The Enemy

The Enemy
Chapter 37 (Revisi)


__ADS_3

~HAPPY READING ~


Jadwal pertama di hari terakhir ulangan adalah mata pelajaran Matematika setelah melewati begitu banyak tantangan akhirnya ini yang terakhir.


Dan Matematika juga akan menjadi penutup dari akhir persaingan dingin antara Rin Dan Helena.


Bel pun berbunyi guru yang akan mengawas kelas XMIA 1 adalah Bu Joko.


Bu Joko sangat ketat saat menjadi pengawas. Tidak boleh ada barang di meja selain pensil dan kertas ulangan, tas mereka di kumpulkan di sudut ruangan bukan hanya itu saja Bu Joko juga seperti mempunyai mata banyak ia akan tahu pergerakan murid yang mencurigakan.


"Rin sedang apa kamu?"tanya Bu Joko yang melihat Rin sedari tadi mengucek matanya, Rin juga membukukan badan seperti sedang mencari sesuatu di kolong meja.


Tidak ada jawaban dari Rin, Bu Joko pun menghampiri meja Rin. Bu Joko menarik tubuh Rin yang menyelusup ke kolong meja.


"Sedang apa kamu?"tanya Bu Joko lagi sambil memeriksa kolong meja tapi tidak ada apa-apa.


"Kacamata."jawab Rin sambil memegang mata nya lalu beranjak dari duduk nya."saya ijin mengambil kacamata.."tapi saat Rin melangkah Bu Joko langsung mendudukkan nya paksa.


"Biar saya yang cari.."Bu Joko lalu berjalan ke tumpukan tas dan mengambil tas Rin."Ini tas kamu?"


Rin menganggukkan kepalanya, kalau jarak jauh ia bisa melihat karena mata Rin rabun dekat, ia tidak bisa melihat kertas ujian dengan baik, Rin lupa memakai softlens tapi ia selalu membawa kacamata didalam tas nya.


Setelah mendapatkan kacamata, Bu Joko langsung memberikannya ke pemiliknya. Bu Joko masih curiga terhadap Rin, Bu Joko memeriksa kertas ujian Rin dan ternyata belum di isi sama sekali.


"Rin cepat isi waktunya tinggal 30 menit lagi."


"Ibu rasa kamu tidak bisa menyelesaikan semua ini.."ucap Bu Joko setelah itu pergi ke meja nya.


Rin memakai kacamata nya dan mulai serius menyelesaikan soal Matematika. Rin tersenyum miring karena soal ulangan kali ini terasa mudah bagi nya. Rin tidak pernah, tidak bisa menyelesaikan soal Matematika, hanya 30 menit bahkan ia bisa menyelesaikan soal Matematika dengan waktu 20 menit saja.


Setelah dua puluh menit lewat dan hanya menyisakan sepuluh menit, Rin dengan tampang datar nya mengumpulkan soal itu ke hadapan Bu Joko.


Bu Joko terkejut Rin bisa menyelesaikan soal dengan cepat.


"Udah kan Bu selesai.."ujar Rin


"Iyah kamu bisa keluar lebih awal.."


"Rin tunggu gue.."teriak Rizki dari arah belakang.


Rin membenarkan kacamata nya, setelah itu keluar, pesonanya bahkan bertambah dua kali lipat saat memakai kacamata.


"Rin tambah cantik astaga gue harus cepet.."gumam Rizki.


Helena yang melihat Rin begitu cepat mengerjakan soal Matematika, Helena langsung dengan cepat menyelesaikan soal tersebut.


~o0o~


Setelah sudah menyelesaikan lebih dulu Rin langsung pergi ke roftoop sekolah tempat ternyaman yang ada di sekolah.

__ADS_1


Untuk pertama kali nya Rin tidak membawa MacBook nya, ia tidak membawa apa-apa yang bisa mengusir rasa bosan.


Rin memandang pemandangan dari atas ternyata ia bisa dengan jelas melihat pemandangan hanya dengan kacamata bukan hanya jelas tapi juga nyaman.


Waktu kelas enam SD penglihatan nya bermasalah ia di harus kan memakai kacamata tapi saat pas beranjak ke SMP, Rin memutuskan untuk memakai softlens karena ia takut di bully kalo dirinya memakai kacamata.


Saat sedang asik memandang pemandangan ada orang yang menyentuh bahu nya Rin tersentak kaget.


"Gue kira lo di kantin..."ujar Rendi


"Gue bawain lo Pop mie.."Rendi memberikan Pop Mie itu pada Rin, karena Rin memang lapar jadi ia menerima nya lalu memakan nya tanpa merasa malu dengan Rendi.


Saat sedang memperhatikan Rin yang sedang makan ada sesuatu yang tidak biasa, ternyata Rin memakai kacamata astaga bagaimana bisa Rendi tidak sadar.


"Rin lo pakai kacamata?"tanya Rendi yang baru sadar.


"Mata lo sakit?"tanya Rendi lagi


"Mata gue udah sakit dari dulu..."jawab Rin.


"Kok gue nggak tahu,"


"Lo nggak akan pernah tahu, sampai saat ini juga lo nggak akan tahu apa aja rasa sakit yang gue alami..."dan setelah mengucapkan itu Rin pergi meninggalkan Rendi.


"Apa gue belum baca semuanya."gumam Rendi pada dirinya sendiri.


Hari ini hasil ulangan akan keluar di mading, dan ini adalah hasil terakhir yang menentukan mereka naik kelas atau tidak.


Murid yang merasa dirinya bodoh hari ini pikiran mereka benar-benar resah, mereka takut hasilnya akan gagal. Sedangkan murid yang merasa diri nya pintar tampak biasa-biasa saja yang mereka khawatirkan takut peringkat mereka menurun, dan untuk murid nakal yang jadi langganan guru BK karena sifat nya tidak mau diam tetapi hari ini berbeda mereka menjadi sosok pendiam untuk sehari bahkan pakaian yang mereka pakai pun rapih biasanya karena biasanya tidak. Karena tidak ada keajaiban lagi seperti ulangan semester 1 kemarin dan ini murni hasil pemikiran mereka sendiri.


"Aduh gimana nih Vit gue takut nggak naik..."ujar Sandra yang sedari tadi tidak tenang.


"Kalo lo nggak naik kelas siap-siap lo di kirim ke pesantren sama Mama lo.."bukannya menenangkan temannya yang lagi ketakutan karena nilai nya ucapan Vita malah membuat Sandra semakin takut.


"Vita...."


"Tenang San lo pasti naik, lo kan udah belajar dengan giat..."ucap Helena yang tiba-tiba datang


"Hel tapi gue masih takut..."rengek Sandra bahkan sekarang ia malah memeluk Helena seperti seorang anak yang meminta mainan pada ibu nya.


"Lo harus yakin sama apa yang lo udah kerjain ingat usaha tidak akan mengkhianati hasil..."Helena melepaskan tangan Sandra yang memeluknya.."Semester kemarin gue tahu nilai lo nggak asli.."ucap Helena lagi


"Itu mungkin aja kesalahan teknis dan keberuntungan bagi Siswa yang noob kayak gue...."


"Gue tahu San itu kesalahan teknis tapi sebenarnya itu semua udah di rencana in.."ucap Helena keceplosan


"Rencana in..."sahut Vita


"Nggak, gue juga nggak ngerti tapi nilai kemarin nilai yang Sandra dapet nggak real dari pemikiran dia..."

__ADS_1


Vita yang tadi nya curiga sekarang dia malah sibuk dengan ponselnya.


"Pokoknya yah Hel, gue nggak pa-pa nggak dapet 50 besar yang penting naik kelas udah itu aja..."


"Dari semalam gue nggak bisa tidur karena mikirin hal ini, ngapain juga Mama gue masukin ke sekolah ini ketat banget lagi... Hah...."Sandra benar benar frustasi Helena tidak bisa lagi menenangkannya.


"San katanya kalo lo dapet peringkat terakhir di kelas lo dapet bangku paling belakang."ujar Vita yang malah membuat Sandra frustasi


"Bohong lo Vit..."bantah Sandra lalu melirik Helena.."Hel emang bener?"Tanya Sandra dan Helena hanya mengangguk dan membenarkan apa kata Vita..


"Hahhh gue nggak mau..."teriak Sandra sambil memegangi rambutnya


"Enak kali San lo bisa nyontek dengan leluasa, dan lo bisa nyemil makanan diem-diem.."kata Vita


"Nggak Vit, gue mau dapet meja ke dua yang di depan gue Helena terus lo di belakang gue biar gue nyontek nya jadi gampang.."sahut Sandra yang setelah itu dapat toyoran dari Vita.


"Aww Vita..."Sandra yang terima berusaha membalas Vita namun Vita menghindar dan berlari keluar kelas, Sandra mengejarnya dan masuk lah Rizki.


"Guysss hasil peringkat pararel sudah keluar..."teriak Rizki


Mereka yang penasaran pun langsung keluar kelas untuk melihat siapa yang masuk peringkat tahun ini, termasuk Helena yang ingin tahu apakah ia masih bertahan di posisi ke satu.


Rin yang tidak tertarik dengan hal itu tidak beranjak sedikit pun dari kursi nya ia malah asik memainkan MacBook nya.bRizki yang melihat Rin seperti itu ia menghampiri Rin dan mengajak nya untuk melihat peringkat pararel, Rin yang awalnya menolak tapi Rizki terus membujuk nya dan bahkan Rizki harus memberitahukan hasil nya pada Rin setelah itu Rin baru mau melihatnya.


Saat sampai di mading Rin tidak bisa melihat hasil yang di katakan Rizki di karena kan banyak sekali Siswa yang berebut untuk melihat hasilnya.


"Iyah rame deh Rin.."ucap Rizki


Tapi Rin akan tetap menunggu sampai keadaannya lenggang, tapi kalo ia hanya terus berdiam diri disini pasti akan lama karena murid yang terus berdatangan.


Rin memberanikan diri untuk masuk kedalam kerumunan tapi saat mau masuk ia malah berhadapan dengan Helena.


"Selamat lo menang..."ujar Helena lalu berjalan melewati Rin sambil menyenggol bahu Rin keras.


Rin yang masih belum percaya pun langsung menerobos kerumunan, dan setelah tepat di depan mading mata nya tidak lepas dari keberadaan nama nya yang berada di puncak senyuman pun terukir di wajah cantik Rin.


Peringkat Pararel



Rin Leach


Helena Joeta Putri Reynaldi


Rendi Dewanata



Tbc.

__ADS_1


__ADS_2