The Enemy

The Enemy
Chapter 29 (Revisi)


__ADS_3

~HAPPY READING ~


"Aku berangkat dulu dah Pa, Ma."pamit Helena pada Papa Mama nya.


Hari ini Helena akan bersemangat berlatih dan belajar. Helena membuka pintu utama melangkah kan kaki nya keluar tetapi ia urungkan. Helena melihat Bara di depan gerbang rumahnya ia duduk di motornya seperti sedang menunggu seseorang, saat mata Bara mengarah kearah pintu, Helena langsung masuk kembali.


"Kak Bara,"gumam Helena dibalik pintu."Mau ngapain lagi sih tuh orang,"gerutu Helena.


"Hel kok kamu balik lagi, pak supir udah nunggu kamu diluar,"ujar Hana yang tiba-tiba datang.


"Ma, Helena boleh minta tolong gak?."


"Minta tolong! minta tolong apa?"tanya Hana yang tidak mengerti.


"Mama nanti keluar terus kan di luar gerbang itu ada cowok yang lagi duduk di motornya dia pake jaket navy, Mama samperin terus kalo dia nanya Hele, bilang Helena udah berangkat."


"Hm.. emang dia siapa?"


"Udah Ma cepet nanti Helena terlambat."


"Siapa Hel?"tanya Hana lagi


"Nanti Helena ceritain, cepat Ma sana."


"Oke,"ucap Hana dan pergi menemui Bara.


Helena melihat dari kejauhan apa Mama nya melakukan apa yang ia bilang, tidak lama kemudian Bara pergi dengan motornya dan itu berarti Mama nya menuruti perkataan nya.


"Yess.."teriak Helena, tanpa Helena sadari Hana sudah berada di samping nya.


"Udah sana berangkat Hel nanti telat."suruh Hana


"Nanti Ma tunggu bentar lagi biar Kak Bara jauh dulu biar nggak di curigai."


"Kak Bara,"gumam Hana."Oh dia Kakak kelas kamu Hel apa dia naksir kamu yah Hel."


"Nggak Ma bukan,"bantah Helena atas pernyataan Hana


"Terus siapa."


"Pokoknya dia orang yang selalu ngerepotin Hele, palingan tadi juga mau minta bantuan."


"Astaga Hel kamu jadi kacung."tebak Hana asal.


"Ishh udahlah Helena berangkat dulu, capek ngomong sama Mama,"ujar Helena, lalu masuk kedalam mobil dan berangkat ke sekolah meninggalkan Mama nya yang ngoceh sendiri.


"Nggak sopan kamu Hel."gerutu Hana dan saat itu Helena sudah pergi.


~o0o~


Dan akhirnya percuma. Helena benar benar terlambat, padahal ia terlambat hanya satu menit saja, alhasil ia di hukum bersama siswa lain nya.


Saat ini Helena sedang berada di kantin ia telah menghabiskan tiga gelas jus.


"Abis lagi,"ujar Helena lalu beranjak untuk memesan lagi.


"Hel lo mau pesan lagi."tanya Vita, Helena hanya mengangguk saja setelah itu ia pergi untuk memesan minuman itu.


"Dia bisa-bisa bekser nanti,"ujar Sandra dan setelah itu Helena kembali dengan dua gelas minuman ditangannya.


"Nih buat lo Vit gue kenyang,"menyerahkan semangkok bakso yang dan Helena hanya memakan dua sendok saja.


"Lo mah kenyang minum Hel,"seru Vita sambil menarik mangkok yang berisi bakso itu ke hadapan nya, makanan tidak boleh di sia-sia kan.


Gara-gara kak Bara batin Helena yang terus mengutuk nama Bara di hati nya.


~o0o~


Bel pulang telah berbunyi. Bara bukannya pulang ia malah melesat ke kelas 1, untuk menemui seseorang siapa lagi kalo bukan Helena.


Dengan gaya yang so cool, Bara memasukan tangannya ke dalam saku celananya dan tubuhnya yang ia sandarkan ke tembok.


Sesekali Bara melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, seharusnya kelas sudah bubar beberapa menit yang lalu tapi kenapa kelas XMIA 1 belum juga keluar.


Tak lama ada seorang perempuan yang keluar.


"Ehh lo temennya Helena kan?"tanya Bara pada gadis berkacamata rambutnya berponi dan panjang, matanya melirik Bara tajam.


Sebagai jawaban gadis itu mengangguk.


"Terus sekarang Helena mana?"tanya Bara lagi dengan nada sedikit gugup.


"Helena dipanggil Bu Joko dan disuruh ke perpustakaan,"jawabnya dengan nada datar.


"Oke thanks,"ucap Bara dan pergi begitu saja.


~o0o~


"Sekarang pertanyaan untuk murid kelas 11,"Ujar Bu Joko sebagai guru matematika, ia ingin anak muridnya saat perlombaan nanti tidak gugup saat ada pertanyaan cepat.


Memang Bu Joko dikenal galak dan disiplin, tapi ia akan lembut saat pada waktu perlombaan karena ia tidak mau anak muridnya tertekan saat lomba karena sikap tegas nya.


"Selanjutnya Helena akar kuadrat dari angka 529, ini pertanyaan yang mudah Helena silahkan jawab,"

__ADS_1


Helena menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia tidak tahu jawabannya hari ini otak nya tidak bekerja dengan semestinya.


Helena menggelengkan kepalanya.


"Bu, boleh minta soal yang lain pinta nggak," pinta Helena, Bu Joko menghela nafasnya sebentar.


"Oke, akar kuadrat dari angka 561,"Bu Joki menuruti permintaan Helena dan mengganti soalnya.


"Ganjil lagi"gumam Helena sembari menutup mata nya.


"23,6.jawaban nya 23.6 anak"Jawab seseorang dari arah belakang sontak semuanya melihat ke arah gadis yang baru datang itu, dengan santainya ia menjawab pertanyaan Bu Joko.


Helena pun sama ia melihat siapa yang menjawab pertanyaan itu dan dari suaranya ia sudah tahu itu siapa.


"Anak SMP juga tahu,"ledek Rin sembari tersenyum miring kearah musuh nya.


"Cukup."sergah Helena dan beranjak dari duduk nya.


Ia melangkah cepat kearah Rin.


"Rinnn .."teriak Helena sembari menarik rambut Rin dengan kedua tangannya.


"Cukup lo bikin malu gue! cukup lo ngerendahin gue! biar gue lurusin rambut lo Rin Leach!!"


"Akhhh."ringis Rin, Rin tidak membalas Helena ia hanya menahan tangan Helena agar tidak begitu kuat menarik rambutnya. Walaupun Rin tahu ke kekuatan Helena lebih dari dia.


"Cepet pisahin mereka,"teriak Bu Joko.


~o0o~


"Ibu liat sendiri kan saya hanya diam saja dan tidak melawan,"ucap Rin membela diri.


"Mulut mu yang tidak pernah diam,"seru Helena dengan nada yang emosi.


"Helena diam kamu."titah Bu Joko


"Ibu tidak tahu siapa yang salah disini."kata Bu Joko sedikit pusing dengan situasi sekarang.


"Yang jelas bukan saya Bu,"sahut Rin dengan raut wajah tidak bersalah.


"Dari awal semuanya salah lo Rin,"balas Helena di samping Rin dengan menatap tajam Rin begitu pun dengan Rin.


"OH."jawab Rin tepat di wajah Helena lalu kembali melihat kearah Bu Joko.


Helena sudah mengepalkan tangannya kuat, mungkin ia kali ini akan benar benar mengeluarkan emosinya, perkataan Rin walaupun hanya satu kata tapi sudah membuat ia kesal sampai ke ubun-ubun.


"Sudah-sudah cukup, aduhh sekarang ibu benar-benar pusing. Gini saja kalian akan ibu hukum karena telah membuat keributan, hukumannya membersihkan toilet tidak boleh pulang sebelum toilet itu bersih,"kata Bu Joko.


"Lo lagi nunggu siapa?"tanya Rendi kepada Bara.


"Nggak sopan yah lo, gue senior lo,"tukas Bara sambil menjitak kepala Rendi.


"Kak Bara lagi nunggu siapa?"tanya lagi Rendi dengan terpaksa.


"Biasa lah."


"Nggak jelas lo,"


"Lo lagi lo lagi nggak sop...."dan pada saat itu pintu pun terbuka. Bara yang tadi hendak memukul kepala Rendi terhenti karena seseorang yang di tunggu nya sudah keluar.


~o0o~


Mereka berdua sekarang sedang melaksanakan hukuman yang diberikan Bu Joko yaitu membersihkan toilet, walaupun toilet ini sudah terlihat bersih, tapi tetap saja harus terlihat lebih bersih lagi.


Mata tajam mereka terus saja bertatapan dengan sinis sambil mengepel lantai.


Saat Pellan Rin tidak sengaja mengenai Helena, Helena memang lagi emosi berat ia juga membalas nya menubruk pellan Rin dengan serokan ditangan nya.


Perdebatan dingin itu dihentikan saat Rendi dan Bara menghampiri mereka.


"Hel biar gue yang gantiin lo?"ujar Bara


"Nggak usah Kak,"tolak Helena


"Udahlah Hel sini,"Bara langsung merebut benda yang berada ditangan Helena.


"Rin pasti lo capek, sini gue aja,"ucap Rendi dengan lembut.


"Nih,"Rin memberikan pel-an itu pada Rendi tanpa penolakan.


Setelah itu yang berada di toilet hanya ada mereka berdua Rendi dan Bara, padahal kan ini toilet perempuan.


"Kok lo mau sih gantiin Rin?"tanya Bara, yang tidak sadar dirinya juga sama mau menggantikan Helena.


"Karena gue suka di susahin,"jawab Rendi asal.


"Oh kalo gitu Nih,"ujar Bara yang hendak menyerahkan serokan itu pada Rendi.


"Nggak lah, yang boleh nyusahin gue cuman Rin doang. Siapa lo?"


"Ehh kurang ajar lo, gue itu senior lo,"seru Bara dan memukul Rendi dengan serokan, Rendi yang tidak terima pun membalasnya terjadilah pertempuran.


~o0o~

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya mereka tidak kerjakan.


Setelah itu Rendi dan Bara keluar dari toilet menghampiri Rin dan Helena, tapi sepertinya hanya ada Helena saja.


"Rin mana?"tanya Rendi matanya sembari melirik kearah sekitar.


"Udah pulang,"jawab Helena


"Sama siapa?"Kali ini mata Rendi melotot.


"Rizki, emang si batu orangnya nggak berterimakasih, udah di bantuin juga eh malah pulang sama cowok lain,"ujar Helena sambil melipat tangannya di depan dada.


Rendi tidak bertanya lagi setelah itu ia pergi meninggalkan Helena bersama Bara.


"Yuk Hel kita pulang,"ajak Bara begitu saja bahkan ia menarik tangan Helena tanpa harus meminta persetujuan nya.


"Eh kak makasih."kata Helena karena mau mengganti kan nya membersihkan toilet. Bara yang mendengar itu hanya bisa tersenyum kearah Helena sampai-sampai deretan gigi nya terlihat.


"Dulu Kak Bara nggak gini amat dah,"gumam Helena pelan.


~o0o~


Rin terpaksa harus pulang bersama Rizki dan itu atas suruhan Kakak nya, pasti Rivano sudah tahu kalo Rin membuat keributan.


Tapi itu juga salah Helena yang bisa-bisanya terpancing dan memperkeruh keadaan.


Dan disini lah Rin di ruang kerja Rivano, tapi menurut Rin ini sudah seperti ruang penyiksaan untuk kuping nya.


"Kakak dapat kabar dari Bu Joko katanya kamu bertengkar dengan teman mu,"


"Bukan teman."


"Sama saja kau bertengkar dan menyebabkan latihan di lomba itu terhambat, kamu juga menjambak rambut teman mu itu kan."


"Nggak dia yang jambak rambut ku duluan,"


"Tapi sama saja kau juga menjambak nya,"teriak Rivano


"Nggak."bantah Rin, bahkan sehelai pun Rin tidak memegang rambut Helena.


"jangan-jangan kamu nggak terima karena bukan kamu yang mengikuti perlombaan itu,"


"Nggak untuk apa, tidak ada yang harus ku bangga kan lagi,"ucap Rin pelan dan wajahnya berubah murung


"Kakak tidak mau mendengar kekacauan lagi, untung saja Ayah sedang menjalankan pengobatan di singapura."


"Iya,"Rin beranjak dari duduk nya lalu ia melangkah keluar tapi saat ingin keluar.


"Kalo aku membuat kekacauan lagi, aku akan membuat kekacauan itu di hadapan tuan Herlano."ucap Rin melangkah keluar tidak lupa ia menutup pintunya.


"Rinnn....."teriak Rivano kesal.


~o0o~


Ting tong.....Suara Bel rumah Rendi


Rendi yang kebetulan ingin mengambil minuman terhenti siapa yang malam-malam begini. Mana di rumah nya tidak ada siapa-siapa, asisten rumah tangga nya kalo malam dia akan pulang kerumahnya, karena jarak rumahnya dekat dengan Rumah Rendi.


Rendi memilih untuk meminum saja terlebih dahulu mengabaikan suara bel rumahnya.


Ting tong....bel nya bersuara lagi.


Rendi pun memutuskan untuk melihat siapa yang datang, setelah ia buka pintunya ternyata...


"Rin.. ngapain?"Rendi terkejut kenapa Rin tiba-tiba datang kerumahnya, malam-malam begini bahkan dia masih memakai seragam sekolah.


"Gue mau jalan-jalan,"ujar Rin


"Hah."


~o0o~


Dan di sini lah mereka di atas jembatan layang, saat melihat kebawah pemandangan dari lampu gedung kota dan juga lampu-lampu dari kendaraan.


Untuk beberapa saat tidak ada yang mulai pembicaraan. Rendi berinisiatif untuk memberikan jaket kepada Rin tapi di tolak mentah-mentah oleh Rin.


Dan keadaan kembali lagi hening.


Rendi menghela nafasnya sejenak dan memulai pembicaraan


"Rin apa kau pernah merasakan kebahagiaan?"tanya Rendi.


Rin mendengar itu hanya mampu tersenyum tipis, Bahagia menurutnya itu seperti lelucon.


"Gue Bahagia saat melihat hidup orang lain jatuh"jawab Rin asal.


"Bahagia yang menyeramkan."


"Iyah itulah kebahagiaan sesungguhnya manusia, munafik jika mereka senang melihat temannya bahagia, pasti ada rasa iri dihatinya, walaupun teman terdekat sekalipun."kata Rin dengan pandangan kosong dimatanya. Membuat Rendi bingung dengan jalan pikiran Rin, apa sebuah pertemanan yang menghancurkan hidup Rin, sampai seperti ini.


TBC.


__ADS_1


__ADS_2