The Enemy

The Enemy
Chapter 25 (Revisi)


__ADS_3

~HAPPY READING ~


Sekolah meliburkan seluruh siswa selama 2 minggu, Setelah ulangan dan pembagian rapot.


Banyak para Siswa memanfaatkan liburan ini, untuk sekedar berkunjung ke kampung halaman mereka, atau berlibur dengan keluarga.


Tapi beda hal nya dengan Rin, ia malah harus tetap belajar di liburan kali ini, Rin sedikit menyesali tindakannya. Walaupun liburan sekolah Rin tidak pernah merasakan apa itu liburan karena ia menghabiskan waktu liburan nya dengan komputer-komputer nya dan laptopnya, tapi dulu ia pernah merasakan nya dua kali apa itu arti liburan dengan seseorang, yang sudah tidak ada lagi. Entah lah Rin tidak tahu di mana ia sekarang.


"Rin cepat Rendi sudah menunggumu di ruang tamu,"teriak Rivano di luar sana.


Rin yang sedang mengambil buku nya pun mendengus kesal lalu segera bergegas, walaupun ia memiliki Kakak laki-laki tapi menurut Rin ia seperti memiliki Kakak perempuan, karena sikap Rivano yang terlalu cerewet.


Dengan rasa malas Rin berjalan keluar kamar, melangkah kan kaki nya menuju ruang tamu di mana Rendi berada tapi saat akan ke sana ternyata Rendi sedang bersama Rivano. Seperti sedang membicarakan sesuatu, tapi sejak kapan Kakak nya akrab dengan Rendi.


"Hkmm,"_Rin berdehem untuk meminta perhatian dua laki-laki itu.


"Rin kamu, dan Rendi sebaiknya belajar di luar saja?"kata Rivano tiba-tiba.


"Luar?"


"Iya, Kakak pikir kamu akan jenuh kalo terus belajar di rumah, lagian ini kan sebenarnya hari libur jadi tidak apa-apa kalo kamu belajar di luar biar tidak bosan."ujar Rivano, yang membuat Rin memutar bola mata nya malas, bosan katanya.


"Yasudah Kakak berangkat ke kantor dulu, untuk bocah ingusan tolong kau bimbing adik ku sampai pintar,"kata Rivano lagi pada Rendi.


Kata pintar yang selalu disebutkan nya membuat Rin muak mendengar nya, keadaan seperti semacam ini lelucon menurut Rin.


Setelah Rivano pergi, mereka berdua masih terdiam di tempat nya.


Dan akhirnya Rendi memberanikan diri untuk melangkah mendekat kearah Rin dan memegang pergelangan tangan Rin dan membawa nya keluar, Tapi aneh nya Rin tidak menolaknya.


~o0o~


Sepanjang perjalanan tidak ada yang memulai percakapan, Rin seakan pasrah dibawa kemana saja oleh Rendi.


Rendi mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang, butuh waktu berpuluh-puluh menit untuk sampai ke bukit kecil, di sana ada pohon rindang yang sudah tua tapi masih kokoh dengan dedaunan yang lebat, terdapat juga ayunan.


"Oke kita akan belajar di sini."ucap Rendi untuk pertama kali nya.


Tapi Rin masih terperangah dengan pemandangan yang ada di bawah bukit ini, saat ia menginjakkan kaki nya di rumput kecil yang hijau rasa di hati nya seperti tenang dan teduh. Rin pernah mengatakan pada seseorang jika ia ingin pergi ke bukit.


Rin menghirup sejenak dan setelah itu ia duduk di samping Rendi sambil mengeluarkan buku nya, Rin masih ingat niat awal mereka berada diluar karena belajar.


Rendi memperhatikan Rin sejak tadi, saat Rin menyodorkan buku nya, Rendi baru tersadar.


"Belajar apa?"tanya Rin


"Hah! Oh matematika,"ucap Rendi


Rin hanya mengangguk saja, setelah itu Rendi membahas apa saja yang akan Rin pelajari, seperti rumus X dan Y atau Algoritma atau juga menghitung sudut.


Setelah itu seperti biasa Rin akan mendapatkan soal, tidak butuh lama untuk Rin menyelesaikan soal itu setelah selesai Rin memberikan jawabannya pada Rendi, seperti biasa Rendi akan memeriksa nya.


"Haahhh...tau nggak sih moment kayak gini itu seperti lelucon menurut gue,"ucap Rin yang seperti nya akan menambah banyak topik pembicaraan.


"Lelucon?"tanya Rendi yang bingung.


"Iya Lelucon, lo udah tau kalo gue pinter tapi tetep ngajarin. Kakak gue juga sama dia udah tahu kalo gue pinter tapi hanya karena gue dapet nilai merah pertama kali nya, gue disuruh belajar,"


"Tapi kan Kakak lo bener, nilai lo yang merah harus di benarin."


"Iyah, dan gue bisa sendiri."ucap Rin,"Lo tau nggak,"ujar Rin lagi yang saat ini mendekatkan wajahnya pada wajah Rendi yang sontak membuat Rendi kaget."gue bahkan juara Matematika tingkat nasional."ucap Rin di telinga Rendi, bahkan Rendi bisa menghirup aroma di rambut Rin bahkan jantung Rendi tidak henti-hentinya berdetak.


Rin menarik lagi wajahnya dari wajah Rendi dan saat itu lah Rendi bisa bernafas dengan lega ia bisa menghirup oksigen lagi dengan normal, tadi rasanya dada nya seakan sesak.


Rin merebahkan tubuhnya di rerumputan sembari melihat awan, tidak peduli dengan seseorang di samping nya yang hampir mati karenanya.

__ADS_1


"Rasanya jiwa gue hidup kembali,"ucap Rin sambil melihat kearah samping,tapi sejak kapan Rendi sudah ada di samping Rin dengan keadaan berbaring.


Setelah itu pandangan mereka bertemu cukup lama, wajah Rendi yang sekarang semakin mendekat kearah wajah Rin. Rin menjauhkan wajahnya dari Rendi lalu merubah posisinya menjadi duduk.


"Gue juga pernah minta sesuatu sama seseorang, kalo gue pengen banget ke bukit."ucap Rin sembari melirik Rendi, Rendi sedikit terkejut atas ucapan Rin, ia pun ikut duduk di samping Rin.


"Siapa?"tanya Rendi, Rin malah tertawa miring lalu beranjak dari duduknya setelah itu melangkah turun dari bukit. Rendi yang melihat Rin turun dan meninggalkannya langsung menyusul Rin sembari membawa tas Rin dan tas nya.


~o0o~


Rendi masih teringat atas ucapan Rin di bukit tadi.


Rendi menggelengkan kepalanya, setelah itu ia memukul kepalanya sambil berucap"bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa gue tanya siapa yang jelas itu Rey lah."Rendi melangkahkan kakinya kearah laci meja nya, lalu membuka laci itu dan mengambil buku dari sana, tapi bentuknya seperti album.


Tak lama kemudian pintu kamar nya terbuka, menampilkan perempuan paruh baya.


"Ren ayo makan, mama sudah siapkan?"Rendi buru-buru menaruh buku itu ke dalam laci. Mamanya tiba-tiba datang.


"Ada Papa?"tanya Rendi, kalo Papa nya ada mungkin ia akan menahan nafsu laparnya untuk sesat, karena Papa nya juga pasti tidak ingin makan dalam satu meja dengan nya.


Vani menggelengkan kepalanya.


"Papa mu belum datang, mungkin juga ia akan larut malam datang nya."


"Iya Rendi akan ke bawah setelah mandi,"


"Yasudah Mama tunggu ya,"kata Vani


Rendi hanya mengangguk dan Vani pun keluar dari kamar Rendi.


Rendi yang hendak ke kamar mandi, tiba-tiba terhenti Handphone nya bergetar menandakan ada pesan masuk.


"Rin,"gumam Rendi, cepat-cepat memeriksanya, jarang sekali Rin mengirim nya pesan, bahkan Rendi pun tidak menyangka nomor nya akan di Save oleh Rin.


📨Rin


Itulah kira-kira isi pesan Rin, Rendi pun cepat cepat membalasnya.


Iya.


"YESS.... akhirnya Rey..."ujar Rendi yang kesenangan bahkan ia sampai meloncat kegirangan, walaupun ini hal kecil tapi itu tanda nya Rin masih bisa membuka hati nya


"Demi Rey,"ujarnya sembari memegangi dadanya lalu pergi untuk membersihkan dirinya.


~o0o~


Siang ini Helena kumpul bersama dengan dua orang temannya yang gila, padahal Helena sebenarnya tidak mau tapi saat dipikir pikir ia harus membeli sesuatu, yasudah Helena ikut saja.


Dan lihat saja kelakuan mereka berdua saat menyerbu toko baju, padahal kan kemarin Vita dan Sandra sudah membeli baju dan sekarang mereka membeli lagi.


"Hel lo nggak ada niat buat traktir gue apa,"ujar Vita yang membuat Helena memutarkan bola mata nya malas.


"Gue ke sana dulu ya, mau beli sesuatu."pamit Helena yang meninggalkan dua orang teman nya, yang tengah asik dengan Pakaian yang akan di beli mereka.


Di tempat lain juga sama, ternyata Rin mengajak Rendi untuk membeli banyak sebuah buku. Rendi yang tak banyak tanya pun hanya mengikuti Rin saja dari belakang.


Rin yang serius memilih buku-buku tentang Teknologi komunikasi dan informasi, bukan hanya itu Rin juga membeli novel tentang seorang Hackers, dan juga buku tentang Angkasa.


Saat buku tentang Angkasa yang dibeli Rin, Rendi sedikit bingung untuk apa buku itu, setau Rendi Rin hanya menyukai teknologi saja.


Setelah membeli buku Rin dan Rendi keluar dari toko itu, mereka menuju toko elektronik karena Rin akan membeli MacBook yang baru.


Dari kejauhan ada yang melihat mereka tentu saja itu adalah Sandra dan Vita, mereka berdua pun melangkah dengan tergesa-gesa karena ingin cepat-cepat memberitahu kepada Helena, tapi langkah mereka terhenti saat melihat Helena yang akan bepapasan langsung dengan Rin.


"Helena di toko elektronik."ujar Mereka bersamaan.

__ADS_1


Helena kaget. Beberapa langkah di depan nya ada Rin, siapa yang di samping Ein, ternyata Rendi. Apa sekarang mereka sedekat itu, pikir Helena.


"Inikah cara seorang Rin yang buat gue makin kesel aja."batin Helena


"Tadi nya gue mau,"gumam Helena samb melirik sebentar kearah Tote Bag di tangannya setelah itu Helena melangkah.


Rin yang tidak peduli dengan keadaan melangkah begitu saja bahkan berpapasan dengan Helena, seperti tidak ada apa pun, begitu juga dengan Rendi yang melirik sekilas kearah Helena. Tapi saat mereka akan masuk ke toko tersebut, Helena malah memanggil Rin.


"Rin.."panggil Helena.


Sandra dan Vita yang melihat kejadian itu, meraka saling pandang, bagaimana kalo terjadi keributan di Mall karena mereka berdua. begitu juga dengan Rendi ia membulatkan kedua matanya dan melirik Rin.


Ekspresi Rin tidak ada raut wajah kaget atau apapun saat musuhnya memanggilnya. Apalagi dengan keadaan ia sedang jalan berdua dengan mantan gebetan musuhnya sendiri.


Rin membalikkan tubuhnya lalu melangkah kehadapan Helena, suasana didalam Mall ini tidak cukup ramai. Tapi untuk sebagian orang yang tahu siapa mereka berdua mungkin suasana seperti ini sangat lah dingin.


Helena tidak lagi menundukkan kepalanya dihadapan seorang Rin, ia menegakkan kepalanya bahkan berani menatap mata Rin yang tajam.


Helena menyerahkan tote bag nya pada Rin, Rin pun refleks menerimanya.


"Gue nggak mau punya rasa bersalah, nggak peduli lo mau nerima atau nggak, yang penting gue udah gantiin barang lo yang rusak walaupun itu nggak sengaja."kata Helena, setelah itu Helena pergi tapi ada ucapan Helena yang membuat seorang Rin mematung.


"Gue nggak tau rencana apa yang lo rencanain kali ini, tapi lo berhasil bisa bikin gue sakit hati."


"Tapi gue belum kalah."ujar Helena tepat di kuping Rin setelah itu pergi dengan senyum semirik nya.


"Hel tunggu,"teriak mereka berdua mengikuti langkah Helena dari belakang.


Rin mengepalkan tangannya. Apa-apaan ini, ia seperti di remehkan pikir Rin, Rin paling benci di remehkan.


Dan setelah itu Rin kembali dan masuk kedalam toko itu menghiraukan panggilan Rendi di belakang nya.


~o0o~


"Thanks,"ucap Rin setelah ia turun dari motor Rendi, saat Rendi hendak berbicara Rin malah langsung masuk ke dalam rumah.


"Rin kamu sama Rendi sebentar sekali,"tanya Rivano, bahkan Rin melewati Kakaknya dan menghiraukan kakaknya begitu saja, yang berpapasan di pintu utama.


Rivano dengan raut wajahnya bingung menanyakan perihal adiknya pada Rendi, Rendi hanya menggeleng tidak tahu, Rendi bahkan sudah turun dari motornya, setelah itu berpamitan pada Rivano lalu pulang.


Kembali ke Rin. Rin langsung memasuki kamarnya, ia meletakan buku-buku yang baru ia beli ke rak buku, setelah itu Rin duduk dan meriksa MacBook yang sudah ia beli tadi, Rin melirik sekilas MacBook yang tadi Helena berikan kepadanya.


Tak banyak kata Rin mengambil Tote bag itu dan membukanya, yang isinya sebuah MacBook berwarna pink. Walaupun Rin cewek tapi warna pink tidak cocok untuk images seorang Rin Leach, lagi-lagi Helena meremehkan nya.


Tok..tok..


Ketukan di pintu kamar Rin. Rin pun beranjak dari duduk nya.


"Ada apa?"tanya Rin pada ART


"Tuan Rivano menyuruh Non untuk ke ruangan nya,"jawabnya. Rin pun hanya mengangguk.


Setelah itu Rin pergi keruang kerja Rivano, ada apalagi dengan Kakak nya yang gila itu.


"Apa?"ucap Rin langsung, bahkan ia tidak duduk seperti biasanya, Rin malas sekali berbasa-basi untuk hari ini.


"Duduk dulu Kakak cuman mau tanya kamu sama Rendi itu..."


"Kakak sebaiknya cari pacar deh, biar tidak mengurus urusan ku lagi."potong Rin, dan ucapannya kali ini pasti akan membuat Rivano marah, karena Rin telah menyingung harga diri Rivano.


"Kamu nggak usah nyuruh kakak, kalo kakak mau mungkin saja kakak sudah menikah saat ini, kalo kamu tidak selalu membuat ulah RIN..."teriak Rivano di akhir kalimat nya.


Rin memutar bola matanya jengah sembari duduk di kursi. Rin menatap Rivano tajam, sepertinya tidak ada dalam kamus seorang Rin akan takut pada Kakaknya.


Rivano menghela nafasnya sejenak, niatnya ingin berbasa-basi hilang sudah, yang penting sekarang ia akan memberitahu kan satu hal.

__ADS_1


"Minggu depan akan ada Foto keluarga, dan jangan coba-coba lagi kamu kabur."


TBC.


__ADS_2