The Enemy

The Enemy
Chapter 45 (Revisi)


__ADS_3

~HAPPY READING ~


Pemilihan OSIS telah usai, sekarang yang jadi ketua OSIS adalah Rin Leach. Cukup mengejutkan memang, karena seorang Rin Leach yang hidupnya tidak penuh semangat dan kurang berpartisipasi dalam kegiatan sekolah bisa menjabat sebagai ketua OSIS. Yah ini semua berkat Laptop yang Rin berikan pada seluruh Siswa Victoria.


Dan hal ini mengingatkan author pada penggalan lirik money milik lisa blackpink😂,,, Everyone silent, listen to my money talk


Rin sekarang bisa dengan leluasa masuk ke ruang OSIS lalu duduk di kursi yang di sediakan untuk ketua OSIS, bukan hanya itu saja, Jas yang Rin pakai sekarang bukan lagi seragam sekolah. Tapi seragam yang menjadi ciri khas ketua OSIS. Rin melirik jam tangan nya ini waktunya untuk masuk kelas, lalu Rin beranjak dan melangkah keluar untuk menuju kelasnya. Ada beberapa Siswa yang menyapa Rin tapi Rin tidak menyapa balik. Walaupun sudah menjadi ketua OSIS Rin tetaplah Rin, berjalan dengan wajah datarnya.


Saat masuk kelas, ternyata sudah ada guru yang mengajar. Rin tidak meminta maaf karena terlambat atau apa pun, Rin berjalan ke kursinya dengan tenang, mengabaikan tatapan tajam dari guru yang mengajar dan juga tatapan julid dari teman kelasnya.


"Aneh banget orang kayak gitu bisa jadi ketua OSIS."cibir Sindy.


Helena yang duduk di depan tetap menatap ke papan bor, bahkan saat Rin masuk Helena tidak melirik sekalipun. Helena tidak lagi mau berurusan dengan Rin, Helena juga tidak ingin menganggap Rin sebagai musuhnya bahkan teman.


Setelah pelajaran usai, satu-persatu Siswa keluar kelas untuk pulang, yah memang ini adalah pelajaran terakhir di hari ini.


Rizki yang sudah bersiap-siap pulang, terhenti sesaat melirik ke arah Rin. Ini saatnya Rizki mempromosikan dirinya, agar bisa menjadi wakil ketua OSIS.


"Rin, lo belum pulang,"Pertanyaan Rizki tidak di jawab oleh Rin. Rizki pun duduk di kursi dan mendekatkan kursi itu ke samping Rin.


"Rin, lo belum ada wakil OSIS kan? Pasti lo pusing cari wakilnya, biar lo nggak pusing biar.."Rizki berdiri dari duduknya lalu menepuk dadanya dengan semangat dan berucap.


"Biar Gue yang jadi wakilnya."ujar Rizki, Rin menghela nafas lelah lalu melipat MacBook nya, dan berdiri.


"Gue udah ada wakil nya."jawaban Rin secara halus menolak permintaan Rizki.


"Siapa? Rendi,"


"Bukan, Sera."ucap Rin sembari melirik ke arah Sera. Sontak saja Sera melihat ke arah Rin dan Rizki terkejut dengan pernyataan Rin.


"Sera ikut gue sekarang ke ruang OSIS."Suruh Rin pada Sera, Rin melangkah terlebih dahulu.


Sera pun mengikuti Rin dari belakang, ada perasaan takut di hati nya. Sera sesekali membenarkan letak kacamata nya karena merasa tidak nyaman oleh tatapan siswa yang berada di koridor.

__ADS_1


Saat telah sampai di ruangan OSIS ternyata mereka sudah di tunggu oleh Rivano.


"Rin, Kakak ingin berbicara dengan mu."ujar Rivano.


Sera yang mengerti pun memilih untuk keluar ruangan.


Sedangkan Rin tampak bingung dengan kehadiran Rivano, sejak kapan dia di sini dan kapan pulangnya dari Singapura.


Rin dengan malas duduk di kursi, ia sudah menyiapkan kuping untuk mendengar segala ocehan dari Kakak nya.


"Rin kamu bisa-bisanya menyalonkan diri jadi ketua OSIS, Kakak rasa kamu tidak pantas untuk itu."


"Waktu itu Kakak bilang aku harus berpartisipasi dalam sekolah ini dan jangan males-malesan, menurtku saat aku jadi ketua OSIS aku sudah berpartisipasi dalam sekolah ini."sahut Rin tegas


"Tapi tidak harus jadi ketua OSIS segala, setelah ini kamu harus mengundurkan diri jadi ketua OSIS."suruh Rivano. Rin mengepalkan tangannya yang ada di atas meja setelah itu tanpa pikir panjang Rin beranjak dari sana dan pergi keluar. Rin menutup pintu itu dengan keras, yang membuat Rivano refleks menutupkan matanya.


*****


Rin berjalan cepat ke atas rooftop dia ingin sendiri, tetapi saat sudah sampai rooftop Rin malah bertemu dengan Rendi.


Rendi yang melihat Rin dan hendak kembali turun, memanggilnya.


"Rin....tunggu,"Rendi mencegah Rin dengan menahan pergelangan tangannya.


"Ada yang ingin gue bicarain sama lo,"


"Jangan sekarang."tolak Rin


"Harus sekarang."pungkas Rendi.


Rin langsung mendongak kepala dan melihat mata Rendi yang tersirat akan sesuatu, setelah itu Rin menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum mengiyakan permintaan Rendi.


Sera yang berhasil sampai ke rooftop dan melihat seorang Rin yang menangis di pelukan Rendi. Mungkin saja tadi kakak nya yang membuat hati Rin sakit pikir Sera.

__ADS_1


Setelah itu Sera pun turun tangga dan meninggalkan rooftop. Setelah turun dari tangga dan berjalan di koridor langkahnya terhenti oleh seseorang.


"Misi gue mau lewat."pinta Sera,


"Misi mau lewat... "Ledek Sindy meniru kalimat Sera.


"Sekarang lo tambah sombong yah Ser,"


"Apalagi katanya tadi gue denger lo mau di jadiin wakil OSIS sama si Rin, tambah besar kepala."Sekarang Sindy bukan lagi berucap kasar tapi perilakunya juga kasar, ia mendorong Sera sampai punggung Sera membentur tembok.


"Gara-gara lo nilai gue merah, padahal pas ujian kemarin gue manggil-manggil lo tapi kuping lo pura-pura budeg."Sindy menarik rambut Sera kasar.


"AAkkkhhh....sakit Sin."rintih Sera saat Sindy menjambak rambutnya.


"Sakit kan, itu yang gue rasain pas Mama gue tahu nilai gue merah kemarin, untung aja gue naik kelas."Sindy menarik kacamata yang sedang Sera pakai, lalu menjatuhkannya di lantai tidak sampai situ Sindy pun menginjak-nginjak kacamata itu.


Sera yang melihat itu berusaha menghentikan Sindy, dengan memegangi kaki Sindy. Dan kebetulan saja Rin datang.


"Ri..n tolong gue,"teriak Sera meminta pertolongan.


Dengan tatapan kosong Rin hanya melewati Sera dan Sindy, bahkan Rin hanya berhenti sesaat, saat Sera memanggilnya.


Hal itu membuat Sindy tertawa.


"Rasain lo di cuekin."Sindy mendorong kepala Sera yang berada di kakinya setelah itu Sindy berjalan menginjak kacamata Sera dan meninggalkan Sera, yang sedang menatap sedih kacamata nya yang hancur karena ulah Sindy.


Sera memungut kacamata itu, sesekali dia mengusap air mata nya yang mengalir di pipinya. Sera benar-benar sudah tertekan dengan perilaku Sindy, yang semakin tidak di turuti Sindy pasti akan berbuat kasar.


Sera, masih bersaudara dengan Sindy. Mamanya Sindy memang sangat keras pada Sindy karena Mamanya ingin Sindy menjadi dokter. Setiap kali ada ulangan atau tugas Sindy pasti menyuruh Sera yang mengerjakan, kalo Sera menolak Sindy akan menyuruh Papanya untuk menarik saham Ayahnya Sera, dan Sera tidak ingin hal itu terjadi. Karena


Tetapi pas ujian kemarin Sera berani untuk tidak selalu menurut pada Sindy, karena Ayahnya sudah mempunyai usaha sendiri dan tidak bergantung pada keluarga Sindy. Sera tidak menyangka hal itu akan membuat Mama Sindy marah besar, dan Sera tahu kalo Sindy sempat di tampar oleh Mamanya. Tapi saat Sera melihat sosok Sindy yang terluka, hatinya tidak merasa kasihan melainkan ada hal lain, perasaan puas.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2