The Enemy

The Enemy
Chapter 18 (Revisi)


__ADS_3

~HAPPY READING ~


Bara telat pulang karena ada rapat OSIS mendadak, membahas tentang siapa pihak OSIS yang akan ikut Camping.


Niatnya menemui Rin harus terhambat. Tapi tidak masalah, Hari ini ia harus menemui nya. Bara menyusuri koridor yang sepi tidak ada Ekskul untuk hari ini.


Bara sudah menghubungi Rendi tapi Rendi tidak bisa mengantarnya.


Bara menyusuri koridor sekolah yang sepi. tidak banyak orang mungkin mereka sudah tidak ada urusan lagi di sekolah kecuali anggota OSIS.


Tapi saat Bara melangkah ke depan gerbang ada seorang gadis. Bara ingat bukannya dia teman sekelas Rin.


Bara menghampiri.


"Lo Sandra kan? teman sekelas Rin,"


Sandra yang otaknya belum merespon ucapan Bara dengan baik, terdiam sejenak.


"Hei.. lo Sandrakan?"tanya Bara lagi..


"Iy–a gue Sandra."


"Lo tau rumahnya Rin?"


"Nggak tahu, tapi kalo Helena tau."jawab Sandra malas, lagi-lagi Rin.


"Padahal kalo lo tau gue mau lo nganterin gue ketemu Rin,"kata Bara yang akan melangkah, tapi setelah itu ditahan oleh Sandra


"Tau Kak, saya Tahu."ucap Sandra ini momen emasnya agar bisa pdkt sama Bara


"Lo bilang nggak tahu."


"Yah nanti tanya sama Helena,"


Bara mengerenyitkan keningnya aneh, Sandra langsung menyeret tangan Bara.


"Mana motor kakak, ayo kak keburu si Rin nya nggak ada."


Sekarang Sandra yang tidak sabaran untuk bertemu Rin.


~o0o~


Herlano telah pulang dari rumah sakit, saat pertama kali ia memasuki rumah megah nya, orang yang pertama kali ia cari Rin.


"Dimana Rin?"tanya Herlano kepada Bodyguard nya.


"Nona sedang dikamar tuan."


Herlano takut Rin akan pergi dari rumah ini, sudah mengetahui Rin berada di kamar nya, Herlano memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


Tak lama kemudian ada yang memencet bel..


.


.


.


.


"Non,,ada yang mencari Non,,"teriak dari luar kamar Rin


Tak lama Rin pun muncul dengan baju rumahan nya. rambutnya yang keriting bergelombang dibiarkan acak-acakan.


"Siapa?"


"Katanya teman Non"Jawab ART di rumah ini


"Oh yah tuan sudah datang."katanya, tapi tidak ada respon dari Rin


"kalo begitu saya permisi ke dapur."


Setelah ART nya pergi, Rin berjalan ke ruang tamu. jarang sekali ada yang mau menemuinya bahkan hampir tidak ada.


"Rin."ucap mereka bersamaan.


Rin langsung duduk di sofa, dia sudah tahu apa maksud mereka.


"Rin saya mau tanya soal.."


"Seharusnya Kakak udah tahu itu sejak lama."potong Rin


Bara yang mendengar nya, mengernyitkan kening nya tak mengerti


"Maksudnya."


"Dari tingkah kalian pacaran saja sudah terlihat, cewek Kakak gampangan."


Bara yang tadinya tenang sekarang sudah tersulut emosi.

__ADS_1


"Serli keluar itu gara-gara kamu."tunjuk Bara kearah Rin.


Rin bukannya takut melihat raut wajah Bara yang sudah memerah karena marah, malah memperlihatkan seringainya.


"Itu salah perlakuannya yang kayak *****."


"Kita pulang."Bara menyeret Sandra keluar dari rumah Rin. Bara takut ia tidak bisa menahan emosi.


Ia datang ke sana cuman ingin tahu bukti-bukti kalo Serli bekerja di Bar, tapi perkataan Rin malah membuat nya emosi.


Bara benar-benar aneh pada Rendi kenapa Rendi sangat menyukai gadis misterius seperti itu, kalo Bara jadi Rendi Bara akan memilih Helena dibandingkan Rin.


Setelah Bara dan Sandra pergi. Rin langsung masuk ke kamar nya, ia seperti biasa membuka MacBook nya.


Membuka akun sosial media dengan akun fake, memakai nama samaran nya. Rin melihat postingan para teman-teman nya, Rin selama ini memantau para teman sekolah nya lewat Sosial Media.


"huffft..."Rin menghela nafasnya


"Semua Postingannya seperti sampah......"ujar Rin.


Rin scroll kebawah ada postingan yang menarik matanya.


"Seraa..."


~o0o~


"Lo jadi ke rumah si batu?"tanya Helena di sebrang sana....


"Iya Hel, terus si Rin bikin kak Bara emosi."


"Udah biasa. salah kalian sendiri si batu ditanya, dia mah punya dunia nya sendiri."Ucap Helena sambil membersihkan kuku nya yang cantik.


"Tapi Hel hmm....dari kejadian itu gue jadi suka sama Kak Bara....ahhh gimana nih Hel."Kata Sandra salah tingkah


"Gimana apa nya kalo suka, suka ajah tapi San lo harus hati-hati. gue takut lo cuman jadi pelampiasan doang."Ucap Helena memperingati


"Ishh apan sih Hel, Kak Bara nggak mungkin sejahat itu. udah lah lo udah nggak asik lagi."


Tutut....


Sandra memutuskan sepihak panggilan nya.


"Cih si Sandra di bilangin..."


Helena melihat aplikasi Chatting, dia melihat pesannya yang hanya di lihat oleh Rendi. Helena membuang asal Ponsel itu ke sembarangan arah.


~o0o~


"Rin, Helena dua orang yang akan hambat rencana gue."


"Menurut lo, mereka akan bersatu atau nggak,"


"Mungkin."


~o0o~


"Guys surat yang waktu kemarin sini kumpulin sekarang, ke gue."


"Astaga Rizki masih pagi juga"sahut Siswi lain, memang kalo punya ketua kelas terlalu rajin seperti ini, padahal mereka baru saja masuk satu persatu, sudah ditodong.


"Nih punya gue."salah satu Siswa memberikan secarik kertas ke Rizki


"Nih makan tuh sama lo."


"Punya gue."dan seterusnya.


"Oke thanks guys, masih ada yang belum Helena, Vita sama Sandra kemana tuh anak bertiga, oh satu lagi Rinn."dan saat Rizki mengucapkan nama Rin, pas Rin masuk ke kelas dengan seperti biasa wajah datar dan MacBook ditangannya.


Rizki menguatkan hati nya dan pergi kebelakang Rin.


"Rin gue minta kertas yang kemarin."pinta Rizki


Rin pun mengambil kertas itu didalam tas nya, dan memberikan ke Rizki.


Sudah mendapatkan kertasnya Rizki pun pergi dihadapan Rin, tapi tidak lama kemudian dia kembali lagi menghampiri Rin.


"Rin kok belum ada tanda tangannya, bukannya Kakak lo...." ucap Rizki yang membuat Rin sedikit kesal.


Mata Rin yang tajam sekarang menatap Rizki


"Gue nggak ikut."tandas Rin,


"Tapi Rin.."


tidak ingin mendengar ocehan Rizki, Rin bangkit dari duduk nya sambil menenteng MacBook di tangan nya.


"Nggak usah bilang sama Rivano kalo gue nggak ikut."


ucapan Rin seperti peringatan bagi Rizki

__ADS_1


Rizki pun reflex dia mengangguk mengerti setelah itu Rin pergi. mungkin Rizki akan memberitahukan hal ini pada Kakak nya.


~o0o~


"Minggu depan gue mau bawa banyak jaket gue nggak mau sampe kedinginan."ujar Sandra


"Astaga Sandra lo kira kita mau ke puncak, lagian Camping nya nggak jauh jauh amat nggak usah ribet deh "sahut Vita


"Terserah gue dong, lo kan tau gue vit."


"Tapi..


"Husstt liat itu kan si Helena sama mantan gebetan gue, lagi ngapain mereka."potong Sandra, yang membuat Vita tidak jadi membuka mulutnya. Malahan sekarang jiwa kepo nya tambah besar.


Mereka melihat Helena dan Rendi sedang bicara serius, dipinggir lapangan basket.


"Sejak kapan mereka sedekat itu,"gumam Vita.


Walaupun yang mereka lihat Helena yang seperti banyak bicara sedangkan Rendi terus sibuk dengan bola nya.


"Udah lah San kita ke kelas aja."ajak Vita pada Sandra tapi saat Vita menoleh kebelakang Sandra sudah menghilang.


"Kemana tuh anak, jangan jangan nangis lagi."ucap Vita sebelum berlalu pergi meninggalkan dua sejoli itu.


~o0o~


"Gue minta maaf kalo gue punya salah Ren, gue juga nggak ngerti sih, sikap lo tiba-tiba berubah gini apa salah gue."ucap Helena, tapi Rendi benar-benar hanya diam dan tidak menanggapi sama sekali.


Sekarang cowok itu malah asik dengan bola nya sedangkan Helena yang di samping nya, masih saja berceloteh ria.


"Sekali lagi gue minta Maaf, Ren kalo..


"Berisik Hel, mulai sekarang lo nggak usah lagi ngomong sama gue."potong Rendi yang sudah tidak tahan dengan ocehan Helena.


"Kenapa coba lo jelasin gue salah apa?"tanya Helena, Helena benar-benar bingung dengan sikap Rendi, sejak Rendi makan siang di rumah Helena, sikap nya sudah mulai berubah. puncaknya waktu Helena mengungkapkan perasaan nya.


"Apa karena gue suka sama lo?"ujar Helena.


Rendi yang masih memainkan bola nya sekarang bola itu sudah tidak lagi berada ditangannya, Rendi berdiri.


"Karena kita nggak senasib."Ucapan terakhir Rendi sebelum ia benar-benar pergi, dan meninggalkan Helena yang masih berkecimpung dengan pikiran nya.


Jawaban Rendi tadi malah menambah beban pikiran Helena bukannya berkurang. Niatnya ia menemui Rendi untuk menanyakan kenapa sekarang Rendi bersikap dingin, tapi apa hasilnya.


~o0o~


Rendi tidak ada niatan untuk melukai hati Helena. ia tidak mengerti kenapa bisa-bisa nya mendekati Helena padahal yang dia mau Rin, jiwa nya seakan sudah terhubung pada mereka berdua.


Saat sedang melamun ada seorang gadis menghampirinya.


"Ren gue boleh pinjem buku lo?"


Rendi yang sedang Badmood pun, langsung meminjamkan bukunya tanpa melihat siapa gadis itu.


Dan guru pun datang...


Sedangkan di tempat lain, Kelas XMIA 1 sedang mengadakan pemilihan tenda.


"Pokoknya kita harus satu Tenda."


"Iyah gue nggak mau pisah,"


perbincangan seperti itu terjadi pada orang yang mempunyai sahabat dekat, karena tidak mau berjauhan.


Bu Lita sudah memtuskan dan draf nya sudah di bagi.


"Yess kita bertiga satu tenda."Kata Sandra senang


"Si Cindy juga satu tenda sama kita,"ujar Vita


"Yang penting nggak satu tenda sama si batu, tapi kayaknya dia nggak akan ikut deh."


Helena sudah tahu Rin tidak akan tertarik dengan acara sekolah seperti ini, bukannya mengikuti Rin malah kabur dan itu pernah terjadi di Sekolah menengah pertama, dimana Kak Rivano ingin melihat Rin di Acara perkemahan sekolah tapi Adik nya malah tidak ada, Helena menggelengkan kepalanya mengingat kelakuan Musuhnya yang gila.


~o0o~


Hari ini sekolah seakan singkat bagi Rendi, karena memang semua kegiatan di liburkan, mungkin agar para Siswa bersiap-siap untuk Camping besok.


Rendi masuk kedalam rumah, tepat saat Rendi masuk Papa nya keluar. tidak ada sapa menyapa seperti anak dan papa pada umumnya.


Fano yang cuek dan tidak peduli dengan kehadiran Rendi, dan Rendi pun begitu.


Bahkan saat kecil Rendi tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang Ayah. ia seperti orang asing di mata Papanya sendiri, Rendi tidak mengerti apa kesalahan nya sampai sekarang.


Rendi masuk kedalam kamar nya yang bernuansa gelap, sama seperti jiwa nya yang gelap, hidup dalam kebingungan itulah yang ia rasakan sekarang tidak pernah diterima oleh Ayah nya sendiri, ibu nya terlalu sibuk dengan pekerjaan nya. Rendi merasa ia seperti tidak punya keluarga.


semuanya seakan sibuk dengan dunianya sendiri, bahkan kehadirannya tidak mengubah semuanya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2