The Last Queen Of Peacelavia

The Last Queen Of Peacelavia
BAB 10


__ADS_3

"Zhang Pei, katakan padaku! Bagaimana bisa siluman katak itu ada bersamamu?"


"Kau ingin aku mengatakan hal yang sebenarnya kepadamu?"


"Benar. Aku ingin kau berkata jujur."


"Sebenarnya aku melihat siluman katak itu di depan jendela kamarku. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahui hal ini, jadi aku membawanya untuk pergi. Putri, jangan bunuh siluman katak ini. Meskipun dia siluman, tetapi dia juga memiliki perasaan." Zhang Pei menjelaskan.


"Xin Qian, maafkan aku. Kau telah memberi kesempatan padaku untuk kedua kalinya, tetapi aku tidak mendengarkan mu. Tolong maafkan aku!" ucap siluman katak.


"Kesempatan apa? Apa yang kau bicarakan?"


"Akan ku tunjukkan sesuatu kepadamu." Xin Qian menarik tangan Zhang Pei dan menghilang.


Xin Qian mengajak Zhang Pei untuk masuk ke dalam negeri siluman yang telah ia ciptakan untuk melindungi para siluman yang menjadi temannya.


"Tempat apa ini?"


"Zhang Pei, sebenarnya aku menyembunyikan beberapa siluman di dalam istana. Mereka semua adalah siluman baik dan mereka adalah teman-temanku."


"Jadi, siluman katak ini?"


"Siluman katak ini adalah temanku."


"Zhang Pei, kau sudah mengetahui hal ini. Aku mohon jangan beritahukan kepada siapapun, karena aku takut jika orang lain mengetahuinya maka mereka akan melakukan hal yang buruk kepada para siluman ini."


"Apa Ji Nian juga mengetahui hal ini?"


"Tidak. Hanya kau yang dapat memahami perasaan para siluman, itulah mengapa aku hanya memberitahukan hal ini kepadamu."


"Putri, aku berjanji kepadamu. Aku akan menjaga rahasia ini untukmu."


"Zhang Pei, terima kasih."


"Jangan terlalu sering mengucapkan terima kasih kepadaku."


"Xin Qian, apa kau marah kepadaku?"


"Aku tidak marah padamu, aku hanya sedikit kesal. Kau sama sekali tidak mau mendengarkan ku, apapun yang aku lakukan adalah untuk keselamatanmu."


"Xin Qian, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku. Kau bisa memegang janjiku dan jika aku mengingkarinya lagi kau boleh menyerap kembali energi murniku lalu membuangku."


"Kau lihat? Aku tersenyum kepadamu sekarang. Itu artinya aku sudah tidak kesal denganmu."


"Kau sangat baik kepadaku, terima kasih."


"Xin Qian, mengapa kau membawa manusia kemari?" tanya siluman landak betina.


"Dia bukan manusia, dia adalah siluman," balas siluman landak jantan.

__ADS_1


"Tapi aku mencium darah manusia di tubuhnya."


"Aku juga mencium darah siluman di dalam tubuhnya."


"Teman-teman, dia adalah Zhang Pei dari negeri Longyou. Dia adalah manusia setengah siluman," ucap Xin Qian.


"Jadi, manusia setengah siluman itu benar-benar ada?"


"Yaa."


Kedua landak itupun melompat ke arah Zhang Pei dan mengendus-endus mencari aroma darah manusia dan siluman yang bercampur di dalamnya.


"Kau benar. Dia adalah manusia setengah siluman. Tapi Xin Qian mengatakan bahwa kau berasal dari Longyou. Itu artinya kau adalah seorang raja dari para siluman di Longyou."


"Tidak. Aku bukanlah seorang raja, aku adalah seorang Master."


"Dia adalah Master yang sangat tampan. Kau sangat cocok dengan putri Xin Qian," sahut siluman gajah.


Xin Qian dan Zhang Pei saling menatap dan tersenyum malu. Para siluman mengajak Zhang Pei agar menginap di tempat mereka malam itu. Zhang Pei pun meminta izin kepada Xin Qian dan para siluman membujuk Xin Qian agar mengiyakan ucapan Zhang Pei.


Xin Qian pun mengiyakan ucapan Zhang Pei dan malam itu mereka semua menggelar pesta makan malam bersama. Zhang Pei merasa sangat senang karena ia akan menghabiskan malam bersama Xin Qian dan teman-temannya.


Xin Qian membantu Zhulong dan siluman kura-kura untuk memasak makanan, sedangkan Zhang Pei dan siluman lain menghiasi tempat itu dengan sangat indah. Setelah makan malam bersama, para siluman tertidur dengan pulas. Xin Qian menghampiri Zhang Pei yang sedang duduk di pinggiran sungai.


"Kau masih belum tidur?" Xin Qian duduk di samping Zhang Pei.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu untuk melihat bulan dari sini, karena ini adalah malam pertama juga terakhir aku di sini."


"Aku sangat menyukai tempat ini. Bagaimana bisa kau membuat tempat seindah ini?"


"Aku hanya mencurahkan pikiranku saat aku membuat tempat ini."


"Kau sangat hebat, Putri."


"Kau juga."


"Aku?"


"Ya. Kau menghias tempat ini dengan sangat indah, Zhang Pei."


"Aku hanya sedikit membantu."


"Zhang Pei!"


"Iya?"


"Kau boleh datang lagi kemari jika kau mau."


"Sungguh?"

__ADS_1


"Tetapi kau harus berjanji jika kau tidak akan memberitahu orang lain tentang tempat ini."


"Akan aku pikirkan."


"Zhang Pei ...."


"Aku hanya bergurau."


Mereka berdua tersenyum dan melihat bulan di langit.


*****


Keesokkan harinya di ruang tahta, raja Arlo memerintahkan seorang Dayang untuk memanggil putri Xin Qian di kamarnya. Tetapi dayang itu memberitahu sang raja jika putri Xin Qian tidak ada di dalam kamarnya. Sang Raja memerintahkan beberapa prajurit untuk mencari Xin Qian di dalam dan juga di luar istana.


Ji Nian melihat para prajurit berlarian dari ruang tahta, lalu ia menghadap sang raja dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Ji Nian yang mengetahui jika putri Xin Qian tidak ada di dalam istana, ia segera membantu para prajurit untuk mencari putri Xin Qian.


"Prajurit, apa kalian sudah menemukan putri Xin Qian" tanya Ji Nian cemas.


"Belum, Ketua," jawab salah satu Prajurit.


"Putri, dimana kau?" Ji Nian memegang dahinya karena kebingungan.


"Zhang Pei? Aku juga tidak melihatnya dari tadi. Dia pasti telah membawa putri Xin Qian pergi. Aku harus mengatakan hal ini kepada yang mulia raja," Ggumamnya.


Xin Qian terbangun dari tidurnya dan melihat Zhang Pei yang masih tertidur lelap. Ia membuat teh hijau dan membiarkan Zhang Pei tetap tidur karena tidak tega jika harus membangunkannya.


"Kau membuat teh hijau?" Zhang Pei terbangun karena mencium aroma harum dari teh itu.


"Kau sudah bangun?" Xin Qian terkejut dengan Zhang Pei yang tiba-tiba bicara kepadanya.


"Aroma teh yang kau buat sangat harum, sehingga membuatku terbangun" balas Zhang Pei menggoda Xin Qian.


"Maafkan aku."


"Aku bergurau, Putri. Kau membuatnya untukku, bukan?" Zhang Pei menarik cangkir di tangan kanan Xin Qian dan meminumnya.


"Maaf jika rasanya tidak terlalu enak, aku baru belajar membuat teh hijau."


"Ini sangat enak. Kau tidak seperti orang yang sedang belajar membuat teh."


"Jangan memujiku seperti itu."


"Aku hanya mengatakan hal yang benar. Aku tidak memujimu."


"Zhang Pei, aku baru ingat. Setiap pagi aku akan sarapan bersama di meja makan dengan Ayahanda dan juga para master. Bagaimana jika Ayahanda mencari ku di dalam kamar, sedangkan aku tidak ada di sana?"


"Kalau begitu, sebaiknya kita segera kembali ke istana."


"Benar."

__ADS_1


"Mari, Putri."


__ADS_2