
Xin Qian sedang duduk santai bersama Zhulong dan Lani di teras lantai atas.
"Xin Qian, apakah bayi itu akan segera lahir?" tanya Lani.
"Kau pasti tidak sabar untuk menggendongnya," ucap Zhulong.
"Aku sangat menantikan kehadiran bayiku. Sebentar lagi dia akan lahir ke dunia ini," balas Xin Qian.
"Kau akan memberinya nama siapa?"
"Jika dia perempuan, aku akan memberinya nama Ping. Tapi jika dia laki-laki, aku akan memberinya nama--"
"Lian," ucap Zhang Pei yang tiba-tiba menyela.
"Zhang Pei?"
"Kau akan memberinya nama Lian jika bayi itu laki-laki."
"Bagaimana kau tau itu, Master?"
"Karena Lian adalah nama yang ingin kami berikan kepada keturunan kami nantinya. Tapi sayangnya aku tidak akan memiliki keturunan dengan yang mulia ratu."
"Zhang Pei ...."
"Yang mulia, jika bayi ini laki-laki maka berilah dia nama Lian."
"Zhang Pei, kau akan menjadi Paman dari bayi ini. Dia akan mengenal Jiang Li sebagai Ayahandanya, tetapi dia akan mengenal pamannya sebagai seseorang yang dicintai oleh Ibundanya."
Zhang Pei yang mendengar ucapan itu langsung tersenyum dan memeluk Xin Qian.
"Aku telah berjanji untuk selalu mencintaimu, Zhang Pei."
"Aku selalu percaya dengan janjimu, yang mulia. Aku percaya kau tidak akan mengingkarinya."
"Terima kasih, Zhang Pei."
Shishi memperhatikan mereka dari kejauhan, ia sekarang mulai sadar jika selama ini ia telah berbuat salah kepada sang ratu.
"Aku mengerti sekarang, Zhang Pei dan yang mulia ratu saling mencintai. Walaupun yang mulia ratu sedang mengandung anak dari yang mulia raja, tetapi cintanya hanyalah untuk Zhang Pei," ucapnya.
"Aku tidak mungkin bisa memisahkan dua insan yang memang ditakdirkan untuk bersatu. Aku hanya berharap semoga hidup mereka selalu bahagia," sambungnya.
"Yang mulia, walaupun musim salju telah berlalu, tetapi udara di malam hari tetap tidak baik untuk kesehatanmu."
"Zhang Pei, aku masih ingin merasakan udara malam di sini."
"Tidak bisa, kau harus masuk ke dalam sekarang. Aku tidak ingin wanita yang aku cintai dan juga calon bayinya kedinginan."
Lani dan Zhulong hanya bisa tersenyum melihat Xin Qian dan juga Zhang Pei.
"Zhang Pei--"
"Tidak, yang mulia. Kau harus masuk sekarang."
"Baiklah. Aku akan masuk ke dalam setelah aku mendapatkan ciuman dari pria yang aku cintai."
Zhang Pei tersenyum, lalu menarik pelan pinggang Xin Qian.
__ADS_1
Mereka berdua berciuman di depan Lani dan juga Zhulong.
******
Jiang Li mendorong pintu kamar Lui Wei, lalu masuk dan memarahi Lui Wei.
"Apa yang telah kau lakukan kepada Xin Qian?" bentak Jiang Li.
"Apa maksudmu, Jiang Li?" tanya Lui Wei.
"Jangan berpura-pura seperti itu, Lui Wei! Aku tau jika Xin Qian pergi meninggalkan istana itu karenamu."
"Jiang Li ...." Lui Wei menyentuh dada Jiang Li dengan perlahan.
"Jangan marah-marah seperti itu, Jiang Li! Karena aku tidak suka melihatnya."
Jiang Li kemudian menghempaskan tangan Lui Wei.
"Aku ingatkan sekali lagi, Lui Wei! Jangan pernah kau berniat untuk mencelakai Xin Qian ataupun bayi yang berada di dalam kandungannya. Atau aku akan membunuhmu."
Jiang Li lalu melangkahkan kakinya dari sana, tetapi Lui Wei menarik tangannya dan menaburkan serbuk bunga ke wajah Jiang Li.
Seketika itu, Jiang Li langsung jatuh ke atas kasur dan tidak sadarkan diri.
"Jiang Li, kau akan tau jika aku bisa melakukan apapun untuk mendapatkanmu." Lui Wei mendekatkan wajahnya ke wajah Jiang Li.
"Malam ini akan menjadi malam terindah bagi kita. Kita akan menghabiskan waktu bersama di kamar ini," ucapnya.
Lui Wei perlahan membuka hanfu yang ia kenakan, kemudian membuangnya begitu saja ke lantai.
"Jiang Li, kau hanyalah milikku. Dan aku akan menjadikan malam ini sebagai malam yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."
Lui Wei memulai aksinya dengan menciumi leher Jiang Li. Ia melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan kepada Jiang Li.
Sedangkan di dalam kamar, Xin Qian terlihat bingung karena tidak melihat adanya Jiang Li.
"Kemana Jiang Li pergi? Tidak biasanya dia tidak ada di dalam kamar malam-malam seperti ini," gumam Xin Qian.
Tiba-tiba perut Xin Qian kembali terasa sakit, kemudian ia terjatuh dan tidak sengaja menjatuhkan gelas yang berada di atas meja.
"Huh ... huh ... aahhh ... perutku sakit sekali."
Xin Qian mencoba untuk berdiri dengan sekuat tenaga, tetapi ia tidak juga dapat berdiri.
"Tolong! Siapapun tolong aku!"
"Perutku ...."
Untungnya saat itu master Lin dan master Chen datang untuk menolongnya.
"Xin Qian!"
"Yang mulia ratu!"
"Master Chen, Kakek guru, tolong aku!"
Master Chen lalu menggendong Xin Qian dan membaringkannya di atas kasur.
__ADS_1
"Yang mulia, apa yang terjadi dengaanmu?"
"Master, perutku sangat sakit."
"Master Lin, aku akan pergi memanggil tabib istana."
"Baiklah."
"Kakek guru, aku tidak kuat lagi."
"Bersabarlah, Xin Qian. Tabib akan segera datang ke sini."
Master Lin Yang membaca sebuah mantra dan mengarahkan kedua jarinya ke tubuh Xin Qian.
"Kemana Jiang Li pergi? Mengapa dia tidak ada di dalam kamar malam-malam begini?" gumam master Lin.
Sang Tabib dan master Chen pun sampai di kamar Xin Qian.
"Tabib, cepat obati yang mulia ratu."
Tabib itu langsung mengeluarkan kekuatannya untuk mengobati Xin Qian. Xin Qian menjerit kesakitan sambil memegang perutnya.
"Aarrgghhh!! Perutku ...."
"Tabib, mengapa yang mulia ratu semakin menjerit kesakitan?"
"Tenanglah, master Chen. Yang mulia ratu akan baik-baik saja."
Setelah tabib itu selesai mengeluarkan kekuatannya, tiba-tiba Xin Qian langsung pingsan. Hal itu membuat master Lin dan master Chen sangat cemas.
"Tabib, apa yang terjadi dengan Xin Qian?"
"Master Lin, yang mulia ratu tidak apa-apa. Ia hanya akan tertidur untuk beberapa saat. Aliran darahnya saat ini sudah kembali normal, kandungannya juga baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu."
"Master Lin, master Chen, hamba permisi kalau begitu."
"Baiklah. Terima kasih, Tabib."
Setelah sang Tabib keluar, Zhang Pei tiba-tiba datang dan ia terlihat sangat cemas.
"Master, apa yang terjadi dengan yang mulia ratu? Aku seperti mendengar yang mulia ratu menjerit kesakitan."
"Xin Qian sempat merasakan sakit pada perutnya, tetapi sekarang dia akan tertidur untuk beberapa saat."
"Aku tidak tahu di mana yang mulia raja Jiang Li, mengapa dia tidak ada di dalam kamarnya untuk menemani yang mulia ratu?"
"Master Chen, aku akan di sini semalaman untuk menjaga yang mulia ratu."
"Tetapi Zhang Pei, apakah itu tidak akan merepotkanmu?"
"Aku tidak merasa direpotkan sama sekali, Master. Karena tugas utamaku adalah menjaga dan melindungi yang mulia ratu."
"Zhang Pei, aku percaya kepadamu. Tetaplah di sini dan jagalah Xin Qian."
"Baiklah, master Lin."
__ADS_1