
~Happy Reading ~
Rin kembali ke Apartemen nya dengan keadaan kacau balau, dengan seragam yang basah di akibat kan dari jus tomat yang sengaja dilempar oleh Siswa Victoria.
Rin melupakan amarahnya dengan menghancurkan komputer yang berada di kamar Apartemen nya.
Brak.....
Brak.....
Rin memukul komputer itu dengan pemukul bestbool yang berada di Apartemen itu.
"Hahkkkk...."Rin berteriak keras untuk meluapkan amarahnya, selesai dengan menghancurkan komputernya Rin berjalan lalu terduduk di ujung tepi ranjang.
"Hiks hiks hiks...."Rin menangis sembari duduk di lantai dekat di tepi ranjang nya.
Darah yang berada di telapak tangan kiri nya, kembali terluka dan entah sejak kapan perban yang membalut tangannya itu terlepas, mengakibatkan darahnya keluar walaupun tak sebanyak tadi. Tapi sepertinya Rin tidak memperdulikan hal itu.
"Hikss hikss Kakak...Kakak.."gumam Rin dalam tangisnya, Rin melipatkan tangannya dan menumpukan tangan itu di kakinya, Rin terus menangis dan memanggil-manggil Rivano, Kakak satu-satu Rin tidak menyangka Rivano akan menampar Rin di depan umum, bahkan ini kali pertama Rivano menampar Rin, karena sekesal apapub Rivano dia tidak pernah menampar Rin.
Flashback On
Rin di tinggalkan orang tua nya sejak Rin bayi, Mama Rin meninggal setelah melahirkan nya. Setelah dua bulan kemudian Papa Rin meninggal akibat kecelakaan.
Rivano yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama harus mengurus seorang adik yang masih sangat kecil, seorang diri. Sampai Rin berumur 1 tahun, Rivano bertemu dengan Hana yang menawarkan Rin untuk dirawat di panti asuhan, Rivano menyetujuinya. Tetapi saat Rin berumur 5 tahun Rivano mengambil Rin kembali untuk merawat nya seorang diri.
Rin kecil sangatlah pintar, dia terus bercerita hingga malam, sesudah lelah bercerita Rin akan terlelap dengan sendirinya.
Hari ini Rin kecil akan masuk sekolah TK. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun menyiapkan buku nya, Rin sangat semangat karena akan sekolah. Setelah itu Rivano mengantarkan Rin sekolah.
"Jangan kemana-mana sebelum Kakak sampai oke, dan jangan penerima apapun pada orang yang tidak di kenal Oke."ujar Rivano sembari mengelus rambut Rin.
"Oke."jawab Rin.
"Kakak berangkat sekolah dulu dah..."
"Dah..."
Rivano sekolah, kelas tiga SMA yang berarti ini tahun terakhir Rivano sekolah.
*****
Rivano melirik jam nya, sudah hampir sore dan Rin pasti sudah menunggu nya lama, Rivano menyesal menyuruh Rin menunggu.
Setelah urusan Rivano selesai, ia buru-buru lari keluar dari lingkungan sekolah, Rivano berlari cepat agar cepat sampai ke sekolah Rin.
Saat sudah sampai sana, Rivano mengatur nafasnya, ia bersyukur adiknya masih ada.
Rivano berjalan mendekati Rin, yang terduduk sembari kepalanya yang melihat ke bawah.
Rivano jongkok untuk menyamai tingginya dengan sang adik, walaupun masih tinggi. Rivani mengusap rambut panjang Rin.
"Maafin Kakak yah Rin, Rin pasti capek nunggu Kakak."Rin yang mendengar suara Kakaknya dan merasa sentuhan halus di kepalanya mendongakkan kepalanya dan benar saja itu Kakaknya. Rin langsung memeluk Kakaknya erat.
"Kakak....Rin kira Kakak akan pergi lagi ninggalin Rin sendiri."
__ADS_1
"Kakak nggak akan ninggalin Rin lagi, janji."
"Janji."mereka membuat tanda kelingking yang berarti itu adalah perjanjian.
"Bukan kah besok Rin ulang tahun."
"Hmm.."Rin mengangguk antusias.
"Bagaimana kalo hari ini saja Kakak kasih kamu hadiahnya,"
"Hadiah apa?"Rin tidak tahu apa arti ulang tahun itu.
"Ulang tahun."
"Mana, coba Rin mau liat."ujar Rin polos.
Sebelum menghampiri Rin, Rivano menyempatkan untuk pergi ke toko, Rivano takut Rin akan marah jadi ia sengaja untuk memberi Rin kado.
Rin mengeluarkan kotak yang dibungkus denhan kertas kado berwarna merah muda, lalu memberikan kado itu kepada Rin.
Rin langsung menerimanya, dan saat ingin membuka kadonya. Rivano melarang nya.
"Nanti saja di rumah, sekarang kita pulang."
**********
Malam hari nya Rin yang sudah tidak sabar untuk membuka kadonya.
"Kakak aku buka yah..."teriak Rin meminta persetujuan terlebih dahulu dari Kakak nya.
Rin dengan semangat membuka kado itu. Kertas yang menutupi barang yang ada di dalam akhirnya terlepas. Rin sejenak bingung dengan beda persegi di tangannya, yang berukuran kecil.
"Apa ini?"gumam Rin, memutar kan benda itu, ternyata benda itu terdapat tutup. Rin membuka tutup itu setelah di buka ternyata ada tombol di dalam nya.
Rin memencet asal tombol itu, tapi tidak terjadi apa-apa. Rivano yang telah keluar dari toilet melihat Rin yang terlihat bingung dengan benda pemberian dari nya, Rivano mendekati Rin.
Setelah itu Rivano mengajarkan Rin bagaimana menggunakan ponsel. Rivano memberitahu Rin untuk menggunakan ponsel ini dengan baik. Ponsel ini juga berguna untuk mengetahui letak keberadaan Rin kalo Rin menghilang karena sesuatu.
*********
Pagi hari nya, seperti biasa mereka berangkat ke sekolah begitu juga dengan Rivano.
Saat sudah di sekolah, Rin yang biasanya main kali ini Rin hanya fokus dengan ponsel di tangannya.
"Rin ayo main.."ajak Helena kecil
"Nggak mau, Hele main aja sama Rey."
"Ya udah geh."Helena pun pergi
Rin benar-benar serius dengan ponselnya, hingga pelajaran di mulai fokus Rin hanya bada ponselnya.
Setelah pelajaran selesai, sekarang Rivano sudah stay di depan sekolah Rin untuk menjemput nya.
"Kakak..."Rin berlari kearah Rivano
__ADS_1
"Hati-hati Rin jangan lari-larian."saran Rivano. Setelah itu mereka pulang ke rumah. Sampai di rumah pun fokus Rin hanya pada ponsel.
Sudah beberapa hari ini, Rin hanya fokus pada ponselnya, siang malam sore bahkan saat makan Rin sambil memainkan ponselnya. Rivano yang tahu akan hal itu merasa sedikit bersalah karena pasalnya Rivano pikir Rin akan lebih pintar saat menggunakan ponsel.
"Ayo Rin cepat nanti telat sekolah nya."
"Iya nanti sebentar."ujar Rin sembari mengucek-ngucek matanya.
"Mata kamu kenapa?"Rivano melihat mata Rin yang memerah.
"Gatal Kak."Rin mengucek lagi matanya.
"Sekarang kita ke dokter."Rivano menggendong Rin dan pergi ke dokter.
Dan setelah hal itu, Rin terus memakai kacamata, dan ponsel yang Rivano berikan pada Rin di ambil kembali oleh Rivano.
Beberapa bulan berlalu, Rivano telah lulus dari sekolah nya, banyak sekali yang menawari Rivano beasiswa berkat ke pintarnya. Tapi Rivano menolak, niat Rivano sudah lulus SMA Rivano akan langsung bekerja, agar bisa meng sekolah kan Rin.
Selama ini Rivano bekerja sampingan menjadi pelayan di kafe, saat itu kafe tampak sepi dan ada seseorang yang ingin dengan Rivano.
Rivano berbicara empat mata dengan orang itu. setelah berbicara dengan orang itu dan Rivano tampak setuju.
Setelah itu hidup Rivano dan Rin tidak susah lagi, Rivano bisa kuliah tanpa harus memikirkan uang bayaran dan memikirkan uang sekolah Rin.
Dan saat Rin kelas 6 SD, Rivano baru membawa Rin ke rumah Herlano yang besar, tadinya Rin menolak tapi Rivano membujuknya.
Flashback of..
******
"Helena..."
Helena terkejut ada yang memanggilnya, dan menyentuh pundak kanannya.
"Bukannya Rin udah masuk yah."pikir Helena.
"Ngapain lo di sini?"
"Sandra."ucap Helena sesaat setelah membalikan badanya.
"Kok lo udah pulang?"
"Gue kan absen Hel, lo ngapain di sini?"
"San, kok lo bisa absen emang ada apa?"Helena bertanya untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh itu iya, Kakak gue lahiran ini gue abis di Apartemen nya mau nganterin ini ke rumah sakit."jawab Sandra sembari menunjukkan tota bag di tangannya.
"Oh.."
"Yaudah yah Hel, gue tinggal yah.."
"Iya... dahh San..."setelah Sandra pergi barulah Helena bisa bernafas dengan lega.
TBC......
__ADS_1