The Enemy

The Enemy
Chapter 89


__ADS_3

~HAPPY READING ~


Rin membawa Helena ke rumahnya, saat masuk ke dalam Helena terpukau dengan isi rumah tersebut, Sekarang interior rumah itu di hiasi berlian.


"Gila rumahnya tambah bagus aja, seandainya gue yang jadi bagian dari keluarga Leach,"batin Helena, Helena melirik sekilas kearah Rin.


"Tapi malah si batu itu yang jadi."gerutu Helena.


Rin membuka pintu kamarnya dan menyuruh Helena masuk, Kamar Rin terbilang kecil menurut Helena karena tidak seluas kamar Helena yang dulu. Bahkan ranjangnya saja hanya muat untuk satu orang. Tapi sepertinya dugaan itu akan di patahkan saat Rin membuka ruang rahasianya di balik meja belajarnya, seketika mata Helena terperangah saat melihat begitu banyak macam komputer dan Laptop di sana.


"Masuk."suruh Rin,


"Hah, oh iya."ujarnya.


Rin memilih komputer yang terakhir kali ia gunakan untuk mencari data diri Ayahnya Vita.


"Lo seharusnya cari tahu dulu nama ayahnya si Vita."omel Helena, yang membuat Rin kesal seperti Rin yang dijadikan babu oleh Helena.


Sekarang Helena sedang berada di rumah Rin, tepatnya di kamar Rin.


Helena yang mempunyai sifat yang tidak sabaran, terasa geram melihat Rin yang lambat mencari info soal keluarganya Vita.


Helena menghela nafas nya jengah.


"Lambat banget, coba sini gue aja yang cari."saat Helena akan mengambil alih Komputer itu, tangannya langsung di tepis oleh Rin.


"Cih, bisa diem nggak sih."sahut Rin.


Setelah hampir setengah jam' an menunggu Rin, Helena merasa perutnya butuh di isi.

__ADS_1


"Rumahnya oke gede tapi ada tamu nggak di kasih jamuan,"


"Gue laper lagi."ucap Helena sembari memegang perutnya.


"Rin gue ke toilet dulu."ujar Helena tapi Rin sepertinya tidak mendengar atau mungkin karena terlalu fokus.


Helena beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar Rin, dan mencari di mana letak dapur berada.


"Gue waktu SMP sering nih main ke sini, tapi karena rumahnya sering gonta ganti gaya jadi lupa di mana dapurnya."Helena melangkahkan kakinya tanpa tahu harus kemana.


"Coba gue ke situ,"Helena melangkahkan kakinya ke depan ruang kerja Rivano.


*********


Vita sekarang berada di rumah Sindy, dan berharap Sindy bisa menolongnya.


"Lo nyuruh gue buat bilang sama bokap lo buat investasi ke perusahaan bokap lo."ujar Sindy


"Gue nggak bisa."


Vita menarik tangan Sindy dan memohon di sana.


"Gue mohon Sind,"


"Sumpah Vit, gue nggak ngerti yang kayak gituan, emang perusahaan bokap lo mau bangkrut?"tanya Sindy, sembari mencoba melepaskan tangan Vita


"Nggak sih, malah sebaliknya."jawab Vita sembari melepaskan tangannya.


"Terus kenapa lo minta buat bokap gue investasi ke perusahaan bokap lo."

__ADS_1


"Tapi bakal Sind,"


"Maksud lo,"Sindy mengerenyitkan keningnya semakin tidak mengerti maksud Vita.


"Rin,"ucap Vita tiba-tiba


"Rin?"tanya Sindy bingung


"Iya sih Rin nanti yang buat perusahaan bokap gue bangkrut,"


"Gimana bisa?"


Vita bangkit dari duduknya lalu menjambak rambutnya frustasi.


"Pokoknya gue nggak mau miskin, gue nggak mau."ucap Vita sembari terus mondar mandir di hadapan Sindy, dan sesekali menjambak rambutnya. Hal itu membuat Sindy takut, Vita seperti orang gila.


Vita menegang bahu Sindy lalu berteriak."lo harus bantu gue.."Yang semakin membuat Sindy takut.


"Bi, Bibi.."Sindy memanggil ART rumahnya, setelah itu ART itu datang.


"Iya Non,"


"Bawa dia keluar,"tunjuk Sindy kepada Vita.


"Sin, Sindy tolong gue."Vita makin memohon.


"Cepet Bi."teriak Sindy.


"Baik Non."ART itu menarik Vita keluar dari kamar Sindy.

__ADS_1


.**TBC.


Sorry Typo**


__ADS_2