The Enemy

The Enemy
Chapter 7 (Revisi)


__ADS_3

~HAPPY READING ~


"Ayok cepet Rin naik,"suruh Rivano yang seperti biasa tidak sabaran, benar-benar kakak yang menyebalkan.


Rin pun naik kedalam mobil, Rivano melihat sekilas kearah Rin ada yang beda.


"Tas mu mana?"tanya Rivano, ini masih pagi jangan-jangan Rin membuat nya emosi lagi.


"Tidak bawa."


"Kenapa?"Rivano mulai emosi dengan mode sedang. sedangkan Rin tetap stay cool bahkan ia dari tadi hanya memandang lurus ke depan


"Hari ini tidak ada pelajaran,"jawab Rin


"Jalan Tuan Rivano."suruh Rin sembari melirik kakaknya dengan bermaksud membalas kakaknya dengan tatapan tajam.


Rivano mendengus sebal sekarang ia seperti supir, gara-gara adiknya yang tidak tau diri.


Setelah itu Rivano melajukan mobilnya.


~o0o~


Seperti kata Rin tadi hari ini free karena hari ini para Murid di wajibkan memilih Ekstrakurikuler minimal dua.


Saat Rin memasuki koridor sudah banyak Kakak kelas yang berlalu lalang menyiapkan tempat untuk adik kelasnya mendaftar.


Ada banyak sekali Ekskul pilihan. Seperti Basket, Futsal, Drama, PMR, Pramuka, Paskibra, Voli, Karate, TIK juga ada bagi Siswa yang ingin mendalami ilmu teknologi nya.


Tapi yang menarik perhatian Rin adalah Ekskul Olah bakat, seperti apa itu.


Tapi dari semuanya Rin tidak berminat ia tidak suka bersosialisasi.


Karena hari ini tidak ada kelas Rin memilih untuk ke Roftop dan seperti biasa ia selalu membawa MacBook di tangannya.


~o0o~


Sekarang sudah ada banyak Siswa yang mulai mendaftar di ekskul yang mereka pilih.


Tidak halnya dengan Helena yang sedang mengisi formulir untuk masuk ke tiga ekskul sekaligus.


"Hel, lo serius mau ikut ekskul Karate?"tanya Vita, yang tak yakin dengan pilihan Helena.


"Yap gue waktu SD soalnya pernah ikutan les Karate, kata Papa gue biar gue bisa jaga diri."jawab Helena sembari mengisi formulir nya.


"Tapi kan itu pas waktu SD Hel,"


"Udahlah Vit, yuk kita kasih lo jadi masuk kan ke ekskul drama?"ajak Helena setelah mengisi formulirnya, soalnya mereka bertiga tadi setuju masuk ekskul yang sama.


Vita hanya mengangguk saja.


"Ayolah, Sandra mana?"karena sedari tadi ia tak melihat si Sandra


"Ke toilet kali,_yuk"


Mereka mengumpulkan formulir ke setiap ekskul yang mereka pilih.

__ADS_1


"Tuh kan Rendi masuk."ucap Helena yang melihat daftar pembasket putra dan melihat adanya nama Rendi di sana.


Helena dan Vita sekarang sedang ada di kantin


"Vit gue mau ngomong sama lo,"kata Helena


"Ngomong aja kali, kayak sama siapa aja."ucap Vita yang masih asik dengan makanan nya.


"Vit, gue mau minta nomornya Rendi."


permintaan Helena Refleks membuat Vita menyemburkan pentulnya.


"Apa, lo tau dimana gue punya nomernya si Rendi."tanya Vita yang wajahnya berubah panik.


"Dari si Rendi nya langsung. Emang kenpa sih Vit lo kok jadi takut gitu."tanya Helena


"Nggak gue_kan jadi kag_et. nih lo kan tadi minta nih gue kasih."ucap Vita yang menyodorkan Ponselnya dengan keadaan tangannya bergetar, Helena yang melihat situasi yang berbeda tetap berpikir positif ia mengambil Ponsel Vita dan Mencatat nomor Rendi.


~o0o~


"Astaga! gue kira nggak ada orang."ucap Seseorang yang sedang ada di roftof, ia berniat untuk membereskan roftop.


Rin yang sedari tadi pun di sana sedikit merasa kaget dengan seseorang pengganggu, benar-benar cowok pengganggu dari mulai kemarin sampai sekarang. Tidak banyak tanya Rin beranjak dari tempat nya dan pindah ketempat lain.


Rendi yang melihat Rin pindah ia langsung berinisiatif untuk mengangkat bangku, meja yang tak bersusun rapi. Rendi tak habis pikir bagaimana seorang gadis betah ditempat seperti ini.


Rin yang sekarang fokus ke MacBook nya tanpa sadar ia sedikit melirik ke Cowok yang sedang membereskan kursi supaya bertumpuk dengan benar, keringat sudah memenuhi pelipisnya, kancing kemeja ia biarkan terbuka karena Rendi masih memakai kaos hitam didalamnya.


Rin coba menggelengkan kepalanya, tempat ini sudah tidak aman, ia beranjak dan mulai melangkah untuk meninggalkan tempat ini tapi langkah nya terhenti...


Suara kursi jatuh dan Rendi yang sudah tergeletak di lantai. Sontak itu membuat Rin kaget mungkin sedikit panik, refleks ia langsung melihat keadaan Rendi.


Rin membawa kepala Rendi di pangkuannya. Wajahnya pucat, ada apa sebenernya dengan cowok ini, kenapa ia mau membereskan Roftop lalu pingsan di sini, benar-benar menyusahkan.


Rin mengambil tisu yang ada di kantong baju seragamnya, ia mulai mengelap keringat yang ada di wajah Rendi, seperti familiar dengan wajahnya tapi Rin tidak tau.


~o0o~


Helena frustasi sedari tadi ia tidak melihat Rendi, Sandra pun tidak ada jangan-jangan mereka berdua....


"Nggak, nggak mungkin Rendi suka sama modelan kayak si Sandra dungu, modelan body doang."


"Hel tunggu Hel gawat."tiba-tiba Vita datang di saat Helena sedang kesal.


"Rendi Hel,"ucap Vita panik


"Rendi kenapa?"sekarang Helena juga ikutan panik


"Dia di UKS."kata Vita selanjutnya.


Tidak banyak tanya lagi Helena yang tadinya ingin pulang ia memutuskan kemabli masuk ke dalam hanya untuk melihat keadaan Rendi.


BRAAKKK


Tapi saat akan masuk ia bertabrakan dengan seseorang, untung tidak ada yang jatuh hanya satu benda yang jatuh kelantai, yaitu MacBook.

__ADS_1


Rin pun melotot tajam kearah Helena saat ia ingin mengeluarkan kata-kata pedas nya, Helena malah pergi begitu saja.


Helena tidak banyak waktu untuk meladeni musuhnya saat ini, ia harus buru-buru ke UKS.


"Ceroboh."ucap Rin, dan langsung mengambil MacBook nya.


Vita yang sedari tadi hanya menyaksikan kejadian itu berdiam diri saja dan saat Rin melewatinya tiba-tiba kepalanya menunduk ia tidak tahu, seharusnya ia tidak harus menunduk bukan, apa begitu menakutkannya aura seorang Rin Leach.


selepas Rin pergi Vita pun ikut pergi, lalu pulang ke rumah nya ia tak berniat untuk menyusul Helena.


~o0o~


Helena berlari dari pintu utama sampai ke UKS, ia tidak tau sekhawatir ini padahal kan baru kenal beberapa kali, apa benar ia langsung jatuh cinta pada Rendi secepat ini kah.


Helena membuka pintu UKS yang ia lihat sekarang keadaan Rendi yang sedang berbaring di UKS, keadaannya sangat memperhatinkan wajahnya pucat.


Helena mendekat kearah bangkar Rendi lalu duduk di samping nya.


Tidak butuh waktu yang lama, tangan Rendi mulai bergerak ia mengerejap kan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk apa dia sudah lama pingsan.


Rendi melihat ke sekitar pertama kali yang ia lihat, tembok putih dan saat Rendi memutar kepalanya ke samping.


Rendi menghela nafasnya sebentar, bukan lagi gadis yang memiliki rambut keriting bergelombang, melainkan gadis yang berambut panjang.


"Lo mau minum gue ambilin yah?"tanpa meminta persetujuan lagi Helena mengambil teh hangat yang ada di meja sebelah bangkar. bukan hanya teh hangat tapi Roti juga sudah disediakan.


Rendi juga tidak menolak tubuhnya sekarang butuh nutrisi, dia benci keadaannya yang sekarang begitu menyedihkan.


"Mau roti?"ucap Helena yang lagi-lagi dia sudah membukanya dan memberikan kepada Rendi.


"Thanks."ujar Rendi dengan suaranya yang berat.


"Tadi gue diperiksa atau nggak?"tanya Rendi, ia takut ada dokter yang memeriksa keadaannya.


Helena terdiam untuk beberapa saat ia harus menjawab apa, dia tidak tau apa-apa kesini sudah melihat Rendi yang terbaring.


"Mm gue.."


"Rendi kamu udah sadar,"potong seseorang guru.


Helena menghela nafas lega.


"Ibu tadi menelepon orang tua mu, tapi mereka tidak bisa datang."


Rendi hanya tersenyum miring ia sudah menduganya bahkan jika ia mati sekalipun mereka tidak ada yang peduli.


"Apa sudah mendingan, sebaiknya kamu pulangnya diantarkan oleh temanmu."sambung Bu guru Sekar selaku pembina UKS.


"Tidak usah saya bisa sendiri."Rendi yang ingin beranjak dari tempat nya


"Lo baru sadar Ren, gue anterin lo pulang yah."ajak Helena


"Gue bukan laki-laki lemah."akhirnya Rendi beranjak dan pergi dari UKS rasa sakitnya hilang bersamaan dengan rasa kecewa nya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2