
Saat Helena sampai rumah ia langsung masuk ke kamar setelah itu membersihkan dirinya dan langsung tertidur. Besok pagi Helena yakin badannya akan terasa sakit.
Sedangkan Rin, lagi-lagi mendapatkan amarah dari sang kakak, karena pulang telat.
"Kakak tadi suruh Supir untuk menjemput kamu, tapi katanya kamu sudah tidak ada di sana, kamu kemana RIN."
Rin menghela nafas lelah, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Kakak nya, Hari ini benar-benar melelahkan dan Rin tidak ingin memperpanjang perdebatan ini.
Rin beranjak dan pergi dari ruangan Rivano. dan itu membuat Rivano sangat marah, pasalnya Rivano masih sedang berbicara dan Rin pergi begitu saja.
"Rin...tidak sopan kamu itu, Kakak belum selesai bicara, RIN...."teriak Rivano frustasi di akhir kalimatnya.
*****
Pagi harinya Helena memilih untuk tidak sekolah di karena kan sakit. Tanpa kehadirannya di sekolah membuat teman kelas Helena khawatir dan juga suasana di dalam kelas tampak hening.
"Emang Helena sakit kenapa Vit?"tanya Sindy, Vita yang tadinya asik chattan dengan seseorang jadi terhenti.
"Helena bilang sih katanya nggak enak badan."jawab Vita, setelah itu fokus lagi ke ponselnya.
"Aneh kemarin kayak sehat-sehat aja tuh anak."sambar salah satu teman kelasnya.
"Gue yakin pasti gara-gara tanding basket sama Rin."Sahut Gio tiba-tiba. Dan sontak semua mata mengarah pada tersangka yaitu Rin, tapi fokus Rin tetap pada MacBook nya tanpa menghiraukan tatapan teman sekelasnya. Tapi setelah itu tatapan mereka beralih lagi pada Gio, mereka butuh penjelasan terperinci dalam kasus ini. Bagaimana bisa seorang Helena yang jago main basket sama sakit hanya karena melawan seorang Rin, bahkan sekedar menerima bola saja Rin tidak bisa.
__ADS_1
"Yang bener lo Gi."sekarang Cindy yang bertanya.
"Tanya aja sama Sandra."anak-anak yang munya rasa kepo akut mulai berkerumun kearah Sandra. Vita yang tadinya sedang asik chattingan sekarang ia juga ikut-ikutan meminta penjelasan pada Sandra.
"Yang di katakan Gio bener San."
"Kok lo nggak ngasih tahu gue sih Sand, curang lo katanya temen, kok gue nggak di ajak sih ishh nyebelin. Helena..."Vita berteriak setelah itu lari keluar kelas.
"San, jawab dong."
"Sandra, lo juga ikutan main basketnya."
"Sandra.."
Sandra menutup telinganya lalu melirik kearah Rin sekilas, kenapa sekarang dirinya yang menjadi sasaran dari ke ingin tahuan teman-teman kelasnya, seharusnya Rin bukan. Mungkin mereka tidak berani bertanya langsung pada Rin.
Sandra beranjak dari duduknya dan menghampiri Rin, yang sedang asik memainkan MacBook nya.
"Rin, tolongin gue dong."Sandra meminta pertolongan pada Rin. Rin menghela nafas berat, kenapa dirinya harus mempunyai teman kelas.
Rin yang tadinya duduk terpaksa berdiri, matanya yang tajam, menatap satu persatu teman kelasnya yang kepo. Setelah itu Rin bersuara.
"Helena lemah."ucap Rin setelah itu pergi. Hanya dua kata yang Rin keluarkan tapi mampu membuat teman kelasnya diam dan kembali ke aktivitas masing-masing. Dan Sandra sendiri yang merasa aneh, kalo hanya dua kata saja Sandra juga bisa.
__ADS_1
Sandra pun kembali duduk di kursi nya tak lama kemudian Vita kembali ke kelas dengan wajah yang menyeramkan. Sandra yang melihat itu langsung lari keluar kelas di ikuti Vita.
******
Rin berjalan menuju rooftop. Sudah lama sekali Rin tidak ke rooftop.
Saat Rin sudah di atas sana ternyata sudah ada seseorang yang selama ini Rin hindari, Yaitu Rendi.
Saat Rin ingin berbalik arah untuk meninggalkan rooftop Rendi mencekal tangannya.
"Rin, gue mau bicara sama lo."Rin memejamkan matanya. Akhirnya dengan terpaksa Rin tidak jadi keluar dan berbicara dengan Rendi.
"Gue tahu lo kemaren tanding basket sama Helena, tapi cara lo kemarin buat Helena sakit Rin dan juga buat Kak Rivano khawatir karena lo pulang telat."
"Bahkan lo sampe ikutin Intan dan Manda."
"Dari mana lo tahu Intan sama Manda ikut."tanya Rin, yang Rin tahu di situ hanya ada beberapa orang saja.
"Citra."jawab Rendi tanpa keraguan.
"Sekali lagi yah Ren, gue ingetin lo nggak usah ikut campur urusan gue."setelah itu Rin pergi dari sana.
TBC.....
__ADS_1