
Makasih banget yang udah mau mampir😇
~**HAPPY READING** ~
Akhirnya setelah tiga hari tidak sekolah. Hari ini Helena dapat sekolah lagi, ia sedikit takut tertinggal informasi.
Helena turun dari mobilnya dan tidak sengaja ia melihat motor Bara lewat, Bara membonceng seorang gadis. Cepat sekali pikir Helena.
Setelah itu Helena memutuskan untuk langsung masuk ke dalam. Saat berjalan di koridor, Helena melihat siswa yang berkerumun di depan mading. Helena yang penasaran pun langsung melangkah ke sana.
"Misi, misi.."Helena melihat berita calon ketua OSIS yang baru, dan betapa terkejut nya ia melihat nama musuhnya berada di sana. Helena berbalik arah.
"Kok bisa, Rin nyalonin diri."
"Eh.. Gue mau tanya dong, pendaftaran untuk ketua OSIS masih bisa nggak."tanya Helena kepada Siswa yang ada di sana.
"Bisa kali, coba aja tanya langsung ke ruangan OSIS nya."Helena mengangguk mengerti.
"Thanks."setelah itu Helena langsung pergi menuju ruang OSIS.
Helena tidak ingin terlambat lagi, bisa-bisa nya Rin mendaftarkan dirinya sebagai ketua OSIS untuk sekedar mengurus dirinya saja tidak bisa, apalagi mengatur seluruh siswa di sekolah ini. Helena benar-benar makin tidak mengerti dengan jalan pikiran seorang Rin Leach.
~o0o~
"Rin, nanti kalo lo udah keterima pilih gue ya, yang jadi wakilnya."pinta Rizki, Rin tidak menjawab atau merespon permintaan Rizki, Rin hanya fokus dengan MacBook di hadapannya.
Rizki yang melihat itu kesal. Dan dengan beraninya Rizki menutup MacBook Rin dengan kasar. Membuat pemiliknya langsung melotot tajam. Rin beranjak dari duduknya.
"Lo nggak sopan, gue tadinya mau lo yang jadi wakil gue tapi sifat nggak sabaran lo buat gue benci."ucap Rin dan pergi dari sana. Rizki yang mendengar hal itu hanya menghela nafas lelah.
"Ishh, dia yang bikin gue nggak sabaran, sifat nya yang nggak bisa di mengerti."gerutu Rizki.
Helena masuk ke dalam kelas, Rizki langsung menghampiri Helena dan mencalonkan dirinya sebagai wakit ketua OSIS.
"Hel, lo ikut jadi ketua OSIS nggak?"sebelum itu Rizki bertanya terlebih dahulu karena pasalnya Helena baru masuk sekolah. Helena menaruh tas nya lalu duduk di kursinya.
"Iya, emang kenapa?"
"Lo udah ada wakilnya belum,"
"Belum sih Ki, emang kenapa sih."Dan ini kesempatan Rizki untuk mencalonkan dirinya.
__ADS_1
"Nanti kalo lo udah menang, tunjuk gue ya, yang jadi wakilnya."pinta Rizki.
"Oke deh, tapi lo harus bantu gue buat anak-anak milih gue."
"Pasti, gue bantu."jawab Rizki
~o0o~
"Rin, lo nyalonin diri buat jadi ketua OSIS."tanya Citra, yang tiba-tiba datang ke rooftop dan membuat mood Rin buruk.
Rin tidak menjawab pertanyaan Citra, setelah itu Rin beranjak dan pergi dari sana. Otak dan pikiran Rin terasa lelah, di tambah dengan perutnya yang lapar, jadi Rin memutuskan untuk pergi ke kantin. Kantin nampak sepi dan itu yang Rin harapkan.
Rin hanya memesan minuman saja, untuk makanan Rin selalu membawa roti dari rumahnya.
Saat sedang mengistirahatkan otaknya dan mengisi perutnya, pengganggu ke tiga datang.
"Hufft..."Rin menghela nafas kasar sesaat dia sudah duduk di hadapan Rin.
"Kalo, lo nanya kenapa gue ikut mencalonkan jadi ketua OSIS, gue bakal pergi."tukas Rin, karena capek selalu di tanya seperti itu, memang nya kenapa kalo dirinya mencalonkan jadi ketua OSIS apa ada yang salah.
"Nggak kok, gue cuman mau bantu lo buat anak-anak milih lo jadi ketua OSIS."ujar Rendi. Rin menatap mata Rendi dalam, mencari letak kebohongan atau ada sesuatu tapi Rin tidak menemukan nya, Rin melahap rotinya sampai habis, sebelum berbicara ia menyeruput jus nya terlebih dahulu.
"Oke, lo boleh bantu gue, nanti pulang sekolah ke rumah gue."ucap Rin dan pergi meninggalkan Rendi.
~o0o~
"Nak Rendi, di suruh langsung ke kamar Non Rin, mari ikut saya."ujar ART di sana. Rendi menganggukkan kepalanya lalu beranjak mengikuti ART.
Sekarang Rendi berdiri di pintu berwarna coklat, jantung Rendi berdetak dua kali lipat.
"Kenapa harus di kamar sih,"ujar Rendi, tapi setelah itu, Rendi mengetuk pintu kamar. Dan keluar lah Rin dengan pakaian santai nya. Rin menyuruh Rendi untuk masuk ke dalam.
Setelah itu Rendi masuk, dan ini pertama kalinya ia masuk kedalam kamar perempuan. Rendi melihat sekeliling kamar Rin yang bernuansa monoton, hanya ada rak buku meja belajar ranjang. Tidak ada aksesoris atau boneka, atau hiasan kamar yang bisa mempercantik kamarnya. Rendi lupa ia di kamar seorang Rin Leach.
Rin berjalan ke arah rak buku, lalu mencabut satu buku, setelah itu rak itu membuka seperti hal nya pintu. Redi yang melihat itu terkejut sekaligus takjub. Rin dan Rendi masuk ke dalam ruangan itu.
Ternyata di sana tempat penyimpanan komputer, bukan hanya komputer tapi teropong untuk melihat bintang pun ada.
Rin duduk di kursi, lalu tangan lentik nya mulai menghidupkan salah satu komputer itu, Rin menyuruh Rendi untuk mendekat. Rin menunjukan strategi untuk memenangkan dirinya dari OSIS.
"Oke, gue cuman nyebarin foto doang kan."tanya Rendi, karena Rendi tahu kalo Rim sedikit pemalu.
__ADS_1
"Iya, yang buat visi misi, biar gue aja."
Rendi mengangguk, Rendi melihat-lihat ruangan itu. Hanya ada poto polaroid, Rendi mendekat ke arah poto. Di dalam foto itu ada tiga orang anak kecil.
"Ini.. Re–."hampir saja Rendi menyebutkan nama Rey, di hadapan Rin. Rin hanya melirik Rendi sekilas setelah itu fokus lagi dengan komputernya.
Sedangkan di tempat lain, Helena juga tengah sibuk mengurus foto mana yang akan jadi time lain dan di jadikan brosur.
"Yang ini aja Hel,"
"Ini aja Hel, lucu lo pake bando."saran Sandra yang mendapatkan tatapan sinis dari Helena.
"Ini aja Hel, ini formal."Vita menunjukan foto, Helena yang tengah memakai seragam.
"Yaudah, yang ini."Helena pun setuju.
"Si Rizki mana sih katanya mau ngebantu."ucap Helena kesal, pasalnya Rizki belum sampai kerumahnya. Saat tadi Helena chat, Rizki bilang kalo dia sudah di jalan tapi audah beberapa menit berlalu Rizki belum juga sampai.
"Emang si Rizki mau bantu apa,"tanya Vita kepo.
"Ini, gue suruh dia buat ngeprint ini semua terus di sebarin deh."
"Hel, bukannya harus menyampaikan visi misi dulu baru boleh nyebarin foto.."
"Iya, biar aja sekarang di print nya,"setelah itu, tak lama kemudian Rizki datang tapi tidak sendirian. Rizki datang bersama dengan Gio.
Vita yang melihat Gio, langsung cemberut."Kenapa juga si Gio dateng."gerutu Vita
"Sorry Hel gue telat, gara-gara si Gio nih."
"Ya lo Ki, ngajaknya ngedadak,"bantah Gi
"Siapa juga yang ngajak lo, bukannya lo yang terus-terusan nelepon gue buat ikut ke rumah Helena."elak Rizki.
"Udah-udah, meningan lo berdua ke tempat poto copy an, nih ngeprint poto gue."suruh Helena,
"Yah Hel baru juga dateng."ujar Gio, sembari duduk
"Bodo amat."ujar Helena sembari memutar bola matanya kesal.
**TBC.
__ADS_1
MAAF KALO CERITANYA MAKIN NGGAK NYAMBUNG, TOLONG KASIH MASUKKAN NYA DONG, BUAT CERITA INI**.