
~HAPPY READING ~
Akhirnya babak final di mulai, kalo misalkan mereka menang akan langsung masuk ke turnamen nasional dan kemungkinan meraka akan melawan SMA Inter High yaitu SMA yang sudah dua kali memenangkan perlombaan basket tingkat nasional.
"Sebelum bertanding ada baik nya kita berdoa dulu, berdoa menurut kepercayaan masing-masing dimulai."interupsi Bara mereka semua berdoa.
"Menang.. Menang... menang... huhu.."sorak mereka sebelum menuju kelapangan.
Dan lagi-lagi Rizki hanya bisa melihat pertandingan itu tanpa bermain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Permainan Rendi sejak menit pertama tadi sudah kacau, dan itu masih bisa di toleransi oleh Bara.
"Ren, ke gue sini."teriak Bara yang meminta umpan.
Rendi mendengar atau tidak, tetapi ia mengabaikan begitu saja teriak kan dari Bara, ia malah mendrible bola langsung ke ring, tapi belum juga menuju Ring, bola itu langsung direbut.
"Shitt.."umpat Rendi dan langsung mengejarnya. Tidak butuh waktu lama Rendi sudah mendapatkan bola tersebut tapi lagi-lagi ia mengabaikan teman teman nya dan bermain sendiri.
Tetapi tidak ada bola basket yang masuk ke dalam ring, malah sekarang lawan yang mendapatkan satu dua poin karena berhasil merebut bola dari Rendi.
Waktu istirahat sudah tiba ini kesempatan Bara untuk menegur Rendi, hari ini Rendi tidak seperti biasa nya emosi jauh dari kata normal.
Mereka semua langsung meminum dan beristirahat sejenak, sedikit dari mereka yang kesal karena sikap Rendi dan beruntung nya karena disini tidak ada Pak Hadi karena Pak Hadi harus mengontrol permainan basket putri.
Saat menit untuk istirahat sudah habis dan mereka disuruh kelapangan lagi.
"Ren gue mau lo istirahat aja tenangin dulu pikiran lo,"ucap Bara sambil menepuk pundak Rendi."Riz ayo main."suruh Bara pada Rizki.
Rizki yang mengerti pun langsung bergabung ke dalam lapangan, ia mengerti kenapa Bara menyuruhnya karena ini juga demi kebaikan sekolah nya, permainan Rendi benar-benar sangat kacau.
Rendi yang tadi nya sudah akan masuk ke lapangan tidak jadi ia kembali duduk di bangku cadangan, sambil menundukkan kepalanya.
Pagi ini tidak seperti pagi-pagi sebelum nya karena pagi ini orang tua nya hadir di satu meja makan, tapi Rendi tidak senang, hatinya malah tidak enak ada sesuatu yang akan terjadi.
Sejak tadi tidak ada percakapan didalam satu meja ini, selain bunyi sendok dan garpu.
Fano papa Rendi sudah selesai makan, sebelum berbicara dia menghela nafas terlebih dahulu.
"Saya cuman mau bilang rumah tangga ini sudah tidak seperti pada umumnya."itu lah kata pertama yang diucapkan Fano, dan mungkin saja akhir dari keluarga ini.
"Shitt..."lagi-lagi ia mengingat moment yang seharusnya baik, tapi malah menjadi akhir dari keluarga nya.
"Kenapa Rey.."gumam Rendi sembari menegang dadanya, dadanya kembali sesak. Rendi melihat ke atas untuk menghentikan air matanya yang akan jatuh.
__ADS_1
~o0o~
Helena senang karena tim nya lolos ke final dan itu tanda nya tim basket putri punya kesempatan untuk ikut turnamen.
Dan tujuannya sekarang untuk menonton pertandingan basket putra. Sekarang Helena sedang mencari tempat duduk yang tepat.
"Hel sini.."panggil Vita dan Sandra menyuruh Helena duduk di samping mereka Helena pun mengangguk dan bergabung bersama mereka berdua.
"Lo menang nggak?"tanya Vita
"Menang, tinggal final nya aja."
"Selamat yah hel.."ucap mereka
"Sama-sama.."
"Tapi Hel sekarang Rendi nggak main."kata Sandra.
"Kenapa?"tanya Helena karena penasaran, ini aneh seorang Rendi nggak main pasti terjadi sesuatu.
"Nggak tahu gue nggak ngerti.."ucap Sandra, walaupun ia sedari tadi menonton pertandingan basket Sandra hanya fokus pada Bara dan lagi dia tidak tau apa yang salah dari Rendi.
"Dia cedera?"
"Bukan."
"Terus.."
"Pokoknya permainan Rendi tadi jelek banget."sahut Vita, yang mengerti sedikit tentang basket.
Helena tidak percaya permainan Rendi jelek, mungkin saja mood nya sedang tidak baik atau jangan-jangan karena Rin pikir Helena.
********
"Dah.. kita pisah disini, hati hati.."ujar Bara perhatian, dengan anak-anak Basket lain nya saat Bara akan berjalan mendekat kearah motor nya ada tangan berada di pundak nya.
"Maaf,"ujar Rendi tiba-tiba.
Bara menghela nafas, dia juga tahu kalo Rendi sekarang tidak sedang baik-baik saja.
"Is't okay."balas Bara dengan senyuman dan mengakhiri percakapan ini.
Rendi pun pergi tanpa kata. Bara menatap punggung Rendi yang semakin menjauh, ia sudah mengenal sosok Rendi 3 tahun tapi sampai sekarang Bara tidak tahu apa masalah Rendi.
Bahkan waktu itu, Bara pernah berpikir kalo Rendi punya kepribadian ganda, karena sikap nya yang terkadang berubah drastis.
~o0o~
Malam ini Rizki sangat senang bisa bermain langsung di lapangan sekarang ia berniat untuk mampir ke rumah Rin.
"Semoga aja Rin ada di rumah nya.."ucap Rizki dibalik helm nya.
"Pasti lah Rin ada di rumah, cewek kayak Rin aja keleyaban...jalan keluar aja mikir-mikir dulu hihihi.."ujar Rizki sembari tertawa tertahan.
Sedikit lagi motor Rizki masuk ke perumahan..
Dan sekarang Rizki sudah ada di depan gerbang rumah keluarga Leach. Rizki turun dari motornya lalu berjalan kearah bell dan menekan tombol bel.
"Halo ini siapa.."suara di bel itu
"Hah, oh iya pak saya Rizki.."jawab Rizki
"Mau cari siapa.."Suara itu berbunyi lagi dan Rizki tebak itu adalah Pak Satpam di rumah ini.
"Rin. Rin Leach,"kata Rizki
__ADS_1
"Oh Nona muda sedang tidak ada di rumah.."
"Kemana?"tanya Rizki
"Semua keluarga sedang pergi ke Singapura.."
"Singapura."gumam Rizki
"Iyah ."ujar satpam itu yang mendengar guamaman Rizki
"Kalo boleh saya tahu ke Singapura lagi ngapain.."
"Saya tidak tahu.."
"Pulang nya kapan?"
"Itu juga saya tidak tahu Mas.."
"Ya sudah makasih pak.."Ucap Rizki mengakhiri...
"Ke Singapura mau ngapain yah, kalo gue chat Rin fiks pasti nggak di bales.." Rizki kembali ke motornya lalu melaju dan pulang kerumahnya.
~o0o~
Dengan terpaksa Helena harus pulang dengan Bara, karena lagi-lagi ia tidak ada yang menjemput.
Sedari tadi Bara terus saja berbicara ini itu, Helena hanya menjawab seperlunya saja.
"Ya tuhan kapan nyampe nya sih ini.."ucap Helena dalam hati.
"Gue tadi masuk bola ke Ring banyak lo lihat kan Hel.."
"Hmm"
"Kita makan dulu yuk Hel.."ajak Bara
"Nggak Kak langsung pulang aja.."tolak Helena
"Gue tahu lo laper kita..
"Nggak Kak nanti bisa makan di rumah, soalnya takut Mama nunggu.."potong Helena dengan suara keras agar Bara mengerti, dia tidak ingin berlama-lama satu motor dengan nya, Helena takut Sandra marah.
"Yaudah deh.."Ucap Bara dan langsung melaju dengan cepat.
"Akhirnya..."Ucap Helena lalu turun dari motor Bara, setelah itu Helena melepaskan helmnya dan memberikan helm itu pada Bara.
"Thank's yah Kak.." Helena yang menunggu Bara agar cepat pulang tetapi orang itu masih saja berdiam diri.
"Yaudah kak hati hati.."kata Helena lagi, tapi Bara tetep saja masih di sana.. Helena menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalo gitu saya masuk dulu–an yah Kak Dahh.."ujar Helena membalikan tubuhnya dan melangkah masuk.
"Ehh tunggu Hel.."panggil Bara yang sekarang sudah turun dari motornya dan berada di samping Helena.
"Iyah kenapa Kak.."tanya Helena bingung
"lo mau makan kan?"
Dengar pertanyaan Bara Helena hanya mengangguk saja.
"Yaudah gue juga ikut.."kata Bara dan berjalan didepan Helena.
Helena tanpa sadar mengepalkan tangannya, hatinya terus mengucapkan sumpah serapah untuk Bara.
TBC.
__ADS_1