rin kembali duduk, tapi Bu Lita menyuruhnya kembali berdiri ada satu yang kurang atau terlewatkan.
"Rin satu orang lagi, apa kamu tidak tahu?"
"Oh yah, Siapa?"
"Helena."jawab Bu Lita
"Saya tidak mengenalnya."ucap Rin santai kembali duduk.
Helena yang mendengar nya pun, mengepalkan tangannya.bdalam hati Helena berkata.
"Tahan hel, tahan Helena mungkin ini hanya 3 tahun lo harus menahannya jangan sampai terpancing emosi, inget tujuan lo dapetin Rendi."
Helena lebih baik dapat kata-kata yang menyakitkan di mulut nya langsung, daripada harus dipermalukan didepan umum seperti ini dan ini yang kedua kalinya.
Rin bahkan bisa mengetahui seluruh Siswa disekolah ini, karena ia mempunyai data-data nya, bukan hanya itu saja Rin juga bisa mengetahui karakter orang hanya dengan melihat postingan di Sosial media.
~o0o~
Sedari tadi Rin risih terus di ikuti oleh seseorang, bahkan saat dia akan ke toilet orang itu ada didepan toilet.
Dan sekarang di kantin pun dari kejauhan orang itu memantau seperti sibuk dengan urusannya, padahal Rin tau dia mengikutinya.
itu sangat mencolok pikir Rin.
Rin beranjak untuk pergi dari kantin, Rin mencoba apa dia masih mengikutinya dan benar saja saat Rin ingin menuju ke taman orang itu tepat dibelakang nya.
"Ulah si Rivano nih."gumam Rin kesal.
Rin memang ingin ke taman tapi dia akan belok ke kiri sehingga orang itu tidak mengikuti nya.
"Aduh kemana si Rin?"ujarnya bingung, saat dia mencari disekitar taman di arah berlawan Rin datang.
"Apa maksud lo ngikutin gue?"
"Ahhh gu_e..."terkejutnya
"Bilang sama Kakak gue, gue bisa jaga diri gue sendiri."
"Tapi Ri–n."
"APA?"bentak Rin yang otomatis membuat Rizki kaget.
benar-benar ketua kelas dungu pikir Rin, mau aja di suruh.
Rin pun meninggalkan Rizki begitu saja.
"Gua harus apa ini? lapor aja kali yah."
__ADS_1
~o0o~
Saat mereka sedang berbincang bertiga lalu muncul seseorang, dan itu sukses membuat Helena terkejut.
"Gue gabung yah."pintanya
mereka tidak bisa mengeluarkan kata apa-apa, selain hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Makan-makan."suruh nya
mereka pun refleks memakan makanan yang dihadapan nya, atas suruhan orang itu
"Ekhemm..lo orang yang pernah nolong gue kan."tanyanya ke Helena, Helena hanya mengangguk
"Kok berasa canggung yah gue dateng."
"Hah nggak kok Ren, makan aja makan."sahut Vita yang sudah biasa dengan sikap Rendi, yang berubah-ubah.
"Santai kali Vit "ucap Rendi
"Lagian gue juga nggak lama."sambung nya sembari menghabiskan makanannya, sesudah habis Rendi pergi.
sebelum pergi Rendi mengajak Helena pulang bersama, dan membuat mereka terkejut apalagi Vita yang saudara Rendi. Vita bilang kalo itu bukan Rendi tapi cenayang.
~o0o~
Malas itu yang dirasakan Rin, saat harus mengikuti ekstrakurikuler Komputer.
Saat ia akan memasuki ruangan tersebut dari luar sudah terdengar ribut-ribut.
"Lo mau ikut ekskul Komputer tapi nggak punya laptop, percuma bego banget sih lo."ujar cewek yang mempunyai rambut kuncir kuda
"Tapi kan Kak disini masih banyak komputer."
"Lo kira komputer ini bisa dipakai buat lo apa."yang sekarang menarik rambut Citra
"Akhh kak lepas, salah saya apa sih kak."ucap Citra dengan wajah yang sudah memerah, Citra seminggu ini harus bersabar dengan kelakuan Serli dan teman teman nya yang terus membuli nya.
"Salah lo itu, lo ada disini bego."Serli menjentulkan kepala Citra.
Yang mana kejadian itu ditonton langsung oleh Rin yang sedang duduk di kursi belakang.
"Kalo mau Bully orang mening cari tempat yang lebih efesien deh, mata gue soalnya masih sehat nih."Ucapan Rin berhasil membuat Serli yang hendak menampar Citra terhenti, Serli langsung melirik kearah Rin dengan tatapan tajam.
"Kenapa? nggak terima."ujar Rin sembari menampilkan senyum semirik nya yang menyebalkan.
"Lo.."
"Ser cepetan ada yang dateng."potong teman Serli yang satunya yang menjaga pintu depan, sehingga Rin bisa masuk di pintu paling belakang.
"Awas lo."ancam Serli lalu pergi dari sana.
Seseorang yang datang itu membuat Rin otomatis memutar bola matanya kesal.
"Ngapain sih lo Riz."tanya Rin kesal pada Rizki yang sudah berada di samping nya dan sekarang sedang sibuk dengan MacBook yang dibawa nya.
"Yah, gue ikut Ekskul ini lah."jawab Rizki sembari duduk di sebelah Rin.
"Pindah."suruh Rin
"Enak aja pindah nggak mau lah, gue mau bisa komputer biar bisa jadi Hakcer. "ucapan Rizki berhasil membuat Rin melotot.
"Pindah tempat duduk lo."suruh Rin, karena tidak ingin berdekatan dengan Rizki
"Iya-iya gue pindah."akhirnya Rizki berpindah tempat, Rizki benar-benar takut saat Rin mulai mengeluarkan tatapan tajam.
Citra yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan mereka pun, hanya bisa tersenyum miring, mungkin babaknya akan berubah pikir Citra.
Seorang Rizki mampu membuat Rin kesal, Rin adalah orang yang paling tidak bisa menampilkan kekesalannya, tapi ia selalu membuat orang kesal.
TBC.
__ADS_1