
~HAPPY READING~
Masih pagi di kediaman keluarga Leach tapi sudah terdengar ribut-ribut, saat Rivano pulang dari rumah sakit berniat untuk mengantarkan Rin tapi adik nya yang kurang ngajar sudah berangkat terlebih dahulu.
"Dia berangkat diantarkan supir kan?"
"Tidak Tuan, nona Rin berangkat sendiri."
"Kenapa kalian biarkan? astaga anak itu susah sekali di atur,"Rivano segera lari kearah mobil nya.
"Pak lim cepat antar kan saya ke sekolah Rin."Titah Rivano dan mobil pun melaju, ia harus mengecek adiknya ada atau tidak disekolah.
Rivano turun dari mobil dengan memakai kacamata ia tidak mau mata panda nya terlihat karena bisa mengurangi pesonanya.
para murid pun mulai bisik-bisik tidak biasa seorang Rivano ke sekolah karena Rivano akan datang saat ada acara tertentu.
Rivano langsung masuk Ke kelas pertama yang dimana adiknya berada. yang tadinya kelas itu Riuh seketika menjadi hening karena ke hadiran Rivano yang tiba-tiba datang ke kelas mereka.
Rivano melihat kearah ujung kelas itu yang dimana Rin berada sedang asik dengan MacBook dan setelah itu tanpa kata Rivano langsung keluar kelas begitu saja.
tapi saat keluar ia berpapasan dengan Rizki.
"Pagi Kak,"
"kamu ikut saya sekarang."titah Rivano, dalam hati Rizki ada apa lagi ini.
~o0o~
Waktunya istirahat seluruh Siswa berbohong-bondong menuju ke kantin tanpa terkecuali.
Dan Rin pun begitu, walaupun ia tidak memesan makanan tapi ia sudah stand by sedari tadi.
Seperti biasa ia membuka MacBook nya sembari makan roti yang ia bawa dari rumah.
Rin tidak memperhatikan bawa ada yang menatapnya sedari tadi dari kejahuan. siapa lagi kalo bukan si penguntit Rizki, Rin tak menghiraukan hal itu.
Tak lama, ada ribut-ribut yang masuk ke telinga nya. lagi-lagi ia melihat Kakak kelas yang waktu itu, dia sedang melakukan pembuliyan dan yang di buli pun sama, ada masalah apa sebenarnya.
Rin sengaja tersenyum miring ia merekam kejadian itu, dimana Citra yang sedang makan di rebut makanannya oleh kakak kelas yang Sok berkuasa lalu menumpahkan semuanya ke seragam Citra.
Setelah Rin salin Video itu kedalam MacBook nya. Rin sengaja memutar ulang dengan volume yang ia besarkan.
__ADS_1
"Makan nih rasain lo, hahahah.."ucap Serli di video itu.
Saat Serli akan melangkah keluar Kantin ia menghentikan langkahnya dan kembali masuk bersama antek-antek nya.
Semua penghuni kantin yang melihat itu jadi antusias, bakalan ada keributan yang kedua.
Rizki yang sedari tadi melihat apa saja yang dilakukan Rin, refleks ia mendekat ke arah Rin tapi Serli sudah sampai duluan.
"Si Batu ada-ada aja deh, tapi jangan sampai dia menang lagi."gumam Helena yang sedari tadi memperhatikan kegiatan Serli, saat Serli membully Citra pun Helena hanya melihatnya saja.
"Ada masalah apa sih lo sama gue,"teriak Serli, bukannya menjawab Rin malah terus melihat kejadian itu di video dan mengabaikan Serli.
"JAWAB."Serli menggebrak meja.
Tapi lagi-lagi Rin hanya melihat ke Video itu dan mengabaikan Serli.
Serli yang kesal lalu merebut MacBook Rin dan menjatuhkan nya ke lantai. membuat MacBook itu mati, penghuni kantin pun jadi makin antusias.
"Lo hancurin laptop gue."ucap Rin yang baru mengeluarkan suara, sekarang berhadap-hadapkan dengan Serli.
Serli yang sekarang tersenyum licik, melipatkan tangannya didepan dada, supaya ia terlihat semakin menakutkan.
"Jaga tangan lo kakak kelas, gue nggak suka disentuh sama tangan kotor,"Rin membersihkan seragam nya karena terkena sentuhan dari Serli
"Gue tahu siapa lo sebenernya, Orang kayak lo nggak pantes Ngebully orang karena gue tau nasib lo juga sama kayak mereka."sambung Rin yang memajukan langkahnya kearah Serli sontak Serli mundur.
Tidak mau terlihat ketakutan Serli pun menegakakan tubuhnya. dan berujar
"APA MAKSUD LO."murka Serli
"*****."ucap Rin sembari tersenyum miring.
Serli berniat menampar Rin tapi ada seseorang yang menahannya.
"Udah Ser, kamu nggak malu apa."ucap Bara yang menenangkan pacarnya.
"Bara kamu kok.."Serli yang terlihat gugup saat Bara berada disisi nya, tapi Serli sudah tersulut emosi.
"Sini lo,"seru Serli yang ingin menggapai rambut keriting bergelombang Rin.
"Biar rambut lo gue lurusin."teriak Serli, tapi niatnya lagi-lagi di gagalkan oleh Bara.
__ADS_1
"Udah Ser."ujar Bara yang masih memegangi tangan Serli
Rin melipat tangannya di dada ia maju satu langkah kearah Serli dan Bara, sembari tersenyum miring, kepalanya ia gelengkan, benar-benar ***** pikir Rin.
"Kakak pacarnya?"sebelum ada yang menjawab lagi Rin pun mengeluarkan kata-kata yang membuat Serli kesal.
"Sebaiknya dari sekarang Kakak putusin, sebelum nyesel di akhir orang kayak dia nggak pantes jadi masa depan."
"Kurang ajar lo Rin."teriak Serli yang hendak menjambak rambut Rin tapi lagi-lagi aksinya dihentikan oleh Bara
"Ahhh Lepasin..."Serli mencoba melepaskan genggaman tangan Bara.
setelah itu Rin mengambil MacBook nya yang mati dan retak.
"Tidak punya tata krama."cetus Rin lalu pergi meninggalkan Kantin begitu saja.
Meninggalkan Serli yang sudah mengamuk, wajah Bara yang mulai memikirkan sesuatu.
Bara melepaskan Serli begitu saja, dia pun keluar Kantin.
Serli yang sudah mulai sadar pun meneriaki nama Bara
"Bara, Bar tunggu."
"Nggak boleh, Bara nggak boleh mutusin gue."gumam Serli dan menyusul Bara.
"Ser tungguin kami."ucap Mereka bertiga, yang sedari tadi diam.
~o0o~
Setelah keluar dari kantin Rin memutuskan untuk ketempat populer nya, yaitu rooftoop.
Rin menuju bangku panjang yang sudah menjadi bangku favorit nya, ia memangku MacBook nya lalu membukanya.
Rin sedikit kesal dengan keadaan MacBooknya yang retaknya semakin parah, walaupun masih bisa digunakan.
"Gara-gara si *****."gerutu Rin kesal. MacBook ini satu-satunya kalo rusak ia tidak punya lagi.
Walaupun seorang Rin Leach bisa meminta apapun pada tuan Herlano tapi Rin pantang meminta apapun dari Ayahnya.
TBC.
__ADS_1